Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2017

Islam Nusantara Adalah Proyek Bersama Menghadapi Dunia Global

Santriwati Pintar - Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU KH Agus Sunyoto menyatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah aliran atau mazhab baru. Ia mengatakan hal itu pada “Ngaji Sejarah” sesi tiga pdaa peringatan Harlah NU ke-91 di gedung PBNU, Selasa (31/01/2017).

Islam Nusantara Adalah Proyek Bersama Menghadapi Dunia Global
Islam Nusantara Adalah Proyek Bersama Menghadapi Dunia Global


Kiai Agus mengatakan hal itu karena ada beberapa kalangan beranggapan bahwa Islam Nusantara merupakan ikon Islam-nya NU dan orang Jawa.

"Tidak benar jika Islam Nusantara hanya milik NU dan Jawa. NU adalah kelanjutan Walisongo. Tokoh-tokoh Walisongo banyak yang berasal dari Pasai, Aceh. Sosok Wali Songo mewakili Nusantara karena berasal dari berbagai daerah. Sunan Ampel dari Champa, Vietnam. Hanya saja, beliau dimakamkan di Jawa. Cuma yang memperkuat tradisi Walisongo ya di Jawa," jelasnya.

Islam Nusantara, lanjutnya, sebagai pembendung arus globalisasi yang mengalir deras. Salah satunya dengan memperkokoh tradisi Nusantara seperti kenduri, slametan dan lain-lain.

“Globalisasi telah menggerus budaya, etnis dan agama,” kata penulis “Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo Sebagai Fakta Sejarah”.

Ia mencontohkan saat ini nama anak-anak desa berubah dari generasi sebelum. Har ini mereka menggunakan nama tidak dari kebudayaannya sendiri, tap dari luar. Orang Jawa misalnya, tidak lagi mencerminkan kejawaannya.

“Di sinilah, Islam Nusantara diposisikan sebagai proyek bersama untuk menghadapi dunia global,” pungkasnya. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/islam-nusantara-adalah-proyek-bersama-menghadapi-dunia-global.html

Selasa, 07 Februari 2017

Resep Mbah Arwani Kudus Kepada yang Malas Ngaji Al-Quran

Santriwati Pintar - Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang di turunkan oleh Allah s.w.t melalui Rasul Muhammad s.a.w. kepada umatnya. Kebenaran dan keotentikan Al-Qur’an sudah tidak bisa diragukan lagi, mulai dari sejak pertama kali ia diturunkan sampai detik ini Al-Qur’an tidak pernah mengalami perubahan apapun. Jelas ini membuktikan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab wahyu yang bersumber dari Allah s.w.t.

Resep Mbah Arwani Kudus Kepada yang Malas Ngaji Al-Quran
Resep Mbah Arwani Kudus Kepada yang Malas Ngaji Al-Quran


Turunnya Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah s.w.t. kepada umat Muhammad s.a.w. yang bertujuan menjadi penerang, sebagai petunjuk jalan supaya tidak tersesat arah dan tergelincir dalam kehidupan dunia, maka sudah selayaknya Al-Qur’an menghiasi setiap diri umat Islam sebagai acuan dan pedoman kehidupan sehari-hari.

Keistimewaan Al-Qur’an tidak hanya pada pesan dan ajaran yang kandungannya bahkan keutamaan Al-Qur’an meliputi setiap ayat-ayat dan setiap huruf-hurufnya. Membacanya mendapatkan kabaikan, membaca satu huruf Al-Qur’an akan memperoleh sepuluh kebaikan.

Membacanya akan mendatangkan cahaya dan dihindarkan dari kegelapan. Membacanya akan diliputi ketenangan, di curahkan rahmat, di hadiri para malaikat, dan di sanjung-sanjung oleh Allah s.w.t. di hadapan makhluk-makhluk yang lainnya. sebaliknya, rumah yang tidak ada bacaan Al-Qur’an di dalamnya, rumah tersebut laksana kuburan, seram dan menakutkan, sebab iblis dan syetan bersarang di dalamnya. Kelak pada hari kiamat para pecinta Al-Qur’an akan memperoleh derajat yang istimewa di sisi Allah s.w.t.

Tetapi sementara ini sangat disayangkan, ternyata masih banyak umat Islam yang belum lancar bahkan ada yang belepotan dan mirisnya lagi ada yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an. Bagaimana bisa dapat memahami dan mengamalkan Al-Qur’an sedangkan membacanya saja jarang-jarang, malas membaca, atau bahkan ada yang mengenal hurufnya saja tidak bisa. Na’udzubillah.

Ada beberapa alasan kenapa pada akhirnya di antara sebagain umat Islam malas dan enggan membaca Al-Qur’an. K.H. M. Arwani Amin Kudus atau yang biasa dikenal dengan Mbah Arwani Kudus, suatu ketika pernah berpesan kepada para santri-santrinya supaya tetap semangat belajar dan mengaji Al-Qur’an sepanjang hidup. Pertama adalah, jangan dilihat siapa pengajarnya. Kedua, tidak boleh malu karena umur. Ketiga, butuh waktu lama.

Bukan tanpa alasan beliau berpesan demikian kepada para santri, wejangan tersebut beliau sarikan dari teladan kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pembawa Al-Qur’an kepada para umatnya.

Pertama jangan di lihat siapa pengajarnya, hal ini sangatlah urgen, yang perlu di perhatikan adalah bahwa pengajar tersebut memang benar-benar bagus sudah di kenal bacaan dan kefasihan Al-Qur’annya.

Sebab tidak jarang sebagain dari umat Islam ini enggan belajar Al-Qur’an karena ia memiliki pangkat dan kedudukan yang tinggi kemudian ia merasa gengsi untuk belajar Al-Qur’an sebab pengajarnya bukanlah siapa-siapa didalam status sosial.

Alasan di atas jelas lemah sekali. Kalau kita berkaca kepada sejarah Nabi Muhammad s.a.w. kita akan menemukan bagaimana Muhammad s.a.w. yang berkedudukan paling agung dan mulia diantara semua makhluk ciptaan Allah s.w.t. sudi dan tekun belajar Al-Qur’an kepada Malaikat Jibril. Maka, dengan demikian tidak ada alasan lagi merendahkan status guru ngaji Al-Qur’an.

Kedua, merasa malu karena sudah merasa tua, alasan semaca ini juga tidak dapat dibenarkan. Kembali kita belajar dari tauladan sejarah Nabi Muhammad s.a.w. bahwa, di dalam sejarah beliau di sebutkan mulai belajar Al-Qur’an kepada Malaikat Jibril, yaitu ketika (menerima wahyu) dari Allah melalui Malaikat Jibril. Umur beliau ketika itu sudah berumur 40 tahun. Maka, dengan demikian alasan sudah berumur sehingga enggan belajar Al-Qur’an adalah alasan yang naif dan mengada-ada.

Ketiga butuh waktu lama, terkadang banyak ditemukan bahwa malas belajar dan mengaji Al-Qur’an karena memakan waktu yang lama. Alasan semacam ini juga sangatlah lemah kalau kita benar-benar ingin di akui sebagai umat Nabi Muhammad s.a.w. perjalanan sejarah beliau menyebutkan bahwa beliau belajar (bertalaqqi) kepada Malaikat Jibril mulai umur 40 tahun sampai menjelang wafat beliau, yaitu umur 63 tahun. [Santriwati Pintar]

Moh Yusuf, Wakil Ketua LPT NU Magetan, Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/resep-mbah-arwani-kudus-kepada-yang-malas-ngaji-alquran.html

Selasa, 10 Mei 2016

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab

Santriwati Pintar - Quraish Shihab, akademisi, mufasir, dan menteri agama era Soeharto itu sesungguhnya mempunyai semua persyaratan untuk menjadi seorang habib. Quraish merupakan cucu dari Habib Ali bin Abdurrahman, habib asli asal Hadhramaut, Yaman.

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab
Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab


Tak hanya dari segi silsilah, Quraish juga teruji secara keilmuan. Ia dihormati berbagai kalangan karena kemampuan akademik dan agama yang jempolan. Namun, Quraish Shihab menolak menggunakan gelar habib. Kenapa?

Dalam buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda, Quraish mengatakan bahwa ia keberatan menyandang gelar tersebut karena pengertian dan kesan tentang habib di Indonesia telah berkembang jauh.

Prof. Quraish sadar ada pergeseran persepsi terkait habib di Indonesia. Di Indonesia, habib berkembang menjadi sebuah kesan. Yakni kesan menjadi orang yang berilmu wahid dan dekat dengan Rasul.

Habib Quraish juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan asosiasi Rasul dengan dirinya. Singkatnya, gelar habib di Indonesia, menurut Quraish terkesan “mengandung unsur pujian.” Maka, ia berkukuh menolak memakai gelar habib, meski berhak.

Quraish berpandangan, mereka yang pantas memanggul gelar habib, selain karena faktor keilmuan dan silsilah, harus pula dilihat akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil Habib,” ujar Quraish halus. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-alasan-prof-quraish-tidak-mau-dipanggil-habib-walau-bermarga-shihab.html

Kamis, 08 Januari 2015

Gus Mus Kecam Pendakwah yang Main Hakim Sendiri

Santriwati Pintar - Islam di Indonesia saat ini, lebih banyak terlihat wajah marah, daripada ramah. Mengapa begitu? Ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah muslim di negeri ini. Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Selasa (23/8/2016).

Gus Mus Kecam Pendakwah yang Main Hakim Sendiri
Gus Mus Kecam Pendakwah yang Main Hakim Sendiri


Dalam agenda ini, Gus Mus didampingi oleh Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. H. Ah. Rofi'uddin, M.Pd, dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta professor, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (ruh atau inti dakwah), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah dan segenap umat muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruh ad-dakwah," terang Gus Mus. Menurut beliau, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daa'iyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus menghimbau kepada umat muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab taubat. Beliau mengatakan, bahwa taubat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertaubat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam tausyiahnya, Gus Mus menghimbau agar umat muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan. "Yuriidu biqumul yusra, walaa yuriidu biqumul usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa, beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil 'alamin, tapi kayaknya malah jadi la'natan lil 'alamiin," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengkaji, tekun belajar dan memberi kontribusi pada NKRI. Gus Mus juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia [Santriwati Pintar/ munawirSantriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/gus-mus-kecam-pendakwah-yang-main-hakim-sendiri.html

Minggu, 27 Oktober 2013

Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen?

Postingan ini khusus untuk teman-teman Muslim dan Muslimah di Indonesia yang hobi mengklaim bahwa tradisi hijab itu "eksklusif Islam." Karena "gagal paham" menganggap atau bahkan berkeyakinan bahwa hijab adalah "properti" umat Islam belaka, maka tidak jarang mereka sering "sensi", ngamuk, dan "mayah-mayah" kalau melihat non-Muslim memakai jilbab seraya menuduh mereka telah melecehkan dan menghina Islam. Atau, jika tidak, mereka menganggap kaum non-Muslimah yang "ujug-ujug" (tiba-tiba) berjilbab "sudah mendapat hidayah".

Sudah sering saya bilang bahwa, dalam konteks sejarah, tradisi hijab itu sudah ada jauuuhhhh sebelum Islam lahir di Mekah. Tradisi berhijab ini, misalnya, sudah dipraktekkan oleh masyarakat Assyria kuno ribuan tahun sebelum "bayi Islam" lahir di abad ke-6/7 M. Di kemudian hari, umat Yahudi dan Kristen (yang sama-sama lahir di Timur Tengah) melanjutkan tradisi ini seperti disebutkan dalam berbagai kitab suci mereka.

Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen? - Santriwati Pintar
Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen? - Santriwati Pintar


Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen?

Belakangan, "si bungsu" Islam juga ikut-ikutan "kakak-kakak" mereka. Dalam sejarahnya, peradaban Byzantium dan Persia-lah yang memperkenalkan tradisi hijab ini ke komunitas Arab. Jika kini kita melihat banyak umat Kristen dan Yahudi yang tidak berhijab itu semata-mata lantaran proses sejarah dimana kedua agama ini sudah lama mengalami "proses pembaratan", sesuatu yang tidak dialami oleh Islam.

Karena tradisi hijab ini juga menjadi bagian dari sejarah, tradisi, dan kebudayaan umat Kristen dan Yahudi, maka tidak mengherankan jika ada sejumlah kelompok agama Kristen dan Yahudi masa kini yang masih memelihara dan mempraktekkan tradisi hijab ini seperti komunitas Kristen/Katolik Ortodoks di berbagai negara, belum termasuk kaum perempuan Arab Kristen di Timur Tengah seperti Lebanon, Suriah, Iraq, Palestina, Mesir, Yordania dan sebagainya. Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh dari penampilan kaum perempuan Kristen di Irak yang tidak hanya berhijab, tetapi juga sepertinya sambil menenteng Kitab Injil berbahasa Arab.

Santriwati Pintar

Begitu pula, komunitas Yahudi juga banyak yang berhijab (bahkan berniqab/ berburqa seperti kaum Muslimah Saudi atau Qatar) seperti kelompok Sekte Burqa Heradi di Israel misalnya. Mereka menyebutnya "frumka" yang diperkenalkan oleh Bruria Keren, seorang tokoh agama Israel yang mengklaim bahwa tradisi hijab itu aslinya dari Yahudi, dan karena itu ia mengkampanyekan perempuan Yahudi untuk berhijab.

Selain komunitas Yahudi Heradi, juga ada sekte Yahudi Lev Tahor di Quebec, Kanada (seperti foto di bawah ini) yang mengajarkan dan mempraktekkan tradisi hijab. Silakan diperhatikan dengan baik dan seksama tata-busana dari "kakak pertama" Yahudi dan "kakak kedua" Kristen ini. Sama persis kan dengan ukhti/ikhwat Muslimah? Nah sekarang, saya tanya: hijab itu properti siapa, hayo? [Santriwati Pintar]

Santriwati Pintar

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/hijab-milik-siapa-yahudi-atau-kristen.html

Selasa, 04 Juni 2013

Buku Biografi KH Sholeh Darat, Mahaguru Ulama Nusantara

Santriwati Pintar - Sejarah kebangkitan ulama Nusantara abad 19-20 tidak dapat dilepaskan dari Kiai Sholeh Darat al-Samarani. Melalui bimbingannya, lahirlah tokoh dari berbagai kalangan, ulama dan nasional seperti Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Syaikh Mahfudz al-Termasi (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Umar ibn Sholeh al-Samarani (pengajar di Masjidil Haram), dan raden Ajeng Kartini (tokoh emansipasi wanita).

Buku Biografi KH Sholeh Darat, Mahaguru Ulama Nusantara
Buku Biografi KH Sholeh Darat, Mahaguru Ulama Nusantara


Semenjak berkiprah di Haramain, sebagai pengajar di Masjidil Haram, Kiai Sholeh Darat al-Samarani semakin meroket namanya. Ia akrab dengan penguasa Hijaz dan akâbir al-ulama al-haramain (pembesar ulama Makkah dan Madinah).

Karena posisinya yang digandrungi penguasa dan ulama Haramain, ia diminta untuk bertempat tinggal dan mengabdikan diri hingga akhir hayatnya. Melihat kondisi Nusantara yang masih membutuhkan banyak figur ulama, untuk mengentaskan pribumi dari kungkuman kebodohan sehingga menjadi makanan empuk oleh penjajah supaya terus dijajah, terbesitlah dalam diri Kiai Hadi Girikusumo untuk mengajaknya pulang ke Nusantara, Jawa Tengah.

Karena sudah terikat kontrak dengan penguasa Hijaz, akhirnya ia terkena denda jika ingin meninggalkan tugasnya sebagai seorang pengajar di Masjidil Haram. Ketika sudah berkiprah di Nusantara, Kiai Sholeh Darat al-Samarani tidak langsung mendirikan sebuah pesantren sebagai media dakwahnya.

Terlebih dahulu ia mengabdikan diri sebagai guru bantu di Pesantren Salatiyang, Purworejo, Jawa Tengah yang diasuh oleh kiai Muhammad Alim. Ia mendirikan pesantren sendiri setelah berkiprah di darat, usai diambil menantu Kiai Murtadlo al-Samarani.

Kehadiran Kiai Sholeh Darat al-Samarani beserta pesantrennya menjadi magnet kuat bagi thalabah Nusantara, khususnya pulau Jawa untuk bertafaqquh fiddin. Murid-muridnya berdatangan, bukan hanya dari kalangan rakyat jelata, namun kaum bangsawan atau priyayi juga berduyun-duyun mendatangi majlis yang diselenggarakannya.

Mereka mendapat oase di tengah padang pasir dari setiap butiran keilmuan yang disampaikan olehnya yang kental dengan dunia tasawuf, membuat hati menjadi bening dalam menapaki jalan menuju makrifat kepada Allah.

Kiai Sholeh Darat al-Samarani dikenal sebagai seorang sufi, ahli rabbani (ahli ketuhanan), dan mempunyai banyak karomah. Karena kentalnya dunia tasawuf yang digelutinya, maka tidak mengherankan jika ia dijuluki sebagai Imam al-Ghazali al-Shagir (Imam al-Ghazali kecil) dari Nusantara.

Buku karya Amirul Ulum ini telah mengupas rekam jejak Kiai Sholeh Darat al-Samarani dengan pembahasan lain dari yang lain dari kebanyakan buku-buku yang ada. Ia menyajikan ulasan pengaruh Kiai Sholeh Darat al-Samarani dari Nusantara hingga mengglobal (jaringan local dan global), kajian karya tulisnya, dan mengupas tentang sanad Fiqih Syafiiyah yang diriwayatkan darinya.

Banyak hal baru yang ditampilkan oleh penulis sehingga, boleh dikata buku ini merupakan buku bertuliskan latin yang paling lengkap dalam membahas tentang Kiai Sholeh Darat al-Samarani. [Santriwati Pintar]

Judul Buku: KH. Muhammad Sholeh Darat al-Samarani; Maha Guru Ulama Nusantara Penulis: Amirul Ulum Penerbit: CV. Global Press Kategori: Sejarah Ulama Nusantara Tebal: xxx+ 254 Halaman

Cetakan I : Oktober 2016 Ukuran: 13,5×20,5

Harga: Rp. 70.000,- (belum ongkos kirim)

Nomor Pemesanan: 085327647490 (Mas Zulfa, dikirim dari Semarang. Stok terbatas)

Dwi Oktaviani Kurniawati, peminat Kajian Sejarah Ulama Nusantara

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/buku-biografi-kh-sholeh-darat-mahaguru-ulama-nusantara.html

Rabu, 06 Februari 2013

Mahalnya Hidayah (Hafal Al-Quran Tapi Tetap Tidak Iman)

Santriwati Pintar - Kisah nyata ini pernah dituturkan oleh Habib Quraisy bin Qosim Baharun Cirebon, dari kisah perjalanannya tahun 1996 silam. Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita, betapa berharganya iman dan Islam bagi kita.

Mahalnya Hidayah (Hafal Al-Quran Tapi Tetap Tidak Iman)
Mahalnya Hidayah (Hafal Al-Quran Tapi Tetap Tidak Iman)


Kala itu sebuah pesawat melintasi daratan benua Afrika, atmosfer dan lautannya beserta biosfernya yang rumit. Sayap pesawat nan kokoh melibas setiap awan yang ada dihadapannya. Penumpang pesawat duduk tenang di kursi empuk sambil menikmati sesuatu yang nyaman baginya sembari menunggu pesawat itu lending pada bandara tujuan selanjutnya.

Di antara penumpang pesawat itu ialah Habib Quraisy serta seorang ibu tua berpakaian penutup jilbab disebelahnya. Usia ibu tua itu berkisar sekitar 65 atau 70 tahun. Di dalam perjalanan, ibu tua itu menyapa Habib Quraisy dan menanyakan tempat tujuannya dengan berbahasa arab yang fasih.

“Kemana Anda akan pergi ?” Tanya Ibu Tua itu. “Saya akan transit ke Yordan kemudian melanjutkan perjalanan ke Yaman” Jawab Habib. “Dimana asal Anda ?” Tanya ibu Tua itu kembali juga dengan bahasa arab yang sangat fasih. Habib menjawab “Saya berasal dari Indonesia”.

Mengetahui Habib Quraisy orang Indonesia, sejurus ibu tua mentranslate bahasanya dengan bahasa Indonesia. Padahal dari perbincangannya, ia mengetahui bahwa ibu tua itu sendiri adalah wanita kelahiran Jerman dan warga Negara Jerman. Pada gilirannya ibu Tua itu lantas berbahasa Indonesia yang amat fasih pula.

Lalu bertanya lagi “Adik di Indonesia di mana?” Habib Quraisy katakan “Saya di Jawa”.

Tak ubahnya seperti mengetahui sesuatu, Ibu itu lantas merubah dialognya dengan menggunakan bahasa Jawa yang dialegnya sangat halus dan hampir-hampir Habib Quraisy tidak paham dan ia katakan pada Ibu itu “Luar biasa, Ibunda begitu banyak menguasai bahasa sampai bahasa Indonesia dan Jawa sekalipun, padahal Anda orang Barat”.

Ibu Tua itu hanya tersenyum bijak sambil berkata “Saya ‘Alhamdulillah’ menguasai sebelas bahasa dan duapuluh bahasa daerah”.

Silih waktu dari perbincangan Habib Quraisy bersama Ibu tua itu mengarah kepada hal-hal yang berkaitan dengan agama. Wanita Tua itu mulai mengupas pembahasan Al Qur’an dengan indah dan mahirnya.

Habib pun penasaran atas kehebatannya menjelaskan Al Qur’an dan bertanya “Apakah Ibunda hafal Al Qur’an ?”

Beliau menjawab “Ya, saya telah menghafal Al Qur’an dan saya rasa tidak cukup hanya menghafal Al Quran sehingga saya berusaha menghapal Tafsir Jalalain dan saya pun hafal”.

Tidak sampai disitu saja, Ibu tua itu melanjutkan bicaranya “Namun Al Qur’an harus bergandengan dengan hadist. Sehingga saya kemudian berupaya lagi menghafal hadist tentang hukum sehingga saya hafal kitab hadist Bulughul Marom di luar kepala”.

“Lantas saya masih belum merasa cukup, karena di dalam Islam bukan hanya ada halal dan haram tapi harus ada fadhailul amal, maka saya pilih kitab Riyadhus Sholihin untuk saya hafal dan saya hafal”. Kata Ibu itu menuturkan pendalamannya tentang Islam kepada Habib Quraisy.

Dan lagi Ibu itu kembali bertutur “Di sisi agama ada namanya tasawuf, maka saya cenderung pada tasawuf sehingga saya memilih kitab Ihya Ulumuddin dan sampai saat ini saya sudah 50 kali mengkhatamkan membacanya. Saking seringnya saya membaca Ihya Ulumuddin sampai-sampai Bab Ajaibul Qulub saya hafal di luar kepala”.

Habib Quraisy terperangah melihat kehebatan dan luar biasanya Ibu tua itu. Namun karena tidak mau percaya begitu saja, Habib pun akhirnya mencoba mentest kebenaran perkataannya. Apakah benar Ia telah hafal Al Qur’an? Apakah benar ia menguasai Tafsir Jalalain tentang asbabunnuzul dan qaul Ibnu Abbas? Setelah melalui beberapa pertanyaan, ternyata memang benar Ibu itu hafal Al Qur’an bahkan ia mampu menjawab tafsirnya dengan mahir dan piawai.

Ketika Habib mengangkat permasalahan ihya mawat yang ada di dalam kitab Bulughul Maram, Ibu Tua itu pun menjabarkannya cukup jelas. Ketika Habib membahas tentang hadist Riyadhus Sholihin maka Ibu Tua itu menyebutkan sesuai apa yang disebutkan dalam kitab Dalailul Falihin sebagai syarah kitab hadist tersebut.

Dan lagi, ia menjelaskan masalah hati psikologi berbasis kitab Ihya Ulumuddin pada pasal ajaibul qulub. Kembali Habib dibuat heran akan kehebatan Ibu Tua itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Menurutnya, sejauh ini selain gurunya, Habib belum pernah menemukan orang sekaliber Ibu yang ada duduk di sampingnya.

Setelah Pesawat Mendarat Ketika pesawat itu sudah benar-benar berhenti para penumpang semuanya menyiapkan diri termasuk barangnya bawaannya menuruni pesawat. Begitu pula Ibu itu mengambil tasnya yang ada di kabin. Karena sudah merasa kenal, Habib mencoba bantu mengambilkan tas itu dan menurunkan tiga tas ke lantai pesawat. Subhanallah… ketika Ibu itu menunduk untuk mengambil tas itu ternyata keluar dari bilik jilbabnya seutas kalung yang bertanda palang salib. Seperti petir menyambar di siang bolong, Habib Quraisy menunduk dengan lemah.

Ibu itu hanya tersenyum dan mengatakan “Akan saya jelaskan kepadamu nanti di hotel”.

Seperti katanya Habib akan transit dulu selama satu hari satu malam, pun Ibu tua itu. Maka di ruang receptioner (ruang tunggu) ia tunjukkan nomor kamarnya kepada Habib dan kemudian berjanji untuk bertemu di ruang lobi restoran. Sesuai kesepakatan, keduanya akhirnya bertemu.

Kepada Habib Quraisy Ibu itu mengatakan “Saya bukan orang Kristen, mengapa saya keluar dari Kristen? Karena saya menganggap Kristen itu hanya dongeng belaka. Dan kalung ini bukan berarti saya Kristen, tapi kalung ini adalah pemberian almarhumah ibu saya”.

Ibu Tua itu pun mengatakan bahwa ia telah mempelajari beberapa agama, Kristen, Hindu juga Islam. Ia juga sempat mengungkapkan ketertarikannya mengenai keagungan yang ada di bilik wahyu Allah Swt dan hadits Nabi Muhammad SAW.

“Ibu apa agamanya sekarang ?” Habib bertanya. Dia katakan “Saya tidak beragama” “Seandainya Ibu masuk agama Islam, begitu membaca syahadat, ibu akan langsung mendapat titel kiyai haji”. Ia menjawab “Mungkin karena saya belum dapat hidayah dari Allah”

Habib Quraisy sempat menetaskan air mata bersyukur kepada Allah SWT, bagaimana orang seperti dia yang sudah hafal Al Qur’an dan lain sebagainya belum Allah izinkan untuk beriman kepadanya. Sementara kita tanpa usaha apapun, telah dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi seorang yang muslim.

Orang yang dimaksud itu bernama Ann Marie Schimmel seorang ahli terkemuka dalam literature Islam dan mistisisme (tasawuf), sebagai profesor mengajar di 3 Universitas terkenal di 3 Negara berbeda. Dikenal memiliki ingatan fotografis. Wafat Pada tahun 2003 usia 80 tahun. Entah bagaimana tentang keimanannya pada akhir hayat, Wallahu 'alam. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/mahalnya-hidayah-penghafal-al-quran.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock