Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

Generasi yang Hanya Senang Melafalkan Al-Quran

Santriwati Pintar - Dosen ilmu tasawuf Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Shodiq menyampaikan tujuh hal yang harus dilakukan untuk menghormati Al-Qur’an. Pertama, yang harus dilakukan umat Islam membacanya.

Generasi yang Hanya Senang Melafalkan Al-Quran
Generasi yang Hanya Senang Melafalkan Al-Quran


Membaca di sini bukan sekadar membaca. "Kalau membaca Al-Qur’an tanpa remuk redam hatinya atau menangis, berarti ada masalah dalam keimanannya terhadap kitab itu,” katanya saat berceramah di yang diselenggarakan Himpunan Qari' dan Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di gedung Student Center, pada Selasa (18/10).

Kiai Shodiq mengutip pernyataan seorang sufi besar, Malik bin Dinar, bahwa tidak beriman seorang hamba dengan Al-Qur’an ini kecuali akan remuk redam hancur hatinya. Pernyataan ini ia kutip dari kitab Addurarul Mansur karya Imam Suyuti.

“Kalau udah bener imannya, ndak mungkin kamu gak gemetar membacanya,” ucapnya.

Setelah itu, menghafalnya. Dalam menghafal, kita tidak dituntut untuk menghafalkan semuanya. Tidak cukup sampai menghafal, kita juga harus memahaminya. Namun, kita juga jangan berpuas diri sampai pada tahapan memahami.

Di akhir zaman nanti, Kiai Shodiq menjelaskan, akan banyak generasi yang hanya senang melafalkan Al-Qur’an dan Al-Qur’an cuma menjadi wacana diskusi, tetapi tidak merasuk ke dalam hati. Tentu tidak akan ada gunanya kalau hanya memahami aturan tetapi melanggarnya.

Maka dari itu, kewajiban kita selanjutnya adalah melaksanakan. Dia mencontohkan ayat Al-Qur’an yang berbunyi, udzkurullah dzikran katsira. Kita mengetahui, paham, dan hafal ayat tersebut. Tetapi kita tidak berzikir banyak-banyak. “Lah terus untuk apa?” tanyanya dengan nada menyindir.

Selanjutnya membiasakan. Melaksanakan tidak cukup sekali. Lawan nafsu untuk terus melaksanakannya terus menerus.

Membiasakan itu masih bisa goyah. Maka, tahap selanjutnya adalah kita harus mempribadikan Al-Qur’an. Artinya, kita harus menjadikan Al-Qur’an itu sebagai akhlak kita. “Akhlaknya Rasul itu ya Al-Qur’an,” ujar Kepala Pusat Ma'had UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengutip pernyataan Sayyidah Aisyah.

“Quran itu bukan lagi dalam pikiran, tapi sudah masuk dalam perasaan,” lanjutnya. Setelah semua langkah itu terpenuhi, maka tahapan terakhir, menurutnya, adalah kita harus memasyarakatkan Al-Qur’an. Mereka yang melakukan tujuh hal di atas adalah ahlullah fil arld, keluarga Allah di bumi. [Santriwati Pintar/ syakirSantriwati Pintar] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/generasi-yang-hanya-senang-melafalkan-alquran.html

Senin, 06 Februari 2017

Gaduh, 1 Februari Diusulkan ke PBNU Sebagai Hari Mendadak NU

Santriwati Pintar - Ada saja cara-cara yang digunakan oleh Netizen NU di jagad Twitter untuk meramaikan kekonyolan muslimin cyber sebelah yang suka memancing-mancing agar situsasi politik makin yak nah.

Gaduh, 1 Februari Diusulkan ke PBNU Sebagai Hari Mendadak NU
Gaduh, 1 Februari Diusulkan ke PBNU Sebagai Hari Mendadak NU


Soal kasus Ahok yang "melecehkan" Ketua Umum MUI, KH Ma'ruf Amin pun dipanasi mereka. Mengaku pembela ulama, cyber sebelah mengajak nahdliyyin ikut turun ke jalan. Bahkan yang ada menggoreng berita dengan judul-judul provokatif mengajak perang. Duh duh duh.

Mereka yang selama ini menyerang NU dan kiai nya, yang dianggapnya tidak membela ulama, tidak membela Al-Quran karena PBNU tidak menyarankan warganya ikut aksi bela Islam berjilid-jilid itu, mendadak simpatik kepada NU. Dengan santai, satir, main-main namun kritis, Netizen NU pun meramaikan fenomena ini dengan tagar #MendadakNU di twitterland.

Mendadak NU Trending Topic di Tweetland Pantauan Santriwati Pintar, tagar #MendadakNU inisiasi Netizen NU jadi trending topic selama 20 jam, terhitung sejak pukul 01.00-20.00 WIB, Kamis (02/02/2017). Menelusuri cuitan yang menggunakan tagar itu pun sangat mudah. Banyak komentar dan pendapat yang bertebaran di Twitter yang dihembuskan manusia-manusia kompor untuk mengalihkan panasnya nalar kepada nahdliyyin.

"Berbagai pernyataan yang memanaskan situasi seolah mewakili warga NU, cukup ramai dalam jagad maya dan semua orang #MendadakNU. Beliau sadar bahwa banyak pihak yang akan menjadikan dirinya menjadi mesin pembakar massa yang berujung konflik. Terima kasih Pak Kiai, ulama NU kembali memperlihatkan sikap kenegarawanan yang berulang kali diuji dalam sejarah masa kritis Indonesia," kata Kang Dedi Mulyadi dalam akun twitternya.

Bahkan, ada broadcast lucu bernada satir yang disebar Netizen NU hingga viral. Ini dia:

MENG-NU

Dulu, Gus Dur, mantan Ketua PBNU, disebut buta mata buta hati,

Orang NU marah, yang lain diam, ada yang malah senang.

Dulu, Cak Nun, budayawan NU, disebut Kiai Gila,

Orang NU marah, yang lain diam, ada yang ikut nyebut gila

Dulu, Habib Qurays Shihab, partner diskusi para Kiai NU, difitnah Syiah,

Orang NU marah, yang lain diam, ada yang ikut nyebarin fitnahnya Jonru..

Dulu, Gus Mus, Rais Am PBNU, dibilang penyair yang sok Kiai,

Orang NU marah, yang lain diam, malah ada yang tepuk tangan.

Dulu, Yai Said, Ketua PBNU, dibilang Kiai Sesat, Kiai Anus,

Orang NU marah, yang lain diam, ada yang ikut-ikutan nyebut sesat dan anus.

Kini, Yai Ma'ruf, Rais Am PBNU, diragukan keahliannya,

Orang NU marah, yang lain ikut marah.

Alhamdulillah, memang benar, katanya semua akan jadi NU pada waktunya (y)

Cuma tetap ada bedanya. Antara NU lama dan NU dadakan.

Orang NU lama marahnya tetap memegang adab,

Orang NU dadakan sepertinya sudah siap saling cabut nyawa.

Karena mendadak ramai orang-orang bicara NU dan lagak membela Kiai NU, namun anti amaliyah NU macam tahlilan, manaqiban, maulidan, salah satu Netizen NU ada yang usil mengusulkan kepada PBNU agar 1 Februari dijadikan sebagai "Hari Mendadak NU". Hahaha. Ini statusnya.

Hari Mendadak NU Jika setuju usulan di atas, berarti Anda bagian dari yang merawat persatuan negeri ini. Jika malah merespon dengan nada ingin perang, apa Anda umat kompor? Begitulah. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/gaduh-1-februari-diusulkan-ke-pnu-sebagai-hari-mendadak-nu.html

Senin, 23 November 2015

Ini Surat Ancaman Abu Bakar ISIS

Pasca bom Sarinah, sebuah telegram langsung dari pemimpin tertinggi ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi, secara rahasia berhasil dibongkar. Telegram itu ditujukan kepada Abu Wardah yang dikenal dengan nama Santoso, cabang ISIS di Poso.

Kami berhasil menterjemahkan surat tersebut dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Gerakan teror yang dilancarkan di Jakarta sebagai pemanasan untuk mengembangkan khilafah Daulah Islamiyah ternyata gagal di awal.

Ini Surat Ancaman Abu Bakar ISIS - Santriwati Pintar
Ini Surat Ancaman Abu Bakar ISIS - Santriwati Pintar


Ini Surat Ancaman Abu Bakar ISIS

Saya meminta pada kelompok di Indonesia untuk menata ulang pola serangan dengan baik, supaya kesuksesan Daulah Islamiyah di Indonesia berhasil setahap demi setahap.

Saya tidak tahu apa penyebab kegagalan itu. Tetapi dari media sosial yang saya dapatkan ternyata orang Indonesia tidak takut dengan ISIS. Malah mereka mengejek kita dengan memanggil Sis. Memangnya kita dagang online apa? "Sis, cek harga di inbox... PM, ya say...."

Saya tahu itu, karena dulu saya jualan online. Malah re-seller saya sudah 12 orang. Ah, maaf saya ngelantur. Terkadang memori lama memang mengasyikkan.

Kembali pada pokok permasalahan. Data yang masuk kepada kami kurang akurat. Indonesia ternyata bukan Perancis. Kami melihat orang Indonesia tidak ada takutnya. Malah ketika tembak-tembakan, masih ada yang jual sate segala. Ini teror apa pasar kaget? Coba di teliti ulang.

Data yang masuk kepada kami di pusat, orang Indonesia hanya takut pada satu hal, yaitu emak-emak naik motor matic karena sein-nya ke kanan, dia-nya kekiri. Ini bisa menjadi masukan bagus. Strategi berikutnya kita akan menyamar jadi emak-emak naik motor matic. Coba telusuri bagaimana caranya dan infokan ke kami.

Kegagalan kemarin sangat mengecewakan. Kenapa kalian tidak mampu membunuh banyak orang? Saya sempat mau kirimkan Boko Haram menggantikan posisi kalian. Hanya ada staf saya yang mengingatkan, di Indonesia harus dapat sertifikat dari MUI dulu baru halal. Ini maksudnya apaan? Masak namanya berubah jadi Boko Halal?

Kami memang salah mengira bahwa Indonesia mudah ditaklukkan. Ketika sedang santai, saya membaca lagi komik Asterix. Ternyata Indonesia itu mirip desa Galia. Sejarahnya memang bangsa Indonesia keturunan dari kerajaan Majapahit atau dulu dikenal dengan nama Majapahitix.

Di sana pasti ada ramuan ajaib. Mereka meminum ramuan yang dulu dibuat dukun Panoramix. Coba teliti lagi, saya dengar disana ada beberapa orang yang perlu diwaspadai. Data yang saya dapat, namanya Fadli Zonix, Fahri Hamzahix dan Nikita Mirzanix. Yang terakhir itu wanita. Dia sekali operasi mahal bayarannya, sekitar 60 juta. Dekati dia dan tawar, bisa tidak diskon 20%, ini sudah dekat mau lebaran.

Saya juga mendapat surat cinta dari yang bernama Denny Siregar. Dia sebut-sebut dalam suratnya Sumber Kencono, Kopaja dan Metromini. Kedengarannya menakutkan sekali. Mereka terbiasa diteror dengan itu sampai sudah tidak takut lagi. Saya tidak bisa menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa arab "Rapat belakang.. Tareeek..." Tolong saya dibantu menterjemahkan. Siapa tahu itu senjata rahasia.

Yang berikut saya akan pakai bahasa sandi supaya telegram ini tidak bocor:

[Santoso.. So... Aku Suroto, so.. Nang arab ae jenengku Abu Bakar Al Baghdadi. Aku iki wong Jowo, podo karo awakmu so.. Yak opo kabare Birin? Sek ngangon kambing? Gabung ae karo awakmu, So.. Lumayan, de'e oleh penghasilan. Sakno, so... Emak'e wis mati..]

Semoga bahasa sandi itu tidak bisa diterjemahkan semisal telegram ini bocor.

Saya lanjutkan kembali, Susun kembali pola serangan dengan baik. Kemarin itu polanya 4-3-3. Coba 3-6-1 atau 3-5-2. Kurangi bek-nya, perkuat pertahanan di tengah. Gelandang kiri jangan selalu kosong. Tolong kode ini dipahami dengan baik.

Saya rasa cukup telegram ini dan kalau sudah selesai dibaca, telegram ini akan hancur sendiri. Iya, saya niru film Mission Impossible. Kalau gak hancur, bisa dibakar pake korek api. Tetap semangat berjuang saudaraku. Semoga cepat terlaksana janji Tuhan untuk memberikan kita 72 bidadari. Tegakkan khilafah! Tegakkan khilafah!

Big Hug and Love,

Abu Bakar Al Baghdadi NB: So, awakmu isok ngguyu karo split? Aku kok ora isok ya, so? Bokongku suwek. [ed]

#KamiTidakTakutTeroris #KamiLawanTeroris

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/01/ini-surat-ancaman-abu-bakar-isis.html

Rabu, 01 April 2015

Tiap PCNU Wajib Miliki Lembaga Penanggulangan Bencana

Jakarta, Santriwati Pintar. Sudah seharusnya seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Indonesia mempunyai Lembaga Penaggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU (LPBINU). Banyaknya jaringan LPBINU di daerah akan mempermudah pengurus pusat dalam melakukan koordinasi.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Bidang Tanggap Darurat Pengurus Pusat LPBINU Yayah Ruchyati di kantornya, gedung PBNU Lantai 7, Jl Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (4/2). Menurut dia, hal ini cukup mendesak mengingat Indonesia dikenal sebagai kawasan rawan bencana, seperti letusan gunung merapi, gempa, puting beliung, longsor dan banjir.

Tiap PCNU Wajib Miliki Lembaga Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiap PCNU Wajib Miliki Lembaga Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)


Tiap PCNU Wajib Miliki Lembaga Penanggulangan Bencana

Ia menjelaskan, saat ini LPBINU hanya menginventarisasi 23 cabang LPBINU. Sementara di tingkat wilayah, jumlah LPBINU tak lebih dari 10. Itu pun di beberapa wilayah yang pernah mengalami bencana, seperti Jawa Timur, Sumatera Barat, Jogja, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, paparnya.

LPBI mengimbau, untuk PCNU yang belum memiliki lembaga pelaksana kebijakan dan program NU di bidang perubahan iklim, penanggulangan bencana, dan pelestarian lingkungan itu untuk segera membentuk.

Santriwati Pintar

Yayah menambahkan, di tengah kondisi Tanah Air yang rentan bencana, pihaknya berharap masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan. Di samping, penggalangan bantuan untuk warga lain yang tertimpa musibah juga perlu digalakkan. Bantuan bisa dikirimkan kepada PCNU di daerah masing-masing untuk disalurkan kepada korban, imbuhnya.

Santriwati Pintar

LPBINU kini sedang melakukan pendampingan pembuatan rencana penanggulangan bencana (RPB) dan rencana aksi daerah (RAD) di 8 kabupaten di Jawa Timur. Antara lain, Bojonegoro, Malang, Lamongan,Tulungagung, Pasuruan, Mojokerto, Lumajang, dan Trenggalek.

Lembaga yang dulu bernama CBDRM-NU (Community Based Disaster Risk Management) ini juga telah menyalurkan sejumlah bantuan ke beberapa daerah yang belakangan dilanda bencana banjir, seperti Jakarta dan Manado. (Mahbib Khoiron)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49950/tiap-pcnu-wajib-miliki-lembaga-penanggulangan-bencana

Kamis, 24 April 2014

Perumpaan Rasulullah untuk Orang yang Tak Berdzikir



Perumpaan Rasulullah untuk Orang yang Tak Berdzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Perumpaan Rasulullah untuk Orang yang Tak Berdzikir (Sumber Gambar : Nu Online)


Perumpaan Rasulullah untuk Orang yang Tak Berdzikir

Perumpamaan antara orang yang dzikir pada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati. (HR Bukhari)

Dzikir bagi hati selayak air bagi ikan. Dzikir yang merupakan kesadaran ilahiah menjadi energi yang menghidupkan hati. Karena hati adalah elemen paling pokok dari manusia, matinya hati sama dengan matinya seluruh tubuh. Syekh Ibnu Athaillah, sebagaimana dikatakan Ibnu Ajibah dalam Iqadhul Himam (syarah al-Hkam), menyebut bahwa di antara tanda matinya hati adalah hilangnya rasa sedih dan penyesalan ketika berbuat yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ibnu Ajibah sendiri mengatakan, matinya hati dilatari oleh tiga faktor, yakni cinta dunia, lalai dari dzikir kepada Allah, membiarkan anggota badan jatuh dalam perbuatan maksiat. Wallhu alam.

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Dari (Quote Islami) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74775/perumpaan-rasulullah-untuk-orang-yang-tak-berdzikir

Santriwati Pintar

Minggu, 22 Desember 2013

PBNU Soroti Kasus-Kasus Penggusuran

Jakarta, Santriwati Pintar. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar F Masudi mengajak para kiai untuk menelaah kebijakan pemerintah seperti kasus-kasus penggusuran. Menurut Kiai Masdar, para kiai melalui bahtsul masail qanuniyah justru lebih bebas bergerak untuk menjatuhkan penilaian atas kebijakan pemerintah.

Di pesantren Al-Manar Azhari, Depok, asuhan KH Manarul Hidayat ini, Sabtu (9/5), Kiai Masdar mengingatkan peserta bahtsul masail PBNU untuk mengerahkan segala pengamatan dalam memandang kasus penggusuran. Para kiai selama ini resah atas eksekusi penggusuran lahan produktif atau pemukiman warga.

PBNU Soroti Kasus-Kasus Penggusuran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Soroti Kasus-Kasus Penggusuran (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU Soroti Kasus-Kasus Penggusuran

Memang sejatinya tidak ada masalah yang mengandung mudharat 100%. Begitu juga sebaliknya, tidak ada masalah yang menghasilkan manfaat 100%. Bahkan Al-Quran pun mengakui ada manfaat dari khamar, meskipun mudharatnya jauh lebih besar dari manfaatnya. Karenanya, khamar itu diharamkan. Demikian berlaku pada kasus penggusuran dan kasus lainnya, kata Kiai Masdar.

Santriwati Pintar

Untuk mencapai pertimbangan mashlahat dan mudharatnya, para bahitsin memerlukan ilmu tersendiri untuk mengukur rasio keduanya. Mereka perlu deskripsi matang perihal penggusuran itu. Dengan pemahaman atas masalah yang terjadi di lapangan, mereka bisa memutuskan fatwa hingga berkaitan dengan ganti kerugian akibat penggusuran.

Santriwati Pintar

Suatu penggusuran di suatu tempat, di suatu waktu, melibatkan pihak tertentu, juga dengan cara tertentu, bisa memiliki hukum berbeda dengan penggusuran di lain tempat, waktu, pihak, dan keadaan yang lain, kata Masdar.

Sejauh mana mashlahat penggusuran bagi pemilik tanah yang menjadi korban, bagi pemerintah, dan bagi umum. Ini menuntut adanya deskripsi di lapangan, kata Kiai Masdar di hadapan sedikitnya 150 kiai peserta bahtsul masail PBNU.

Dengan sidang Qanuniyah ini, NU bisa disebut maju. Pada sidang ini peserta mengkritisi kebijakan pemerintah yang sudah berjalan. Misalnya merevisi pasal bermasalah di dalam UU atau menggantinya sekaligus. Untuk itu, output bahtsul masail qanuniyah berbentuk rekomendasi.

Kalau perlu, putusan forum ini dibuat dalam bentuk legal drafting yang diajukan para kiai saat parlemen atau pemerintah merevisi UU bermasalah itu.

Atau para kiai bisa meluruskan kesalahan paradigma pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan penggusuran itu sendiri, tutup Kiai Masdar pada bahstul masail yang berlangsung hingga Ahad (10/5). (Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59457/pbnu-soroti-kasus-kasus-penggusuran

Santriwati Pintar

Rabu, 24 Juli 2013

Pondok Pesantren Al-Amin Purwokerto Utara Banyumas

Jika mendengar namanya, jujur kami Santriwati Pintar jadi teringat ketika dulu pernah dan sempat ke Pondok Pesantren Quran Al-Amin purwokerto tersebut. Seperti apa profil pondok tersebut, mari kita ulas disini.

PPQ Al-Amin atau Pondok Pesantren Qur'an Al-Amin pertama kali didirikan yaitu pada 20 Desember 1994, Pesantren Al-Amin ini berlokasi di Kelurahan Pabuwaran Purwokerto Utara.

Berdirinya pesantren ini ketika pengasuh pondok KH. Drs. Ibnu Mukti, M.PdI mengadakan pengajian umum setiap malam kamis di musholla sekitar, yaitu Mushola Nurul Barokah dan Musholla Baitul Muttaqin. Kemudian mulai ada anak-anak yang ingin belajar ngaji, waktunya setelah sholat maghrib.

Awal Mula Al-Amin Purwokerto


Diceritakan kepada Santriwati Pintar, Awal mula pondok pesantren Al-Amin ini bermula ketika tahun 1992 ketika Abah Mukti beserta keluarga pindah ke Purwokerto yang sebelumnya di Jakarta, alasan kedatangan ke Purwokerto karena Ibu Nyai saat itu baru diterima menjadi dosen Fakultas Ekonomi UNSOED.

Abah kyai mukti sebelum di Pabuwaran, beliau tinggal di daerah Sumampir purwokerto. Abah mukti sangat suka mendatangi mushola dan masjid di sekitar untuk mengajar ngaji dan ceramah. Nah mulai saat itu Abah kiai Ibnu Mukti dikenal sebagai ustadz dan ulama.

Kemudian ada jamaah pengajian beliau (Hj. Siti Aminah) yang mewakafkan sebidang tanah di kelurahan Pabuwaran untuk dibangun pondok pesantren, karena itu Abah Mukti pindah ke pabuwaran.

Abah kyai Ibnu Mukti saat itu tinggal di rumah kecil, dan tanah wakaf yang rencana akan dibangun pesantren itu masih berupa tanah kosong yang tidak rata karena daerah pabuaran memang daerah miring.

Untuk bisa dibangun pondok, tanah wakaf harus terlebih dahulu diratakan dengan tanah. Kata abah yai, dulu untuk meratakan butuh 10 lebih truk tanah. Setelah semua rata barulah pembangunan Pondok Pesantren Al-Amin dimulai secara bertahap.

Pondok putra lantai satu sudah dibangun, Abah kiyai dan keluarga pindah disitu dan santri putra yang berasal dari sekitar Purwokerto menghuni kamar sebelahnya. Kemudian, Abah yai bersama santri-santri membangun lantai dua dan lantai tiga. Setelah pondok putra selesai dibangun, kemudian dilanjutkan membangun pondok putri pusat dan ndalem (yang ditinggali Abah sekarang).

Pada tahun 1994 pembangunan pondok selesai dan oleh Abah kiai Mukti diberi nama Pondok Pesantren Al Quran Al Amin, nama Al Amin ini diambil dari nama Siti Aminah yang telah memberi tanah wakaf, tujuannya untuk mengenang jasa beliau.

Untuk foto selengkapnya, silahkan kunjungi blog Bang Roy Han.

Dari : http://bangroyhan.pasti.in/pondok-pesantren/pondok-pesantren-al-amin-purwokerto-utara-banyumas/

Pondok Pesantren Al-Amin Purwokerto Utara Banyumas - Santriwati Pintar
Pondok Pesantren Al-Amin Purwokerto Utara Banyumas - Santriwati Pintar


Pondok Pesantren Al-Amin Purwokerto Utara Banyumas

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock