Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Maret 2017

Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana

Kudus, Santriwati Pintar. Sebanyak 70 anggota Corp Brigade Perjuangan (CBP) IPNU dan Korp Kepanduan Putri (KKP) IPPNU sekaresidenan Pati mengikuti Latihan Gabungan (Latgab) di lapangan desa Rendeng Kota Kudus, Selasa-Rabu (13-14/10). Mereka mendirikan perkemahan selama dua hari. Peserta yang datang dari Kudus, Pati, Blora, Rembang, Grobogan, dan Lasem ini mendapat bekal latihan khusus tanggap dan penanganan bencana.

Ketua panitia M Ramadlan mengatakan, kegiatan Latgab dimaksudkan mengisi liburan tahun baru 1437 Hijriyah yang bertujuan mempersiapkan kader-kader CBP-KKP menghadapi adanya bencana dengan berbagai keterampilan khusus.

Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)


Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana

"Mereka akan menjadi kader inti berkualitas yang siap diterjunkan sebagai relawan manakala terjadi bencana. Sekaligus mempersiapkan diri menjelang musim hujan, daerah-daerah biasanya rawan bencana banjir," kata Ramadlan kepada Santriwati Pintar, usai acara (14/10).

Santriwati Pintar

Pada acara yang dibuka oleh Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi ini, para peserta mendapat gemblengan dan latihan tentang pelatihan dapur umum, pemadaman kebakaran, manajemen posko, dan simulasi bencana. Mereka mendapat bimbingan dari instruktur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Korp Peduli Bencana Alam Nahdlatul Ulama (KPBANU) Kudus.

Santriwati Pintar

"Kita juga ada simulasi bencana dan praktik dapur umum. Peserta mampu menanak nasi dan lauk pauknya dengan jumlah besar yang kemudian dibagikan kepada warga masyarakat maupun tukang becak," imbuh Ramadlan.

Komandan CBP Kudus Abu Hasan Asyari mengharapkan setiap CBP-KKP di masing daerah nantinya mampu mendirikan posko sendiri pada waktu terjadi bencana. Kepada peserta, ia menekankan untuk siap terjun mengatasi berbagai macam bencana alam baik kebakaran maupun banjir. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62817/puluhan-korps-pelajar-nu-sekaresidenan-pati-buat-simulasi-tanggap-bencana

Santriwati Pintar

Rabu, 08 Februari 2017

Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes

Santriwati Pintar - Jangan meremehkan orang Jawa kuno. Ilmu dan sains mereka sangat tinggi. Di antara sains tingkat tinggi kreasi asli orang Jawa adalah memasak nasi dengan kukusan atau aseupan. Mengapa?

Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes
Manfaat Menanak Nasi Kukusan Untuk Diabetes


Ketika nasi dimasak dengan cara demikian, maka semua toksin atau racun kimiawi akibat pestisida dan pupuk urea dimusnahkan. Sementara bambu kukusan itu bertugas sebagai antioksidan atau pembuang racun karena mengandung silica alami.

Ajaibnya, meskipun kukusan itu berulang-ulang digunakan, zat silicanya malah tambah kuat. Lihatlah, bagaiman tergila-gilanya orang China dan Jepang dengan bambu. Alat masak dimsum itu sejatinya adalah nyontek teknologi kukusan Jawa.

Dengan memasak nasi di kukusan itulah akhirnya ditemukan fakta bahwa orang jaman dulu jarang yang terkena penyakit aneh-aneh. Manfaat memasak nasi dengan kukusan antara lain adalah nasi kita tidak lagi menjadi pantangan penderita diabetes. Ini bukan teori tapi sudah dibuktikan oleh banyak orang.

Orang Jawa dan keturunannya yang ada di Belanda maupun di negara Suriname, kalau memasak, mereka masih menggunakan kukusan. Agar tidak terkena penyakit aneh-aneh, silakan kembali menanak nasi dengan kukusan. [Santriwati Pintar/ed]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/manfaat-menanak-nasi-kukusan-untuk-diabetes.html

Kamis, 29 Desember 2016

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran

Mojokerto, Santriwati PintarPimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengadakan berupaya meningkatkan kapasitas para pengurus dan kadernya di bidang telaah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto Purwanto mengatakan, pihaknya telah mengelar pelatihan analisis anggaran sebagai bekal bagi kader Ansor untuk ikut berjuang mengawal transparansi anggaran dan belanja pemerintah Kabupaten Mojokerto. "Bagaimana mewujudkan APBD benar-benar untuk rakyat, tidak hanya jargon saja," kata Purwanto, sebagaimana siaran pers yang diterima Santriwati Pintar, Selasa (1/3).

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)


Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran

Bertempat di kantor MWCNU Kecamatan Pacet, sebanyak 20 orang pengurus Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LKPPM), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor, serta pengurus harian GP Ansor Kabupaten Mojokerto digembleng selama tiga hari sejak tanggal 26 hingga 28 Februari kemarin.

Dalam hal ini, GP Ansor Kabupaten Mojokerto menggandeng Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran), sebuah LSM yang selama ini fokus di bidang pengawalan anggaran, untuk memberikan bekal kepada para pengurus GP Ansor.

Santriwati Pintar

Dengan pelatihan analisis anggaran ini, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H Syihabul Irfan Arif berharap Ansor lebih menguatkan peran-peran eksternalnya dalam mengawal kebijakan publik, terutama dalam hal penganggaran APBD Kabupaten Mojokerto. Karena berawal dari penganggaran yang transparan dan akuntabel, APBD bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Santriwati Pintar

"Dengan belajar hal ini, Ansor harus bisa memberikan pembelajaran yang lebih luas kepada masyarakat, agar bisa memiliki akses yang sama dalam merumuskan kebijakan anggaran bagi kemaslahatan umat," katanya.

Selain diisi oleh pemateri dari Fitra, acara penelitian analisis anggaran ini juga dihadiri oleh koordinator kaderisasi PW GP Ansor Jatim. (Red: Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66211/awasi-apbd-ansor-mojokerto-dorong-kader-melek-anggaran

Santriwati Pintar

Selasa, 10 Mei 2016

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab

Santriwati Pintar - Quraish Shihab, akademisi, mufasir, dan menteri agama era Soeharto itu sesungguhnya mempunyai semua persyaratan untuk menjadi seorang habib. Quraish merupakan cucu dari Habib Ali bin Abdurrahman, habib asli asal Hadhramaut, Yaman.

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab
Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab


Tak hanya dari segi silsilah, Quraish juga teruji secara keilmuan. Ia dihormati berbagai kalangan karena kemampuan akademik dan agama yang jempolan. Namun, Quraish Shihab menolak menggunakan gelar habib. Kenapa?

Dalam buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda, Quraish mengatakan bahwa ia keberatan menyandang gelar tersebut karena pengertian dan kesan tentang habib di Indonesia telah berkembang jauh.

Prof. Quraish sadar ada pergeseran persepsi terkait habib di Indonesia. Di Indonesia, habib berkembang menjadi sebuah kesan. Yakni kesan menjadi orang yang berilmu wahid dan dekat dengan Rasul.

Habib Quraish juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan asosiasi Rasul dengan dirinya. Singkatnya, gelar habib di Indonesia, menurut Quraish terkesan “mengandung unsur pujian.” Maka, ia berkukuh menolak memakai gelar habib, meski berhak.

Quraish berpandangan, mereka yang pantas memanggul gelar habib, selain karena faktor keilmuan dan silsilah, harus pula dilihat akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil Habib,” ujar Quraish halus. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-alasan-prof-quraish-tidak-mau-dipanggil-habib-walau-bermarga-shihab.html

Kamis, 01 Oktober 2015

Diminta Serahkan Gulen, AS Ajukan Syarat

Istanbul, Santriwati Pintar. Turki pada Senin meminta Amerika Serikat menyerahkan Fethullah Gulen, ulama terduga dalang kudeta gagal terhadap pemerintahan Presiden Tayyip Erdogan.

Selain itu, pemerintah Turki juga terus melakukan pembersihan terhadap anasir pemberontak setelah menangkap ribuan tentara.

Diminta Serahkan Gulen, AS Ajukan Syarat (Sumber Gambar : Nu Online)
Diminta Serahkan Gulen, AS Ajukan Syarat (Sumber Gambar : Nu Online)


Diminta Serahkan Gulen, AS Ajukan Syarat

Pejabat keamanan kepada Reuters mengungkapkan bahwa sekitar 8.000 polisi dipecat dari jabatannya karena diduga terlibat dalam upaya kudeta pada Jumat pekan lalu itu.

Sekitar 30 gubernur dan 50 pejabat sipil juga dipecat, demikian berita dari CNN Turk.

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Sementara itu, Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan bahwa 7.543 orang ditahan, termasuk 6.038 tentara. Pembersihan juga dilakukan di kalangan pegawai negeri.

Pemerintah Turki menuding Fethullah Gulen, seorang ulama yang tinggal di Amerika Serikat dan mempunyai banyak pengikut di Turki, sebagai pihak yang menjadi dalang upaya kudeta. Gulen sendiri membantah tuduhan tersebut.

Ankara meminta Washington untuk menyerahkan Gulen. Amerika Serikat kemudian menyatakan siap memulangkan Gulen dengan syarat ada bukti cukup dari Turki. Yildirim menolak permintaan tersebut.

"Kami akan kecewa jika Amerika Serikat meminta kami menyediakan bukti meski organisasi tersebut telah berupaya menghancurkan pemerintahan terpilih dengan perintah orang tersebut (Gulen)," kata Yildirim.

"Pada tahap ini, pertemanan kami (dengan Amerika Serikat) mungkin harus mulai dipertanyakan," kata dia.

Menurut keterangan Yildirim, 232 orang tewas dalam upaya kudeta pada Jumat, 208 di antaranya adalah penduduk sipil, polisi dan tentara yang loyal kepada Erdogan.

Kudeta itu gagal setelah Erdogan menelpon sebuah stasiun televisi dan meminta pengikutnya untuk turun ke jalan menolak kudeta. Erdogan yang saat itu tengah berlibur kemudian langsung kembali ke Istanbul pada Sabtu pagi.

Pada Ahad, dia mengatakan bahwa parlemen harus mempertimbangkan permintaan rakyat untuk menerapkan hukuman penalti bagi pelaku kudeta.

"Kita tidak bisa mengabaikan tuntutan ini. Dalam negara demokrasi, apa pun permintaan permintaan rakyat harus dipatuhi," kata Erdogan di depan pendukungnya.

Turki menghapus hukuman mati sejak 2004 sebagai bagian dari reformasi untuk menggabungkan diri dengan Uni Eropa. Pada Senin, Jerman mengatakan bahwa Turki akan kehilangan kesempatan bergabung dengan Uni Eropa jika kembali menerapkan hukuman tersebut.

Mengenai Gulen, Erdogan sudah sejak lama menuding tokoh tersebut secara diam-diam merekrut pengikut dari kalangan penegak hukum, kepolisian, tentara, dan media.

Di sisi lain, Gulen justru menuding Erdogan adalah pihak yang sengaja menciptakan kudeta itu untuk membersihkan pengikut setia Gulen dalam lembaga negara. (Antara/Mukafi Niam)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69804/diminta-serahkan-gulen-as-ajukan-syarat

Santriwati Pintar

Minggu, 30 Agustus 2015

Apakah yang Membuat Indomie Goreng Itu Masuk Surga Kiai?

Santriwati Pintar - Seusai menjalankan salat Tahajud, seorang kiai mendadak ingin keluar dari langgar, mencari udara segar. Di depan langgar, dia melihat salah satu santrinya sedang merokok dengan muka yang tampak serius memikirkan sesuatu.

Apakah yang Membuat Indomie Goreng Itu Masuk Surga Kiai?
Apakah yang Membuat Indomie Goreng Itu Masuk Surga Kiai?


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?”

Si Santri njenggirat kaget hingga rokoknya terjatuh. “Nggak, Pak Yai… Hanya memikirkan hal yang tidak terlalu penting.” ujarnya sambil mengambil rokoknya dari tanah.

“Kalau aku boleh tahu, hal apakah itu?”

Si Santri diam sejenak, lalu membuka suara. “a nu, Pak Yai… Apakah kira-kira orang yang membuat Indomie goreng itu masuk surga atau tidak ya?”

“Lha memang kenapa?”

“Bayangkan, Pak Yai… Dengan harga yang cukup murah, Indomie goreng memberi kenikmatan luar biasa. Santri-santri yang habis mengaji, bisa mengisi perut mereka, menikmati lezatnya Indomie goreng. Mahasiswa-mahasiswa yang duitnya menipis, seusai mengerjakan tugas, bisa bergembira dengan cara yang sederhana: makan Indomie goreng. Orang-orang yang usai bermunajat dan berzikir di tengah malam, bisa makin menikmati karunia Allah dengan cara yang tak rumit: cukup pergi ke dapur, 10 menit kemudian sudah bisa menghadap seporsi Indomie goreng. Banyak orang yang sedih menjadi gembira dengan tidak mengeluarkan banyak biaya. Indomie goreng dinikmati oleh semua kalangan, baik para orang kaya sampai orang tak berpunya, dari para pejabat sampai rakyat jelata. Perut mereka kenyang, hati pun gembira. Bukankah itu mulia, Pak Yai?” (Baca juga: Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji)

Sang Kiai diam. Dia lalu duduk di samping santri kinasihnya itu.

“Apakah para pencipta kegembiraan-kegembiraan kecil semacam itu, bisa masuk surga, Pak Yai?”

“Pertanyaanmu terlalu berat, Nak. Surga itu hak Tuhan. Jangan turut campur soal itu…” jawab Sang Kiai sambil menghirup nafas panjang. Wajahnya memandang langit yang agak mendung. Udara malam menjelang pagi kali ini begitu segar dengan angin yang sembribit. Suasana tintrim.

“Mohon maaf, Pak Yai. Seperti yang sejak awal saya matur, saya hanya sedang memikirkan hal yang tidak penting. Hanya pikiran melantur…”

“Tidak baik punya pikiran melantur. Pikiran yang terlalu banyak melantur itu menyiakan dua karunia Gusti Allah yang sangat penting: pikiran itu sendiri, dan waktu.”

“Inggih, Pak Yai. Mohon maaf…”

“Jangan meminta maaf kepadaku…”

“Inggih, Pak Yai…”

“Gunakanlah waktumu untuk beraktivitas yang nyata…”

“Baik, Pak Yai…” Si Santri itu lalu bangkit, menyalami kiainya. Tapi Sang Kiai segera bertanya, “Lho, kamu mau ke mana?”

“Menggunakan waktu sebaik mungkin, Pak Yai.”

“Mau melakukan apa?”

“Melakukan hal nyata, Pak Yai. Mungkin membaca kitab. Atau mungkin berzikir…”

“Itu nanti saja sehabis salat Subuh…”

Si Santri kikuk. Agak bingung. Kepalanya menunduk. Sepasang tangannya berusaha membetulkan sarungnya agar tidak melotrok.

“Kamu masih punya stok Indomie goreng?”

Ditanya seperti itu, Si Santri agak grogi. “Mmm… masih, Pak Yai. Masih banyak. Ukuran biasa ada. Ukuran jumbo juga ada.”

“Kalau kamu berkenan, bolehlah kamu bikinkan aku Indomie goreng.”

Wajah Si Santri tampak terkejut tapi sekaligus sumringah. “Tentu saja akan saya buatkan, Pak Yai!”

Lalu Santri itu menyat hendak pergi bergegas.

“Eh, tunggu dulu…”

“Ya, Pak Yai…”

“Punya telor?”

“Punya, Pak Yai! Masih ada kalau cuma 5 butir.”

“Jangan banyak-banyak, dua butir saja. Satu diceplok, satu lagi didadar.”

“Baik, Pak Yai!”

“O ya, kasih irisan cabe ya…”

“Sendika dhawuh, Pak Yai. Pedas, Pak Yai?”

Sang Kiai menganggukkan kepala, lalu dia berkata, “O ya, jangan lupa Indomie gorengnya dobel ya…”

“Indomie jumbo dobel, Pak Yai?”

“Tidak usah. Terlalu kenyang dan berlebihan itu tidak baik. Cukup yang ukuran biasa saja tapi dobel.”

“Siap, Pak Yai!”

“Dan jangan lupa, minta udud-mu satu. Untuk kuisap nanti sehabis makan Indomie. Kebetulan udud-ku habis.”

“Pasti, Pak Yai.” Segera Santri itu berkelebat pergi ke dapur pesantren dengan hati yang gembira sekaligus berpikir keras. Sudah hampir 5 tahun dia nyantri di pesantren kecil ini, belum pernah sekali pun dia mendapatkan kehormatan. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/apakah-yang-membuat-indomie-goreng-itu-masuk-surga-kiai.html

Selasa, 30 Juni 2015

Khatib Aam: Quran Ubah Masyarakat Secara Bertahap

Jakarta, Santriwati Pintar. Khatib Aam PBNU Prof. Dr. Nasruddin Umar MA mengungkapkan bahwa Al Quran melakukan upaya perubahan masyarakat Arab dari kondisi jahiliyah menuju masyarakat madani secara bertahap.

Untuk menghentikan kebiasaan mabuk al Quran menurunkan tiga ayat yang diturunkan secara berangsung-angsur. Untuk menghentikan riba, Quran menurunkan tujuh ayat yang diturunkan dalam waktu yang tak sama, ungkapnya dalam peringatan Nuzulul Quran di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis.

Dikatakannya bahwa untuk merubah masyarakat tersebut juga diperlukan adanya strategi dan lingkungan yang mendukung. Para sahabat nabi sangat solid membantu mengembangkan ajaran Islam. Diperlukan waktu 10 tahun untuk bisa membuat masyarakat Madinah menjadi masyarakat yang Islami.

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah tersebut juga meminta agar masyarakat menghargai adanya perbedaan pandangan antara satu kelompok dengan yang lainnya. Perbedaan merupakan rahmat yang harus diselesaikan dengan baik, bukan dengan cara-cara kekerasan.

Khatib Aam: Quran Ubah Masyarakat Secara Bertahap (Sumber Gambar : Nu Online)
Khatib Aam: Quran Ubah Masyarakat Secara Bertahap (Sumber Gambar : Nu Online)


Khatib Aam: Quran Ubah Masyarakat Secara Bertahap

Sementara itu sambutan menteri agama yang dibacakan oleh Sekjen Depag Prof. Dr. Faisal Ismail salah satunya mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam mensikapi perubahan dunia, termasuk adanya berbagai macam bentuk maksiat baru seperti aneka macam pornografi dan pornoaksi.(mkf)

Santriwati Pintar

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3676/khatib-aam-quran-ubah-masyarakat-secara-bertahap

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock