Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2017

Menikahlah, Lalu Lahirkan Seorang Anak. Ini Keutamaan Memiliki Anak

Santriwati Pintar - Anak adalah buah hati yang dicita-citakan oleh pasutri (pasangan suami istri). Sebenarnya tujuan seorang menikah salah satunya adalah menginginkan lahirnya anak. Anak adalah harta yang tak ternilai harganya. Ada seorang yang kaya raya, tapi dia tidak memiliki anak. Kesusahannya melebihi susahnya orang miskin yang mempunyai anak sepuluh dan sulit untuk membiayai kehidupannya. Allahu Akbar.

Menikahlah, Lalu Lahirkan Seorang Anak. Ini Keutamaan Memiliki Anak
Menikahlah, Lalu Lahirkan Seorang Anak. Ini Keutamaan Memiliki Anak


Nabi pernah bersabda tentang anak:

لا يدع أحدكم طلب الولد فان الرجل اذا مات وليس له ولد انقطع اسمه. (رواه الترمذي )

"Jangan sampai seseorang itu tidak ingin mempunyai anak. Karena seseorang yang meninggal dunia sedangkan dia tidak mempunyai anak, terputuslah namanya".

Di dalam riwayat lain, lebih asyik;

لن يؤخر الله نفسا اذاجاء اجلها وانما زيادة العمر ذرية صالحة يرزقها العبد يدعون له من بعد موته يلحقه دعائهم.

"Allah SWT tidak akan mengakhirkan ajal kita, jika waktunya sudah tiba, akan tetapi akan diberikan panjang umur dengan adanya dzurriyah sholihah yang senantiasa mendoakan kita ketika ajal sudah menjemput".

Anak sholih sholihah itu adalah wujud dari pada panjang umur kita. Mereka akan senantiasa mendoakan terhadap kita sesudah nyawa ini tak berdaya, tak mampu lagi untuk bernapas, pun demikian yang sering kita dengar, -apalagi hari-hari ini- banyak anak yang dipukuli oleh orang tuanya sendiri, disiksa dan sebagainya. Padahal 14 abad yang lalu Nabi pun pernah bersabda kepada Ibnu Abbas;

يا ابن عباس.. بيت لا صبيان فيه لا بركة فيه

"Rumah yang tidak ada anak kecilnya, maka rumah tersebut tidak ada keberkahan di dalamnya".

Anak sendiri itu membawa keberkahan. Biarkanlah mereka menangis. Karena anak kecil bisanya cuma menangis, tapi jangan kau biarkan begitu saja jika mereka menangis, beri harapan apa yang menjadi keinginannya. Nabipun pernah mempercepat sholatnya disebabkan ada anak kecil yang menangis.

Anak kecil sering tersenyum sendiri, tiba-tiba tertawa. Kadang kita lihat saja sudah tertawa sendiri. Kadang-kadang hanya kita pegang saja sudah menangis. Hal Itu memberikan keberkahan tersendiri terhadap tuan rumahnya.

Nanti Allah SWT pada hari kiamat akan mengumpulkan anak-anak kecil dari umat Sayyiduna Muhammad SAW, mengumpulkan di telaganya SAW di bawah Arsy. Kemudian suatu waktu terjadi, mereka anak-anak kecil itu pada tertunduk. Kemudian Allah SWT berkata kepada mereka: "Wahai anak-anak kecil, mengapa kalian semua tertunduk, tidak mengangkat kepala, malah merautkan wajah yang bersedih?

Maka mereka menjawab;

يا ربنا الآباء والأمهات في عطس ونحن في هذه الحياض

"Wahai Tuhanku, bapak-bapakku, ibuku mereka dalam keadaan kehausan di padang Mahsyar, sedangkan kami berada di telaga Nabi besar Muhammad SAW".

Maka Allah SWT mewahyukan kepada anak-anak tersebut. Baiklah, ambilkanlah air dari telaga kautsar itu. Carilah ayahmu. Carilah ibumu. Berikanlah minum mereka. Subhanallah..

Begitu indahnya peran seorang anak yang akan memberikan syafaat kepada diri kita.

Teriwayatkan dari Abu Ya'la: "Barang siapa yang memperbaiki sholatnya, banyak anaknya, sedikit hartanya tapi tidak pernah mengghibah orang muslim, maka dia bersamaku di surga nanti كهتين / kahataini (seperti halnya dekatnya antara jari telunjuk dengan jari tengah. Sabda Nabi.

Jangan remehkan anak-anak. Beri mereka kesenangan yang tidak menjerumuskan. Beri mereka pendidikan yang layak. Ajarkan mereka kebaikan, maka Insyaa Allah jika kita terus berdoa kepada Allah maka anak-anak kita nanti yang akan menjadikan umur kita semakin panjang. Jangan pernah melaknat anak. Jangan pernah mencela anak. Jangan pernah berniat buruk kepada anak. Nanti, malah kita yang akan menyesal sendiri. Wal iyadzu Billah. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/menikahlah-lalu-lahirkan-seorang-anak-ini-keutamaan-memiliki-anak.html

Rabu, 08 Februari 2017

Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Santriwati Pintar - Sebelum membaca doa, setelah sholat fardhu disunnahkan untuk membaca dzikir yang sudah muwarodah (terjamin sanadnya dari rasul). Ini adalah amalan yang biasa dilakukan oleh musholli (yang sholat) baik kala sendiri (munfarid) atau berjamaah.

Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu
Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu


Dzikir setelah sholat bisa menenangkan sejenak atas pikiran kita yang pada waktu sebelumnya penuh dan sesak dengan penat aktivitas sehari-hari. Masalah dzikir setelah sholat itu mau dibaca jahr (keras) atau sirr (lirih), itu pilihan sesuai situsasi dan kondisi.

Jika dzikir usai sholat itu Anda baca, sementara disamping Anda sedang ada yang melaksanakan sholat, misalnya, maka, dzikir tersebut supaya Anda baca pelan agar tidak mengganggu kekhusyu’an sholat orang di sebelah Anda tersebut.

Tidak masalah juga jika dzikir setelah sholat sebagaimana kami sajikan di bawah ini dibaca bersama-sama dengan hadirin yang berjama’ah, baik di masjid, mushalla maupun di tempat lain yang suci. Hanya wahabi yang menyebut hal itu bid’ah. Semua ada dalilnya kok.

Inilah dzikir setelah sholat yang bisa Anda baca:

ASTAGHFIRULLOHAL ADZHIIM, AL-LADZII LAA ILAAHA ILLAA

HUWAL HAYYUL QOYYUUMU WA ATUUBU ILAIH. (Dibaca 3x)

LA ILAHA ILLALLOHU WA’HDAHU LA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU

WALAHUL HAMDU YU’HYII WA YUMIITU WAHUWA ALA KULLI SYAI’IN QODIIR. (Dibaca

3x)

ALLOHUMMA ANTAS SALAM WA MINGKAS SALAM WA ILAIKA

YA’UWDUS SALAM, FAHAYYINA ROBBANA BI SSALAMU WA ADKHILNAL JANNATA

DAROS SALAM. TABAROKTA ROBBANA WA TA’ALAITA YA DZAL JALALI WAL IKROM.

A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHONIR ROJIIM

BISMILLAHIR RO’HMANIR RO’HIIM

AL’HAMDULILLAHIROBBIL’AaLAMIiN(i) – ARRO’HMANIRRO’HIM(i) –

MALIKI YAWMIDDIiN(i) – IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IiN(u) –

IHDINASH-SHIRO_THOLMUSTAQIiM(a) – SHIRO_THOLLADZIiNA AN’AMTA ‘ALAIHIM

GHOIRILMAGH-DHUuBI ‘ALAIHIM WALA_DHO_LLIiN(a) – AaMIiN(a).

WA ILAAHUKUM ILAAHUW WAA HIDU LAA ILAAHA ILLAA HUWAR

ROHMAANUR ROHIIMU. ALLAAHU LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYULQOYYUuM(u). LAA TA’KHUDZUHUU

SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII

YASFA’U ‘INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA’LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM.

WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN ‘ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI’A

KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL ‘ALIYYUL

AZHIIM

ILAHANA ROBBANA ANTA MAULANA SUB’HANALLOH SUB’HANALLOH (Dibaca 33x)

SUB’HA NALLOHI WABI’HAMDIHI DAIMAN ABADAN

AL’HAMDULILLAH ALHAMDULILLAH (Dibaca 33x)

AL’HAMDULILLAHI ‘ALA KULLI’HA_LINN WAFIiKULLI’HALIN

WABINI’MATI YA_KARIiM(u). ALLAHU AKBAR (Dibaca 33x)

ALLOHU AKBAR KABIiRON WAL’HAMDULILLAHI KATSIiRON

WASUB’HA_NALLOHI BUKROTAN WA ASHIiLAN, LA_ILAHA ILLALLOHU

WA’HDAHULA_SYARIiKALAH, LAHULMULKU WALAHUL’HAMDU YU’HYIi WAYUMIiTU WAHUWA

‘ALA_KULLI SYAi IN QODIR. WALA HAULA WALA QUWWATA ILLA BI LLAHIL ALIYYIL ADZHIM.

ASTAGHFIRULLOHAL_’ADZHIIM(A) (Dibaca 3x), INNALLOHA GHOFUURURO’HIIM

AFDHOLUDZ DZIKRI FA’ LAM ANNAHU...

LA ILAHA ILLALLOH. (Dibaca 33x)

LA ILAHA ILLALLOH MU’HAMMADUROSUULULLOHI SOLLALLOHU ALAIHI

WA SALLAM, KALIMATU HAQQIN ALAIHA NA’HYA WA ‘ALAIHA NAMUUTU WA BIHA NUB’A-TSU INGSYA ALLOHU MINAL AMINIIN.

Jika ingin mendengarkan pelafalan dzikir setelah sholat fardhu di atas, silakan simak, dengarkan, lalu download. Pakai IDM bisa. Di hape, bisa pakai aplikasi Souncloud, tinggal klik, ulangi berkali-kali hingga hafal. Doa-doa lain ada di channel Santriwati Pintar.

Setelah dzikir, berdoalah. Kata Nabi, berdoa setelah usai melaksanakan sholat itu banyak diterimanya oleh Allah karena waktu habis sholat adalah salah satu waktu yang utama untuk berdoa, dan merupakan waktu mustajab doa. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/bacaan-dzikir-setelah-sholat-fardhu.html

Selasa, 07 Februari 2017

Generasi yang Hanya Senang Melafalkan Al-Quran

Santriwati Pintar - Dosen ilmu tasawuf Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Shodiq menyampaikan tujuh hal yang harus dilakukan untuk menghormati Al-Qur’an. Pertama, yang harus dilakukan umat Islam membacanya.

Generasi yang Hanya Senang Melafalkan Al-Quran
Generasi yang Hanya Senang Melafalkan Al-Quran


Membaca di sini bukan sekadar membaca. "Kalau membaca Al-Qur’an tanpa remuk redam hatinya atau menangis, berarti ada masalah dalam keimanannya terhadap kitab itu,” katanya saat berceramah di yang diselenggarakan Himpunan Qari' dan Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di gedung Student Center, pada Selasa (18/10).

Kiai Shodiq mengutip pernyataan seorang sufi besar, Malik bin Dinar, bahwa tidak beriman seorang hamba dengan Al-Qur’an ini kecuali akan remuk redam hancur hatinya. Pernyataan ini ia kutip dari kitab Addurarul Mansur karya Imam Suyuti.

“Kalau udah bener imannya, ndak mungkin kamu gak gemetar membacanya,” ucapnya.

Setelah itu, menghafalnya. Dalam menghafal, kita tidak dituntut untuk menghafalkan semuanya. Tidak cukup sampai menghafal, kita juga harus memahaminya. Namun, kita juga jangan berpuas diri sampai pada tahapan memahami.

Di akhir zaman nanti, Kiai Shodiq menjelaskan, akan banyak generasi yang hanya senang melafalkan Al-Qur’an dan Al-Qur’an cuma menjadi wacana diskusi, tetapi tidak merasuk ke dalam hati. Tentu tidak akan ada gunanya kalau hanya memahami aturan tetapi melanggarnya.

Maka dari itu, kewajiban kita selanjutnya adalah melaksanakan. Dia mencontohkan ayat Al-Qur’an yang berbunyi, udzkurullah dzikran katsira. Kita mengetahui, paham, dan hafal ayat tersebut. Tetapi kita tidak berzikir banyak-banyak. “Lah terus untuk apa?” tanyanya dengan nada menyindir.

Selanjutnya membiasakan. Melaksanakan tidak cukup sekali. Lawan nafsu untuk terus melaksanakannya terus menerus.

Membiasakan itu masih bisa goyah. Maka, tahap selanjutnya adalah kita harus mempribadikan Al-Qur’an. Artinya, kita harus menjadikan Al-Qur’an itu sebagai akhlak kita. “Akhlaknya Rasul itu ya Al-Qur’an,” ujar Kepala Pusat Ma'had UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengutip pernyataan Sayyidah Aisyah.

“Quran itu bukan lagi dalam pikiran, tapi sudah masuk dalam perasaan,” lanjutnya. Setelah semua langkah itu terpenuhi, maka tahapan terakhir, menurutnya, adalah kita harus memasyarakatkan Al-Qur’an. Mereka yang melakukan tujuh hal di atas adalah ahlullah fil arld, keluarga Allah di bumi. [Santriwati Pintar/ syakirSantriwati Pintar] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/generasi-yang-hanya-senang-melafalkan-alquran.html

Kamis, 10 September 2015

Pengagum Jenggot Tanggung Mengkritik Kiai Kampung

Anak muda itu bersungut-sungut dan curhat ke Ujang: "Kenapa ceramah dari kiai sepuh tadi itu kok isinya cerita saja, jarang sekali kutipan dalil ayat dan hadistnya."

Pengagum Jenggot Tanggung Mengkritik Kiai Kampung
Pengagum Jenggot Tanggung Mengkritik Kiai Kampung


"Terus? Apa lagi?" tanya Ujang

"Iya Kang....begitu diminta baca doa, mbah kiai itu juga doanya pendek-pendek saja, gak bisa bikin jamaah menangis kayak dzikirnya ustad yang sering tampil di tv itu lho"

"Masih ada? keluarkan saja...ayo apalagi?"

"Satu lagi Kang....kok mbah kiai tadi juga pakaiannya sederhana dan gak pakai sorban melingkar di atas kepalanya, atau tangannya gak memegang biji tasbih. Saat diajak bicara juga biasa saja gak kelihatan kayak orang alim yang sedikit-sedikit menyebut subhnallah...masya Allah. Bahkan tadi malah guyonan gitu sama panitia. Beliau beneran kiai gak sih?"

Ujang meletakkan hp nya di atas meja. "Jundi, ente dengerin yah....soalnya saya cuma ngomong ini sekali. Tidak ada siaran ulangan," ujar Ujang dengan suara yang mendadak terdengar berat dan berwibawa ala vokalis Jamrud.

Jundi, anak muda yang curhat itu, mendadak tegang. Sedetik kemudian Ujang tertawa ngakak. "Nah kan...baru saya ubah gaya saya bicara dan pasang muka jaim, ente sudah tegang. Para Kiai itu gak mau jaim dalam tutur kata maupun sikap kesehariannya, karena umat bisa tegang terus. Para Kiai itu ingin akrab dan dekat dengan umat, bukan malah menciptakan jarak dengan berbagai atribut ke-kiai-annya. Ada kalanya para Kiai itu pakai sorban, atau cuma peci, atau malah pakai blankon, topi cowboy, atau topi pet gaya anak muda. Kiai yang gondrong juga ada lho. Ilmu mereka luas, dan sikap serta penampilan mereka luwes."

Jundi mulai manggut-manggut. Ujang meneruskan gaya kultumnya. "Para Kiai itu tahu betul hadis Nabi yang mengatakan Allah tidak melihat penampilanmu, tapi melihat isi hatimu. Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila suwarikum, walakin yanzhuru ila qulubikum."

"Ah mendadak pakai dalil deh diriku ini" mbatin Ujang.

Ujang lantas membuka hpnya dan menunjukkan kepada Jundi sejumlah foto para Kiai yang penampilannya santai. Ada foto santai Mbah Muslim Imampuro (Allah yarham), ada foto Kiai Mustofa Bisri yang selepas menolak menjadi Rais Am wajahnya makin bersinar dan terlihat sehat berseri tanda tidak punya beban berat. Beliau enteng saja mau pakai topi, peci atau sorban. Dan foto Habib Luthfi, sang mursyid tarekat, yang dengan nyamannya pakai topi cowboy atau blankon.

"Kalau soal para Kiai jarang pakai dalil apa alasannya Kang?"

"Jundi, kalau soal dalil tanya sama santri....mereka dalam dua menit sudah bisa ngasih dalil yang kamu minta. Sekarang itu sudah ada software maktabah syamilah. Gampang banget nyari dalil. Justru kalau para Kiai ceramah, saya lebih fokus pada kisah dan cerita yang mereka sampaikan hasil pergumulan batin mereka berpuluh tahun mengajar dan mengabdi. Ini yang gak ada software-nya. Ini yang susah kita temukan. Justru ceramah model para Kiai itu sudah refleksi seabrek-abrek dalil dan aplikasinya sehari-hari. Level para beliau itu gak lagi main dalil. Sama saja dengan level Jenderal bintang empat kok masih ditanya gimana caranya baris berbaris. Jenderal sudah mikir gimana menang perang kok ditanya dalilnya hadap kanan-hadap kiri."

Ujang melanjutkan: "dulu Gus Dur juga ditanya kenapa kalau ceramah gak ngutip ayat dan hadis kayak penceramah yang lain. Kata Gus Dur: lha yang lain itu ngutip ayat dan hadis biar dipanggil kiai, sedangkan saya dari dulu juga sudah dipanggil Kiai."

Jundi berusaha menahan senyum lantas tanpa sadar Jundi mengelus jenggotnya yang cuma lima lembar dan dipaksakan tumbuh itu. "Tapi mengapa doa mereka pendek saja Kang?"

"Doa itu bukan soal panjang atau pendek, atau berurai air mata. Doa itu soal bisikan kalbu yang langsung tersambung ke Arasy Ilahi. Para Kiai doanya pendek karena mereka sudah habis waktunya untuk mengajar santri dan mengurusi umat (ditambah lagi menjawab pertanyaan dan komentar di fesbuk). Nanti disepertiga malam, di saat semua terlelap, para Kiai berkhalwat dan bermunajat sendirian. Doa dan rintihan mereka panjang sekali saat itu. Sajadah mereka basah oleh tangisan. Tapi itu dilakukan di bilik tempat mereka berkhalwat. Bukan di depan umum dan disorot kamera tv."

Jundi mengelus lagi jenggotnya. Ujang mulai kumat isengnya. "Jundi, nih duit dua puluh ribu untuk dirimu, beli yah obat penumbuh jenggot...biar lebatan dikit itu jenggot. Mau nyunnah kok tanggung gitu sih. Cuma lima lembar...udah gitu tumbuhnya kok berjauhan. Gak kompak blas...!"

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan dosen senior Monash Law School

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/pengagum-jenggot-tanggung-mengkritik-kiai-kampung.html

Kamis, 18 Juni 2015

Kisah Santri Nakal yang Jadi Kyai Dengan Ribuan Santri

Santriwati Pintar - Suatu saat K.H. Ahmad Umar Abdul Manan (1916–1980), pengasuh Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan Solo, memanggil lurah pondok.

Kisah Santri Nakal yang Jadi Kyai Dengan Ribuan Santri
Kisah Santri Nakal yang Jadi Kyai Dengan Ribuan Santri


“Aku minta dicatatkan nama-nama santri yang nakal ya! Dirangking ya. Paling atas ditulis nama santri ternakal, nakal sekali, nakal dan terakhir agak nakal.”

Lurah pondoknya girang bukan main. Karena sudah beragam cara diupayakan untuk mengingatkan santri-santri nakal itu. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka sudah beku hatinya.

Dengan penuh semangat, dijalankanlah perintah Kyai Umar tersebut. Nama-nama santri itu ditulis besar-besar dengan spidol. Ternakal fulan bin fulan asal dari daerah A. Nakal sekali fulan bin fulan dari daerah B sampai santri yang agak nakal. Setelah catatan selesai dibuat, kemudian diserahkan kepada Kiai.

Lurah pondok itu menanti seminggu, dua minggu, kok tidak ada tindakan apa-apa. Pikirnya dalam hati, “Kok santri-santri yang nakal masih tetap nakal ya. Kok tidak diusir atau dipanggil Kyai.”

Akhirnya lurah pondok itu memberanikan diri matur kepada Kiai Umar.

“Maaf Kyai, santri-santri kok belum ada yang dihukum, ditakzir atau diusir?”

“Lho, santri yang mana?”

“Santri yang nakal-nakal. Kemarin panjenengan minta daftarnya.”

“Siapa yang mau mengusir? Karena mereka nakal itu dipondokkan, biar tidak nakal. Kalau di sini nakal terus diusir, ya tetap nakal terus. Dimasukkan ke pesantren itu biar tidak nakal.”

“Kok anda memerintahkan mencatat santri-santri yang nakal itu?”

“Begini, kamu kan tahu tiap malam aku setelah sholat tahajud kan mendoakan santri-santri. Catatan itu saya bawa, kalau saya berdoa mereka itu saya khususkan. Tanya dululah kalau belum paham.”

* * *

Cerita ini pernah saya sampaikan di sebuah daerah di Jawa Tengah. Ada Kyai muda mengundang saya untuk mengisi ceramah di acara khataman Quran di pesantrennya. Ada puluhan ribu orang yang hadir. Dalam kesempatan itu saya ceritakan kisah di atas. Saya suka menceritakan kisah ini, karena apa yang dilakukan Kyai Umar sesuai dengan yang dipesankan ayah saya, bahwa mengajar harus lahir batin.

Saat saya sampaikan cerita ini, para hadirin tertawa semua. Hanya satu orang yang tidak tertawa. Kyai muda itu terlihat menunduk diam. Pikir saya, “Apa Kiai ini tidak paham yang saya sampaikan atau bagaimana? Kok tidak ada ekspresi apa-apa saat dengar cerita saya.”

Pada saat turun dari podium, saya dirangkul oleh kyai muda itu. Dia membisikkan sesuatu, “Masya Allah, alhamdulillah Gus, jenengan tidak menyebut nama. Sayalah daftar ternakalnya Kyai Umar.” Kaget, heran dan kagum saya, dengan statusnya dulu sebagai santri ternakal, dia sekarang jadi kyai dengan ribuan santri.

Kisah di atas disampaikan oleh KH. Musthofa Bisri dalam haul KH. Umar Abdul Manan di Pondok Pesantren Al Muayyad Solo. [Santriwati Pintar] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/kisah-santri-nakal-yang-jadi-kyai-dengan-ribuan-santri.html

Selasa, 25 Februari 2014

Di Tengah Krisis Ruh Dakwah, Pesan-Pesan Kiai Nafi Abdillah Ini Perlu Disebarkan

Santriwati Pintar - Akhlak KH Nafi' Abdillah, Kajen, Margoyoso, Pati, yang meninggal pada Ahad (19/02/2017) lalu masih menyisakan memori laku dan teladan mulia bagi para santri, kerabat dan juga linkungan sekitar. Berikut ini adalah testimoni akhlak mulia Kiai Nafi' yang dikumpulkan Santriwati Pintar dari beberapa sumber, baik santri maupun kiai.

Soal Perbedaan Pendapat KH Nafi' Abdillah pernah menyatakan kalau perbedaan pendapat antara ulama dahulu dengan orang sekarang itu berbeda cara penyelesaiannya. Dikisahkan oleh KH. Muadz Thohir, teman dekat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Kiai Nafi pernah mengurai akar perpecahan soal beda pendepat antar umat Islam.

Mengapa sekarang ini perpecahan makin seru dan menjadi-jadi? Kata Kiai Nafi', hal itu sebab sekarang ini setiap kali orang yang berbeda pendapat itu tidak mengikuti cara ulama dulu. Dulu, beliau-beliau kalau beda pendapat tidak mencari bolo (pengikut--Jw), ditandangi (dihadapi--Jw) sendiri dan tidak mencari pengikut apalagi dengan cara-cara memfitnah.

Di Tengah Krisis Ruh Dakwah, Pesan-Pesan Kiai Nafi Abdillah Ini Perlu Disebarkan - Santriwati Pintar
Di Tengah Krisis Ruh Dakwah, Pesan-Pesan Kiai Nafi Abdillah Ini Perlu Disebarkan - Santriwati Pintar


Di Tengah Krisis Ruh Dakwah, Pesan-Pesan Kiai Nafi Abdillah Ini Perlu Disebarkan

Imam madzahib dan para kiai bisa berbeda pendapat, tapi dengan tetap menghormati. Pada zaman dahulu, banyak gegeran, tapi ‘bar yo bar’ (tidak ada dendam--Jw), tidak mencari teman untuk berseteru. Lha sekarang, gegeran selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, mengajari memfitnah maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.

Santriwati Pintar

Pernah suatu ketika, Mbah Mahfudh Salam (Ayah KH Sahal Mahfudh Kajen Pati) menjamak shalat Dhuhur dan shalat Ashar hanya karena ingin mengkhatamkan sebuah pengajian kitab. Kajen pun geger.

Santriwati Pintar

Banyak kiai yang tidak sepakat, namun tetap menaruh hormat dengan apa yang dilakukan oleh Mbah Mahfudh Salam."Aku mengamalkan salah satu pendapat yang ada di dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Kalau tidak diamalkan, lantas siapa yang mau menggunakan?" begitu jawab Mbah Mahfudh saat ditanyai para kiai Kajen.

Ulama yang benar-benar ulama cirinya itu ada 4:

1. Yang senantiasa bersedekah baik dalam keadaan mudah maupun susah

2. Yang mampu menahan emosi/amarah

3. Yang mudah memaafkan orang lain

4. Yang selalu ingat kepada Allah ketika melakukan kesalahan, kemudian beristighfar dan meminta maaf kepada yang bersangkutan, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan.

Rahasia Sehat Kiai Nafi' Abdillah Kenangan lain dari Kiai Nafi juga dituturkan oleh Ahsanul Fuad, santri beliau. Kali ini soal tips sehat ala Mbah KH. Nafi' Abdillah. Putra (alm) Mbah Abdullah Salam itu menyarankan kepada santri agar tidak terlalu banyak makan.

"Aku nek mangan iki sedino ping pindo, mau jam 7 isuk, jam 10 ngombe teh, lan sak wuse Ashar/ aku kalau makan itu sehari dua kali, jam 7 pagi tadi, lalu jam 10 baru minum teh dan juga habis Ashar," tutur beliau suatu kali kepada Fuad.

Ketika makan pun, Kiai Nafi menyarankan agar jangan disertai minum secara langsung, "salahmu dewe sereden, wong wis diwarahi yen ngunyah iki 27 kali/ salahmu sendiri sereden (tersendat makanan di tenggorokan), kan sudah diajari kalau ngunyah (makanan) itu 27 kali," tegur Kiai Nafi lain waktu.

Sarannya, minum sebaiknya dilakukan kurang lebih 2 jam setelah makan, "soale wektu bar mangan iki pencernaan lagi bekerja/ soalnya waktu makan itu pencernaan sedang bekerja," pesan itu masih diingat oleh Fuad.

Tawadzu dan Ta'dzim Santri lain bernama Abdullah Khoirzad juga menuturkan ihwal kerendahhatian (tawadlu) dan sikap ta'dhim Kiai Nafi' kepada guru.

"Saat aku di kelas 2 Aliyah, beliau mengampu Mustholah Hadist. Saat khataman di akhir tahun, beliau menangis di depan kelas, di hadapan kami, sembari dawuh dalam bahasa khas Jawa Kajen medok yang maksudnya, 'Aku tidak pantas mengajar kamu, karena aku tidak sesuai dengan kriteria sebagai seorang muallim karena itu, maafkan aku'," demikian kesaksian Khoirzad.

Peristiwa itu, kata Khoirzad, terjadi di era tahun 1980-an saat Kiai Nafi' masih masih relatif muda sebagai guru. "Waktu itu masih ada generasi sepuh, semisal Romo Kiai Rifa’i Nasuha, Romo Kiai Hasir, juga masih ada Mbah Abdullah Salam," imbuhnya.

Ia juga menjadi saksi cara hormat Kiai Nafi' kepada guru hingga tidak pernah dilupakan hingga kini. Walau sudah menjadi kiai yang punya amanat besar memimpin Mathali' di Kajen pasca Mbah Sahal Mahfidz wafat, Kiai Nafi' tetap santri bagi setiap gurunya, dan, sangat ta'dzim. Jabatan tidak menghilankan rasa hormat kepada guru.

"Masih gamblang dalam ingatan saya, saat acara 1000 hari mbah Sahal. Ketika Mbah Nafi’ rawuh di halaman depan rumah Mbah Sahal, beliau tidak mau pinarak (duduk) didalam rumah bersama para kiai yang lain. Aku (santri Abdullah Khoirzad) berusaha mendekati dan sungkem ta’dzim dengan cara mushofahah, sembari matur, diatur pinarak wonten lebet/dipersilakan duduk di dalam rumah (red)," ujar Khoirzad.

Jawaban beliau, bagi Zad, ternyata merupakan hadiah ilmu yang sulit dinilai harganya, "masak aku pinarak di dalam, sementara sebentar lagi guruku rawuh, Mbah Maemun Zubair Sarang, ora pantas Yak," kata Kiai Nafi' kepada Zad.

Saking ta'dzimnya kepada guru, Kiai Nafi' beliau tetap berdiri di depan ndalem Mbah Sahal sebagai penerima tamu, berjajar dengan adiknya, Gus Zakki. Padahal Mbah Maemun -karena kondisi kesepuhannya,- tidak jadi hadir saat itu.

"Mbah Nafi’ tetap menunggu di depan ndalem, sebagai bentuk ta’dzim terhadap sang guru," terang Khoirzad.

Nasihat Kiai Nafi Untuk Wanita Hamil KH Nafi' Abdillah juga pernah berpesan kepada para santrinya ketika mereka sudah berumah tangga. kepada para istri santri, Kiai Nafi' berwasiat membaca wirid dan dzikir agar diberikan kelancaran saat proses persalinan. Pesan beliau ini diriwayatkan oleh Nashiruddin Ahmad, santri Kajen juga.

"Nak arep lahiran iku akeh-akehi moco Laa Ilaha illa Anta Subkhanaka Inni Kuntu Minad Dholimin, insyaallah angger yakin bakale diparingi gampang lan lancar. Woco setiap bar sholat minimal peng 3. Iku dongane Nabi Yunus pas ono neg njero wetenge Iwak Paus. Terus nak bar lahiran ojo lali khataman neng makame Mbah Mutamakkin, tapi dibatasi waktune, misale sak wulan utowo rong wulan kudu khatam".

"Kalau akan melahirkan banyak-banyaklah membaca Laa Ilaha illa Anta Subkhanaka Inni Kuntu Minad Dholimin, insyaallah jika yakin akan diberi gampang dan mudah proses kelahiran. Bacalah setiap habis shalat 3 kali. Itu adalah doa Nabi Yunus ketika ada di dalam perut Ikan Paus. Lalu, kalau sudah melahirkan, jangan lupa khataman (Al-Quran 30 juz) di makam Mbah Mutamakkin, tapi dibatasi waktunya, misal harus khatam sebulan atau dua bulan sekali".

Nashiruddin juga pernah meriwayatkan dawuh Kiai Nafi' untuk para santri yang berharap mendapatkan kekayaan dari Allah Swt.

"Ojo langsung arep-arep sugeh, soale "kekarepan iku ora biso nembus ketetepane Gusti Allah". Nak kaidahe neng kitab Hikam kae. Disyukuri wae sitik-sitik gag po po seng penting halal".

"Jangan langsung berharap kaya raya, soalnya keinginan itu tidak bisa menembus ketetapan Allah. Itu kaidah di Kitab Hikam. Disyukuri saja, sedikit tidak apa yang penting halal".

"Nak pas kerjo, meskipun kerjo opo wae, khususe dodolan, akeh-akehi moco sholawat. Pas nunggoni dagangan moco sholawat, nak ono wong tuku leren sek. Bar ngedoli moco sholawat neh insyaallah iso dadi tambah laris tur Barokah dodolanmu iku".

"Ketika sudah bekerja, apapun jenis pekerjaan itu, khususnya jualan, perbanyaklah membaca sholawat. Kala menunggu bacalah shalawat, tapi kalau ada pembeli datang, berhenti dulu. Habis melayani pembeli itu, shalawat lahi. Isnyallah bisa jadi tambah laris dan barokah daganganmu".

Pesan, kesan dan catatan para santri Kajen atas akhlaq KH Ahmad Nafi' Abdillah ini sengaja didokumentasikan oleh Redaksi Santriwati Pintar sebagai bentuk ibrah (cermin) kepada umat Islam Nusantara agar tetap mencintai ulama, kiai dan santri yang saat ini sedang krisis contoh dalam berdakwah, sebagaimana pernah diutarakan oleh KH Mustofa Bisri. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/di-tengah-krisis-ruh-dakwah-pesan-pesan-kiai-nafi-abdillah-perlu-disebarkan.html

Jumat, 24 Mei 2013

Eva Sundari Minta Bib Rizieq Pindah ke Luar Negeri

Santriwati Pintar - Politikus perempuan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Eva Kususma Sundari akhirnya angkat bicara soal pernyataan-pernyataan sang Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab.

Eva Sundari Minta Bib Rizieq Pindah ke Luar Negeri
Eva Sundari Minta Bib Rizieq Pindah ke Luar Negeri


Pasalnya, Habib Rizieq berencana menyambangi dan menduduki Gedung DPR/MPR untuk menuntut revolusi. Hal tersebut jika saja Ahok lolos dari putusan perkara di pengadilan atas dugaan penistaan agama.

"Itu statemen dari warga negara yang buruk karena tidak menghormati hukum dan kebenaran dari Pengadilan. Jika tidak setuju dengan sistem hukum di Indonesia, beliau (Habieb Rizieq) punya pilihan untuk pindah ke negara yang pakai hukum agama," kata Anggota Komisi XI DPR, Eva Kusuma Sundari melalui pesan elektronik sebagaimana dilansir Santriwati Pintar dari Netralnews.com, Rabu (7/12/2016).

Eva, demikian politisi perempuan asal Jawa Timur itu disapa, mengaku prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Semua pihak harus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan mendistribusikan nilai-nilai luhur pancasila.

Namun, di sisi lain ada pihak yang justru berusaha memecahbelah persatuan dan kesatuan yang telah terekatkan oleh nilai-nilai Pancasila, sesalnya. "Siapapun yang tidak setuju dengan sistem hukum dan peradilan di negara Republik Indonesia ya pindah saja," tegasnya.

Meski demikian, terkait niat sejumlah orang yang ingin menduduki Gedung DPR/MPR dengan melakukan pemufakatan jahat dengan menuntut revolusi, maka sendiri Eva tidak setuju. "Di atas angin boleh-boleh saja, asalkan jangan 'negative'. Masak pidato delegetimasi hukum (membangkang), kan menunjukkan perilaku above the low. Bukannya memberi contoh yang bagus di negeri hukum," ujar Eva mengkritik.

Sebelumnya, Habib Rizieq mengatakan, jika Ahok bebas di sidang pengadilan, maka tak ada lagi aksi Bela Islam Jilid IV. "Tetapi yang ada revolusi, jadi jangan coba-coba. Maka saya teriak revolusi," tegas Rizieq Shihab di Jakarta.

Dia juga mengatakan, tak ada lagi aksi turun ke jalan, seperti di Jalan Sudirman, Bundaran Hotel Indonesia (HI) ataupun Istana Negara. Tetapi yang ada aksi menduduki Gedung DPR/MPR RI. "Jadi jangan turun lagi di Istana, Monas, HI, langsung kita sambangi ke Gedung DPR/MPR," ujar Rizieq.

Rizieq bersama massanya akan menduduki DPR bila Ahok lolos dari jerat hukum, karena menurutnya, DPR adalah rumah rakyat. Dan bukan upaya makar, seperti yang dituding kepolisian sebelumnya.

Meski demikian, Rizieq Shihab, siap berdialog dengan Presiden Jokowi untuk membahas persoalan bangsa, termasuk perkara Ahok agar tidak ada lagi Aksi Bela Islam Jilid 4, 5, 6 dan seterusnya. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/eva-sundari-minta-bib-rizieq-pindah-ke-luar-negeri.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock