Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Mei 2017

SMK NU Sidoarjo Beri Penghargaan Guru Teladan dan Berprestasi

Sidoarjo, Santriwati Pintar. Sekitar 40 dewan guru dari Sekolah Menengah Kejuruan Nahdlatul Ulama (SMK NU) Sidoarjo terpilih dua dewan guru yang dinobatkan menjadi guru teladan dan guru berprestasi. Dua orang yang menjadi guru teladan dan guru terbaik yakni Gunawan Tri Harjo (55) terpilih sebagai guru teladan dan M Zakariyah (34) sebagai guru berprestasi.

"Pemilihan ini sengaja kami lakukan sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional. Untuk tahun ini sementara kami memfokuskan kepada para dewan guru. Bagi yang terpilih saya ucapkan selamat dan terima kasih atas kerjasamanya selama ini, bagi yang belum mendapatkan penghargaan itu tetap bersabar dan terus semangat dalam mengajar," terang Kepala SMK Plus NU Sidoarjo M Fathul Jinan saat ditemui Santriwati Pintar di ruangannya, Senin (4/5).

SMK NU Sidoarjo Beri Penghargaan Guru Teladan dan Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK NU Sidoarjo Beri Penghargaan Guru Teladan dan Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)


SMK NU Sidoarjo Beri Penghargaan Guru Teladan dan Berprestasi

Bagi guru yang mendapatkan penghargaan tersebut, lanjut Fathul, akan mendapatkan hadiah dari SMK NU berupa pemberangkatan haji bagi guru teladan, dan pemberian beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi bagi guru berprestasi.

Santriwati Pintar

Reward itu diberikan kepada yang bersangkutan karena selama mengajar mereka selalu memberikan yang terbaik. Selain itu, dari pimpinan sekolah berniat memacu kepada seluruh dewan guru untuk berinovasi. Tidak hanya itu saja, pihak sekolah pun tidak menginginkan terjadinya perseteruan antar guru. Kalau bisa sesama guru harus saling menghormati dan menghargai meskipun mempunyai ilmu yang lebih.

"Kalau sudah menjadi guru yang seperti itu (terbaik) ada rewardnya berupa pemberangkatan haji sama melanjutkan ke perguruan tinggi. Kenapa melanjutkan ke perguruan tinggi kami berikan kepada M Zakariyah, karena yang berangkutan belum mempunyai ijazah S1. Sehingga dengan adanya reward itu dia bisa melanjutkan ke perguruan tinggi," tambah Fathul.

Santriwati Pintar

Gunawan Tri Harjo mengaku sangat bersyukur dengan apa yang telah diperolehnya itu. Ia juga berharap kepada para generasi penerus bangsa supaya mampu menjadi teladan di tengah masyarakat maupun di sekolah.

"Alhamdulillah saya sangat bersyukur. ini semua berkat doa dari pada kerabat dan teman-teman di lingkup SMK NU. Di samping itu merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai bahkan nilainya sulit untuk diukur. Ini sudah takdir saya. Mudah-mudahan setelah saya, menyusul guru yang lain. Pesan saya teruslah konsisten," terang Gunawan.

Senada juga diungkapkan oleh M Zakariyah, dirinya mengaku sangat senang dan bersyukur atas apa yang telah diraihnya. "Alhamdulillah saya disekolahkan oleh SMK NU. Prinsip saya, sekecil apapun dan dimanapun yang bisa saya lakukan serta bermanfaat bagi orang lain, sesuai kemampuan saya akan saya berikan," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59317/smk-nu-sidoarjo-beri-penghargaan-guru-teladan-dan-berprestasi

Santriwati Pintar

Sabtu, 31 Oktober 2015

Peringati Maulid, Masjid Al-Munawwaroh Bagikan Ribuan Sembako

Jakarta, Santriwati Pintar. Ribuan jamaah yang terdiri dari berbagai majlis talim dan perwakilan Masjid-Musholla menghadiri peringatan malid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid Al-Munawwaroh Ciganjur Jakarta, akhir pekan kemarin (3/3). Mereka datang secara swadaya dengan menggunakan berbagai kendaraan, mulai dari sepeda motor, angkutan umum hingga mobil pribadi.

Dalam Acara maulid Nabi kali ini, Masjid Al-Munawwaroh yang beralamat di Jl. Warung Sila No. 10 ini juga membagikan ribuan bungkus sembako untuk melestarikan tradisi sedekah sebagai perilaku positif dalam peringatan maulid. Ribuan Ibu-ibu dan jamaah dengan tertib mengantri untuk mendapatkan sembako.

Peringati Maulid, Masjid Al-Munawwaroh Bagikan Ribuan Sembako (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Maulid, Masjid Al-Munawwaroh Bagikan Ribuan Sembako (Sumber Gambar : Nu Online)


Peringati Maulid, Masjid Al-Munawwaroh Bagikan Ribuan Sembako

Bertindak sebagai penceramah dalam pengajian kali ini adalah Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH Syamsul Maarif. Sementara sebelum acara dimulai, ribuan jamaah ini mengikuti Istighotsah dan dzikir bersama.

Santriwati Pintar

Dalam ceramahnya di Masjid peninggalan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, Syamsul mengajak kepada para jamaah untuk selalu meneladani Rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Tidak pernah lagi akan ada seorang nabi di dunia ini hingga hari kiamat kelak.

"Sebagai umat Islam, teladan paling utama adalah Nabi Muhammad SAW, cinta paling utama kita adalah kepada Nabi Muhammad SAW dan panutan utama dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat adalah Nabi Muhammad SAW," tutur Syamsul di hadapan ribuan jamaah.

Santriwati Pintar

Lebih lanjut Syamsul menyatakan, masyarakat yang hidup dalam nilai-nilai ajaran Rasulullah SAW akan mendapatkan ketentraman dan keberkahan dari Allah SWT. Sementara masyarakat yang jauh dari ajaran-ajaran Rasulullah SAW akan berada dalam kegelisahan dan kesemrawutan.

Sementara itu Ketua Harian Masjid Al-Munawwaroh H Syaifullah Amin menyatakan, acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini terselenggara atas inisiatif para pengurus dengan partisipasi dari masyarakat.

"Ada sebuah tradisi di masyarakat Jakarta, untuk berpartisipasi sedekah dalam pelaksanaan Maulid Nabi. Karenanya pengurus membuka peluang kepada masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan maulid kali ini," tutur Syaifullah.

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/36754/peringati-maulid-masjid-al-munawwaroh-bagikan-ribuan-sembako

Santriwati Pintar

Minggu, 01 Desember 2013

Lahirkan Upaya Kongkrit Dorong Perdamaian

Perdamaian yang dicita-citakan oleh umat manusia selalu mendapat hambatan dari para ekstrimis dan mereka yang menginginkan tidak adanya perdamaian, namun demikian, upaya ini tidak boleh lelah harus terus diupayakan.

Nahdlatul Ulama selama ini telah terus menggelorakan kampanye perdamaian dengan berbagai cara, pada tanggal 15-17 Oktober mendatang, bersama dengan Global Peace Festival akan menggelar global peace festival di Jakarta, dengan berbagai ragam acara. Mukafi Niam dari Santriwati Pintar melakukan wawancara dengan H Slamet Effendy Yusuf, yang menjadi ketua panitia acara ini untuk mengetahui lebih lanjut penyelenggaraanya.

Lahirkan Upaya Kongkrit Dorong Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahirkan Upaya Kongkrit Dorong Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)


Lahirkan Upaya Kongkrit Dorong Perdamaian

Dari (Wawancara) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/24938/lahirkan-upaya-kongkrit-dorong-perdamaian

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Minggu, 26 Mei 2013

Dzikir Ilalang di Atas Pusara

Wajahmu wahai kekasih

Adalah cantik laksana rembulan

Sinarnya sejuk menerangi malam

Dzikir Ilalang di Atas Pusara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Ilalang di Atas Pusara (Sumber Gambar : Nu Online)


Dzikir Ilalang di Atas Pusara

Keinginan untuk menjumpaimu

Tetap ada dalam hatiku

Walau mata, hati dan rasa

Santriwati Pintar

Telah redup dalam dosa

Hancur terbakar menjadi abu

Santriwati Pintar

Kekasih . . .

Berilah aku waktu sesaat

Agar aku bisa bangkit dari tumpukan abu itu

Menjadi bara kecil

Yang menyulut cinta hangusku

Wahai kekasih . . .

Celakalah aku

Bila engkau bersama orang lain

Dan aku kau tinggalkan hanya seorang

Tanpa engkau hiraukan

Seluruh anak adampun pasti akan celaka

Cambuklah aku sampai terluka

Sayatlah kulitku supaya menetes darah

Jangan kau biarkan

Air mataku mengering

Bila engkau tak menyiksaku sesaat saja

Niscaya aku sudah lupa

Siapa diriku ini

Karna aku tak lagi punya biola

Yang dapat aku mainkan

Untuk menari di hadapanmu

Asal engkau masih mau memandangku

Tak mengapa

Aku akan jadi ilalang

Yang berdzikir di atas pusara

Karna bukti cintaku padamu

Adalah nikmat yang tak pernah pudar

Surabaya, 28 juni 2015

Ach Shodiq Firdaus, Pengajar di Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo.

Dari (Puisi) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60470/dzikir-ilalang-di-atas-pusara

Santriwati Pintar

Selasa, 17 April 2012

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

Santriwati Pintar - Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak baru akan berlangsung 15 Februari mendatang. Akan tetapi, iklim politik sudah mulai memanas. Potensi penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam pilkada pun telah bermunculan. Salah satunya, meruaknya kontroversi terkait pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - Santriwati Pintar
Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - Santriwati Pintar


Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

Ahok pun belakangan dituduh menistakan agama Islam. KH Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin atau Taman Pelajar Islam, Desa Leteh, Rembang, Jateng, yang karib disapa Gus Mus, melihat fenomena itu akibat kondisi masyarakat yang belum siap menerima perbedaan.

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Gus Mus, wartawan Santriwati Pintar, Furqon Ulya Himawan, mewawancarai kiai karismatik itu, Jumat (14/10). Berikut petikan wawancara, yang disajikan Duta Islam untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam.

Santriwati Pintar: Kasus intoleransi kerap berlangsung. Apa yang salah?

Ahmad Mustofa Bisri: Menurut saya, itu akibat dari masa lalu yang tidak kunjung direformasi. Reformasi itu kan islah, ndandani kalau dalam bahasa Jawa. Ndandani atau memperbaiki itu harusnya dicari masalah-masalahmana yang rusak, yang diperbaiki itu mana, akar masalahnya apa, harus diteliti dulu baru direformasi.

Namun, sekarang yang terjadi, hiruk-pikuk reformasi itu ternyata melahirkan orang-orang yang seharusnya direformasi justru malah berteriak paling reformis. Jadi sebetulnya kan masalah itu terjadi pada saat dulu, yang akan kita reformasi.

Santriwati Pintar: Contohnya, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Dulu ada kecenderungan zaman Orde Baru untuk menyeragamkan semua. Bukan hanya pakaian seragam, menanam padi, sampai-sampai mengecat pagar rumah sendiri juga harus seragam. Bahkan masjid pun diseragamkan semua, dengan alasan harmonis. Akibatnya, masyarakat tidak bisa berbeda karena terlalu lama diseragamkan, akhirnya masyarakat kita kaget-kaget kalau ada perbedaan.

Santriwati Pintar: Dampaknya terhadap keberagaman dan kebinekaan?

Ahmad Mustofa Bisri: Pertama, masyarakat kita susah menerima perbedaan. Beda sedikit marah, beda sedikit marah. Itu akibat menyeragamkan semua hal dan itu melawan fitrah. Padahal, Tuhan menciptakan alam semesta termasuk kita semua itu dalam kondisi berbeda-beda, jadi tidak akan bisa kalau memang mau disatukan atau diseragamkan.

Kedua, seperti burung yang lama dikurung dalam sangkar, ketika sangkar dibuka, dia malah kebingungan, nabrak sana-sini karena sudah lama tidak merasakan kebebasan. Ketika keran kebebasan dibuka, malah bingung. Padahal, dulu itu teriak saja susah, selalu bunyinya satu, setuju. DPR itu dulu kalau teriak ya setuju, apa saja pokoknya setuju. Sampai-sampai ada ledekan: ada kucing masuk parlemen, ngeong, langsung serempak setuju.

Setelah sekian lamanya hanya bisa bilang setuju, sampai saya bikin sajak 'Negeri Ya, Ya'. Terus sekarang, DPR isinya interupsi semua, ngomong semua, seperti burung yang baru dikeluarkan. Terus yang dulunya tiarap-tiarap, sekarang muncul semua. Ini gara-gara berbagai macam permasalahan islah yang masih belum dilakukan. Jadi banyak persoalan ini yang sumbernya dari reformasi yang tidak sungguh-sungguh.

Santriwati Pintar: Sekarang banyak yang bertindak intoleran, menganggap diri paling benar. Ada pula yang mengatasnamakan Islam. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan, harus terus belajar dan jangan berhenti belajar. Orang kalau mau terus belajar, nanti akan mengerti dan memahami apa-apa yang sebelumnya belum dimengerti dan dipahami. Namun, ini payahnya, orang berhenti belajar karena dia merasa sudah mengerti dan memahami. Padahal, sama sekali belum mengerti apa-apa, malah kadang-kadang sudah berfatwa ke sana kemari.

Santriwati Pintar: Caranya belajar?

Ahmad Mustofa Bisri: Ya, ini jadi harus terus belajar. Belajarlah supaya mengerti yang menyeluruh, kalau mau bicara Islam, ya mengaji, jangan mengambil Islam dari buku-buku terjemahan, Al-Quran terjemahan, hadis terjemahan. Ini tidak mungkin. Terus kadang orang bilang kembali ke Al-Quran dan Hadist, tapi orang salah memaknai maksud itu.

Santriwati Pintar: Maksudnya?

Ahmad Mustofa Bisri: Orang mengatakan kembali ke Al-Quran dan sunah Rasul itu kok malah maknanya kembali ke Al-Quran dan hadis terjemahan Depag, itu bagaimana, itu kacau! Orang bisa membaca terjemahan Depag asal dia bisa baca Latin, dan dikiranya kebenaran yang dibaca dan dipelajarinya itu kebenaran mutlak. Ia tidak tahu bahwa bahasa Arab Al-Quran tidak sama.

Jadi teruslah belajar bahasa Arab, harus belajar ilmu Balagoh, ilmu Badi' dan Bayan karena Al-Quran itu mengandung itu semua, sastranya tinggi sekali. Jadi, kalau orang hanya membaca terjemahan tidak tahu sastra ya tidak mungkin, tidak bisa, harus mengaji.

Jadi silakan mengatakan kembali ke Al-Quran dan hadist itu dijadikan semboyan, tapi ya kembali itu belajar dan terus belajar, harus mengaji. Tidak diartikan bacalah terjemahan Al-Quran, atau 40 hadist di buku-buku mutiara hadis, itu ngacau!

Santriwati Pintar: Menjelang pilkada, banyak konflik yang mengancam keberagaman dan berpotensi memecah kebinekaan. MUI sampai mengeluarkan fatwa. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Kita sekarang lupa, bahwa yang menentukan orang menjadi kaya, menjadi miskin, menang dan kalah, memiliki kekuasaan atau kehilangan kekuasaan, dan menjadi penguasa atau tidak, menjadi pangkat atau tidak, itu semua Allah Subhanahu wata'ala. Disangka kalau kita ngotot, berarti pasti jadi?!

Santriwati Pintar: Bagaimana agar tidak terjadi perpecahan di pilkada, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal. Itu di Islam tidak boleh! Wala tusrifu, (jangan berlebihan), atau Ghuluw, banyak dalam ayat-ayat Al-Quran dan Sabda Rasullullah Sallahhu Alaihi Wassalam menyatakan tidak boleh, alguluw fiddin (berlebihan dalam agama), berlebih-lebihan itu tidak boleh. Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif.

Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa. Sebab adil itu jejek (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri tegak, lurus), sedangkan berlebih-lebihan itu begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kanan), atau begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kiri), tidak bisa. Karena apa pun nanti akan dijadikan alasan untuk berkelahi.

Jadi, kalau kita misalnya senang berlebih-lebihan, benci berlebih-lebihan, senang dunia berlebihan, senang kekuasaan berlebihan, senang pangkat berlebihan, senang kedudukan berlebihan, apa pun itu yang berlebihan, itu semua sumber malapetaka. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/gus-mus-kalau-mau-bicara-islam-ya-mengaji.html

Minggu, 16 Oktober 2011

Dua Guru Besar UIN Sunan Ampel Terima Tim Ekspedisi di NU Jatim

Surabaya, Santriwati Pintar. Salah satu tujuan rombongan Tim Ekspedisi Islam Nusantara yang dipimpin Wakil Sekretaris NU Imam Pituduh adalah Kantor NU Jawa Timur. Mereka diterima dua guru besar UIN Sunan Ampel yang juga fungsionaris NU Jatim.

Bagi Imam Pituduh, Islam Nusantara harus terus didengungkan. "Banyak negara dari berbagai benua yang penasaran dan ingin tahu apa itu Islam Nusantara," katanya, Kamis (14/4).

Dua Guru Besar UIN Sunan Ampel Terima Tim Ekspedisi di NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Guru Besar UIN Sunan Ampel Terima Tim Ekspedisi di NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)


Dua Guru Besar UIN Sunan Ampel Terima Tim Ekspedisi di NU Jatim

Ia mengemukakan, setelah pelaksanaan Muktamar ke-33 NU di Jombang awal Agustus lalu, berbagai kalangan dari negara sahabat ingin belajar Islam Nusantara ke Kantor NU.

Santriwati Pintar

Keberadaan tim ekspedisi yang akan membuat buku ensiklopedia dan film dokumenter seputar Islam Nusantara adalah sebagai jawaban atas rasa penasaran banyak kalangan tersebut. "Sebab, kalau menjelaskan lewat pidato, waktunya tidak memungkinkan," katanya.

Santriwati Pintar

Film dan buku menjadi sarana yang lebih efektif untuk semakin mengenalkan Islam Nusantara ke sejumlah kalangan, lanjutnya.

KH Ali Maschan Moesa selaku Wakil Rais Syuriyah dan KH Shonhaji Sholeh yang diamanahi sebagai Wakil Ketua NU Jatim secara khusus menerima tim ekspedisi. Keduanya yang tercatat sebagai guru besar di UIN Sunan Ampel Surabaya. Keduanya didampingi KH Sholeh Hayat, KH Shidik (Wakil Ketua NU Jatim), dan H Hasan Ubaidillah (Wakil Sekretaris NU Jatim).

Bagi Kiai Ali Maschan, maraknya gerakan radikal di belahan dunia dan juga di tanah air sebagai sebuah fakta yang sulit dibendung. "Karena, ketika mempelajari agama tidak secara utuh, maka potensi penyimpangan akan terjadi," kata mantan Ketua NU Jatim ini.

Islam model NU adalah sebagai jawaban terbaik dalam menyelamatkan bangsa dan dunia dari berbagai ancaman disintegrasi. "NU telah teruji dan kiprahnya tidak dapat dibantah," kata Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Husna Surabaya ini.

Selama di Surabaya, tim Ekspedisi Islam Nusantara mengadakan kunjungan ke Grahadi yang diterima oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, serta PCNU Surabaya. Rombongan juga singgah di SMK Wahid Hasyim, Museum NU, makam Sunan Ampel, Sunan Bungkul, serta Pesantren Mahasiswa An-Nur.

Selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan ke Lumajang, Mojokerto, serta Jombang. Mereka berkeliling Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Selama kunjungan, mereka berdiskusi bagaimana memperkuat Islam Nusantara dalam keseharian. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67283/dua-guru-besar-uin-sunan-ampel-terima-tim-ekspedisi-di-nu-jatim

Santriwati Pintar

Minggu, 27 Maret 2011

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan

Ia memang masih keturunan dari laskar pejuang Pangeran Diponegoro di eks Karsidenan Kedu. Tak heran selain berdakwah, Mbah Dalhar juga mewarisi semangat perjuangan dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan R.

Mbah Kiai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H (12 Januari 1870 M). Ketika lahir ia diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang muddai ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Kiai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kiai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan

Diriwayatkan, Kiai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton karena ia lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Belakangan waktu baru diketahui jika ia hidup menyepi didaerah Godean, Yogyakarta. Sekarang desa tempat ia tinggal dikenal dengan nama desa Tetuko. Sementara itu salah seorang puteranya bernama Abdurrauf juga mengikuti jejak ayahnya yaitu senang mengkaji ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan beliau untuk bersama sama memerangi penjajah Belanda, Abdurrauf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran.

Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan secara habishabisan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan figurefigure yang dapat membantu perjuangannya melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad di masyarakat.

Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau lalu membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kiai Abdurrauf.

Pesantren Kiai Abdurrauf ini dilanjutkan oleh putranya yang bernama Abdurrahman. Namun letaknya bergeser ke sebelah utara ditempat yang sekarang dikenal dengan dukuh Santren (masih dalam desa Gunung Pring). Sementara ketika masa dewasa mbah Kiai Dalhar, beliau juga meneruskan pesantren ayahnya (Kiai Abdurrahman) hanya saja letaknya juga digeser kearah sebelah barat ditempat yang sekarang bernama Watu Congol.

Santriwati Pintar

Nama Dalhar

Santriwati Pintar

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang yang dilahirkan dalam ruang lingkup kehidupan pesantren. Oleh karenanya semenjak kecil beliau telah diarahkan oleh ayahnya untuk senantiasa mencintai ilmu agama. Pada masa kanak-kanaknya, ia belajar Al-Quran dan beberapa dasar ilmu keagamaan pada ayahnya sendiri yaitu Kiai Abdurrahman. Menginjak usia 13 tahun, mbah Kiai Dalhar mulia belajar mondok. Ia dititipkan oleh sang ayah pada Mbah Kiai Mad Ushul (begitu sebutan masyhurnya) di Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Disini ia belajar ilmu tauhid selama kurang lebih 2 tahun.

Sesudah dari Salaman, saat ia berusia 15 tahun mbah Kiai Dalhar dibawa oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen. Oleh ayahnya, mbah Kiai Dalhar diserahkan pendidikannya pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang maruf dengan laqobnya Syeikh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Delapan tahun mbah Kiai Dalhar belajar di pesantren ini. Dan selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh. Itu terjadi karena atas dasar permintaan ayahnya sendiri pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani.

Kurang lebih pada tahun 1314 H/1896 M, mbah Kiai Dalhar diminta oleh gurunya yaitu Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani untuk menemani putera laki laki tertuanya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani thalabul ilmi ke Makkah Musyarrafah. Dalam kejadian bersejarah ini ada kisah menarik yang perlu disuri tauladani atas ketaatan dan ketadziman mbah Kiai Dalhar pada gurunya.

Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani punya keinginan menyerahkan pendidikan puteranya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani kepada shahabat karibnya yang berada di Makkah dan menjadi mufti syafiiyyah waktu itu bernama Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani (ayah Syeikh As_Sayid Muhammad Said Babashol Al-Hasani). Sayid Abdurrahman Al-Hasani bersama mbah Kiai Dalhar berangkat ke Makkah dengan menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.

Dikisahkan selama perjalanan dari Kebumen, singgah di Muntilan dan kemudian lanjut sampai di Semarang, saking tadzimnya mbah Kiai Dalhar kepada putera gurunya, beliau memilih tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayid Abdurrahman. Padahal Sayid Abdurrahman telah mempersilahkan mbah Kiai Dalhar agar naik kuda bersama. Namun itulah sikap yang diambil oleh sosok mbah Kiai Dalhar.

Sesampainya di Makkah (waktu itu masih bernama Hejaz), mbah Kiai Dalhar dan Sayid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri tinggal) Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani yaitu didaerah Misfalah. Sayid Abdurrahman dalam rihlah ini hanya sempat belajar pada Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani selama 3 bulan, karena ia diminta oleh gurunya dan para ulama Hejaz untuk memimpin kaum muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu. Sementara itu mbah Kiai Dalhar diuntungkan dengan dapat belajar ditanah suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun.

Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani inilah yang kemudian memberi nama Dalhar pada mbah Kiai Dalhar. Hingga ahirnya ia memakai nama Nahrowi Dalhar. Dimana nama Nahrowi adalah nama aslinya. Dan Dalhar adalah nama yang diberikan untuk beliau oleh Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani. Rupanya atas kehendak Allah Swt, mbah Kiai Nahrowi Dalhar dibelakang waktu lebih masyhur namanya dengan nama pemberian sang guru yaitu Mbah Kiai Dalhar.

Ketika berada di Hejaz inilah Kiai Nahrowi Dalhar memperoleh ijazah kemusrsyidan Thariqah As-Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah aurad Dalailil Khoerat dari Sayid Muhammad Amin Al-Madani. Dimana kedua amaliyah ini dibelakang waktu menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan namanya di tanah Jawa.

Hizb Bambu Runcing

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan riyadhah. Selama di tanah suci, mbah Kiai Dalhar pernah melakukan khalwat selama 3 tahun disuatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3 buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunan beliau serta para santri santrinya. Dalam hal adab selama ditanah suci, mbah Kiai Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk qadhil hajat, ia lari keluar tanah Haram.

Setelah pulang dari tanah suci, sekitar tahun 1900 M ia kemudian meneruskan perdikan peninggalan nenek moyangnya yang berupa pondok kecil di kaki bukit kecil Gunung Pring, Watu Congol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Kurang lebih 3 kilometer sebelah timur Candi Borobudur. Pondok pesantren kecil ini lambat laun tidak hanya dihuni oleh santri-santri sekitar eks Karsidenan Kedu saja namun sampai pelosok tanah Jawa.

Bahkan ketika masa-masa perang pra dan masa kemerdekaan, pondok pesantren Watucongol menjadi markas dan sekaligus tempat singgah para pejuang tentara bambu runcing yang datang Jogjakarta dan wilayah Jawa bagian barat seperti eks Karsidenan Banyumas dan sebagian dari Jawa Barat. Konon ceritanya, bambu runcing para pejuang harus di asma hizb dahulu oleh KH Dalhar dan KH Subekhi (Parak, Temanggung) sebelum menyerang markas penjajah Belanda di Ambarawa, Semarang, (lihat buku: Jejak Kaki Persantren, karya KH Saifuddin Zuhri).

Dikisahkan, dengan bermodalkan bambu runcing, para pejuang kemerdekaan menyerang benteng Belanda di Ambarawa, bambu-bambu runcing mampu terbang dengan sendirinya bak senapan menyerang tentara-tentara Belanda. Sementara bombardir peluru serta granat tangan kumpeni Belanda tidak mampu melukai apalagi menyentuh kulit para pejuang Republik Indonesia.

Karya mbah Kiai Dalhar yang sementara ini dikenal dan telah beredar secara umum adalah Kitab Tanwirul Maani. Sebuah karya tulis berbahasa Arab tentang manaqib Syeikh As-Sayid Abu Hasan Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, imam thariqah As-Syadziliyyah.

Banyak sekali tokoh tokoh ulama terkenal negara ini yang sempat berguru kepadanya semenjak sekitar tahun 1920 1959. Diantaranya adalah KH Mahrus, Lirboyo ; KH Dimyathi, Banten ; KH Marzuki, Giriloyo dll. Sesudah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, Mbah Kiai Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 Jimakir (1378 H) atau bertepatan dengan 8 April 1959 M dan beliau kemudian di makamkan di komplek makam Gunung Pring, Watucongol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sekalipun jasadnya telah terkubur dalam tanah, karya dan penerus perjuangan Mbah Dalhar tetap berkelanjutan sampai sekarang. Pondok Pesantren Darussalam, Watu Congol adalah saksi sejarah napak tilas perjuangan dakwah Mbah Dalhar. Jalan menuju makam Watucongol memang terbilang mudah. Peziarah ruhani biasanya melengkapi ziarah Wali Songo atau wisata liburan dengan melewati jalur tengah yang menghubungkan jalan utama dari Jogjakarta menuju Semarang. Ketika melewati kota Muntilan, dari arah pasar Muntilan cukup sekitar 5 kilo ke sebelah barat menunuju kawasan Gunung Pring.

Untuk memperingati jejak sejarah Mbah Dalhar dan Pesantren Darusalam Watu Congol Muntilan, setiap akhir bulan Syaban tahun Hijriah biasanya haulnya diperingati di kompleks Pesantren Darussalam Watucongol, dan Kompleks makam Gunung Pring Muntilan Magelang. Dipastikan kedua kompleks perdikan bersejarah itu tak pernah sepi oleh penziarah yang datang tidak saja dari penjuru Nusantara namun juga negeri mancanegara. (Aji Setiawan/Anam)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47115/kiai-pedakwah-dan-pejuang-kemerdekaan

Santriwati Pintar

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock