Tampilkan postingan dengan label Duta Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Duta Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme

Demak, Santriwati Pintar. Dalam mengantisipasi kelompok Radikalis, Majelis Ulama Kabupaten Demak membekali pengurusnya dari pengurus tingkat kabupaten sampai tingkat kecamatan dengan menyelenggarakan dialog intern umat Islam di Gedung Bina Praja Setda Demak Jl Kyai Singkil N 7 Demak, Sabtu (15/8) lalu.

Dialog dengan tema Islam dan Nasionalisme dalam Mengatasi Radikalisme tersebut agar pengurus MUI disemua tingkatan waspada terhadap kegiatan gerakan radikalisme yang mulai bergerilya dipelosok desa, baik yang bersifat gejala maupun sampai pada tingkatan teknis gerakan karena hal sekecil apapun perlu kewaspadaan.

Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)


Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme

Kami menganggap ini sangat penting, hal sekecil apapun kita tidak boleh lengah dan semua pengurus kami harap untuk meningkatkan koordinasi pada pimpinan, ujar sekretaris umum MUI Demak KH Arie Cholil.

Santriwati Pintar

Kiai Arif menambahkan pihaknya menilai gerakan radikalisme mulai merambah ke daerah-daerah pelosok termasuk kabupaten Demak yang mayoritas ahlussunnah wal jamaah yang dimungkinkan juga kena wabah. Dalam hal ini, MUI Demak selalu berkoordinasi dengan aparat terkait termasuk sistim komunikasi yang perlu disiapkan pada pengurus dan tokoh masyarakat.

Kami sudah berkoordinasi dengan TNI, POLRI, dan Kesbangpolinmas kabupaten Demak, dengan saling tukar informasi dan mengambil kebijakan jika terjadi hal yang tidak diinginkan tambah pengasuh pesantren Al-Fattah tersebut.

Santriwati Pintar

Sementara itu, Bupati Demak KH Moch Dachirin Said dalam sambutannya sebelum membuka dialog meminta untuk kerjasama berkesinambungan antara para kiai ulama dan umara dalam mengatasi aliran radikalisme di daerahnya.

Kami minta pada panjenengan (kiai dan ulama) semua untuk berjuang bersama-sama agar kabupaten Demak tidak kecolongan Islam garis keras, pinta Dachirin.

Dialog yang dibarengkan halalbihalal ini selain diikuti 100 peserta ulama dan kiai, juga dihadiri Kapolres, Dandim Demak dan Muspida lainnya. (A Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61649/tangkal-radikalisme-mui-demak-gelar-dialog-islam-dan-nasionalisme

Santriwati Pintar

Minggu, 21 Desember 2014

Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok

Jakarta, Santriwati Pintar. Film Bidah Cinta besutan sutradara Nurman Hakim akan diputar serentak di bioskop mulai 16 Maret besok. Film yang diprodukis Kaninga Pictures itu dibintangi Dimas Aditya berperan sebagai Kamal dan Ayushita berperan sebagai Khalida.

Menurut Nurman, Bidah Cinta memotret perbedaan pandangan dalam Islam. Film tersebut menggmbarkan bagaimana perbedaan seharusnya dikelola agar kehidupan berlangsung penuh toleransi, berdampingan dengan damai, seperti warna pada pelangi yang berbeda-beda yang membuatnya menjadi indah.

Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok (Sumber Gambar : Nu Online)
Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok (Sumber Gambar : Nu Online)


Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok

Film Bidah Cinta menjadi penting ditonton karena film ini mendorong suatu perubahan untuk civil society yang baik, katanya ketika diwawancarai Santriwati Pintar pada Rabu (15/3).

Santriwati Pintar

Produser film Jalan Dakwah Pesantren Hamzah Sahal mengemukakan tentang film Bidah Cinta. Sumbangan penting dari film Bidah Cinta, menurut dia,adalah menyajikan peristiwa keagamaan sehari-hari di lingkungan kita, peristiwa keagamaan sehari-hari yang sedang aktual.

Santriwati Pintar

Ia menambahan, salah satu nilai penting yang dikemukakan dalam film garapan sutradara Nurman Hakim ini adalah toleransi internal agama. Nilai ini, terlebih masa pilkada, terdengar sangat lirih, sementara film Biah Cinta menyajikan dengan terang.

Film ini sangat "Islam", karena sineasnya, Nurman Hakim, Ben Shohib, besar di tengah lingkungan Islam, persisnya pesantren. Tonton di bioskop, mulai Kamis, 16 Maret, katanya.

Terkait film itu, pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Banten akan mengadakan nonton bareng di Supermall Lippo Karawaci Tangerang pada 16 Maret 2017. Pihak GP Ansor telah menyiapkan tiket gratis untuk warga NU yang ingin menonton bareng film tersebut.

GP Ansor Banten menilai pentingnya nilai-nilai kebinekaan yang terkandung dalam film tersebut. Sebagai negara dengan beragam kultur dan kepercayaan, perbedaan pandang merupakan hal yang sangat jamak di Indonesia.

Ketua GP Ansor Banten Ahmad Nuri mengatakan, nonton bareng tersebut akan dilakukan secara gratis dan bisa diikuti warga NU dan masyarakat Banten. Acara ini juga akan dihadiri tokoh agama dan tokoh masyarakat Banten. GP Ansor Banten akan mendatangkan aktor film tersebut.

"Kita sudah borong satu studio untuk acara itu, ada sekitar 350 tiket sudah kita sediakan, gratis," kata Nuri di Sekretariat GP Ansor Banten, Sabtu (11/3). (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76149/mari-berjamaah-nonton-film-bidah-cinta-besok

Santriwati Pintar

Senin, 28 Juli 2014

Warga NU Dihasut untuk Ubah Pancasila dan NKRI

Malang, Santriwati Pintar. Warga Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu sasaran empuk hasutan kelompok Islam garis keras yang ingin mengubah dasar negara Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian ditegaskan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur Ali Maschan Moesa di hadapan sekitar 2 ribu pengurus NU dari semua tingkatan se-Jatim yang berkumpul di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Ahad (3/6) kemarin.

Alibegitu ia akrab disapamenjelaskan, cara yang dilakukan kelompok Islam garis keras itu di antaranya dengan menyebarkan selebaran yang berisi ajakan untuk mengubah Pancasila dan NKRI dengan Khilafah Islamiyah (Pemerintahan Islam).

Kalau ini diterus-teruskan, mereka akan berhadapan dengan NU, tandas Ali yang juga Dosen Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, itu.

Warga NU Dihasut untuk Ubah Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Dihasut untuk Ubah Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)


Warga NU Dihasut untuk Ubah Pancasila dan NKRI

Kelompok-kelompok Islam radikal tersebut, ujar Ali, saat ini memang banyak bermunculan. Meski berbentuk dan menggunakan nama yang cukup beragam, tapi pada dasarnya memiliki kesamaan, yakni kerap menggunakan cara-cara kekerasan dalam setiap gerakannya.

Ada yang menggunakan nama Islam, tapi suka melakukan kekerasan di sana-sini, hingga merusak masjid. Ada yang suka jihad dengan melakukan pengeboman, yang ujung-ujungnya orang Islam sendiri yang jadi korban, jelas Ali.

Santriwati Pintar

Mereka itu bukan Ahlussunnah Wal Jamaah, tapi Ahlulfitnah Wal Jinayah, tegas Alumnus Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

Ia meminta kepada warga NU untuk selalu waspada terhadap gerakan apa pun yang berupaya mengganti Pancasila dan mengganggu keutuhan NKRI. Pasalnya, bagi NU, kedua hal tersebut sudah final dan tak bisa diperdebatkan lagi.

Santriwati Pintar

Musyawarah Nasional Alim Ulama di Situbondo tahun 1983 dan diperkuat lagi keputusan Muktamar NU di tempat yang sama tahun 1984, NU sudah memutuskan bahwa NKRI dan Pancasila adalah upaya final dalam usaha mendirikan negara.

Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi NU tak hanya itu. Masjid dan mushola yang dibangun dan didirikan warga NU pun tak lepas dari incaran kelompok Islam yang kerap tak menghargai keberagaman budaya dan etnis setempat itu. (sbh)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/9127/warga-nu-dihasut-untuk-ubah-pancasila-dan-nkri

Santriwati Pintar

Sabtu, 14 Desember 2013

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

Santriwati Pintar - Ini teks istighotsah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari yang saya dapat dari kiai Fahruddin, pengasuh PP. Thoriqul Huda Ponorogo beberapa bulan sebelum beliau wafat. Beliau menerima dari Gus Kholiq bin Hasyim Asy'ari.

Ada secuil kisah tentang istighotsah tersebut. Konon kiai Hasyim pernah memprediksi akan terjadinya gonjang-ganjing yang akan menimpa Indonesia wa bil khusus Nahdlatul Ulama.

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia) - Santriwati Pintar
Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia) - Santriwati Pintar


Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

Apakah fenomena sekarang di mana antar umat Islam, antar ormas Islam dengan mudah diadu domba, saling mencaci-maki orang adalah gonjang-ganjing yang dimaksud Hadratus Syaikh? Wallahu A'lam.

Senyampang kita masih waras menurut ukuran kita sendiri, mari sama-sama berdoa agar kita tidak termasuk dalam lingkaran pelaku gonjang-ganjing tersebut.

Santriwati Pintar

NB. Bila ada teks atau harakat yang salah, mohon maaf. Saya dapatnya begitu. [Santriwati Pintar]

Santriwati Pintar

Gus Zaki Hadziq Tebuireng, cucu KH. Hasyim Asy'ari.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/teks-istighotsah-kh-hasyim-asyari.html

Minggu, 21 Juli 2013

Dari 10 Program Perjuangan yang Ditulis KH. Hasyim Asyari Ini, dari Doeloe NU Sangat Visioner

Santriwati Pintar - Membaca poin-poin Qonun Asasi Mbah KH Hasyim Asy'ari yang dirangkum oleh Dr. Suratno, dosen Universitas Paramadina, terlihat sekali kalau NU begitu nasionalis, progresif dan visioner.

Menjelang harlah NU ke-91, sebagai pengingat diri sendiri, dan mungkin untuk nahdliyin wa nahdliyat lainnya, saya tulis "10 Pasal Program Perdjuangan NU" yang tertuang dalam buku "Muqodimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama" karangan Ar Roisul Akbar Chadratus Sjech K.H. Hasjim Asj'ari, terbitan Menara Kudus.

Dari 10 Program Perjuangan yang Ditulis KH. Hasyim Asyari Ini, dari Doeloe NU Sangat Visioner - Santriwati Pintar
Dari 10 Program Perjuangan yang Ditulis KH. Hasyim Asyari Ini, dari Doeloe NU Sangat Visioner - Santriwati Pintar


Dari 10 Program Perjuangan yang Ditulis KH. Hasyim Asyari Ini, dari Doeloe NU Sangat Visioner

Saya tulis poin-poin utama per-pasal saja dan pakai edjaan jang lama alijas dahoeloe kala.

Pasal 1: Membina masjarakat jang bertaqwa pada Alloh SWT, tanpa paksaan dalam bentuk apapun.

Santriwati Pintar

Pasal 2: Mengamankan pelaksanaan UUD 1945 dan pengamalan Pantjasila oleh seluruh rakjat dan pemerintah beserta aparat-aparatnja.

Pasal 3: Mempertahankan tegaknja NKRI/Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Santriwati Pintar

Pasal 4: Meningkatkan peranan rakjat.

Pasal 5: Berdjuang untuk dilaksanakannja politik luar negeri jang bebas dan aktif.

Pasal 6: Mendjadikan desa sebagai basis pembangunan nasional dan mengusahakan diperluasnja lapangan kerdja baru bagi para pemuda.

Pasal 7: Membantu peningkatan ekonomi rakjat dan koperasi chususnja bagi kaum tani, nelajan dan pengusaha ketjil.

Pasal 8: Berdjuang menentang kemelaratan dan kemiskinan, meningkatkan kesedjahteraan keluarga-keluarga buruh, pegawai negeri dan pradjurit.

Pasal 9: Melindungi hak-hak kaum wanita.

Pasal 10: Mendorong kemadjuan-kemadjuan dalam ilmu pengetahuan dan kebudajaan.

Itulah 10 program yang pernah dicanangkan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Nampak sangat peduli sekali terhadap kesatuan Republik Indonesia. Jadi, sejak dulu Mbah Hasyim sudah meminta pengamanan pengamalan Pancasila, bukan menyebutnya dengan sebutan kurang pantas seperti di sebelah. [Santriwati Pintar/ ksf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/dari-10-program-perjuangan-yang-ditulis-kh-hasyim-asyari-ini-dari-doeloe-nu-sangat-visioner.html

Minggu, 26 Mei 2013

Dzikir Ilalang di Atas Pusara

Wajahmu wahai kekasih

Adalah cantik laksana rembulan

Sinarnya sejuk menerangi malam

Dzikir Ilalang di Atas Pusara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Ilalang di Atas Pusara (Sumber Gambar : Nu Online)


Dzikir Ilalang di Atas Pusara

Keinginan untuk menjumpaimu

Tetap ada dalam hatiku

Walau mata, hati dan rasa

Santriwati Pintar

Telah redup dalam dosa

Hancur terbakar menjadi abu

Santriwati Pintar

Kekasih . . .

Berilah aku waktu sesaat

Agar aku bisa bangkit dari tumpukan abu itu

Menjadi bara kecil

Yang menyulut cinta hangusku

Wahai kekasih . . .

Celakalah aku

Bila engkau bersama orang lain

Dan aku kau tinggalkan hanya seorang

Tanpa engkau hiraukan

Seluruh anak adampun pasti akan celaka

Cambuklah aku sampai terluka

Sayatlah kulitku supaya menetes darah

Jangan kau biarkan

Air mataku mengering

Bila engkau tak menyiksaku sesaat saja

Niscaya aku sudah lupa

Siapa diriku ini

Karna aku tak lagi punya biola

Yang dapat aku mainkan

Untuk menari di hadapanmu

Asal engkau masih mau memandangku

Tak mengapa

Aku akan jadi ilalang

Yang berdzikir di atas pusara

Karna bukti cintaku padamu

Adalah nikmat yang tak pernah pudar

Surabaya, 28 juni 2015

Ach Shodiq Firdaus, Pengajar di Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo.

Dari (Puisi) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60470/dzikir-ilalang-di-atas-pusara

Santriwati Pintar

Jumat, 01 Februari 2013

Gaya Hidup Warisan Orde Baru

Santriwati Pintar - “Piye, Le; enak zamanku tho?!” Pertanyaan di bokong truk dengan gambar pak Harto mesem itu setiap kali berkelebat mengusikku. Aku selalu teringat presiden yang nyaris seperti raja itu terutama saat ada peristiwa kegilaan terhadap dunia, seperti kasus-kasus Korupsi dan Suap-menyuap; Politik Uang; Pejabat Publik dan Artis yang ‘tertangkap tangan’; Orang Pintar yang dapat memperbanyak uang; dan lain sebagainya.

Gaya Hidup Warisan Orde Baru - Santriwati Pintar
Gaya Hidup Warisan Orde Baru - Santriwati Pintar


Gaya Hidup Warisan Orde Baru

Kegilaan terhadap dunia atau materi dimulai dari keinginan menjadikan hidup ini sejahtera, hingga keinginan hidup mewah. Lalu keinginan lebih dan langgeng hidup mewah serta berkuasa. Biasanya berakhir dengan hilangnya akal dan nurani. Hubbud dunya ra’su kulli khathiah. Berlebih-lebihan menyukai dunia adalah sumber segala kesalahan.

Negeri ini mengenal 2 (dua) presiden yang nyaris seumur hidup. Soekarno dan Soeharto. Sambil ‘meledek’ Pemerintahan Soekarno dengan sebutan Orde Lama, kursi kepresidenan-nya pun diambil alih. Orde lama dikritik karena ‘mengangkat’ Politik sebagai Panglima. Alasannya: politik tidak membikin kenyang. Politik tidak enak. Lalu Soeharto pun mengganti dengan ‘Ekonomi sebagai Panglima’. Pembangunan ekonomi semesta pun dimulai.

Adalah wajar bila saat akan membangun ekonomi, yang dicontoh dan ditiru adalah negara-negar yang maju ekonominya. Ibarat mau membuka warung, tentu yang dicontoh dan ditiru adalah resto yang maju. Sayangnya, kita ini –di samping merupakan ‘bangsa peniru’—apabila meniru tidak melihat dan mempertimbangkan diri sendiri.

Mau meniru artis mancung India yang tampak cantik dengan anting besar di hidungnya, langsung niru tanpa mempertimbangkan hidungnya sendiri yang kecil dan pesek. Mau meniru peragawati Perancis yang tampak manis dengan rok spannya, langsung meniru pakai rok span; padahal tubuhnya ukuran jumbo. Melihat orang-orang Barat –yang memiliki 4 musim, termasuk musim dingin--memakai jas-dasi dan mantel, kita pun menirunya dengan bangga; lupa bahwa kita hidup di negeri tropis. Begitu dan seterusnya.

Ternyata saat Soeharto dan orbanya mau membangun ekonomi Indonesia, agaknya hanya meniru begitu saja negeri-negeri maju di Barat (apalagi tentu saja negeri-negeri itu mau menghutangi); tanpa melihat dan mempertimbangkan jati diri sendiri sebagai negara dan bangsa. Pancasila pun kemudian hanya dijadikan ‘proyek pembangunan’.

Maka yang terjadi pun praktek ekonomi kapitalis (cuma disini dengan kapital utangan) dan menghasilkan masyarakat yang materialistis. Masyarakat yang berlebihan menyukai dunia. Harta dan pangkat atau uang dan kedudukan. Apalagi dalam soal duniawi ini, Soeharto dan para pemimpin beserta keluarga mereka dengan sangat jitu memberi contoh dan teladan. Sehingga Hidup Sejahtera ditangkap bulat-bulat oleh banyak kalangan di masyarakat sebagai hidup kaya, berkedudukan, dan mewah.

Anggota Dewan yang dulu hanya diberi ongkos transportasi, karena kerjanya ‘cuma’ menyampaikan aspirasi rakyat dan mengontrol pemerintah, oleh pemerintahan Soeharto diberi gaji berlimpah, karena tugasnya jauh lebih berat, istiqamah menyetujui kehendak pemerintah atau diam. Maka sejak itu menjadi anggota parlemen dipandang sebagai mata pencaharian yang sangat menjanjikan. Pangkat dan harta teraup semuanya.

Pendidikan pun tentu saja direncanakan dan dibangun atas asas ‘kehidupan duniawi’ model itu. Bukan atas dasar jati diri dan falsafah bangsa. Orientasi dan proses pendidikan semuanya bermuara kepada kehidupan dunia ini semata. Ijazah dan cari kerja atau cari kedudukan adalah hal paling pokok dan penting melebihi apa saja. Maka Pendidikan pun hanya lebih merupakan pengajaran dan boleh dikata tanpa mendidik. Hasilnya pun kebanyakan adalah orang-orang terpelajar yang tidak terdidik.

Kemudian fenomena cepat-kilatnya orang mendapatkan sesuatu kekayaan dan pangkat, melahirkan gaya hidup baru. Gaya hidup instan yang mengukuhkan kehidupan serba duniawi itu. Ingin cepat kaya, ingin menjadi kiai atau sarjana, ingin pelanggaran tidak dihukum, ingin jadi artis, hingga ingin menjadi pemimpin pemerintahan, maunya sekejap. Kun fayakun. (Fenomena Gatot yang ‘menjerumuskan’ banyak artis dan Dimas Kanjeng yang ‘menjerumuskan’ Marwah Daud dan banyak orang pintar lainnya, hanyalah contoh kecil dari akibat mentalitas duniawi dan gaya hidup instan ini).

Maka ‘ajaran hidup’ warisan tinggalan Soeharto yang kemudian dilanjut-teruskan oleh murid-murid setianya ini belakangan menimbulkan masalah yang tak putus-putus. Dimulai dari persaingan kepentingan duniawi, rebutan kedudukan, dan keserakahan yang kemudian beranak-pinakkan korupsi, suap-menyuap, penipuan, pertikaian, hingga saling fitnah.

Menurutku, hendak melakukan Revolusi Mental, kita seharusnya melihat dan mengetahui lebih dahulu mentalitas kita selama ini. Lalu meninjau kembali dan mengkaji ulang pandangan kita selama ini, terutama tentang dunia dan tentang tujuan hidup kita di dunia ini. Dengan kata yang lebih singkat, kita perlu kembali ke jati diri kita sendiri. Kita harus kembali memandang dunia hanya sebagai persinggahan sebentar. Materi bukan segala-galanya.

Kiai Husein Muhammad dari Pesantren Arjawinangun, dalam hal ini, secara tidak langsung menawarkan gaya hidup Zuhud. Ini memang resep manjur yang biasa diberikan para tabib rohani. Membalik gaya hidup. Tapi menurutku ini terlalu drastis dan ekstrim. Bagaimana masyarakat yang sedemikian menyintai dunia (bahkan tingkat cintanya kepada dunia sudah sampai ke taraf menghilangkan akal-sehat), disuruh zuhud?

Bagaimana kalau kita mulai saja dari gerakan hidup sederhana? Kalau setuju, sekaranglah saatnya yang paling baik untuk memulai. Di Tahun Baru Hijriah ini, semoga Allah menolong dan membantu kita dalam rangka ‘hijrah’ dari berlebih-lebihan memandang dunia kepada kesederhanaan. ‘Hijrah’ dari menganggap materi sebagai segala-galanya kepada hanya sekedar sarana. Semoga Allah menolong dan membantu kita dalam melakukan kesibukan yang semakin mendekatkan diri kita kepadaNya. Amin. [Santriwati Pintar/ab] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/gaya-hidup-warisan-orde-baru.html

Sabtu, 11 Februari 2012

Lomba Penulisan Opini PMII Unila Diperpanjang

Bandar Lampung, Santriwati Pintar. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung saat ini tengah menggelar lomba penulisan opini dalam rangka peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Rencananya, lomba tersebut dimulai dari tanggal 30 April 2016 dan berakhir pada 7 Juni 2016.

Seiring berjalannya waktu, peminat lomba ini mencapai ratusan peserta sampai pada tanggal 31 Mei 2016, yang juga merupakan tanggal terakhir pengumpulan berkas dan pendaftaran.

Lomba Penulisan Opini PMII Unila Diperpanjang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Penulisan Opini PMII Unila Diperpanjang (Sumber Gambar : Nu Online)


Lomba Penulisan Opini PMII Unila Diperpanjang

(Baca: Sambut Harlah Pancasila, PMII Unila Gelar Lomba Penulisan Opini)

Santriwati Pintar

Namun, karena banyaknya permintaan dari peserta untuk memberikan tenggang waktu pendaftaran dan pengumpulan berkas, panitia pelaksana lomba penulisan opini memberikan toleransi massa pendaftaran dan pengumpulan berkas selama 5 hari, yaitu dari tanggal 1 Juni 2016 sampai 5 Juni 2016.

Santriwati Pintar

Batas akhir lomba penulisan opini pun kini berubah, yaitu dari tanggal 15 Juni 2016 perpanjangan pendaftaran dan pengumpulan berkas, tanggal 6 10 Juni 2016 tahap penjurian, dan tanggal 11 Juni 2016 pengumuman pemenang lomba penulisan opini.

Perpanjangan ini dilakukan karena banyaknya permintaan dari peserta lomba, ujar Bandung Setiawan selaku ketua pelaksana. (Red: Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68705/lomba-penulisan-opini-pmii-unila-diperpanjang

Santriwati Pintar

Senin, 22 Agustus 2011

Nyata: Tukang Becak Berangkat Haji Dibantu Jin Muslim

Santriwati Pintar - Boleh percaya boleh tidak. Ini kisah dari Kasrin bin Sumarto (60), warga Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Rembang. Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak ini, bisa berangkat haji meski tidak pernah mendaftarkan diri sebelumnya.

Kisah ini tentu menghebohkan warga di sekitar kediamannya. Termasuk lokasi di mana dirinya sehari-hari menarik becak, sekitar wilayah Lasem. Pasalnya, kisah seseorang yang bisa naik haji tanpa mendaftarkan diri karena diduga dibantu makhluk lain hanya terjadi di kisah-kisah di televisi.

Nyata: Tukang Becak Berangkat Haji Dibantu Jin Muslim - Santriwati Pintar
Nyata: Tukang Becak Berangkat Haji Dibantu Jin Muslim - Santriwati Pintar


Nyata: Tukang Becak Berangkat Haji Dibantu Jin Muslim

Hingga hari ini Kasrin masih berada di Mekah, bersama jutaan penduduk dunia ini, menunaikan ibadah haji. Dan di tempat tinggalnya, dia meninggalkan kehebohan tersendiri, lantara masih banyak yang tidak percaya bahwa Kasrin saat ini ada di Mekah.

Perangkat Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Siwoyo, mengaku jika dirinya ikut mengantar Kasrin berangkat haji. Tepatnya pada Selasa (23/8/2016) lalu. ”Saya memang heran. Selama ini tidak pernah terdengar kabar jika Kasrin itu hendak menunaikan ibadah haji. Kapan mendaftarnya juga tidak diketahui, termasuk juga tidak pernah ikut dalam manasik haji,” terangnya.

Santriwati Pintar

Namun sebagai tetangga, Siwoyo mengaku jika malam itu dirinya bersama ratusan warga yang lain, turut mengantarkan Kasrin berangkat haji. Kasrin diantarkan ke Masjid Lasem, untuk bersama-sama jamaah calon haji lainnya, yang akan berangkat malam itu.

”Ada banyak orang yang mengantarkan, kok. Ada yang naik mobil seperti keluarganya, kemudian minibus, dan ada yang naik truk dump. Masih ada puluhan motor yang juga mengantarkan Kasrin ke Masjid Lasem, tempat berkumpulnya jamaah yang hendak berangkat haji,” tutur Siwoyo.

Santriwati Pintar

Siwoyo juga menuturkan, dirinya sebagai tetangga satu rukun tetangga (RT) yang kebetulan menjabat perangkat desa, tidak pernah merasa dimintai tolong untuk mengurus administrasi pendaftaran haji.

”Baik mulai dari desa maupun ke tingkat lainnya. Itu yang membuat heran kami. Karena kalau memang berangkat haji, biasanya kan mengurus surat-surat terlebih dahulu. Ini tidak ada sama sekali,” terangnya.

Meski penuh rasa heran, namun para tetangga tetap mengantarkan Kasrin hingga ke Masjid Lasem. Di sinilah keanehan mulai terjadi. Kasrin diketahui tidak memakai seragam haji, layaknya calon-calon haji lainnya. Dia hanya pergi dengan membawa kemeja putih, celana hitam, peci, dan tas kecil saja. ”Pokoknya jauh dari gambaran orang yang mau haji,” katanya.

Kasri Sudah Sampai ke Mekah Dalam Waktu Dua Hari Kisah Kasri naik haji, memang tidak masuk akal. Diketahui tidak pernah terdaftar sama sekali sebagai calon haji asal Kabupaten Rembang, Kasri juga bisa begitu cepat sampai ke Mekah, mendahului rekan-rekan jamaah lainnya.

Kepala Desa (Kades) Kalitengah, Kecamatan Pancur, Ansori yang juga kerabat dari Kasrin, menuturkan jika malam itu, Selasa (23/8/2016) malam, dirinyalah yang mengantarkan Kasrin ke Masjid Lasem. "Berangkat dari rumah sekitar pukul 21.00 WIB. Waktu itu, menantunya yang mau mengantar. Namun karena ada halangan, tidak jadi. Akhirnya saya yang mengantar,” terangnya.

Sambil terus menahan rasa heran karena tidak percaya Kasrin yang masih pakdenya itu berangkat haji, Ansori terus mendampingi Kasrin hingga di Masjid Lasem. Bahkan tas kecil milik Kasrin, dibawa olehnya. "Waktu menunggu keberangkatan rombongan, tiba-tiba perut saya mules. Saya lantas minta kerabat saya lainnya bernama Lutfi, untuk menunggu pakde. Hanya saja, saat bersama Lutfi itu, pakde bilang akan keluar masjid. Alasannya beli rokok. Waktu dibuntuti Lutfi, tiba-tiba saja Pakde Kasrin sudah tidak ada. Dia menghilang begitu saja," paparnya.

Saat sedang mencari Kasrin itulah, Ansori diberitahu bahwa orang yang dicarinya ada di bagian selatan Masjid Lasem. Tidak lama dicari ke lokasi tersebut, ada yang mengatakan jika Kasrin sudah naik bus rombongan haji asal Kecamatan Kragan/Sarang. Dia terlihat duduk di belakang sopir. Bahkan sempat melambaikan tangan berpamitan.

Keanehan lain muncul, karena sekitar pukul 23.00 WIB, Kasrin diketahui menelepon keluarganya dan mengatakan sudah sampai Lapangan Rumbut Malang atau Gedung Haji Rembang, tempat jamaah haji berkumpul. Dia bilang siap untuk diberangkatkan ke Asrama Haji Donohudan Solo. Padahal, saat itu rombongan haji dari Masjid Lasem belum berangkat. ”Soalnya, pemberangkatan haji malam itu memang akan dilakukan pukul 01.30 WIB,” kata Ansori.

Ansori makin kebingungan, karena sekitar pukul 01.30 WIB, atau pada Rabu (24/8/2016), Kasrin menelepon jika dirinya sudah akan berangkat ke Mekah. Tepatnya, Kasrin mengatakan sudah naik pesawat. Dia juga menceritakan jika duduk bersama empat orang jamaah calon haji lainnya.

"Gimana tidak bingung. Dia menelepon dan bilang ada di dalam pesawat. Padahal, setahu saya kalau di dalam pesawat, semua telepon kan harus dimatikan. Tapi dari suara-suara di pesawat, terdengar ada pramugari yang menawarkan makanan, memakaikan sabuk pengaman. Terdengar jelas," terangnya.

Menurut Ansori, dirinya memang bingung. Bagaimana tidak, dua hari usai keberangkatan, Kasrin mengatakan sudah ada di Mekah. Bahkan, Kasrin menelepon dirinya. Di telepon, Kasrin mengatakan dirinya akan pulang sebentar, karena ada keluarga yang menginginkan dirinya pulang.

"Dia bilang ke saya, tunggu di jalan Lasem. Pas harinya saya tunggu. Eh, benar. Pakde saya itu datang membawa kardus besar. Isinya teko, cangkir, dan perabotan rumah tangga khas Timur Tengah. Yang biasa dibawa oleh-oleh haji pokoknya. Habis itu, pakde saya hilang lagi," jelasnya.

Ansori mengatakan dirinya heran kenapa semua proses yang dijalankan Kasrin berhaji tidak seperti calon haji lainnya. Bahkan, penggunaan telepon genggam untuk menghubungi keluarga di Indonesia, juga masih menggunakan nomor yang sama saat di Rembang. ”Saya juga pusing kalau mikirin pakde saya itu. Kemarin pakde masih menelepon, memberitahu kalau di rumah ada selamatan manaqiban. Doanya ditujukan untuk Pakde Kasrin, istrinya Jumiati, Indi yang selama ini menjadi langganan becaknya, dan Elsa serta Sutikno, orang tua dari Indi,” ujarnya.

Ansori, kepala Desa Kalitengah, Kecamatan Pancur, yang juga kerabat Kasrin, menceritakan kronologi keberangkatan pakdenya itu, pada Selasa (23/8/2016) malam, yang penuh dengan keajaiban. (Koran Muria/Edy Sutriyono) Misteri Keluarga Indi Disebut Menjadi Perantara Kasrin Naik Haji Ada satu nama keluarga yang diduga menjadi perantara Kasrin bisa naik haji, meski dengan proses yang sangat tidak masuk akal. Keluarga itu diketahui menjadi langganan becak Kasrin, selama dirinya bekerja di kawasan Lasem.

Menurut penuturan anak bungsu pasangan Kasrin dan Jumiati yang bernama Istikomah (33), bapaknya itu sudah 19 tahun ini menjadi tukang becak langganan seorang warga Lasem bernama Indi.

"Tapi bapak tidak pernah meminta bayaran setiapkali mengantarkan Indi ini pulang sekolah. Soalnya, 20 tahun lalu, bapak saya pernah cerita bahwa dia mimpi bertemu dengan eyang buyut sama, dan diberi pesan yang sama. Mimpinya itu berlangsung selama tiga kali," katanya, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (10/9/2016).

Pada mimpinya itu, Kasrin diberi arahan bahwa dirinya akan mendapat langganan yang menggunakan becaknya. Yakni dua orang anak kecil, di mana salah satunya bernama Indi. Kakek buyutnya itu berpesan, agar tidak menarik ongkos dari Indi. ”Nah, pada mimpi ketiga, bapak saya diwanti-wanti, jika kemudian ditawari upah mentah atau matang, diminta untuk memilih upah matang saja. Supaya besok bisa menjadi kemuliaan,” jelasnya.

Dan benarlah kemudian, bahwa Kasrin memang mendapat langganan becak anak kecil yang bernama Indi, warga Lasem. Saat mengantarkan Indi pulang, Kasrin bertemu dengan orang tua Indi bernama Elsa dan Sutikno. Saat diberi bayaran, Kasrin menolaknya. Dan saat ditanya mau upah mentah atau matang, Kasrin mantap menjawab upah matang, sebagaimana pesan kakek buyutnya itu.

Indi menjadi langganan Kasrin dari masih usia TK hingga SMA. Atau selama 19 tahun lamanya. Selama itu pula, dia tidak pernah meminta bayaran. Sampai akhirnya, delapan bulan lalu, Kasrin mengatakan kepada istrinya jika dia akan naik haji. "Ibu saya juga sedih. Karena mengira bapak itu mengada-ada. Lah, soalnya duit saja pas-pasan kita. Mau daftar haji dari mana. Terus kapan berangkatnya kalau begitu," ujarnya.

Namun, Kasrin lantas memperlihatkan sesuatu yang tidak biasanya. Diketahui kemudian jika pendaftaran haji sudah dilakukan keluarga Indi, sejak tahun 2007 silam. Hanya saja, bukti itu hanya berupa tulisan tangan Indi, di atas kertas biasa. Kasrin didaftarkan haji oleh keluarga yang memiliki alamat rumah di depan MTs Negeri Lasem itu.

Keluarga bukannya tidak mengecek keberadaan keluarga Indi. Lewat salah seorang keluarga, mereka mendatangi rumah tersebut. Tapi keanehan kembali terjadi, karena saat sudah berada di depan MTs Lasem, kerabatnya itu tidak bisa mengucapkan kata apapun, untuk bertanya mengenai keluarga Indi.

"Warga sekitar saat ditanya siapa keluarga Indi ini, sama sekali tidak tahu. Mereka tidak mengetahui siapa itu Indi maupun keluarganya. Orangnya bagaimana, darimana, atau yang lainnya. Tidak ada yang tahu," tegasnya.

Keluarga, menurut Istikomah, juga melakukan pengecekan ke kiai. Bahkan sampai ke empat orang kiai, ditanyakan soal Kasrin dan haji ini. Dari jawaban keempatnya, juga dikatakan bahwa Kasrin memang akan naik haji. "Tapi, katanya naik hajinya bersama temannya dari bangsa lain (bangsa halus, red)," katanya.

Istikomah mengatakan, pada Kamis (9/9/2016) lalu, bapaknya itu masih menelepon dirinya, dan mengabarkan jika dirinya baik-baik saja. Bahkan, Kasrin bilang akan berkurban saat Idul Adha nanti. Padahal, saat berangkat, keluarga hanya mampu memberi uang saku kepada Kasrin sebanyak Rp 2 juta saja.

"Kami dari keluarga sudah tidak memikirkan mengenai bagaimana bapak berangkat haji. Yang penting, kami ikhlaskan saja. Ibu saya juga sedih tidak bisa makan memikirkan bapak. Tapi, sekarang sudah ikhlas. Yang penting banyak berdoa saja. Mudah-mudahan, bapak bisa selamat dan pulang ke rumah dengan sehat. Bahkan menjadi haji mabrur," harapnya.

Eko Winarto, perangkat Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, adalah salah seorang yang mengantarkan Kasrin saat menunaikan ibadah haji, meski diketahui belum pernah mendaftarkan diri secara resmi. (Koran Muria/Edy Sutriyono) Kemenag Rembang: Tidak Ada Nama Kasrin di Daftar Calhaj Kita Terkait adanya calon haji bernama Kasrin (60), warga Dukuh Gembul, RT 3/RW 2, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, yang berangkat haji pada Selasa (23/8/2016) malam, memang menimbulkan keanehan tersendiri.

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Rembang menegaskan jika tidak ada nama Kasrin dari alamat tersebut, yang terdaftar sebagai calon haji. Staf Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kemenag Rembang Bagian Ssistem Komputerisasi Haji Terpadu Slamet Lestari mengatakan, untuk jamaah calon haji atas nama Kasrin memang tidak ada.

"Namun, kita mempunyai 2 calon haji dari Sumberejo. Dan itupun suami istri. Hanya saja, bukan atas nama Kasrin," katanya saat dikonfirmasi pada Sabtu (10/9/2016).

Hanya saja, Slamet mengatakan jika dirinya memang sudah mendengar kabar soal Kasrin ini. Namun pihaknya menyerahkan kembali kepada masyarakat mengenai kebenarannya. ”Ya, kita serahkan kepada masyarakat untuk menilai itu. Namun untuk saat ini calon haji kita tidak ada yang namanya itu. Kalau lebih jelasnya, datang ke kantor pada Selasa (13/9/2016) saja,” katanya.

Di sisi lain, perangkat Desa Sumberejo Eko Winarto mengatakan, sikap dan perilaku Kasrin selama menjadi warga, dan hubungannya dengan warga lainnya, memang baik sekali.

”Pak Kasrin itu tidak pernah neko-neko dan pendiam. Bahkan, ada cerita yang aneh soal beliau ini. Saat warga berkumpul di Masjid Al Falah Gembul ini, dia memerintahkan salah seorang jamaah untuk mematikan lampu. Namun sebelum lampu itu dimatikan jamaah yang lainnya, -tiba tiba lampu itu mati dengan sendirinya. Dan sakelarnya juga menunjukan bahwa lampu itu sudah dalam keadaan mati. Yang jelas, beliau baik sekali,” imbuhnya. [Santriwati Pintar]

Editor: Merie

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/nyata-dibantu-makhluk-gaib-tukang-becak-ini-berangkat-haji-tanpa-daftar.html

Kamis, 30 Desember 2010

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

Probolinggo, Santriwati Pintar. Menteri Ketenagakerjaan RI M. Hanif Dhakiri melakukan jalan santai bersama seribu perempuan Kota Probolinggo, Senin (27/7). Kegiatan dalam rangka pelantikan Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Probolinggo itu dimulai dari Pesantren Raudlatul Mutaallimin di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih.

Jalan santai dilepas Menteri M. Hanif Dhakiri didampingi istrinya Hj. Marifah Hanif Dhakiri sekitar pukul 06.00 WIB. Rencana awal, menempuh rute sekitar 2 kilometer dari Ponpes Raudlatul Mutaallimin menuju GOR Mastrip dan finish kembali di pesantren yang sama, berubah haluan. Mereka memilih rute dengan start dari Ponpes Raudlatul Mutaallimin ke utara menuju Pasar Sapi Jrebeng Kidul dan belok kanan menuju Jalan Ir. Sutami dan belok kanan di Pasar Wonoasih serta finish di tempat asal.

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)


Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

Bapak Menteri menginginkan rute jalan santai bisa bertatap langsung dengan masyarakat sekaligus bisa blusukan, ujar Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana.

Dalam acara itu, Menteri Hanif Dhakiri bersama istrinya yang didampingi Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana dan Sekretaris PP Fatayat NU Anggi Maharani terlihat antusias mengikuti jalan santai. Usai jalan santai, Menteri Hanif melakukan dialog dan sosialiasi penempatan tenaga kerja dalam negeri atau luar negeri kepada peserta jalan santai.

Santriwati Pintar

Hanif menegaskan, pihaknya menyetop dan melarang pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Timur Tengah. Sebab, perlindungan dan gaji jadi TKI di Timur Tengah, sangat minim.

Santriwati Pintar

Berbeda di Asia Pasifik, perlindungan dan gajinya cukup baik, ujarnya didampingi Dirjen Binapentasker Hery Sudarmanto, Direktur PTKDN Wisnu Pramono, Direktur PTKLN Guntur Wicaksono dan Direktur PTKS Erna Novianti.

Meski begitu kata Hanif, tak semua TKI yang di Timur Tengah dilarang. Larangan ini khusus pembantu rumah tangga. Sedangkan, bila bekerja di mal atau rumah sakit, masih boleh. Katanya, ke depan pihaknya akan terus memperbaiki pelayanan TKI. TKI harus dipersiapkan keterampilan dan skill-nya. Sehingga, performa kerjanya lebih baik, ujarnya.

Sedangkan untuk tenaga kerja dalam negeri, Hanif mengaku pihaknya mempunyai program Three in One. Yakni, pelatihan, sertifikasi dan penempatan. Masyarakat yang belum bekerja bisa dilatih, setelah itu diberi sertifikat dan ditempatkan. Salah satu upayanya adalah melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Di samping itu, Menteri juga menghapus persyaratan minimal harus berijasah SMA bila hendak masuk BLK. Menurutnya, siapa pun yang ingin belajar bisa langsung ke BLK. Tak peduli yang lulus SD atau SMA. Semua harus diberi kesempatan. Langkah ini agar masyarakat yang tak punya ijazah, punya kesempatan untuk belajar. Sehingga, punya kompetensi.

Sementara kami juga mendorong para pelaku IKM (Industri Kecil dan Menengah) untuk menempatkan syarat lowongan bukan pada ijazah. Tapi, berdasar kompetensi yang dimiliki. Misalnya, pabrik garmen. Yang dicari, ya orang yang bisa menjahit, tidak berdasar lulusan SMA, tegasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61159/bersama-fatayat-menaker-sosialisasikan-penempatan-tenaga-kerja

Senin, 15 November 2010

Revitalisasi Peran LAZ dalam Pengentasan Kemiskinan

Bekasi, Santriwati Pintar. Lantunan shalawat badar mengiringi pembukaan Training Manajemen Zakat se-Jabodetabek yang diadakan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU). Suasananya pun tampak ramai. Para peserta yang berjumlah sekitar 100-an orang membaur menjadi satu dalam ruangan.

Semangat dan antusias yang tinggi dari para peserta juga cukup terlihat dalam training zakat yang kali ini diadakan LAZISNU di Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhah, Kalimalang, Bekasi (25/12).

Revitalisasi Peran LAZ dalam Pengentasan Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Revitalisasi Peran LAZ dalam Pengentasan Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)


Revitalisasi Peran LAZ dalam Pengentasan Kemiskinan

Hadir dalam acara training zakat kali ini, Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik, Perwakilan Kementerian Agama RI H Aceng Abdul Aziz, Direktur Eksekutif LAZISNU Amir Maruf, para manajer dan staf LAZISNU, Ketua LAZISNU Wilayah Kabupaten Bekasi, serta para tamu undangan dan amil se-Jabodetabek.

Santriwati Pintar

Menurut Amir Maruf, Ketua Panitia Pelaksana training zakat, ini adalah training kedua yang dilaksanakan LAZISNU. Training zakat pertama dilaksanakan di Pesantren Mursyidulhadi, Ploso Kuning, Sleman, Yogyakarta (23/7) lalu, dengan tema Sosialisasi dan Revitalisasi Peranan Lembaga Amil Zakat bagi Siswa Madrasah/Santri. Nah, pada training kali ini kita mengambil tema Sosialisasi dan Revitalisasi Peranan Lembaga Amil Zakat dalam pengentasan kemiskinan. Tujuan training kali ini adalah untuk memberikan pembekalan kepada para amil dalam mengemban tugasnya nanti agar tetap menjaga kaidah-kaidah Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang profesional, akuntabel, amanah dan transparan. Mereka para amil inilah yang nanti akan menjalankan tugas untuk mendistribusikan zakat dari LAZISNU di daerah masing-masing, ujar Direktur Eksekutif LAZISNU ini.

Selain itu, kegiatan training ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman keagamaan dan pengetahuan seputar zakat, infaq dan shadaqah kepada para amil. Dengan demikian, para amil nantinya diharapkan bisa menjadi ujung tombak LAZISNU dalam mengentaskan kemiskinan di tiap kecamatan-kecamatan. Sebab, pada tahun 2012, LAZISNU akan membentuk UPZ (Unit Pengelola Zakat) di tiap kecamatan yang berada pada masing-masing cabang NU.

Sosialiasi dan revitalisasi peranan lembaga amil zakat menjadi sangat penting dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Sebab, lembaga amil zakat merupakan salah-satu lembaga nirlaba yang memfokuskan kegiatannya pada pengelolaan dana zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) yang dihimpun dari umat untuk pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah. Pengelolaan dana ZIS sendiri bukanlah hal yang mudah. Ada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengoordinasian dalam pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat. Itupun harus didukung dengan profesionalisme dan human resources (SDM) yang berintegritas dan mumpuni. Tanpa itu semua, pengentasan kemiskinan menjadi sebuah retorika belaka.

Santriwati Pintar

Fakta menunjukkan, tumbuh-kembang lembaga zakat di Indonesia ibarat jamur di musim hujan dan belum memiliki dampak yang signifikan. Data yang dihimpun Forum Zakat (FOZ) ada 291 Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) yang terdiri dari Lembaga Amil Zakat (LAZ), Badan Amil Zakat (BAZ) dan BMT. Itu yang sudah terdaftar menjadi anggota FOZ. Jika ditambah lembaga-lembaga zakat yang belum terdaftar, ada sekitar 400-an lebih OPZ. Melihat fenomena ini, Training Manajemen Zakat menjadi sangat penting untuk dilaksanakan oleh setiap lembaga zakat di Indonesia, ujar Sudayat Kosasih, Direktur Program LAZISNU.

Memang, dengan semakin bertambahnya lembaga amil zakat baik di tingkat nasional maupun di wilayah provinsi hingga ke tingkat daerah kabupaten dan kota bahkan sampai ke desa, semakin ketat pula persaingan antar lembaga zakat. Istilah persaingan seharusnya tidak boleh terjadi dalam dunia perzakatan. Yang ada adalah fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) untuk memetik manfaat dari zakat. Sehingga tidak ada tumpang tindih (overlapping) antara penghimpunan dan penyaluran apalagi persaingan. Yang diperlukan adalah keterbukaan dari masing-masing lembaga zakat untuk bersinergi, menyusun kekuatan dan merapatkan barisan. Sebab musuh bersama kita adalah kemiskinan, ucap Sudayat dengan semangat.

Senada dengan Sudayat Kosasih, Ketua PP LAZISNU KH. Masyhuri Malik, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan Program LAZISNU dalam mencetak amil yang amanah serta dapat memberikan tanggung jawab kepada para muzzaki. Tujuannnya agar dalam pendistribusian dari penghimpunan zakat LAZISNU secara nasional bisa dikelola secara profesional, amanah, akuntabel dan transparan serta terserap kepada mereka yang membutuhkan (mustahiq).

Selain itu, sebagai bagian dari transparansi, dalam training ini, para amil dilatih bagaimana memberikan laporan kepada para muzakki kemana dana zakat, infaq dan shadaqah mereka disalurkan. Sejauh ini, laporan yang dibuat LAZISNU telah dipublikasikan kepada para donator dan publik melaluI majalah NCare yang terbit 3 bulan sekali sebagai media komunikasi antara muzakki dan mustahiq. Meskipun sumbangan yang didapat dari muzzaki kecil, kita tetap harus melaporkannya secara tertulis dan transparan. Karena itu akan menimbulkan trust (kepercayaan) muzakki tanpa ada buruk sangka terhadap pengelola zakat, ujar Kiai ramah ini.

Masyhuri Malik juga menambahkan, meski mayoritas penduduk indonesia beragama Islam, kesadaran menunaikan rukun islam yang ketiga itu ternyata masih rendah. Padahal, berdasarkan data Islamic Development Bank (2010), potensi zakat di Indonesia jika digali dan dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel, bisa mencapai Rp100 triliun per tahun.

Tapi fakta rupanya berbicara lain. Sampai saat ini, pengumpulan (fundraising) zakat dari seluruh lembaga amil zakat yang ada di Indonesia hanya mencapai sekitar Rp1,5 triliun. Itu berarti baru 1,5% dari potensi zakat yang sesungguhnya. Karena itu sosialisasi kesadaran berzakat, manfaat zakat dan manajemen pengelolaan zakat ini harus terus ditingkatkan terhadap mereka yang wajib mengeluarkan zakat (muzakki), mereka yang berhak menerima zakat (mustahiq) maupun pengelola zakat (amil) itu sendiri.

Untuk itu dibutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya, bersih, amanah, jujur dan mampu mengelolanya secara profesional dari organisasi/lembaga-lembaga zakat yang amanah dan profesional. Dan karena itulah Training Manajemen Zakat menjadi sangat penting.

Apalagi kini dengan ditambah hadirnya UU No.23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat dan akan diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) serta Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang penjelasan undang-undang tersebut, bagi sebagian lembaga zakat seperti LAZISNU akan menjadi lebih percaya diri untuk mengokohkan jati dirinya sebagai organisasi pengelola zakat (OPZ). Meskipun bagi sebagian kecil lembaga zakat, terutama yang tidak mendapatkan legitimasi dari pemerintah merasa terancam eksistensinya.

Undang-undang Zakat ini diharapkan memberi peluang dan harapan baru untuk terwujudnya pengelolaan zakat yang lebih optimal dan maksimal. Undang-undang ini pun merupakan panduan sistem pengelolaan zakat berasaskan syariat islam, amanah, kemanfaatan, keadilan, kepastian hukum terintegrasi, dan akuntabilitas. Dengan asas ini pengelolaan zakat di tanah air diharapkan lebih berdaya guna dan berhasil guna.

Bagi Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang berbasis ormas Islam seperti LAZISNU, undang-undang baru tentang manajemen zakat ini semakin memantapkan eksistensi dan mengokohkan jatidirinya sebagai OPZ yang profesional dan amanah.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35534/revitalisasi-peran-laz-dalam-pengentasan-kemiskinan

Jumat, 05 Februari 2010

Dialog di Tebuireng, Ini Penjelasan Quraish Syihab Soal Jilbab dan Kerudung

Santriwati Pintar - Pakar tafsir Al-Quran Quraish Shihab didampingi keluarga besar Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Jakarta berkunjung ke Pesantren Tebuireng Jombang, Senin (26/12/2016). Dalam kunjungan tersebut, Quraish mengajak kalangan pesantren dan seluruh masyarakat untuk senantiasa menghormati perbedaan dan mengembangkan budaya Islam yang damai.

Dialog di Tebuireng, Ini Penjelasan Quraish Syihab Soal Jilbab dan Kerudung - Santriwati Pintar
Dialog di Tebuireng, Ini Penjelasan Quraish Syihab Soal Jilbab dan Kerudung - Santriwati Pintar


Dialog di Tebuireng, Ini Penjelasan Quraish Syihab Soal Jilbab dan Kerudung

Pria yang dikenal luas sebagai ahli tafsir itu menegaskan, menghormati pendapat yang berbeda bukan berarti menerimanya. "Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki budaya yang sangat plural. Karena itu, semua pendapat yang berbeda, harus kita hormati. Dan, menghormati pendapat yang berbeda itu bukan berarti menerimanya," tandas ayah dari presenter Najwa Shihab ini.

Quraish lalu mencontohkan bagaimana muslimah Indonesia zaman dulu hanya mengenakan kerudung yang diselempangkan di kepala, dan tetap menampakkan sebagian rambut mereka. Berbeda dengan jilbab yang dikenakan perempuan zaman sekarang, yang menutupi seluruh kepala.

Menurut dia, para ulama zaman dahulu membiarkan praktik tersebut bukan tanpa dasar. Pasalnya, setiap pemikiran dan praktik keagamaan tidak bisa dilepaskan dari budaya yang berlaku di masyarakat. "Pasti para ulama waktu itu mempertimbangkan konteks budaya yang berkembang di masyarakat," ujarnya.

Pendiri Pusat Studi Al-Quran ini pun mengajak kalangan pesantren untuk menjadikan konteks budaya sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan pemikiran dan studi Al-Quran. "Dalam konteks studi dan pengembangan nilai-nilai Al-Quran, jangan sampai penafsiran kita tidak sejalan dengan budaya yang berkembang di masyarakat," imbuhnya.

Meski demikian, menurut lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini, penghormatan terhadap perbedaan juga dibatasi pada budaya dan pendapat yang mengarah pada kedamaian. "Semua pendapat yang berbeda, dari manapun datangnya, selama bercirikan kedamaian, harus kita hormati. Pendapat yang berbeda dengan kita, tapi tidak bercirikan kedamaian, (harus) kita tolak," tegasnya.

Dialog terbuka yang berlangsung di Aula Gedung Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng itu diikuti oleh ratusan kiai dan pengajar Al-Quran dari seluruh Jawa Timur. Quraish Shihab yang datang bersama istri dan sebagian anak cucunya serta didampingi Direktur PSQ Mukhlis M Hanafi disambut hangat oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid beserta Nyai Hj. Farida Salahuddin.

Tampak hadir dalam forum dialog tersebut, Pengasuh PP Roudhotu Tahfidhil Quran Perak Jombang KH Masduqi, Mudir Madrasatul Quran Tebuireng KH Syakir Ridwan dan Mudir Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng Nur Hannan.

Sebelum mengakhiri dialog, Quraish menegaskan bahwa penjelasannya soal jilbab bukan berarti mengajak yang sudah berjilbab untuk melepaskan jilbab mereka. "Saya hanya tersinggung kalau orang tua kita yang dulu hanya berkerudung dianggap tidak menutup aurat. Sebab, ibu saya dulu juga tidak berjilbab (seperti orang sekarang)," ujarnya disambut tawa hadirin.

Menjelang akhir kunjungannya, Quraish Shihab beserta keluarga menyempatkan berziarah ke makam KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat akan keluar dari Kompleks Maqbaroh Pesantren Tebuireng, Quraish dan istrinya sempat mengalami kesulitan karena ratusan peziarah yang sedang memadati lokasi tersebut berebut menyalami keduanya. [Santriwati Pintar/ day]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/dialog-di-tebuireng-ini-penjelasan-quraish-syihab-soal-jilbab-dan-kerudung.html

Sabtu, 29 Agustus 2009

Mbah Hamid Pasuruan Titip Salam ke Wali Gila Eyang Thamud Kendal

Santriwati Pintar - Saat itu, tamu dari Kendal sowan kepada Mbah Hamid. Lantas Mbah Hamid menitipkan salam untuk si fulan bin fulan yang kesehariannya berada di Pasar Kendal. Mbah Hamid ternyata menitipkan salam untuk seorang yang dianggap gila oleh masyarakat sekitar Kendal.

Fulan bin fulan kesehariannya berada di sekitar pasar dengan pakaian dan tingkah laku persis seperti orang gila, namun tidak pernah mengganggu orang-orang di sekitarnya.

Tamu tersebut bingung kenapa Mbah Hamid tidak titip salam kepada nama kyai atau ulama terkenal di Kendal. Justru menitip salam untuk orang yang dianggap gila oleh dirinya sendiri juga.

Mbah Hamid Pasuruan Titip Salam ke Wali Gila Eyang Thamud Kendal - Santriwati Pintar
Mbah Hamid Pasuruan Titip Salam ke Wali Gila Eyang Thamud Kendal - Santriwati Pintar


Mbah Hamid Pasuruan Titip Salam ke Wali Gila Eyang Thamud Kendal

“Bukankah orang tersebut adalah orang gila, Kyai?” sang tamu penasaran.

“Beliau adalah wali besar yang menjaga Kendal, rahmat Allah turun, bencana ditangkis, itu berkat beliau. Sampaikan salamku.”

Santriwati Pintar

Setelah pulang. Ia menyampaikan amanah dari Mbah Hamid Pasuruan itu. Sesampainya di pasar Kendal, ia menunggu kondisi sepi, menunggu orang-orang pasar pulang. Dihampirilah “orang yang dianggap gila tersebut”.

Santriwati Pintar

“Assalamu’alaikum…” sapa si tamu.

Wali tersebut memandang dengan tampang menakutkan layaknya orang gila sungguhan:.

“Wa’alaikumussalam.. ada apa..!!!”

Dengan badan agak gemetar, si tamu memberanikan diri. Berkatalah ia: “Panjenengan dapat salam dari Kyai Hamid Pasuruan, Assalamu’alaikum…”

Tak beberapa lama, wali tersebut berkata: “Wa’alaikumussalam” dan berteriak dengan nada keras:

“Kurang ajar si Hamid. Aku berusaha bersembunyi dari manusia agar tidak diketahui manusia kok malah dibocor-bocorkan. Ya Allah, aku tidak sanggup, kini telah ada yang tahu siapa aku. Aku mau pulang saja, gak sanggup aku hidup di dunia.”

Kemudian wali tersebut membaca sebuah doa, dan bibirnya mengucap: “Laa Ilaaha Illallah Muhammadun Rasulullah…”

Seketika itu langsung meninggallah sang wali di hadapan orang yang diutus Mbah Hamid.

Subhanallah… begitulah para walinya Allah, saking inginnya berasyik-asyikkan hanya dengan Allah sampai berusaha bersembunyi dari keduniawian, tak ingin ibadahnya diganggu oleh orang-orang ahli dunia. Mereka bersembunyi memakai cara masing-masing. Oleh karena itu, janganlah kita su’udzon terhadap orang-orang di sekitar kita.

Semoga nama kita tertanam di hati para kekasih Allah, sehingga kita selalu mendapat nadzrah dari guru-guru kita, dibimbing ruh kita sampai terakhir kita menghirup udara dunia ini, Aamiin. Santriwati Pintar

Sumber cerita: KH. Achmad Sa’idi bin KH. Sa’id, pengasuh Ponpes Attauhidiyyah Tegal.

Keterangan: Belakangan, nama fulan yang dikirimi salam oleh KH Abdul Hamid Pasuruan itu adalah Eyang Tsamud atau Samud atau Thamud. Saksi mata bernama Yudi Prastiawan, punya ingatan ketika masih sekolah di SD Penanggulan sekitar tahun 80 an awal. Mbah Samud sering tampak di beberapa pasar, antara lain: Pasar Mbulu, Karangayu, Kendal, Cepiring dan Pegandon. Ia tahu Mbah Samud karena kebetulan rumah berdekatan dengan pasar. Menurutnya, pakaian yang dikenakan berwarna hitam. Orang Semarang menyebutnya celana kombrong, yakni celana hitam yang biasa dikenakan bakul sate itu. Sering menggunakan baju berwarna hitam juga. Tapi tidak pernah dikancingkan. Perutnya gendut. Kepalanya gundul. Kadang membawa tongkat besar (lebih mirip alu daripada cagak). Kadang juga pakai tasbih besar terkalung. Visual fisik Mbah Samud seperti Biksu Cina di film-film itu. Tidak setiap hari orang yang disebut wali abdal itu di Pasar Pegandon. Yudi masing ingat, kalau Mbah Samud datang, anak-anak seusianya ramai-ramai membully "samud teko...samud teko". Karena memang disebut gila, ada orang tua yang menakut-nakuti anaknya ketika Mbah Samud datang ke pasar. Cerita yang beredar di Banyuwangi, Mbah Samud adalah lanjutan laku wali keturunan Joko Samudro atau dikenal Maulana Ainul Yaqin alias Sunan Giri. Setelah Mbah Samud tidak ada, kata Yudi, muncul nama lain yang juga berkarakter sama, namanya Senin. Makam Mbah Samud diperbaiki tahun 2014 setelah Surya Paloh ziarah.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/mbah-hamid-pasuruan-titip-salam-ke-wali-gila-eyang-tsamud-kendal.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock