Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2017

Mengapa Wanita Muslim Dilarang Menikahi Laki-Laki Beda Agama?

Santriwati Pintar - Imam Besar Dr. Ahmad Thayyib Syeikh Al-Azhar menjawab beberapa pertanyaan dari anggora parlemen Jerman setelah memberikan pidato yang ditujukan kepada masyarakat internasional pada Selasa (15/3/2016) waktu Jerman, di kantor parlemen.

Mengapa Wanita Muslim Dilarang Menikahi Laki-Laki Beda Agama?
Mengapa Wanita Muslim Dilarang Menikahi Laki-Laki Beda Agama?


Wakil Al-Azhar di bidang kesejarahan Dr. Abbas Sauman sempat melontarkan pujian atas jawaban Grand Syeikh Al-Azhar itu yang sanggup membuat semua orang di gedung parlemen itu terdiam. Salah seorang anggota parlemen Jerman bertanya: "Tadi Syeikh Al-Azhar berbicara tentang seorang muslim laki-laki yang boleh menikahi wanita non-muslim, itu adalah hal yang bagus. Akan tetapi mengapa agama kalian (Islam) melarang seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim?

Al-Azhar: Cadar Bukan Ajaran Islam Kedudukan Grand Syeikh Al-Azhar Mesir Abu Aqila, Pemfitnah Grand Syeikh Al-Azhar Mesir Ketika MUI Ditunggangi Irfan Helmi Wahabi Syeikh Al-Azhar menjawab: "Pernikahan di dalam Islam bukan sekedar ikatan sipil/perdata saja, sebagaimana yang terjadi di negara anda. Akan tetapi pernikahan adalah ikatan keagamaan yang berdiri di atas rasa cinta dan kasih sayang dari dua pihak. Dan seorang muslim boleh menikahi wanita non-muslimah, dari agama nasrani/kristen misalnya, karena dia (laki-laki muslim) beriman kepada Nabi Isa As. sebagai syarat sempurna keimanannya.

“Selain itu juga agama kami memerintahkan seorang lelaki muslim untuk membolehkan wanita non-muslimah (isterinya) untuk menunaikan syariat agamanya, dan dia tidak boleh melarang isterinya untuk pergi beribadah ke gereja. Dan melarang suami yang muslim menghina simbol-simbol suci dari agama isterinya (seperti para Nabi-Nabi dan orang-orang Shaleh Yahudi: red), karena dia juga beriman kepada mereka. Dan karena inilah rasa cinta dan kasih sayang tidak hilang dari seorang lelaki muslim kepada wanita non-muslimah.

"Sebaliknya, jika seorang wanita muslimah menikah dengan lelaki non-muslim, sedang dia (suaminya) tidak beriman kepada Rasul kami Muhammad, dan agamanya si suami tidak memerintahkan untuk mengizinkan isterinya yang muslimah itu -jika dia menikahinya- untuk menunaikan syariat Islam (berjilbab, mendidik anak ala Islam, shalat, haji, dan lain-lain: red), atau memuliakan simbol-simbol suci Islam. Juga karena Islam adalah bentuk penyempurnaan dari Nasrani/Kristen, maka dia (si suami) akan menghinanya dengan tidak menghormati simbol-simbol suci agama isterinya dan menentang Rasul yang disucikan

isterinya.

“Maka dari itu, hilanglah rasa cinta dan kasih sayang di dalam jiwa isteri muslimah kepada suaminya yang non-muslim. Maka dari itu Islam melarang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim."

Kemudian di akhir jawabannya syeikh Al-Azhar menantang hadirin dengan halus dan sopan, "Apabila ada di sana yang tidak setuju dengan pendapat saya, maka saya akan sangat senang untuk mendengarnya." Tidak ada satupun yang hadir di situ menentang pendapat Syeikh Al-Azhar.

Barakallahu laka ya Syeikhana. Semoga Allah senantiasa menolongmu dalam menyebarkan Islam yang Rahmatan lil 'alamin. Semoga Allah memanjangkan umurnya dan selalu memberikan kesehatan kepadanya untuk bisa terus menyebarkan kedamaian Islam ke seluruh dunia. [Santriwati Pintar]

Keterangan: Tulisan ini diterjemahkan oleh Zulfahani Hasyim, dengan diedit seperlunya agar mudah dipahami. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/mengapa-wanita-muslim-dilarang-menikahi-laki-laki-beda-agama.html

Kamis, 09 Februari 2017

Di Google, Dutaislam Tidak Menemukan Berita Bib Rizieq Minta Maaf dan Cium Tangan

Santriwati Pintar - Iseng-iseng mengetik kata kunci "Habib Rizieq cium tangan orang" menggunakan mesin pencari Google (Image), tim redaksi Santriwati Pintar hanya menemukan foto Ustadz Yusuf Mansur (YM) mencium Habib Rizieq Syihab (HRS).

Di Google, Dutaislam Tidak Menemukan Berita Bib Rizieq Minta Maaf dan Cium Tangan
Di Google, Dutaislam Tidak Menemukan Berita Bib Rizieq Minta Maaf dan Cium Tangan


Di bagian G-News, kata kunci di atas hanya merujuk pada postingan berita tentang YM yang mau cium tangan HRS namun ditolak. Dimuat beberapa media wahabi namun ada yang kemudian merespon dengan artikel "hukum cium tangan". Weleh weleh weleh. Lihat hasilnya di cepretan ini:

Habib Rizieq Cium Tangan Begitu pula ketika mengetik kata kunci "Habib Rizieq minta maaf", sulit menemukan referensi di mesin pencari. Iseng kru redaksi Santriwati Pintar dipicu penasaran atas sindiran Kapolda Metro Jaya Irjen Moh Iriawan kepada HRS sebagai "seakan-akan manusia paling benar", ketika HRS menyebut Kapolda Metro Jaya Irjen Moh Iriawan sebagai 'jenderal berotak hansip'.

"Kalau saya sih ketawa saja Saudara Rizieq bilang begitu. Memang Rizieq itu akhlaknya paling baik di Indonesia dan otaknya paling pintar. Saya dibilang bodoh ya ketawa saja," sindir Iriawan, sebagaimana dilansir Santriwati Pintar dari situs Detikcom, Selasa (17/01/2017).

Mungkin benar kata Kapolda Metro Jaya tersebut, HRS adalah sosok paling pintar dan paling baik se-antero Indonesia, makanya sulit menemukan kapan dia minta maaf dan kapan pula ia menunduk teduh mencium orang lain yang sudah seharusnya dihormati.

Uniknya, ketika mencari data HRS meminta maaf, justru berita yang tertulis di mesin Google adalah ia yang menuntut orang lain untuk meminta maaf kepada dirinya. Termasuk menuntut Sukamawati meminta maaf saat melaporkan HRS ke polisi atas kasus penghinaan Pancasila.

Ketika diminta Walikota Bandung meminta maaf kepada masyarakat Sunda atas plesetan Sampurasun jadi Campurracun, HRS malah balik menyalahkan Bupati Purwakarta. Duh duh duh. Maha benar Allah Subhanahu wa Ta'ala atau.., ah tidak jadi!.

Satu-satunya berita teratas di Google soal HRS minta maaf adalah ketika ia akan melaporkan Megawati karena dianggap menghina agama, ditulis Detikcom juga, dengan judul "Habib Rizieq: Kalau Salah Kami Minta Maaf ke Mega, Begitu Sebaliknya". Dalam berita yang dimuat 17 Januari 2017 itu, HRS akan meminta maaf, ingat, pakai syarat 'kalau'. Artinya masih pelit.

Habib Rizieq Syihab Minta Maaf Hanya team medianya yang terdokumentasi pernah meminta maaf karena membuat desain gedung Muhammadiyah Bandung diedit dengan tulisan "Bank Islam 212" dengan sebutan "Menara 51" dan "Kantor Koperasi Syariah 411". Ingat, ini bukan HRS sebagai person, tapi tim medianya yang ceroboh.

Dari hasil penelusuran di atas, ada benarnya jika kelompok sebelah menjadikan Habib Rizieq Syihab sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia. Sangat cocok. Karena mungkin hanya HRS yang cocok dicium tangan, bukan mencium tangan. Karena HRS yang cocok dimintai maaf, bukan dia yang minta maaf. Maha benar adalah syarat mutlak imam besar. Setuju? [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/di-google-duta-islam-tidak-menemukan-berita-bib-rizieq-minta-maaf-dan-cium-tangan.html

Sabtu, 14 Januari 2017

Inilah Cara Komunikasi Antar Para Waliyullah

Santriwati Pintar - Suatu hari, seorang kiai sowan ke almaghfurlah Habib Ahmad Assegaf. Saat itu kira-kira 20 menit menjelang Maghrib. Ketika terdengar adzan, beliau pamit dan Habib Ahmad mengatakan hingga 3 kali, "Insya Allah 3 hari lagi kamu ke sini," demikian dawuh Habib.

Inilah Cara Komunikasi Antar Para Waliyullah
Inilah Cara Komunikasi Antar Para Waliyullah


Pas 3 hari kemudian, kiai tersebut kedatangan tamu almaghfurlah Mbah Kiai Munawar Kudus. Beliau bercerita tentang Habib Ahmad Assegaf, kemudian Mbah Munawar mengajak ke rumah Habib Ahmad.

Ketika sudah dekat dengan rumah Habib Ahmad, Mbah Munawar berkata, "mengko yen tekan ngarep lawang kok ora dibuka, tak tendang lawange/ nanti kalau sudah sampai depan rumah kok tidak dibukakan, saya tendang pintunya".

Benar sekali, tepat di depan pintu, tiba-tiba pintu dibuka oleh Habib Ahmad Assegaf sendiri sambil mengucap, "Assalamu'alaikum!".

Setelah masuk dan berbincang laiknya tamu, Mbah Munawar hendak meminta peci Habib Ahmad Aegaff, namun tidak diperbolehkan oleh habib. Karena rebutan, beliau berdua mirip seperti anak kecil, yang satu ingin merebut peci, dan yang satunya mempertahankan.

Akhirnya Habib Ahmad berkata, "mintalah kepada Ibrahim Baraqba", lalu Mbah Munawar keluar dari rumah dan tangan beliau menunjuk ke langit. Setelah itu beliau berdua berpamitan Habib Ahmad.

Beberapa hari kemudian sang kiai sedang ngopi di warung depan masjid Kauman. Setelah lepas tengah malam, kiai melihat seseorang masuk masjid lewat pintu samping, yang sangat dikenal oleh kiai dengan nama Wan Ibrahim Baraqba.

Penasaran, kiai beranjak ke masjid ingin mengetahui apa yang sedang di kerjakan dan apa yang akan terjadi. Ternyata setelah sholat sunnah, Wan Ibrahim Baraqba membaca sedang Al-Qur'an di dekat mimbar dan menangis di sana. Begitulah orang-orang besar. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/inilah-cara-komunikasi-antar-para-waliyullah.html

Kamis, 24 Desember 2015

Kapolri Apresiasi Kreativitas Kader NU di Bidang Seni

Jakarta, Santriwati Pintar. Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian mengatakan, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki kader yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari pertanian menjadi seorang petani hingga di pemerintahan.

(Kader NU) ada yang sudah jadi presiden, jadi menteri, kata Tito saat memberikan sambutan dalam acara Pameran Tunggal Seni Rupa Nabila Dewi Gayatri di Grand Syahid Jaya Hotel Jakarta, Senin (8/5).

Kapolri Apresiasi Kreativitas Kader NU di Bidang Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri Apresiasi Kreativitas Kader NU di Bidang Seni (Sumber Gambar : Nu Online)


Kapolri Apresiasi Kreativitas Kader NU di Bidang Seni

Tito juga mengatakan, kader NU memiliki kemampuan-kemampuan di luar bidang agama seperti pencak silat, karya seni, dan lain-lain. Bahkan, di dalam bidang karya seni lukis ia mengaku bahwa kader NU lebih unggul dari pada dirinya.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana kader NU (Nabila Dewi Gayatri) ternyata memiliki kemampuan seni yang luar biasa. Kalau kita lihat dari kaca mata umum untuk menilai kalau saya diminta membuat lukisan seperti ini, pasti kader NU lebih hebat dari pada saya, katanya.

Santriwati Pintar

Lebih jauh, ia menjelaskan, yang tidak kalah penting juga bagaimana perjuangan para ulama tersebut dalam menjaga dan merawat NKRI bisa diteruskan dan diteladani oleh generasi muda sekarang.

Kader-kader muda kita paham. Inilah ulama-ulama yang harus ditiru. Yang dilukis Bu Nabila ini jelas ulama-ulama yang membangun NKRI, lanjutnya.

Santriwati Pintar

Ia berharap, NU dan pemerintah bisa terus bergendengan tangan dan saling mendukung untuk menjaga keutuhan negeri ini. Polri dan NU tidak boleh pecah. Selagi unsur ini solid, NKRI aman, tegasnya. (Muchlison Rochmat/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77773/kapolri-apresiasi-kreativitas-kader-nu-di-bidang-seni

Kamis, 18 Juni 2015

Kisah Santri Nakal yang Jadi Kyai Dengan Ribuan Santri

Santriwati Pintar - Suatu saat K.H. Ahmad Umar Abdul Manan (1916–1980), pengasuh Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan Solo, memanggil lurah pondok.

Kisah Santri Nakal yang Jadi Kyai Dengan Ribuan Santri
Kisah Santri Nakal yang Jadi Kyai Dengan Ribuan Santri


“Aku minta dicatatkan nama-nama santri yang nakal ya! Dirangking ya. Paling atas ditulis nama santri ternakal, nakal sekali, nakal dan terakhir agak nakal.”

Lurah pondoknya girang bukan main. Karena sudah beragam cara diupayakan untuk mengingatkan santri-santri nakal itu. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka sudah beku hatinya.

Dengan penuh semangat, dijalankanlah perintah Kyai Umar tersebut. Nama-nama santri itu ditulis besar-besar dengan spidol. Ternakal fulan bin fulan asal dari daerah A. Nakal sekali fulan bin fulan dari daerah B sampai santri yang agak nakal. Setelah catatan selesai dibuat, kemudian diserahkan kepada Kiai.

Lurah pondok itu menanti seminggu, dua minggu, kok tidak ada tindakan apa-apa. Pikirnya dalam hati, “Kok santri-santri yang nakal masih tetap nakal ya. Kok tidak diusir atau dipanggil Kyai.”

Akhirnya lurah pondok itu memberanikan diri matur kepada Kiai Umar.

“Maaf Kyai, santri-santri kok belum ada yang dihukum, ditakzir atau diusir?”

“Lho, santri yang mana?”

“Santri yang nakal-nakal. Kemarin panjenengan minta daftarnya.”

“Siapa yang mau mengusir? Karena mereka nakal itu dipondokkan, biar tidak nakal. Kalau di sini nakal terus diusir, ya tetap nakal terus. Dimasukkan ke pesantren itu biar tidak nakal.”

“Kok anda memerintahkan mencatat santri-santri yang nakal itu?”

“Begini, kamu kan tahu tiap malam aku setelah sholat tahajud kan mendoakan santri-santri. Catatan itu saya bawa, kalau saya berdoa mereka itu saya khususkan. Tanya dululah kalau belum paham.”

* * *

Cerita ini pernah saya sampaikan di sebuah daerah di Jawa Tengah. Ada Kyai muda mengundang saya untuk mengisi ceramah di acara khataman Quran di pesantrennya. Ada puluhan ribu orang yang hadir. Dalam kesempatan itu saya ceritakan kisah di atas. Saya suka menceritakan kisah ini, karena apa yang dilakukan Kyai Umar sesuai dengan yang dipesankan ayah saya, bahwa mengajar harus lahir batin.

Saat saya sampaikan cerita ini, para hadirin tertawa semua. Hanya satu orang yang tidak tertawa. Kyai muda itu terlihat menunduk diam. Pikir saya, “Apa Kiai ini tidak paham yang saya sampaikan atau bagaimana? Kok tidak ada ekspresi apa-apa saat dengar cerita saya.”

Pada saat turun dari podium, saya dirangkul oleh kyai muda itu. Dia membisikkan sesuatu, “Masya Allah, alhamdulillah Gus, jenengan tidak menyebut nama. Sayalah daftar ternakalnya Kyai Umar.” Kaget, heran dan kagum saya, dengan statusnya dulu sebagai santri ternakal, dia sekarang jadi kyai dengan ribuan santri.

Kisah di atas disampaikan oleh KH. Musthofa Bisri dalam haul KH. Umar Abdul Manan di Pondok Pesantren Al Muayyad Solo. [Santriwati Pintar] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/kisah-santri-nakal-yang-jadi-kyai-dengan-ribuan-santri.html

Selasa, 02 Juni 2015

Israel Menembak Mati Bocah 12 Tahun

Jakarta, Santriwati Pintar. Tentara Israel menyerang kota di utara jalur Gaza pada hari Rabu yang mengakibatkan terbunuhnya anak umur 12 tahun dalam sebuah operasi untuk menghentikan serangan gerilyawan Palestina. Israel menyerang pada peringatan 55 tahun pendudukan Israel atas tanah Palestina. Para saksi mengatakan sekitar 30 kendaraan perang, termasuk tank dan buldoser meruntuhkan empat rumah yang dicurigai ditinggali para militan.

Mereka mengatakan Mohammed al Zaanin bocah berusia 12 tahun tersebut ditembak mati oleh tentara Israel di waktu pagi ketika terjadi pertempuran secara sporadis. Kekerasan itu merupakan tamparan atas usaha Amerika Serikat yang mengusulkan rencana perdamaian baru yang dikenal sebagai peta jalan untuk mengakhiri kekerasan antara Palestina dan Israel., yang sebagai imbalbaliknya dibentuknya negara Palestina pada tahun 2005

Israel Menembak Mati Bocah 12 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Israel Menembak Mati Bocah 12 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)


Israel Menembak Mati Bocah 12 Tahun

Tentara Israel menembak mati lima orang palestina dalam pertempuran di selatan jalur Gaza pada hari Selasa yang menunjukkan bahwa rencana perdamaian tersebut belum memiliki dampak terhadap kekerasan palestina-Israel sehari hari. (rtr/mkf)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/117/israel-menembak-mati-bocah-12-tahun

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Kamis, 29 Januari 2015

Menciptakan Penulis Santri Melalui Pelatihan Jurnalistik

Yogyakarta, Santriwati Pintar. Minimnya berita tentang NU di media massa cukup membuat kami resah. Ada apa ini? Bagaimana ini? Inilah kemudian yang menjadi salah satu alasan bagi Majalah Bangkit PWNU DIY dan media-media yang ada di pesantren Krapyak mengadakan acara Diklat Jurnalistik.

Demikian disampaikan oleh Muhammadun As selaku Pimred Majalah Bangkit PWNU DIY dalam acara Diklat Jurnalistik di Gedung PWNU DIY, Ahad Pagi (2/6).

Menciptakan Penulis Santri Melalui Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Menciptakan Penulis Santri Melalui Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)


Menciptakan Penulis Santri Melalui Pelatihan Jurnalistik

Muhammadun juga mengungkapkan bahwa pelatihan seperti ini merupakan langkah awal untuk menciptakan generasi-generasi penulis baru dari kalangan pesantren.

Santriwati Pintar

Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk menciptakan generasi baru dari kalangan pesantren. Ke depannya, pelatihan-pelatihan jurnalistik seperti ini akan diadakan sebulan sekali, ungkap Muhammadun.

Sementara itu, sebagai narasumber, Jayadi Kasto Kastari, salah satu redaktur SKH Kedaulatan Rakyat, berhasil membuat peserta tidak mengantuk dengan gaya penyampaian materi yang disisipi dengan guyonan-guyonan segarnya.

Santriwati Pintar

Salah satu point materi yang disampaikan Jayadi dalam acara tersebut ialah tentang kekurangan-kekurangan para penulis pemula di media massa.

Sedikitnya ada empat faktor yang terkadang menjadi kekurangan bagi para penulis pemula di media massa. Pertama, masih lemah dalam tata bahasa (sistematika, gramatikal, keterbacaan, komunikatif). Kedua, kurang tepat dalam memilih diksi (pilihan kata). Ketiga, kurang dalam hal ejaan. Keempat, masih minim sekali pengetahuan tentang tanda baca, terang Jayadi panjang lebar.

Acara yang dimulai pukul 09.00 dan selesai pukul 12.00 tersebut, dihadiri oleh sekitar 20 puluhan peserta. Mereka merupakan perwakilan dari pesantren-pesantren yang ada di Krapyak.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim, Nisa, Sholihin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44895/menciptakan-penulis-santri-melalui-pelatihan-jurnalistik

Santriwati Pintar

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock