Tampilkan postingan dengan label Duta Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Duta Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme

Demak, Santriwati Pintar. Dalam mengantisipasi kelompok Radikalis, Majelis Ulama Kabupaten Demak membekali pengurusnya dari pengurus tingkat kabupaten sampai tingkat kecamatan dengan menyelenggarakan dialog intern umat Islam di Gedung Bina Praja Setda Demak Jl Kyai Singkil N 7 Demak, Sabtu (15/8) lalu.

Dialog dengan tema Islam dan Nasionalisme dalam Mengatasi Radikalisme tersebut agar pengurus MUI disemua tingkatan waspada terhadap kegiatan gerakan radikalisme yang mulai bergerilya dipelosok desa, baik yang bersifat gejala maupun sampai pada tingkatan teknis gerakan karena hal sekecil apapun perlu kewaspadaan.

Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)


Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme

Kami menganggap ini sangat penting, hal sekecil apapun kita tidak boleh lengah dan semua pengurus kami harap untuk meningkatkan koordinasi pada pimpinan, ujar sekretaris umum MUI Demak KH Arie Cholil.

Santriwati Pintar

Kiai Arif menambahkan pihaknya menilai gerakan radikalisme mulai merambah ke daerah-daerah pelosok termasuk kabupaten Demak yang mayoritas ahlussunnah wal jamaah yang dimungkinkan juga kena wabah. Dalam hal ini, MUI Demak selalu berkoordinasi dengan aparat terkait termasuk sistim komunikasi yang perlu disiapkan pada pengurus dan tokoh masyarakat.

Kami sudah berkoordinasi dengan TNI, POLRI, dan Kesbangpolinmas kabupaten Demak, dengan saling tukar informasi dan mengambil kebijakan jika terjadi hal yang tidak diinginkan tambah pengasuh pesantren Al-Fattah tersebut.

Santriwati Pintar

Sementara itu, Bupati Demak KH Moch Dachirin Said dalam sambutannya sebelum membuka dialog meminta untuk kerjasama berkesinambungan antara para kiai ulama dan umara dalam mengatasi aliran radikalisme di daerahnya.

Kami minta pada panjenengan (kiai dan ulama) semua untuk berjuang bersama-sama agar kabupaten Demak tidak kecolongan Islam garis keras, pinta Dachirin.

Dialog yang dibarengkan halalbihalal ini selain diikuti 100 peserta ulama dan kiai, juga dihadiri Kapolres, Dandim Demak dan Muspida lainnya. (A Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61649/tangkal-radikalisme-mui-demak-gelar-dialog-islam-dan-nasionalisme

Santriwati Pintar

Minggu, 21 Desember 2014

Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok

Jakarta, Santriwati Pintar. Film Bidah Cinta besutan sutradara Nurman Hakim akan diputar serentak di bioskop mulai 16 Maret besok. Film yang diprodukis Kaninga Pictures itu dibintangi Dimas Aditya berperan sebagai Kamal dan Ayushita berperan sebagai Khalida.

Menurut Nurman, Bidah Cinta memotret perbedaan pandangan dalam Islam. Film tersebut menggmbarkan bagaimana perbedaan seharusnya dikelola agar kehidupan berlangsung penuh toleransi, berdampingan dengan damai, seperti warna pada pelangi yang berbeda-beda yang membuatnya menjadi indah.

Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok (Sumber Gambar : Nu Online)
Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok (Sumber Gambar : Nu Online)


Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok

Film Bidah Cinta menjadi penting ditonton karena film ini mendorong suatu perubahan untuk civil society yang baik, katanya ketika diwawancarai Santriwati Pintar pada Rabu (15/3).

Santriwati Pintar

Produser film Jalan Dakwah Pesantren Hamzah Sahal mengemukakan tentang film Bidah Cinta. Sumbangan penting dari film Bidah Cinta, menurut dia,adalah menyajikan peristiwa keagamaan sehari-hari di lingkungan kita, peristiwa keagamaan sehari-hari yang sedang aktual.

Santriwati Pintar

Ia menambahan, salah satu nilai penting yang dikemukakan dalam film garapan sutradara Nurman Hakim ini adalah toleransi internal agama. Nilai ini, terlebih masa pilkada, terdengar sangat lirih, sementara film Biah Cinta menyajikan dengan terang.

Film ini sangat "Islam", karena sineasnya, Nurman Hakim, Ben Shohib, besar di tengah lingkungan Islam, persisnya pesantren. Tonton di bioskop, mulai Kamis, 16 Maret, katanya.

Terkait film itu, pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Banten akan mengadakan nonton bareng di Supermall Lippo Karawaci Tangerang pada 16 Maret 2017. Pihak GP Ansor telah menyiapkan tiket gratis untuk warga NU yang ingin menonton bareng film tersebut.

GP Ansor Banten menilai pentingnya nilai-nilai kebinekaan yang terkandung dalam film tersebut. Sebagai negara dengan beragam kultur dan kepercayaan, perbedaan pandang merupakan hal yang sangat jamak di Indonesia.

Ketua GP Ansor Banten Ahmad Nuri mengatakan, nonton bareng tersebut akan dilakukan secara gratis dan bisa diikuti warga NU dan masyarakat Banten. Acara ini juga akan dihadiri tokoh agama dan tokoh masyarakat Banten. GP Ansor Banten akan mendatangkan aktor film tersebut.

"Kita sudah borong satu studio untuk acara itu, ada sekitar 350 tiket sudah kita sediakan, gratis," kata Nuri di Sekretariat GP Ansor Banten, Sabtu (11/3). (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76149/mari-berjamaah-nonton-film-bidah-cinta-besok

Santriwati Pintar

Senin, 28 Juli 2014

Warga NU Dihasut untuk Ubah Pancasila dan NKRI

Malang, Santriwati Pintar. Warga Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu sasaran empuk hasutan kelompok Islam garis keras yang ingin mengubah dasar negara Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian ditegaskan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur Ali Maschan Moesa di hadapan sekitar 2 ribu pengurus NU dari semua tingkatan se-Jatim yang berkumpul di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Ahad (3/6) kemarin.

Alibegitu ia akrab disapamenjelaskan, cara yang dilakukan kelompok Islam garis keras itu di antaranya dengan menyebarkan selebaran yang berisi ajakan untuk mengubah Pancasila dan NKRI dengan Khilafah Islamiyah (Pemerintahan Islam).

Kalau ini diterus-teruskan, mereka akan berhadapan dengan NU, tandas Ali yang juga Dosen Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, itu.

Warga NU Dihasut untuk Ubah Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Dihasut untuk Ubah Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)


Warga NU Dihasut untuk Ubah Pancasila dan NKRI

Kelompok-kelompok Islam radikal tersebut, ujar Ali, saat ini memang banyak bermunculan. Meski berbentuk dan menggunakan nama yang cukup beragam, tapi pada dasarnya memiliki kesamaan, yakni kerap menggunakan cara-cara kekerasan dalam setiap gerakannya.

Ada yang menggunakan nama Islam, tapi suka melakukan kekerasan di sana-sini, hingga merusak masjid. Ada yang suka jihad dengan melakukan pengeboman, yang ujung-ujungnya orang Islam sendiri yang jadi korban, jelas Ali.

Santriwati Pintar

Mereka itu bukan Ahlussunnah Wal Jamaah, tapi Ahlulfitnah Wal Jinayah, tegas Alumnus Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

Ia meminta kepada warga NU untuk selalu waspada terhadap gerakan apa pun yang berupaya mengganti Pancasila dan mengganggu keutuhan NKRI. Pasalnya, bagi NU, kedua hal tersebut sudah final dan tak bisa diperdebatkan lagi.

Santriwati Pintar

Musyawarah Nasional Alim Ulama di Situbondo tahun 1983 dan diperkuat lagi keputusan Muktamar NU di tempat yang sama tahun 1984, NU sudah memutuskan bahwa NKRI dan Pancasila adalah upaya final dalam usaha mendirikan negara.

Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi NU tak hanya itu. Masjid dan mushola yang dibangun dan didirikan warga NU pun tak lepas dari incaran kelompok Islam yang kerap tak menghargai keberagaman budaya dan etnis setempat itu. (sbh)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/9127/warga-nu-dihasut-untuk-ubah-pancasila-dan-nkri

Santriwati Pintar

Sabtu, 14 Desember 2013

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

Santriwati Pintar - Ini teks istighotsah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari yang saya dapat dari kiai Fahruddin, pengasuh PP. Thoriqul Huda Ponorogo beberapa bulan sebelum beliau wafat. Beliau menerima dari Gus Kholiq bin Hasyim Asy'ari.

Ada secuil kisah tentang istighotsah tersebut. Konon kiai Hasyim pernah memprediksi akan terjadinya gonjang-ganjing yang akan menimpa Indonesia wa bil khusus Nahdlatul Ulama.

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia) - Santriwati Pintar
Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia) - Santriwati Pintar


Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

Apakah fenomena sekarang di mana antar umat Islam, antar ormas Islam dengan mudah diadu domba, saling mencaci-maki orang adalah gonjang-ganjing yang dimaksud Hadratus Syaikh? Wallahu A'lam.

Senyampang kita masih waras menurut ukuran kita sendiri, mari sama-sama berdoa agar kita tidak termasuk dalam lingkaran pelaku gonjang-ganjing tersebut.

Santriwati Pintar

NB. Bila ada teks atau harakat yang salah, mohon maaf. Saya dapatnya begitu. [Santriwati Pintar]

Santriwati Pintar

Gus Zaki Hadziq Tebuireng, cucu KH. Hasyim Asy'ari.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/teks-istighotsah-kh-hasyim-asyari.html

Minggu, 21 Juli 2013

Dari 10 Program Perjuangan yang Ditulis KH. Hasyim Asyari Ini, dari Doeloe NU Sangat Visioner

Santriwati Pintar - Membaca poin-poin Qonun Asasi Mbah KH Hasyim Asy'ari yang dirangkum oleh Dr. Suratno, dosen Universitas Paramadina, terlihat sekali kalau NU begitu nasionalis, progresif dan visioner.

Menjelang harlah NU ke-91, sebagai pengingat diri sendiri, dan mungkin untuk nahdliyin wa nahdliyat lainnya, saya tulis "10 Pasal Program Perdjuangan NU" yang tertuang dalam buku "Muqodimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama" karangan Ar Roisul Akbar Chadratus Sjech K.H. Hasjim Asj'ari, terbitan Menara Kudus.

Dari 10 Program Perjuangan yang Ditulis KH. Hasyim Asyari Ini, dari Doeloe NU Sangat Visioner - Santriwati Pintar
Dari 10 Program Perjuangan yang Ditulis KH. Hasyim Asyari Ini, dari Doeloe NU Sangat Visioner - Santriwati Pintar


Dari 10 Program Perjuangan yang Ditulis KH. Hasyim Asyari Ini, dari Doeloe NU Sangat Visioner

Saya tulis poin-poin utama per-pasal saja dan pakai edjaan jang lama alijas dahoeloe kala.

Pasal 1: Membina masjarakat jang bertaqwa pada Alloh SWT, tanpa paksaan dalam bentuk apapun.

Santriwati Pintar

Pasal 2: Mengamankan pelaksanaan UUD 1945 dan pengamalan Pantjasila oleh seluruh rakjat dan pemerintah beserta aparat-aparatnja.

Pasal 3: Mempertahankan tegaknja NKRI/Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Santriwati Pintar

Pasal 4: Meningkatkan peranan rakjat.

Pasal 5: Berdjuang untuk dilaksanakannja politik luar negeri jang bebas dan aktif.

Pasal 6: Mendjadikan desa sebagai basis pembangunan nasional dan mengusahakan diperluasnja lapangan kerdja baru bagi para pemuda.

Pasal 7: Membantu peningkatan ekonomi rakjat dan koperasi chususnja bagi kaum tani, nelajan dan pengusaha ketjil.

Pasal 8: Berdjuang menentang kemelaratan dan kemiskinan, meningkatkan kesedjahteraan keluarga-keluarga buruh, pegawai negeri dan pradjurit.

Pasal 9: Melindungi hak-hak kaum wanita.

Pasal 10: Mendorong kemadjuan-kemadjuan dalam ilmu pengetahuan dan kebudajaan.

Itulah 10 program yang pernah dicanangkan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Nampak sangat peduli sekali terhadap kesatuan Republik Indonesia. Jadi, sejak dulu Mbah Hasyim sudah meminta pengamanan pengamalan Pancasila, bukan menyebutnya dengan sebutan kurang pantas seperti di sebelah. [Santriwati Pintar/ ksf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/dari-10-program-perjuangan-yang-ditulis-kh-hasyim-asyari-ini-dari-doeloe-nu-sangat-visioner.html

Minggu, 26 Mei 2013

Dzikir Ilalang di Atas Pusara

Wajahmu wahai kekasih

Adalah cantik laksana rembulan

Sinarnya sejuk menerangi malam

Dzikir Ilalang di Atas Pusara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Ilalang di Atas Pusara (Sumber Gambar : Nu Online)


Dzikir Ilalang di Atas Pusara

Keinginan untuk menjumpaimu

Tetap ada dalam hatiku

Walau mata, hati dan rasa

Santriwati Pintar

Telah redup dalam dosa

Hancur terbakar menjadi abu

Santriwati Pintar

Kekasih . . .

Berilah aku waktu sesaat

Agar aku bisa bangkit dari tumpukan abu itu

Menjadi bara kecil

Yang menyulut cinta hangusku

Wahai kekasih . . .

Celakalah aku

Bila engkau bersama orang lain

Dan aku kau tinggalkan hanya seorang

Tanpa engkau hiraukan

Seluruh anak adampun pasti akan celaka

Cambuklah aku sampai terluka

Sayatlah kulitku supaya menetes darah

Jangan kau biarkan

Air mataku mengering

Bila engkau tak menyiksaku sesaat saja

Niscaya aku sudah lupa

Siapa diriku ini

Karna aku tak lagi punya biola

Yang dapat aku mainkan

Untuk menari di hadapanmu

Asal engkau masih mau memandangku

Tak mengapa

Aku akan jadi ilalang

Yang berdzikir di atas pusara

Karna bukti cintaku padamu

Adalah nikmat yang tak pernah pudar

Surabaya, 28 juni 2015

Ach Shodiq Firdaus, Pengajar di Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo.

Dari (Puisi) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60470/dzikir-ilalang-di-atas-pusara

Santriwati Pintar

Jumat, 01 Februari 2013

Gaya Hidup Warisan Orde Baru

Santriwati Pintar - “Piye, Le; enak zamanku tho?!” Pertanyaan di bokong truk dengan gambar pak Harto mesem itu setiap kali berkelebat mengusikku. Aku selalu teringat presiden yang nyaris seperti raja itu terutama saat ada peristiwa kegilaan terhadap dunia, seperti kasus-kasus Korupsi dan Suap-menyuap; Politik Uang; Pejabat Publik dan Artis yang ‘tertangkap tangan’; Orang Pintar yang dapat memperbanyak uang; dan lain sebagainya.

Gaya Hidup Warisan Orde Baru - Santriwati Pintar
Gaya Hidup Warisan Orde Baru - Santriwati Pintar


Gaya Hidup Warisan Orde Baru

Kegilaan terhadap dunia atau materi dimulai dari keinginan menjadikan hidup ini sejahtera, hingga keinginan hidup mewah. Lalu keinginan lebih dan langgeng hidup mewah serta berkuasa. Biasanya berakhir dengan hilangnya akal dan nurani. Hubbud dunya ra’su kulli khathiah. Berlebih-lebihan menyukai dunia adalah sumber segala kesalahan.

Negeri ini mengenal 2 (dua) presiden yang nyaris seumur hidup. Soekarno dan Soeharto. Sambil ‘meledek’ Pemerintahan Soekarno dengan sebutan Orde Lama, kursi kepresidenan-nya pun diambil alih. Orde lama dikritik karena ‘mengangkat’ Politik sebagai Panglima. Alasannya: politik tidak membikin kenyang. Politik tidak enak. Lalu Soeharto pun mengganti dengan ‘Ekonomi sebagai Panglima’. Pembangunan ekonomi semesta pun dimulai.

Adalah wajar bila saat akan membangun ekonomi, yang dicontoh dan ditiru adalah negara-negar yang maju ekonominya. Ibarat mau membuka warung, tentu yang dicontoh dan ditiru adalah resto yang maju. Sayangnya, kita ini –di samping merupakan ‘bangsa peniru’—apabila meniru tidak melihat dan mempertimbangkan diri sendiri.

Mau meniru artis mancung India yang tampak cantik dengan anting besar di hidungnya, langsung niru tanpa mempertimbangkan hidungnya sendiri yang kecil dan pesek. Mau meniru peragawati Perancis yang tampak manis dengan rok spannya, langsung meniru pakai rok span; padahal tubuhnya ukuran jumbo. Melihat orang-orang Barat –yang memiliki 4 musim, termasuk musim dingin--memakai jas-dasi dan mantel, kita pun menirunya dengan bangga; lupa bahwa kita hidup di negeri tropis. Begitu dan seterusnya.

Ternyata saat Soeharto dan orbanya mau membangun ekonomi Indonesia, agaknya hanya meniru begitu saja negeri-negeri maju di Barat (apalagi tentu saja negeri-negeri itu mau menghutangi); tanpa melihat dan mempertimbangkan jati diri sendiri sebagai negara dan bangsa. Pancasila pun kemudian hanya dijadikan ‘proyek pembangunan’.

Maka yang terjadi pun praktek ekonomi kapitalis (cuma disini dengan kapital utangan) dan menghasilkan masyarakat yang materialistis. Masyarakat yang berlebihan menyukai dunia. Harta dan pangkat atau uang dan kedudukan. Apalagi dalam soal duniawi ini, Soeharto dan para pemimpin beserta keluarga mereka dengan sangat jitu memberi contoh dan teladan. Sehingga Hidup Sejahtera ditangkap bulat-bulat oleh banyak kalangan di masyarakat sebagai hidup kaya, berkedudukan, dan mewah.

Anggota Dewan yang dulu hanya diberi ongkos transportasi, karena kerjanya ‘cuma’ menyampaikan aspirasi rakyat dan mengontrol pemerintah, oleh pemerintahan Soeharto diberi gaji berlimpah, karena tugasnya jauh lebih berat, istiqamah menyetujui kehendak pemerintah atau diam. Maka sejak itu menjadi anggota parlemen dipandang sebagai mata pencaharian yang sangat menjanjikan. Pangkat dan harta teraup semuanya.

Pendidikan pun tentu saja direncanakan dan dibangun atas asas ‘kehidupan duniawi’ model itu. Bukan atas dasar jati diri dan falsafah bangsa. Orientasi dan proses pendidikan semuanya bermuara kepada kehidupan dunia ini semata. Ijazah dan cari kerja atau cari kedudukan adalah hal paling pokok dan penting melebihi apa saja. Maka Pendidikan pun hanya lebih merupakan pengajaran dan boleh dikata tanpa mendidik. Hasilnya pun kebanyakan adalah orang-orang terpelajar yang tidak terdidik.

Kemudian fenomena cepat-kilatnya orang mendapatkan sesuatu kekayaan dan pangkat, melahirkan gaya hidup baru. Gaya hidup instan yang mengukuhkan kehidupan serba duniawi itu. Ingin cepat kaya, ingin menjadi kiai atau sarjana, ingin pelanggaran tidak dihukum, ingin jadi artis, hingga ingin menjadi pemimpin pemerintahan, maunya sekejap. Kun fayakun. (Fenomena Gatot yang ‘menjerumuskan’ banyak artis dan Dimas Kanjeng yang ‘menjerumuskan’ Marwah Daud dan banyak orang pintar lainnya, hanyalah contoh kecil dari akibat mentalitas duniawi dan gaya hidup instan ini).

Maka ‘ajaran hidup’ warisan tinggalan Soeharto yang kemudian dilanjut-teruskan oleh murid-murid setianya ini belakangan menimbulkan masalah yang tak putus-putus. Dimulai dari persaingan kepentingan duniawi, rebutan kedudukan, dan keserakahan yang kemudian beranak-pinakkan korupsi, suap-menyuap, penipuan, pertikaian, hingga saling fitnah.

Menurutku, hendak melakukan Revolusi Mental, kita seharusnya melihat dan mengetahui lebih dahulu mentalitas kita selama ini. Lalu meninjau kembali dan mengkaji ulang pandangan kita selama ini, terutama tentang dunia dan tentang tujuan hidup kita di dunia ini. Dengan kata yang lebih singkat, kita perlu kembali ke jati diri kita sendiri. Kita harus kembali memandang dunia hanya sebagai persinggahan sebentar. Materi bukan segala-galanya.

Kiai Husein Muhammad dari Pesantren Arjawinangun, dalam hal ini, secara tidak langsung menawarkan gaya hidup Zuhud. Ini memang resep manjur yang biasa diberikan para tabib rohani. Membalik gaya hidup. Tapi menurutku ini terlalu drastis dan ekstrim. Bagaimana masyarakat yang sedemikian menyintai dunia (bahkan tingkat cintanya kepada dunia sudah sampai ke taraf menghilangkan akal-sehat), disuruh zuhud?

Bagaimana kalau kita mulai saja dari gerakan hidup sederhana? Kalau setuju, sekaranglah saatnya yang paling baik untuk memulai. Di Tahun Baru Hijriah ini, semoga Allah menolong dan membantu kita dalam rangka ‘hijrah’ dari berlebih-lebihan memandang dunia kepada kesederhanaan. ‘Hijrah’ dari menganggap materi sebagai segala-galanya kepada hanya sekedar sarana. Semoga Allah menolong dan membantu kita dalam melakukan kesibukan yang semakin mendekatkan diri kita kepadaNya. Amin. [Santriwati Pintar/ab] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/gaya-hidup-warisan-orde-baru.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock