Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Maret 2017

Kartanu provides 20% rebate for heath care costs

Jakarta, Santriwati Pintar. Nahdliyin (NU followers) having NU membership cards (Kartanu) will get a 20% rebate for their health care costs at Surabayas Islamic hospitals.

Minister of Education and Culture M. Nuh, made the remarks while opening the National Working Meeting 2013 of Maarif NU Education Institute (LP Maarif NU) at Syahida Inn Building, Sharif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta, Monday (21/1).

Kartanu provides 20% rebate for heath care costs (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartanu provides 20% rebate for heath care costs (Sumber Gambar : Nu Online)


Kartanu provides 20% rebate for heath care costs

"Every district in the city of Surabaya will get a special schedule that serves people who want to make Kartanu NU," said M. Nuh while presenting the 2013 curriculum development by the Department of Education and Cultuce.

Santriwati Pintar

M. Nuh added that, Nahdliyin should pay the Kartanus administration expenses amounted to Rp 8000 and the process of making it would be covered live by TV 9, a local television station owned by the East Javas Regional Board of Nahdlatul Ulama (PWNU).

The cards could be used by Nahdliyin to offset their health care costs at Islamic hospitals in Surabaya which have data of those who make the cards, added M. Nuh.

The NU intellectual also called for the importance of Nahdliyin to have the cards in addition to fostering awareness of data and such awareness-raising activity could be built from an early age through educational institutions.

Santriwati Pintar

The literacy of data can foster scientific and critical attitudes. Because, those who are literate of data can be responsibble for their problems in addition to giving them sense of security.

Editor: Sudarto Murtaufiq

Author: Alhafiz Kurniawan

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41985/kartanu-provides-20-rebate-for-heath-care-costs

Santriwati Pintar

Kamis, 02 Maret 2017

Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana

Kudus, Santriwati Pintar. Sebanyak 70 anggota Corp Brigade Perjuangan (CBP) IPNU dan Korp Kepanduan Putri (KKP) IPPNU sekaresidenan Pati mengikuti Latihan Gabungan (Latgab) di lapangan desa Rendeng Kota Kudus, Selasa-Rabu (13-14/10). Mereka mendirikan perkemahan selama dua hari. Peserta yang datang dari Kudus, Pati, Blora, Rembang, Grobogan, dan Lasem ini mendapat bekal latihan khusus tanggap dan penanganan bencana.

Ketua panitia M Ramadlan mengatakan, kegiatan Latgab dimaksudkan mengisi liburan tahun baru 1437 Hijriyah yang bertujuan mempersiapkan kader-kader CBP-KKP menghadapi adanya bencana dengan berbagai keterampilan khusus.

Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)


Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana

"Mereka akan menjadi kader inti berkualitas yang siap diterjunkan sebagai relawan manakala terjadi bencana. Sekaligus mempersiapkan diri menjelang musim hujan, daerah-daerah biasanya rawan bencana banjir," kata Ramadlan kepada Santriwati Pintar, usai acara (14/10).

Santriwati Pintar

Pada acara yang dibuka oleh Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi ini, para peserta mendapat gemblengan dan latihan tentang pelatihan dapur umum, pemadaman kebakaran, manajemen posko, dan simulasi bencana. Mereka mendapat bimbingan dari instruktur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Korp Peduli Bencana Alam Nahdlatul Ulama (KPBANU) Kudus.

Santriwati Pintar

"Kita juga ada simulasi bencana dan praktik dapur umum. Peserta mampu menanak nasi dan lauk pauknya dengan jumlah besar yang kemudian dibagikan kepada warga masyarakat maupun tukang becak," imbuh Ramadlan.

Komandan CBP Kudus Abu Hasan Asyari mengharapkan setiap CBP-KKP di masing daerah nantinya mampu mendirikan posko sendiri pada waktu terjadi bencana. Kepada peserta, ia menekankan untuk siap terjun mengatasi berbagai macam bencana alam baik kebakaran maupun banjir. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62817/puluhan-korps-pelajar-nu-sekaresidenan-pati-buat-simulasi-tanggap-bencana

Santriwati Pintar

Sabtu, 11 Februari 2017

Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor

Bogor - Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, tak akan memberi izin pengukuhan dan pelantikan Aliansi Nasional Anti-Syiah yang akan digelar pada Ahad, 22 November 2015, di Aula KONI Gelanggang Olahraga Kota Bogor.

Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor
Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor


Bima juga menyangkal akan hadir membuka acara tersebut seperti tertera dalam selebaran ANNAS. Dalam pamflet itu, Bima disebut akan memberi keynote speech bersama anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Didin Hafiduddin. “Tidak benar isi selebaran itu, saya tidak pernah memberi konfirmasi akan hadir,” kata Bima kepada Tempo pada Kamis, 19 November 2015.

Surat undangan dan permohonan acara itu, kata Bima, dikirim pengurus ANNAS beberapa hari lalu ke kantornya. “Undangan saya terima tapi tidak saya respon,” katanya. "Dan tidak akan saya izinkan."

Bima menyayangkan acara tersebut dan selebaran yang memuat nama dan fotonya sebagai pembicara. Menurut dia, dalam situasi saat ini sangat penting menjaga kebersamaan dan menguatkan silaturahmi. “Demi kesejukan Kota Bogor,” kata dia.

Bima sedang menghadapi somasi masyarakat atas pelarangan Asyura, peringatan gugurnya Hussain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, oleh umat Syiah tiap 10 Muharam pada pertengahan Oktober lalu. Bima Arya mengeluarkan surat edaran larangan peringatan Asyura dengan alasan menjaga keamanan.

Surat edaran itu segera memicu kontroversi karena Bima dinilai tak menghargai keragaman keyakinan. Bima kian dikecam karena memberikan pidato dalam Konferensi Wali Kota Sedunia di Florence, Italia, tentang persatuan dalam keberagaman. Surat edaran itu membuat responden dalam survei Setara Institute menobatkan Bogor sebagai kota paling tak toleran se-Indonesia.

Dalam wawancara dengan Tempo pekan lalu, Bima mengaku belajar dari keputusannya membuat edaran larangan Asyura yang menimbulkan kegaduhan. “Dalam konteks dimensi dan ruang yang lebih luas, larangan itu melanggar konstitusi,” katanya. (Bagja Hidayat)

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/bima-arya-larang-pelantikan-pengurus.html

Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia

Santriwati Pintar - Judul diatas tentu terkesan aneh, masak orang berqurban kok bisa dholim. Begini, dulu sekitar 40 tahun yang lalu, sebelum marak bermunculannya panitia-panitia Qurban, ketika itu siapa pun yang berqurban maka dia harus mengurus sendiri qurbannya, mulai dari beli hewan, merawatnya sebelum penyembelihan, proses penyembelihan yang melelahkan, sampai membagikannya kepada yang berhak menerima.

Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia
Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia


Sungguh ketika itu Qurban merupakan rangkaian ibadah yang membutuhkan kerja keras yang sangat melelahkan, dan disitulah makna Qurban itu begitu terasa, sehingga kata Qurban ْقُرْبَان yang aslinya bermakna dekat/mendekat dalam bahasa arabnya, tapi dalam bahasa kita berubah pengertian menjadi upaya berat atau kerja keras yang sulit dan melelahkan. Kemudian muncullah kalimat-kalimat seperti; 'sukses butuh pengorbanan' atau 'kita harus berkurban demi orang banyak'.

Atau ketika itu jika orang yang berqurban tidak sanggup, maka Qurban diserahkan kepada seorang kiai atau guru ngaji yang punya santri, tentunya disertai pemberian uang sebagai rasa terimakasih. Atau cara yang lain adalah orang yang berqurban itu menyuruh beberapa orang untuk mengurusi qurbannya hingga selesai dibagikan, seraya membayar tenaga mereka dengan uang.

Lalu sekarang ini, bermunculannya panitia-panitia Qurban itu sebenarnya adalah hal baru yang tidak wajib ada, tetapi itu sangat baik dan membantu sekali terhadap kita yang hendak berqurban, disamping menjadi syiar agama.

Maka pantaskah kiranya, jika kita yang beribadah Qurban, kita yang mengharap pahala Qurban, nama kita yang disebut saat penyembelihan Qurban, lalu ada orang lain yang tidak ikut Qurban, tetapi mereka dengan suka rela ikhlas membantu ibadah kita, dari awal hingga akhir, yang itu sungguh sangat melelahkan.

Selanjutnya kita hanya menyerahkan hewan Qurban saja kepada mereka, tanpa uang ongkos, tanpa uang lelah atau tanpa uang terimakasih. Bahkan semua biaya konsumsi, akomodasi dan distribusi, kita biarkan saja mereka yang menanggungnya, mereka yang memikulnya.

Tidak jarang mereka itu urunan (patungan), padahal bisa jadi mereka itu perekonomiannya di bawah kita sebagai orang yang berqurban. Terbayang kah dalam benak kita, ada orang kaya yang berqurban tapi ibadahnya itu dibiayai oleh orang miskin? Astaghfirullohal adhim.

Maka jangan salahkan, jika mereka terpikir menjual kulit, kepala dan kaki hewan Qurban kita, meski itu dilarang Rasulullah. Dalam hadits yang lain, beliau menyatakan lebih tegas lagi, bahwa yang menjual kulit Qurban berarti tidak dianggap Qurban.

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلَا أُضْحِيَةَ لَهُ

Artinya: "Barang siapa menjual kulit hewan qurbannya maka tidak ada qurban baginya"

Karena itulah, solusi atas semua ini: 1). Cukupilah kebutuhan mereka panitia-panitia Qurban itu yang telah membantu ibadah kita. 2). Tanyakan juga kepada mereka berapa kira-kira biaya yang mereka keluarkan untuk mengurusi Qurban kita.

3). Berikan tambahan uang sebagai hadiah terimakasih kita kepada mereka, meskipun mereka tidak meminta dan mengharapkannya. 4). Setelah tercukupi maka Panitia jangan lagi terpikir menjual kulit, kepala dan kaki hewan Qurban, sebab itu bukan hak mereka. Mereka hanya menjadi wakil dalam menyembelih dan menyalurkan Qurban, sebagaimana yang tertera dalam spanduk-spanduk itu. Bukan wakil menjual, karena pemilik Qurban saja dilarang menjualnya. Bagaimana mungkin sah, seseorang mewakilkan sesuatu yang dirinya sendiri saja tidak sah melaksanakannya.

5). Berikan saja kulit dan lain-lain yang biasa dijual itu kepada panti asuhan atau orang fakir miskin. Biarkan saja mereka yang menjualnya. Atau jika mereka itu minta tolong mewakilkan kepada panitia untuk menjualkannya, maka itu baru boleh dan sah. Sebab dari tiga kelompok yang bisa menerima Qurban yakni yang berqurban (sunnah untuk mengambil keberkahan), orang kaya (boleh sebagai hadiah) dan fakir miskin (wajib mendapatkannya).

Maka mereka yang fakir miskin (termasuk anak yatim) itulah yang sah menjual dari Qurban yang mereka terima, karena apa yang mereka terima itu otomatis menjadi hak milik mereka, mau dimakan, diberikan kepada orang lain atau dijual, semuanya adalah sah. Menjadi sah pula mereka itu mewakilkannya.

Sedangkan pemilik Qurban dan orang kaya itu, mereka itu bukan memilikinya, karena sudah diqurbankan jika ia yang punya hewan, atau karena mereka itu termasuk kaya yang hanya boleh memanfaatkannya saja, yaitu dengan memakannya atau memberikan lagi kepada yang lain. Mereka berdua tidaklah berhak menjualnya, karena apa yang mereka terima itu tidak menjadi milik bagi mereka berdua.

6). Adapun hielah/rekayasa hukum, dengan cara kulit - kepala dan kaki itu diberikan kepada salah satu panitia yang fakir atau yang miskin, lalu ia menjualnya, kemudian uangnya diberikan kepada kepanitiaan guna menutupi kekurangan biaya. Meskipun cara ini adalah sah secara fiqih, tapi tetap saja itu tidak mengurangi kedhaliman kita kepada mereka yang telah membantu kita.

25 Agustus 2016, Sidoarjo, Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/silakan-yang-tertib-ketika-berqurban-jangan-dhalim-kepada-panitia.html

Rabu, 08 Februari 2017

Kampanye Save Aleppo Hanya Kedok Menutupi Kemerdekaan Suriah

Santriwati Pintar - Aleppo adalah di antara kota penting di Suriah dan termasuk kota tertua di dunia. Sudah ada sejak 2000 tahun sebelum masehi. Letaknya yang strategis sebagai pusat perdagangan menjadikan kota ini sering menjadi rebutan dan pernah dibawah kekuasaan bangsa yang beragam. Mulai dari Hitit (2000 M), Mesir dan Asiria (abad ke 8 SM), Persia (abad ke 6 SM), Macedonia (332 SM), Romawi (64 SM), Arab (635 M), Tartar (1260), Mongol (1398) Kesultanan Ustamaniyah (1517 M) dan Perancis (1920) dan menjadi bagian negara Suriah sejak tahun 1944.

Kampanye Save Aleppo Hanya Kedok Menutupi Kemerdekaan Suriah
Kampanye Save Aleppo Hanya Kedok Menutupi Kemerdekaan Suriah


Pernah ditaklukkan bangsa yang beragam menjadikan negara ini memiliki banyak bangunan dan situs bersejarah. Termasuk kebaragaman penduduknya, dari agama, suku dan tradisi. Dibawah pemerintahan Suriah setidaknya sampai tahun 2011, warga Aleppo hidup dalam keadaan damai dan harmonis.

Tahun 2011 kelompok pemberontak yang diback up negara-negara Barat termasuk Turki masuk ke Aleppo dan menguasainya. Kelompok pemberontak tersebut kemudian mendeklarasikan Aleppo bagian dari negara Islam. Dari situlah kepedihan dan penderitaan warga Aleppo bermula.

Kelompok pemberontak memaksakan hukum Islam versi mereka untuk diterapkan pada warga Aleppo yang heterogen. Mereka menjadikan tawanan bahkan menjadi rampasan perang warga Aleppo yang non muslim. Mereka menjadikan tawanan sebagai budak-budak mereka. Tidak jarang warga yang melawan dan tidak kooperatif akan dengan mudah mereka bunuh. Mereka menyebarkan video-video saat mengeksekusi dengan sadis warga yang tidak pro mereka untuk meneror warga. Tidak jarang, warga umum dipaksa untuk menyaksikan aksi eksekusi tersebut.

Hidup dalam ketakutan dan kecemasan, serta harapan hidup layak yang nyaris tidak ada di bawah kekuasaan pemberontak, siapakah yang simpatik pada warga Aleppo? Apakah saat-saat itu ada gerakan kampanye save Aleppo di Indonesia?

Sebagai bagian teritorialnya, yang kemudian direbut paksa, wajar jika Suriah menjalankan misi merebut kembali Aleppo. Namun mengapa misi pembebasan itu memakan waktu yang berlarut-larut? Itu karena keberadaan warga sipil. Keberadaan warga sipillah yang membuat militer Suriah kesulitan untuk menyerang kelompok pemberontak di Aleppo. Bahkan sudah menjadi fakta yang tidak bisa dibantah, pemberontak menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup ketika militer Suriah melancarkan serangan. Hasil investigasi PBB dan lembaga HAM Internasional menyebutkan itu.

Keterlibatan Rusia membantu misi pembebasan itu sedikit memberikan harapan. Tapi tetap saja, upaya pembebasan Aleppo memakan waktu yang tidak sedikit. Kalau Suriah dan Rusia tidak mau peduli dengan nasib warga sipil Aleppo, beberapa RS-28 Sarmat (rudal canggih jelajah) milik Rusia sudah cukup untuk menghancur leburkan Aleppo dalam 2 detik sekaligus menewaskan semua teroris di dalamnya. Ketika Rusia dan Suriah menahan diri untuk tidak menggunakan rudal-rudal dengan daya ledak dasyhat selama itu, maka mungkinkah mereka dengan sengaja menjadikan warga sipil, perempuan dan anak-anak sebagai target untuk mereka turut habisi juga?

Kalau memang sejak awal, isu bahwa Bashar Assad hendak membunuhi warganya yang Sunni itu benar, tentu untuk merebut kembali Aleppo harusnya militer Suriah tidak perlu peduli pada nasib warga Aleppo. Berlarut-larutnya misi pembebasan Aleppo, menjadi fakta, Suriah berusaha membebaskan Aleppo dengan meminimalisir korban dari warga sipil. Itulah yang menjadikan misi tersebut menjadi sulit. Ketika ada korban dari warga sipil berjatuhan, itu hal yang tidak bisa dihindari dalam perang. Dan logiskah, warga yang ribuan tahun hidup secara harmonis ditengah banyaknya perbedaan yang ada, tiba-tiba terhasut saling bunuh karena beda mazhab?.

Media-media pendukung teroris di Indonesia tidak pernah memperlihatkan militer Suriah yang secara dramatis melakukan safety corridor, membantu ribuan warga Aleppo mengungsi sembari tetap membalas serangan-serangan pemberontak. Tidak pernah memperlihatkan warga Aleppo yang melarikan diri dari cengkraman pemberontak. Tidak pernah memperlihatkan suasana kehidupan warga Aleppo yang damai dan hidup layak sebelum pemberontak memasuki kota mereka dan tidak pula memperlihatkan adanya aksi besar-besaran warga Aleppo mendukung Bashar Assad di awal-awal terjadinya konflik berdarah di Aleppo.

Yang mereka blow up adalah foto anak-anak dan warga sipil yang menjadi korban dalam perang. Siapakah yang lebih dulu menjadikan Aleppo sebagai ajang pertempuran? Siapakah yang lebih dulu memasuki Aleppo dengan memanggul senjata dan menyebar teror kepada warga? Siapakah yang dengan mudah menghabisi nyawa warga di jalan-jalan yang kemudian mendokumentasikan dan menyebarnya untuk menakut-nakuti warga? Selama diserang tentara Suriah dan Rusia apakah ada upaya dari pemberontak untuk menyelamatkan warga sipil agar tidak menjadi korban perang? Apa ada kamp pengungsian yang dibuat oleh pemberontak untuk warga Aleppo?

Ketika Suriah telah hampir mencapai targetnya membebaskan Aleppo, tiba-tiba dengan massif media-media propagandis teroris menunjukkan simpatiknya pada warga Aleppo dengan mengkampanyekan tagar save Aleppo di media-media sosial. Di saat yang sama mengutuk dan mengecam Suriah dan Rusia sebagai biang keladi tragedi kemanusiaan di Aleppo.

Siapakah yang sakit hati ketika Aleppo kembali di pangkuan Suriah? Jawabannya adalah kelompok pendukung pemberontak: Turki dan sekutunya di Timur Tengah, sejumlah negara Eropa, Amerika Serikat bahkan Israel, yang menyempatkan melakukan serangan udara ke kota Damaskus untuk mengalihkan perhatian militer Suriah ketika meraih keberhasilan besar di Aleppo. Apakah itu bukan bukti nyata adanya keterlibatan negara-negara pro Zionis itu dalam tragedi kemanusiaan di Suriah?.

Dan siapakah yang berbahagia? Anda tidak akan menemukan video dan foto-foto selebrasi suka cita dan kegembiraan warga Aleppo ketika akhirnya pemberontak takluk dan Aleppo kembali berada dalam kontrol sepenuhnya Suriah pada media-media yang mengkampanyekan gerakan simpatik save Aleppo.

Aleppo kembali kepangkuan Suriah, meski dalam keadaan hancur lebur. Namun setidaknya, masih banyak warganya yang bisa diselamatkan. Bagaimanapun di setiap perang, warga sipil lah yang paling merasakan penderitaan dari jahatnya perang.

Turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk warga sipil Aleppo yang telah gugur, juga untuk para pejuang yang telah menebus nyawanya dalam misi pembebasan kota Aleppo.

Turut berbahagia atas direbutnya kembali Aleppo dari tangan pemberontak. Selamat untuk Suriah, selamat untuk warga Aleppo. Puing-puing kota Aleppo akan menjadi saksi, siapa sebenarnya yang membangunnya, siapa yang sebenarnya menghancurkannya. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kampanye-save-aleppo-hanya-kedok-menutupi-kemerdekaan-suriah.html

Senin, 05 Desember 2016

Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme

Demak, Santriwati Pintar. Dalam mengantisipasi kelompok Radikalis, Majelis Ulama Kabupaten Demak membekali pengurusnya dari pengurus tingkat kabupaten sampai tingkat kecamatan dengan menyelenggarakan dialog intern umat Islam di Gedung Bina Praja Setda Demak Jl Kyai Singkil N 7 Demak, Sabtu (15/8) lalu.

Dialog dengan tema Islam dan Nasionalisme dalam Mengatasi Radikalisme tersebut agar pengurus MUI disemua tingkatan waspada terhadap kegiatan gerakan radikalisme yang mulai bergerilya dipelosok desa, baik yang bersifat gejala maupun sampai pada tingkatan teknis gerakan karena hal sekecil apapun perlu kewaspadaan.

Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)


Tangkal Radikalisme, MUI Demak Gelar Dialog Islam dan Nasionalisme

Kami menganggap ini sangat penting, hal sekecil apapun kita tidak boleh lengah dan semua pengurus kami harap untuk meningkatkan koordinasi pada pimpinan, ujar sekretaris umum MUI Demak KH Arie Cholil.

Santriwati Pintar

Kiai Arif menambahkan pihaknya menilai gerakan radikalisme mulai merambah ke daerah-daerah pelosok termasuk kabupaten Demak yang mayoritas ahlussunnah wal jamaah yang dimungkinkan juga kena wabah. Dalam hal ini, MUI Demak selalu berkoordinasi dengan aparat terkait termasuk sistim komunikasi yang perlu disiapkan pada pengurus dan tokoh masyarakat.

Kami sudah berkoordinasi dengan TNI, POLRI, dan Kesbangpolinmas kabupaten Demak, dengan saling tukar informasi dan mengambil kebijakan jika terjadi hal yang tidak diinginkan tambah pengasuh pesantren Al-Fattah tersebut.

Santriwati Pintar

Sementara itu, Bupati Demak KH Moch Dachirin Said dalam sambutannya sebelum membuka dialog meminta untuk kerjasama berkesinambungan antara para kiai ulama dan umara dalam mengatasi aliran radikalisme di daerahnya.

Kami minta pada panjenengan (kiai dan ulama) semua untuk berjuang bersama-sama agar kabupaten Demak tidak kecolongan Islam garis keras, pinta Dachirin.

Dialog yang dibarengkan halalbihalal ini selain diikuti 100 peserta ulama dan kiai, juga dihadiri Kapolres, Dandim Demak dan Muspida lainnya. (A Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61649/tangkal-radikalisme-mui-demak-gelar-dialog-islam-dan-nasionalisme

Santriwati Pintar

Senin, 28 Oktober 2013

Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah?

Santriwati Pintar - Lihatlah foto di atas. Konon (dugaan kuat) bapak yang ada di tengah itu, berbaju warna merah hati, bercelana biru (seragam lari lapangan) dan duduk di kursi adalah Wan Sehan, seorang habib yang sudah dikenal sebagai wali Allah serta majdzub. Nama lengkapnya Habib Syaikhon bin Musthofa Al Bahar.

Beberapa hari ini (2-4 Februari 2017), foto itu beredar di grup-grup WhatsApp Netizen NU. Karena terkenal wali jadzab, foto di atas jelas bukan foto selfie, namun isyarah kuat tentang akan adanya peristiwa besar yang cukup menyita perhatian masyarakat luas di negeri ini.

Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah? - Santriwati Pintar
Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah? - Santriwati Pintar


Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah?

Bacalah, apa makna laki-laki berbaju doreng yang mengangkat kursi Wan Sehan di atas? Apa makna wajah beliau yang dilumuri, diloreng-loreng hitam? Kata apa yang tertulis di peci putih beliau itu? Mengapa tangan beliau dicoret hitam hingga nampak begitu pekat? Tebak, lokasinya foto di rumah ibadah atau di museum?

Sebelum bencana besar Tsunami Aceh yang memilukan dulu terjadi, beliau pernah mengepakkan telapak tangan ke air laut sembari tiba-tiba berkata, "wan banjir wan". Kini, tangan dan wajah beliau dilumuri, seperti tentara siap tempur ke medan perang.

Santriwati Pintar

Redaksi Santriwati Pintar tidak berani dan tidak bisa menafsirkan tegas beberapa pertanyaan di atas. Selain tidak bisa tabayun, foto simbolik tersebut memang penuh makna, apalagi kondisi politik di negeri ini makin tak karuan isunya, entah ke mana arahnya. Mbah Wali sumber Santriwati Pintar pun belum berani menafsirkan.

Santriwati Pintar

Yang pasti, husnudzan perlu dijadikan pedoman. Jangan seperti wartawan Republika yang sembarangan menulis ketika beliau disebut dalam berita sebagai "orang stres", hanya karena melempari gedung SD Bintara Jaya 6 Bekasi Barat, (Jumat, 27 Januari 2011). Menulis tanpa iman, akan melahirkan kesombongan.

Setiap wali jadzab laiknya Wan Sehan (yang selalu berpindah-pindah tempat, atau tidak selalu menetap), memberikan isyarah ketika akan terjadi sesuatu. Cara yang digunankan beliau ini unik. Kadang memang memancing kesabaran objek. Yang diam, tidak mengomel, berbaik sangka, akan menemukan hikmah. Semoga kita dalam golongan yang cinta kekasih Allah.

Kisah Wali Jadzab Wan Sehan

Diceritakan, Wan Sehan pernah mendorong gerobak bakso hingga terbalik. Ternyata, ada narkoba dibalik gerobak tersebut. Itulah hikmahnya. Pernah pula Wan Sehan dimaki-maki habis oleh merbot mushalla di depan rumah karena teriak-teriak sambil main gitar saat jamaah akan melangsungkan Shalat Maghrib. Ditariklah leher merbot itu oleh Wan Sehan, dibenamkan kepalanya ke dalam ketiak, lalu sang merbot menangis minta ampun karena ia menyebut telah melihat Kakbah. Masyallah.

Tukang es cendol di Madrasah al-Whataniyah Klender (Jaktim) juga pernah menyaksikan jadzabnya Wan Sehan ini. Es-nya diambil segelas oleh Wan Sehan, tanpa permisi tanpa bayar. Tukang es itu hanya geleng-geleng kepala karena Satpam di sana memberitahu kalau itu adalah wali Allah. Tak berapa lama, ada rombongan yang datang membeli semua dagangan es-nya dengan harga lebih, langsung habis, tanpa berjualan hingga malam.

Pernah pula tiba-tiba masuk ke sebuah rumah. Tanpa permisi, Wan Sehan menyantap semua hidangan yang ada di meja makan. Setelah selesai, beliau pulang sambil mengucapkan salam serta terimakasih. Tak butuh waktu lama, keluarga itu mendapatkan limpahan rejeki dari Allah hingga menjadi orang kaya. Konon, kalau saja ketika Wan Sehan masuk ke rumah itu dimarahi shabihul bait, akibatnya akan lain.

Begitulah cara wali Allah menyejahterakan umat Nabi Muhammad Saw. Cara yang tidak umum dilakukan oleh waliyullah, di luar nalar awam, biasa disebut kalangan santri sebagai Khariqul 'Adah. Namun semua akan terbukti pada waktunya.

Lalu, foto Wan Sehan di atas bagaimana? Pesan rahasia apa yang ingin disampaikan Habib Syakhon bin Musthafa itu? Kita tunggu saja. Jika Anda mau menafsirkan, silakan ketik di kotak komentar di bawah ini. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/isyarah-apa-atas-foto-wan-sehan-duduk-di-kursi-diangkat-2-prajurit-ini-ya-allah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock