Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Maret 2017

Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana

Kudus, Santriwati Pintar. Sebanyak 70 anggota Corp Brigade Perjuangan (CBP) IPNU dan Korp Kepanduan Putri (KKP) IPPNU sekaresidenan Pati mengikuti Latihan Gabungan (Latgab) di lapangan desa Rendeng Kota Kudus, Selasa-Rabu (13-14/10). Mereka mendirikan perkemahan selama dua hari. Peserta yang datang dari Kudus, Pati, Blora, Rembang, Grobogan, dan Lasem ini mendapat bekal latihan khusus tanggap dan penanganan bencana.

Ketua panitia M Ramadlan mengatakan, kegiatan Latgab dimaksudkan mengisi liburan tahun baru 1437 Hijriyah yang bertujuan mempersiapkan kader-kader CBP-KKP menghadapi adanya bencana dengan berbagai keterampilan khusus.

Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)


Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana

"Mereka akan menjadi kader inti berkualitas yang siap diterjunkan sebagai relawan manakala terjadi bencana. Sekaligus mempersiapkan diri menjelang musim hujan, daerah-daerah biasanya rawan bencana banjir," kata Ramadlan kepada Santriwati Pintar, usai acara (14/10).

Santriwati Pintar

Pada acara yang dibuka oleh Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi ini, para peserta mendapat gemblengan dan latihan tentang pelatihan dapur umum, pemadaman kebakaran, manajemen posko, dan simulasi bencana. Mereka mendapat bimbingan dari instruktur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Korp Peduli Bencana Alam Nahdlatul Ulama (KPBANU) Kudus.

Santriwati Pintar

"Kita juga ada simulasi bencana dan praktik dapur umum. Peserta mampu menanak nasi dan lauk pauknya dengan jumlah besar yang kemudian dibagikan kepada warga masyarakat maupun tukang becak," imbuh Ramadlan.

Komandan CBP Kudus Abu Hasan Asyari mengharapkan setiap CBP-KKP di masing daerah nantinya mampu mendirikan posko sendiri pada waktu terjadi bencana. Kepada peserta, ia menekankan untuk siap terjun mengatasi berbagai macam bencana alam baik kebakaran maupun banjir. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62817/puluhan-korps-pelajar-nu-sekaresidenan-pati-buat-simulasi-tanggap-bencana

Santriwati Pintar

Sabtu, 11 Februari 2017

Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor

Bogor - Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, tak akan memberi izin pengukuhan dan pelantikan Aliansi Nasional Anti-Syiah yang akan digelar pada Ahad, 22 November 2015, di Aula KONI Gelanggang Olahraga Kota Bogor.

Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor
Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor


Bima juga menyangkal akan hadir membuka acara tersebut seperti tertera dalam selebaran ANNAS. Dalam pamflet itu, Bima disebut akan memberi keynote speech bersama anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Didin Hafiduddin. “Tidak benar isi selebaran itu, saya tidak pernah memberi konfirmasi akan hadir,” kata Bima kepada Tempo pada Kamis, 19 November 2015.

Surat undangan dan permohonan acara itu, kata Bima, dikirim pengurus ANNAS beberapa hari lalu ke kantornya. “Undangan saya terima tapi tidak saya respon,” katanya. "Dan tidak akan saya izinkan."

Bima menyayangkan acara tersebut dan selebaran yang memuat nama dan fotonya sebagai pembicara. Menurut dia, dalam situasi saat ini sangat penting menjaga kebersamaan dan menguatkan silaturahmi. “Demi kesejukan Kota Bogor,” kata dia.

Bima sedang menghadapi somasi masyarakat atas pelarangan Asyura, peringatan gugurnya Hussain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, oleh umat Syiah tiap 10 Muharam pada pertengahan Oktober lalu. Bima Arya mengeluarkan surat edaran larangan peringatan Asyura dengan alasan menjaga keamanan.

Surat edaran itu segera memicu kontroversi karena Bima dinilai tak menghargai keragaman keyakinan. Bima kian dikecam karena memberikan pidato dalam Konferensi Wali Kota Sedunia di Florence, Italia, tentang persatuan dalam keberagaman. Surat edaran itu membuat responden dalam survei Setara Institute menobatkan Bogor sebagai kota paling tak toleran se-Indonesia.

Dalam wawancara dengan Tempo pekan lalu, Bima mengaku belajar dari keputusannya membuat edaran larangan Asyura yang menimbulkan kegaduhan. “Dalam konteks dimensi dan ruang yang lebih luas, larangan itu melanggar konstitusi,” katanya. (Bagja Hidayat)

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/bima-arya-larang-pelantikan-pengurus.html

Kamis, 09 Februari 2017

Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)

Santriwati Pintar - "Al-Masajid" adalah bab yang kami baca dari kitab Bulughul Maraam di Masjid Al-Akbar Surabaya. Satu persatu hadis saya jelaskan, termasuk hadis Sayidina Hassan bin Tsabit yang melantunkan syair di masjid pada masa Sayidina Umar. Saya juga menjelaskan kegemaran Nabi membaca syair, dan Nabi juga berkenan membalas syair dari para Sahabat (HR Bukhari dan Muslim)

Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)
Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)


Kemudian ada jamaah yang sangat rajin dan aktif mengikuti kajian, beliau bertanya, "ada banyak kitab syair memuat pujian kepada Rasulullah, seperti Diba' dan Barzanji, yang isinya memuji Nabi berlebihan (ghuluw). Apa benar demikian?" Tanya bapak yang rambutnya banyak memancar kilau perak ini.

Saya mencoba menjawab dengan sebuah hadits tentang Sahabat yang berlebihan memuji Nabi dan beliau menegurnya:

ﻗﺎﻟﺖ اﻟﺮﺑﻴﻊ ﺑﻨﺖ ﻣﻌﻮﺫ، : ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻏﺪاﺓ ﺑﻨﻲ ﻋﻠﻲ، ﻓﺠﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﻓﺮاﺷﻲ ﻛﻤﺠﻠﺴﻚ ﻣﻨﻲ، ﻭﺟﻮﻳﺮﻳﺎﺕ ﻳﻀﺮﺑﻦ ﺑﺎﻟﺪﻑ، ﻳﻨﺪﺑﻦ ﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﻣﻦ ﺁﺑﺎﺋﻬﻦ ﻳﻮﻡ ﺑﺪﺭ، ﺣﺘﻰ ﻗﺎﻟﺖ ﺟﺎﺭﻳﺔ: ﻭﻓﻴﻨﺎ ﻧﺒﻲ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻓﻲ ﻏﺪ. ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﺗﻘﻮﻟﻲ ﻫﻜﺬا ﻭﻗﻮﻟﻲ ﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺗﻘﻮﻟﻴﻦ»

Artinya: Rabi' binti Muawwidz berkata: "Nabi datang saat pernikahanku di pagi hari, beliau duduk di tempatku seperti dudukmu di dekatku. Wanita-wanita kecil menabuh terbang, mereka memuji bapak-bapak mereka yang gugur saat perang Badar. Sampai ada wanita yang berkata: "Ada Nabi di antara kita yang mengetahui apa yang terjadi esok". Nabi bersabda: "Jangan kamu katakan seperti itu. Katakanlah seperti engkau ucapkan" (HR Al-Bukhari)

Dalam hadits yang seakan melarang memuji Nabi ini, Nabi tidak berkenan jika dipuji mengetahui hal ghaib yang belum terjadi. Meski terkadang Nabi diberi tahu melalui wahyu apa yang akan terjadi, seperti hadist tentang kemunculan seorang Tabi'in terbaik bernama Uwais Al-Qarni (HR Muslim)

Ketika kita memuji dengan kata-kata pujian kepada Rasulullah, tidak sampai menjadikan beliau sebagai Tuhan. Pujian kita kepada Nabi masih dalam koridor pujian Allah kepada Rasulullah yang terdapat dalam ayat berikut yang artinya:

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, ia amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (At-Tawbah: 128)

Bahkan seorang Sahabat Amr bin 'Ash yang tak sanggup mengurai sifat Nabi dalam barisan kata-kata:

ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﺪ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻲ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻻ ﺃﺟﻞ ﻓﻲ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ، ﻭﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺃﻃﻴﻖ ﺃﻥ ﺃﻣﻸ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ ﺇﺟﻼﻻ ﻟﻪ، ﻭﻟﻮ ﺳﺌﻠﺖ ﺃﻥ ﺃﺻﻔﻪ ﻣﺎ ﺃﻃﻘﺖ؛ ﻷﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﺃﻣﻸ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ

Artinya: "Tak ada seorang pun yang aku cintai dibanding Rasulullah dan tidak ada yang lebih agung di mataku. Aku tak mampu memenuhi mataku dari beliau, karena keagungannya. Jika aku ditanya tentang sifat beliau, maka aku tak berdaya. Sebab aku tak mampu memenuhi pandanganku dari beliau" (HR Muslim)

Hampir semua kitab-kitab sejarah, kepribadian dan apapun yang menyangkut Baginda Rasulullah, adalah pujian yang tak pernah keluar dari aturan yang dilarang dalam agama kita. [Santriwati Pintar]

Ma'ruf Khozin, pemateri kitab Buluughul Maraam di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/menuduh-memuji-nabi-berlebihan-itu-justru-ghuluw.html

Minggu, 29 Mei 2016

NU: Islam must strengthen nationalism

Medan, Santriwati Pintar. General Chairman of the Central Board of Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil Siradj, pupolarly known as Kang Said, said that the founder of NU KH Hasyim Ashari had the vision and mission to build ukhuwah Islamiyah (Islamic brotherhood) synergistic with ukhuwah wathoniyah (nationalism).

"That means Islam must be strengthened with the spirit of nationalism and nationalism must be the values and the spirit of Islam," said Kang Said when delivering a speech at the opening of the NU pre-33rd congress at Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar, Jl. Pelajar Timur, Medan, on Sunday (17/5).

NU: Islam must strengthen nationalism (Sumber Gambar : Nu Online)
NU: Islam must strengthen nationalism (Sumber Gambar : Nu Online)


NU: Islam must strengthen nationalism

Present at the occasion were, Rais Aam (General Chairman of Lawmaking Body) of NU KH Mustafa Bisri, Chairman of the Steering Committee (SC) of NU 33rd Congress KH Slamet Effendy Yusuf, Chairman of the Organizing Committee (OC) KH Imam Aziz, Secretary General of NU Marsudi Syuhud, leader of Pesantren Al Kautsar Al-Akbar Sheikh H Ali Akbar Marbun, North Sumatra Governor Gatot Pujo Nugroho, Vice Governor HT Erry Nuradi, Bukit Barisan Military Commander Major General Edy Rahmayadi, North Sumatra Police chief Insp Gen Eko Hadi Sutedjo, Air Defense Operation Commader III Marsma Arif Mustafa, and Member of Parliament H Marwan Dasopang.

Also present were the Mayor of Medan HT Dzulmi Eldin, Regent of Deli Serdang H Ashari Tambunan, Mayor of Sibolga H Syarfi Hutauruk, Mayor of Tanjung Balai H Thamrin Munthe, leaders of social organizations, religious community leaders of North Sumatra, Muslimat NU, Fatayat NU, and groups of so-called majlis taklim (religious gathering).

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Kang Said also said that those who did not have a homeland, would not have a history. Therefore, history is written on the homeland. Those who did not have a history, would be forgotten. That is why, the Prophet Muhammad (PBUH) migrated to Medina because he wanted to build a homeland.

"Secure first homeland, then talk about Islam. It is impossible to propagate the Islamic teachings if the homeland is not safe," he said, expressing his surprise that there were organizations continuing to speak about Islam, but never mentioning the Unitary State of Republic of Indonesia (NKRI). They seem to build the country on the wind.

Inaugurating UNUSU rector

Before delivering a speech at the opening of the pre-NU 33rd congress meeting, Prof. Said Aqil Siroj had inaugurated Prof Dr Ahmad Rafiki Tantawi as the rector of the Nahdlatul Ulama University of North Sumatra (UNUSU) for the period 2015-2020.

UNUSU, he said, was established by the Education Minister Decree No. 576 on October 17, 2014.

"UNUSU is the NU 24th university established in Indonesia. It is purely owned by NU, not a foundation," said Said Aqil.

The UNUSU newly appointed rector Prof. Ahmad Rafiki Tantawi said, he had coordinated and gotten support from Kopertis I Sumatra related to the establishment of the private universities.

"However, this support is not enough because it must be confronted with the demands of internal quality in accordance with the on the Regulation of Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia No. 49/2014 on on National Standard of Higher Education," he said.

Also delivering their speeches on this occasion were the Governor of North Sumatra, H Gatot Pujo Nugroho, Chairman of North Sumatra Regional Board of Nahdlatul Ulama (PWNU), H Afifuddin Lubis, KH Slamet Effendy Yusuf, and Rais Aam KH Mustafa Bisri. (Masdar)

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59602/nu-islam-must-strengthen-nationalism

Selasa, 10 Mei 2016

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab

Santriwati Pintar - Quraish Shihab, akademisi, mufasir, dan menteri agama era Soeharto itu sesungguhnya mempunyai semua persyaratan untuk menjadi seorang habib. Quraish merupakan cucu dari Habib Ali bin Abdurrahman, habib asli asal Hadhramaut, Yaman.

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab
Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab


Tak hanya dari segi silsilah, Quraish juga teruji secara keilmuan. Ia dihormati berbagai kalangan karena kemampuan akademik dan agama yang jempolan. Namun, Quraish Shihab menolak menggunakan gelar habib. Kenapa?

Dalam buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda, Quraish mengatakan bahwa ia keberatan menyandang gelar tersebut karena pengertian dan kesan tentang habib di Indonesia telah berkembang jauh.

Prof. Quraish sadar ada pergeseran persepsi terkait habib di Indonesia. Di Indonesia, habib berkembang menjadi sebuah kesan. Yakni kesan menjadi orang yang berilmu wahid dan dekat dengan Rasul.

Habib Quraish juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan asosiasi Rasul dengan dirinya. Singkatnya, gelar habib di Indonesia, menurut Quraish terkesan “mengandung unsur pujian.” Maka, ia berkukuh menolak memakai gelar habib, meski berhak.

Quraish berpandangan, mereka yang pantas memanggul gelar habib, selain karena faktor keilmuan dan silsilah, harus pula dilihat akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil Habib,” ujar Quraish halus. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-alasan-prof-quraish-tidak-mau-dipanggil-habib-walau-bermarga-shihab.html

Selasa, 07 Juli 2015

Mbah Moen: Memeriksa Ahok Jangan Dipengaruhi Karena Demo

Santriwati Pintar - Menurut KH Maimoen Zubair, pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang, Rembang, bangsa kita ini mudah terpengaruh dengan rumor atau ramai-ramainya berita yang lagi ngetrend di masyarakat.

Mbah Moen: Memeriksa Ahok Jangan Dipengaruhi Karena Demo
Mbah Moen: Memeriksa Ahok Jangan Dipengaruhi Karena Demo


Ketika orang ramai membenci Belanda, kita ikut-ikutan bersikap anti Belanda. Padahal, kata Mbah Moen, kita ini harusnya berterimakasih juga kepada Belanda. "Malah bangsa ini harus berterimakasih kepada Belanda. Hukum yang ada sekarang masih KUHP (yang buatan Belanda). Tidak ada Belanda, tidak ada hukum di Indonesia. Tapi orang antinya Belanda kayak begitu. Betul nggak?" ujarnya.

Mbah Moen menerangkan, jika tidak ada KUHP, kiai sama kiai bisa jotosan. Tapi kalau mengecam Belanda sampai berlebih-lebihan. "Itu yang saya tidak cocok. Orang tak tahu diri," ujarnya dalam rekaman yang didapatkan Santriwati Pintar dari salah satu alumni Lirboyo, Rabu (9/11/2016).

Karena itulah, lanjut kiai, bangsa kita harus kita mempertahankan persatuan dan kesatuannya. Jangan sampai membuat negara Islam. NKRI ini satu-satunya negara yang mayoritas Islam dan konsis sebagai negara nasional.

Kita cukup dengan Pancasila, cukup dengan Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45, "ini harus dipertahankan benar-benar. Kita harus pertahankan negara kita ini. Pilar empat harus dijaga. Jangan sampai dipengaruhi luar. Jangan ditunggagi macem-macem," terangnya.

Menanggapi soal demo 4 November 2016, KH Maimoen Zubair memiliki pandangan bijak. Menurut kiai paling sepuh di jajaran PBNU ini, masalah Ahok tidak baik dibesar-besarkan dan penyelesaian hukumnya jangan sampai dipengaruhi oleh ramainya demontrasi kemarin. "Memeriksa Ahok jangan dipengaruhi karena demo," jelas Mbah Moen.

Kasus Ahok harusnya diselesaikan menurut asas keadilan, "jangan sampai ada dorongan yang menyebabkan perubahan yang tidak ada keadilan. Adil itu yang membawa kemakmuran," imbuhnya, "keadilan itu bukan menurut Islam, tapi menurut undang-undang yang ada," lanjut kiai Maimoen sebagaiman dikutip Santriwati Pintar dari rekaman berdurasi 5.36 menit itu.

Kiai Maimoen juga mengingatkan agar berhati-hati dalam menyikapi banyak hal, terutama merespon ramainya kasus Ahok tersebut. "Anak saya sendiri saya larang untuk ke Jakarta," tegas Mbah Moen soal sikap hati-hati ini.

Yang pasti, orang Indonesia, menurut kiai Maimoen, harus menjadi manusia-manusia yang membawa kemajuan umat manusia sesuai perubahan zaman. "Islam yang paling baik adalah Islam Indonesia. Kalau ikut Arab ya satu sama lain bertengkaran. Jadi, Indonesia ini harus kembali kepada Indonesia sendiri, jati diri Indonesia," kata Kiai Maimoen.

Biar tidak dianggap fitnah dan hoax oleh pendemo, silakan simak sendiri rekaman KH Maimoen Zubair ini yang sudah di buat dalam bentuk video Youtube.

Anda juga bisa mendegarkan langsung apa yang dikatakan oleh KH Maimoen Zubair tersebut di akun Souncloud Santriwati Pintar. Klik saja di bawah ini, atau langsung menuju ke saluran Souncloud langsung. Klik SINI. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/mbah-moen-memeriksa-ahok-jangan-dipengaruhi-demo.html

Sabtu, 14 Februari 2015

Ratusan Layang-layang Sambut Sumpah Pemuda dan Hijriyah

Ciamis, Santriwati Pintar. Para pemuda dan remaja Nahdlatul Ulama Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menggelar lomba layang-Layang di pesawahan Lakbok mulai Sabtu (19/10) dan akan berakhir Senin sore (21/10).

Salah seorang panitia, Wahidan Barkit Batubara, mengatakan kegiatan kerjasama dengan komunitas seni Prematur tersebut merupakan salah satu rangkaian menyambut peringatan hari sumpah pemuda yg ke 85 serta menyambut datangnya tahun baru Hijriyah.

Ratusan Layang-layang Sambut Sumpah Pemuda dan Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Layang-layang Sambut Sumpah Pemuda dan Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)


Ratusan Layang-layang Sambut Sumpah Pemuda dan Hijriyah

Alhamdulillah acara ini sangat meriah. Bahkan kami tidak menyangka peserta yang ikut bukan hanya dari warga Lakbok saja, kata aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Banjar tersebut melalui pers rilis yang dikirim Ahad (20/10)

Wahid mengatakan para pecinta layang-layang datang dari luar daerah seperti Kota Banjar, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Pangandaran, bahkan dari Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Ini di luar dugaan kami, kata anggot GP Ansor Lakbok ini.

Santriwati Pintar

Ketua Komunitas Seni Prematur Tyus Roggo mengungkapkan, tujuan digelarnya lomba tersebut adalah untuk mempertahankan dan mengembangkan permainan tradisional.

Santriwati Pintar

Inti dari lomba ini juga adalah merupakan bentuk upaya kami para pemuda dalam melestarikan serta mengembangkan salah satu warisan budaya dan warisan permainan-permainan tradisional yang menjadi identitas sebuah bangsa Indonesia, katanya.

Sebab, kata dia, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional seperti layang-layang ini sangat tinggi, tetapi tergerus dengan maraknya permainan-permainan modern atau import.

Kegiatan yang mengikutsertakan karang taruna Desa Baregbeg tersebut memperebutkan jutaan rupiah. Ketua Karang Taruna Desa Baregbeg Kecamatan Lakbok yang juga sebagai panitia penyelenggara, Solehudin menjelaskan, dari ratusan peserta hanya akan diambil 3 (tiga) juara terbaik.

Penilaian layangan harus berlampu dan nyala sampai batas akhir terbang, kalau lampunya mati ketika masih dalam waktu perlombaan kami nyatakan diskualifikasi, katanya. (Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47732/ratusan-layang-layang-sambut-sumpah-pemuda-dan-hijriyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock