Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

Karomah dan Istiqamah KH Makhtum Hannan Ciwaringin Cirebon

Santriwati Pintar - Nama K.H. Makhtum Hannan tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat dan santri sekitar Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka. Nama beliau semakin menjadi sorotan media saat menjelang Muktamar NU pada Agustus 2015 lalu. Pasalnya, beliau terpilih menjadi salah satu anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Pesantrenpedia.org melansir bahwa K.H. Makhtum Hannan dilahirkan di Cirebon pada 13 Juni 1938 dari pasangan KH Abdul Hannan dan Nyai Solihah.

Karomah dan Istiqamah KH Makhtum Hannan Ciwaringin Cirebon
Karomah dan Istiqamah KH Makhtum Hannan Ciwaringin Cirebon


Kiai yang masih memilik nasab hingga Sunan Giri ini, pernah nyantri di berbagai pesantren di Pulau Jawa, di antaranya di Pondok Pesantren Kaliwungu pada Kiai Abu Khaer Pasarean, Kiai Subki, dan Ustaz Fadhil.

Selain itu, beliau juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Lasem di bawah asuhan Syekh Masduki dan Syekh Mansur bin Khalil, sebagaimana dikutip dari Nu.or.id, banyak teladan yang dapat dipetik dari sosok ulama yang biasa dipanggil oleh santrinya dengan panggilan "Mama Makhtum" ini. Paling tidak, 5 teladan di bawah ini dapat ditiru oleh para santri:

1. Tawadlu' dan telaten mendidik santri

Sewaktu saya nyantri di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, Kiai Makhtum tidak mau mengajar kitab yang besar-besar pada para santrinya. Saya mengaji kitab al-‘Asymawi, syarah Jurumiyah, yang diulang sebanyak tujuh kali pada beliau. Sekelas Kiai Makhtum tentu tidak mungkin tidak mampu membaca kitab-kitab gramatika Arab besar sekelas Al-Fiyah, Mughni al-Labib, ‘Uqud al-Juman, atau kitab-kitab fikih besar sekelas al-Umm, Mughnil Muhtaj, dan kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i lainnya.

Beliau lebih memilih kitab-kitab kecil untuk membekali santrinya di kemudian hari membaca kitab-kitab besar tersebut. Beliau sangat telaten mengajari kitab tersebut pada para santrinya. Satu bab saja bisa dibahas dalam beberapa kali pertemuan. Selain telaten mendidik santri, beliau juga sosok ulama yang sangat tawadlu' dan hati-hati. Prof. Dr. Nadirsyah Hosen pernah menceritakan dalam facebooknya, saat Kiai Makhtum diminta untuk berdoa menutup acara pertemuan kiai-kiai yang tergabung dalam AHWA, beliau sempat menolak dan tidak mau. Begitulah sosok Kiai Makhtum di mata para santrinya.

2. Hidmah kepada masyarakat

Hampir setiap hari, Kiai Makhtum selalu kedatangan tamu, baik dari masyarakat tingkat ekonomi bawah, atau ekonomi ke atas. Beliau terkenal sebagai Kiai ahli hikmah. Karenanya, para tamu yang datang ke Kiai Makhtum kebanyakan mengeluh masalah ekonomi. Ada tamu yang curhat dagangannya bangkrut, sedang mencari jodoh, ingin mendaftar PNS, meminta wasilah dagangannya laris, dan lain sebagainya. Kiai Makhtum selalu men-support mereka dengan bacaan-bacaan zikir dan doa yang harus dibaca secara berkesinambungan.

Beliau juga terkenal sebagai sosok yang dermawan. Tidak jarang santri ndalem, dan tamu yang membutuhkan bantuan ekonomi, beliau bantu dengan sukarela. Kiai Makhtum selalu menganjurkan para tamunya untuk menggeluti berdagang mandiri, daripada kerja di perkantoran. Ini bukan karena kerja di perkantoran jelek, tapi titik tekannya agar para tamunya yang datang itu mandiri secara ekonomi, tidak mengandalkan gaji dari kantor.

3. Teguh pendirian

Kiai Makhtum merupakan sosok ulama yang sangat teguh pendiriannya. Kalau beliau sudah berkata A, ya harus A, tidak boleh B. Suatu saat pada tahun 2008, pemerintah berencana membangun tol Cipali yang saat itu ingin “menabrak” lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Konon, pemerintah juga bersedia menggelontorkan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk masyarakat dan kiai-kiai yang pesantrennya terkena gusuran.

Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh sesepuh Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon tersebut. Kiai Makhtum bukanlah sosok ulama yang cinta duniawi. Karena hatinya yang bersih tersebut, tidak jarang analisa-analisanya terhadap suatu permasalahan sehari-sehari, negara, selalu tepat. Pada waktu itu, saat Gus Solah mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden mendampingin Wiranto diprediksikan tidak akan jadi. Faktanya demikian.

4. Kuat tirakat

Menurut penuturan santri senior dan masyarakat sekitar, Kiai Makhtum sudah senang tirakat sejak beliau muda. Ayahanda beliau, Kiai Abdul Hannan terkenal sebagai sosok wali yang sangat disegani pada masanya. Konon, ada seorang penjahat yang tobat sebab kesaktian Kiai Abdul Hannan. Suatu saat, Kiai Abdul Hannan sedang berjalan di tempat yang sepi dan mengerikan, tiba-tiba datang sekelompok begal yang ingin menodong beliau. Karena para penodong tersebut menginginkan harta, Kiai Abdul Hannan “menyulap” pohon pisang menjadi emas.

Tentu karamah yang dimiliki Kiai Abdul Hannan ini didapatkan karena melalu proses tirakat yang begitu panjang. Kegemaran bertirakat ini menurun dalam diri Kiai Makhtum Hannan. Konon, beliau puasa sampai sempat tidak bisa jalan. Kemungkinan karena kekurangan cairan dalam tubuh beliau. Tentu niat beliau tirakat ini untuk “membunuh” nafsu-nafsu yang bergejolak dalam jiwa beliau. Hasilnya, beliau menjadi sosok ulama yang sangat hati-hati dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya.

5. Istiqomah

Sosok Kiai Makhtum Hannan sangat menekankan istikamah dalam hidup beliau. Dalam rumah beliau tertulis untaian pesan dalam bahasa Arab, al-istiqamah khairun min alfi karamah, Tsubutl karamah fi dawâmil istiqamah, ‘Istikamah itu lebih baik daripada seribu karamah. Terjaganya karamah karena melakukan istikamah secara sinambung. Istikamah itu macamnya banyak. Bila Anda suka menulis, istikamahlah dalam menulis. Tekuni bidang Anda. Namun perlu diingat juga, bahwa seorang santri harus memiliki wiridan yang dibaca secara istiqomah.

Nah, kembali ke Kiai Makhtum. Beliau setiap seminggu sekali selalu memimpin istighastah di maqbarah Kiai Abdul Hannan beserta para santri dan jamaahnya. Dua bulan sekali, beliau memimpin istigasah kubra di tempat yang sama. Semoga para santri dan masyarakat pada umumnya dapat meneladani 5 pendirian Kiai Makhtum ini.

Dan kini semua kehilangan sosok mulia sepertia beliau, semoga Allah juga memberikan tempat yang mulia di sisinya dan diterima segala amalnya. Al-fatihah. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/karomah-dan-istiqamah-kh-makhtum-hannan-ciwaringin-cirebon.html

Kamis, 09 Februari 2017

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar

Santriwati Pintar - Seiring bom tak jauh dari masjid Nabawi beserta pemberitaannya, ada tulisan yang menyangkal informasi umum yang beredar. Narasumbernya orang bernama Fathuddin Ja'far, yang saat kejadian mengatakan berada di dlm Masjid Nabawi. Kesaksian ini dimuat di sejumlah media, beredar di socmed, grup WA dan seterusnya, yang intinya berita bom Madinah tak sesuai fakta, berlebihan dan merupakan sebuah konspirasi untuk menyudutkan Islam.

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar
Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar


Menurut Ja'far, ia tidak mendengar ledakan, hanya melihat kepulan asap. "Kami hanya melihat kepulan asap seperti ada kebakaran di seberang Baki', makam para sahabat Rasulullah."

Di dalam masjid juga tak seorang pun yang membicarakan soal bom. Suasana di dalam masjid dan luar masjid juga seperti biasa, tak ada yang berubah dari malam-malam sebelumnya.

Dengan instingnya Ja'far merasa ada yang tidak benar dengan berita yang beredar. Ia merasa bahwa yang terjadi hanyalah konspirasi. "Naluri media dan konspirasi saya muncul," tulisnya.

Dan ia makin meyakini saat melihat televisi dan internet, di mana berita pemboman sudah menyebar luas. Ia memutar Al-Arabiya, televisi yang ia sebut milik Yahudi, dan ia menganggap beritanya terlalu dibesar-besarkan. Ia juga menganggap running-text Al-Arabiya sangat provokatif.

Ia pun mengecam Al-Arabiya, menyebut bahwa semua adalah kebohongan kaum kafir yang ingin menjatuhkan Islam. "Saya semakin yakin bahwa umat Islam sekarang sedang menghadapi fitnah dan konspirasi dari segala arah yang sangat luar biasa dari musuh-musuh Allah," tulisnya yang muncul di sejumlah media yang tidak begitu jelas kedudukannya.

Membaca tulisan Fathuddin Ja’far saya hanya melihat orang yang di kepalanya memang sudah diinapi pikiran bahwa Islam sedang diserang, bahwa selama ini ada konspirasi untuk menjatuhkan Islam oleh kaum kafir. Aku tidak tahu Islam yang mana yang dimaksud Ja’far, karena sebagai orang Islam aku tidak merasa. Lalu kafir yang mana juga tak jelas, apakah kafir Amerika, kafir Yahudi atau kafir dari planet Mars.

Kesaksian Ja’far, yang di-share banyak orang, tak menggugurkan berita yang ia bantah. Tak ada poin di berita yang beredar yang bisa ia tunjukkan kebohongannya. Tapi di ujung tulisan ia menyimpulkan bahwa semua adalah kebohongan.

Ja’far tampak sudah apriori dengan media dan apa pun yang diberitakan olehnya. Ia juga tendensius dan terlihat kurang wawasan ketika menyebut “Al-Rabiya” sebagai TV Yahudi, karena jika yang ia maksud adalah Al-Arabiya, televisi ini tak lain dimiliki oleh keluarga Kerajaan Arab Saudi. Entah dari mana Ja’far punya informasi bahwa Al-Arabiya milik Yahudi–dari sebuah sumber atau imajinasinya semata, kita tidak tahu. Mungkin dari intelijen atau alien galaksi Andromeda.

Dalam tulisannya Ja'far menyebut bahwa ledakan terjadi jauh dr Masjid Nabawi. "Kepulan asap di seberang Baki, makam sahabat-sahabat Rasullullah," jelasnya.

Jauh-dekat relatif. Berdasar standar keamanan ledakan di radius 3 km dari obyek atau lokasi vital bisa dikatakan dekat dan sudah berkategori sangat mengancam dan membahayakan. Apalagi berdasar penjelasan dari pejabat KJRI Saudi, Fadhly Achmad Hamid, lokasi ledakan hanya berjarak 500 meter dari masjid Nabawi, tepatnya di area parkir keamanan, bagian belakang masjid Nabawi. Aku tidak tahu apakah Ja’far mengecek area ini.

Justru sangat aneh jika Ja’far menganggap ledakan di tempat yang asapnya bisa disaksikan jelas dari Masjid Nabawi disebut jauh dan tak membahayakan. Bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan dan jamaah di Masjid Nabawi masih anteng tarawih karena memang tak menyadarinya dan itu menunjukkan manajemen keamanan cukup bagus. Karena jika langsung dikabarkan kepada jamaah bahwa ada bom meledak di luar kawasan masjid, kepanikan dan kekacauan bisa terjadi–dan mungkin justru menimbulkan korban.

Persoalan bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan tidak lantas ledakan tidak ada. Apa yang tidak kita ketahui tidak lantas tidak terjadi. Karena ada situasi-situasi yang membuat kita sering tidak mengetahui peristiwa yang terjadi tak jauh dari posisi kita. Orang yang berada di sekitar kejadian sebuah peristiwa tidak selalu mengetahui dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Jurnalis yang baru datang justru sering lebih tahu, karena ia mewawancarai banyak saksi mata dan mengecek tempat kejadian perkara.

Orang-orang yang ada di dalam Sarinah Thamrin saat terjadi bom di luarnya banyak yang tak tahu apa yang terjadi. Beberapa juga tak mendengar bom. Saya yang berkantor tak sampai 2 km dari lokasi bom Thamrin saat itu juga tak mendengar suara, meski beberapa orang di kawasan kantor saya bilang mendengar. Itu soal telinga, atau fokus dan konsentrasi yang berbeda.

Tapi pihak keamanan Arab Saudi sudah jelas mengonfirmasi ledakan itu, yang menewaskan 2 orang dan melukai 4 orang. Foto korban juga sudah dirilis media. Bukan hanya Al-Arabiya, tapi Al-Jazeera dan media-media Islam lain juga memberitakannya, selain ratusan media internasional. Media tak mungkin mengarang untuk informasi ini. Jadi aku tidak tahu dmn kebohongan media yang dibilang oleh Fathuddin Ja’far, dan lebih tidak tahu lagi media kafir mana yang berbohong.

Saya mengecek video Al-Arabiya di webnya dan Al-Arabiya tidak memberitakan bahwa ledakan terjadi di gerbang Masjid Nabawi. Lalu apa lantas itu tidak berbahaya dan tidak layak diberitakan besar-besaran oleh media? Jika kamu berpikir berpikir begitu maka kamu tidak tahu media, tidak tahu betapa pentingnya Madinah–apalagi masjid Nabawi. Jangankan bom, ada satu orang mati ditusuk di kawasan Masjid Nabawi bisa jadi berita besar. Karena Madinah dan Masjid Nabawi punya arti penting buat umat Islam.

Membaca tulisan Fathuddin Ja'far, aku tidak tahu media kafir mana yang ia tunjuk, karena Al-Arabiya dan Al-Jazeera yang memberitakan paling awal kejadian Madinah adalah milik negara Islam, yang wartawannya jg sebagian besar muslim. Atau Ja'far menganggap Al-Arabiya dan Al-Jazeera juga media kafir? Lalu yang bukan kafir yang mana? Mbuhlah....

Jika kamu punya dugaan simpanlah dugaanmu untuk dirimu sendiri sebelum menemukan bukti. Jika kamu meyakini adanya konspirasi telitilah dulu sebelum menuduh sana-sini. Bukan cuma keluar masjid, balik hotel ngecek internet dan nonton TV lalu berteriak ada konspirasi.

Maaf, tentu aku lebih percaya wartawan yang memang dididik untuk mengecek dan meliput peristiwa ketimbang orang yang ada di kawasan kejadian perkara tapi ke TKP pun tidak. Tak ada keterangan apakah Fathuddin Ja'far mengecek TKP, melihat korban atau benda yang terbakar akibat ledakan. [Santriwati Pintar Santriwati Pintar]

Oleh Savic Ali

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/bom-madinah-konspirasi-kafir-menjawab-analisa-konyol-fathuddin-jafar.html

Rabu, 08 Februari 2017

Kampanye Save Aleppo Hanya Kedok Menutupi Kemerdekaan Suriah

Santriwati Pintar - Aleppo adalah di antara kota penting di Suriah dan termasuk kota tertua di dunia. Sudah ada sejak 2000 tahun sebelum masehi. Letaknya yang strategis sebagai pusat perdagangan menjadikan kota ini sering menjadi rebutan dan pernah dibawah kekuasaan bangsa yang beragam. Mulai dari Hitit (2000 M), Mesir dan Asiria (abad ke 8 SM), Persia (abad ke 6 SM), Macedonia (332 SM), Romawi (64 SM), Arab (635 M), Tartar (1260), Mongol (1398) Kesultanan Ustamaniyah (1517 M) dan Perancis (1920) dan menjadi bagian negara Suriah sejak tahun 1944.

Kampanye Save Aleppo Hanya Kedok Menutupi Kemerdekaan Suriah
Kampanye Save Aleppo Hanya Kedok Menutupi Kemerdekaan Suriah


Pernah ditaklukkan bangsa yang beragam menjadikan negara ini memiliki banyak bangunan dan situs bersejarah. Termasuk kebaragaman penduduknya, dari agama, suku dan tradisi. Dibawah pemerintahan Suriah setidaknya sampai tahun 2011, warga Aleppo hidup dalam keadaan damai dan harmonis.

Tahun 2011 kelompok pemberontak yang diback up negara-negara Barat termasuk Turki masuk ke Aleppo dan menguasainya. Kelompok pemberontak tersebut kemudian mendeklarasikan Aleppo bagian dari negara Islam. Dari situlah kepedihan dan penderitaan warga Aleppo bermula.

Kelompok pemberontak memaksakan hukum Islam versi mereka untuk diterapkan pada warga Aleppo yang heterogen. Mereka menjadikan tawanan bahkan menjadi rampasan perang warga Aleppo yang non muslim. Mereka menjadikan tawanan sebagai budak-budak mereka. Tidak jarang warga yang melawan dan tidak kooperatif akan dengan mudah mereka bunuh. Mereka menyebarkan video-video saat mengeksekusi dengan sadis warga yang tidak pro mereka untuk meneror warga. Tidak jarang, warga umum dipaksa untuk menyaksikan aksi eksekusi tersebut.

Hidup dalam ketakutan dan kecemasan, serta harapan hidup layak yang nyaris tidak ada di bawah kekuasaan pemberontak, siapakah yang simpatik pada warga Aleppo? Apakah saat-saat itu ada gerakan kampanye save Aleppo di Indonesia?

Sebagai bagian teritorialnya, yang kemudian direbut paksa, wajar jika Suriah menjalankan misi merebut kembali Aleppo. Namun mengapa misi pembebasan itu memakan waktu yang berlarut-larut? Itu karena keberadaan warga sipil. Keberadaan warga sipillah yang membuat militer Suriah kesulitan untuk menyerang kelompok pemberontak di Aleppo. Bahkan sudah menjadi fakta yang tidak bisa dibantah, pemberontak menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup ketika militer Suriah melancarkan serangan. Hasil investigasi PBB dan lembaga HAM Internasional menyebutkan itu.

Keterlibatan Rusia membantu misi pembebasan itu sedikit memberikan harapan. Tapi tetap saja, upaya pembebasan Aleppo memakan waktu yang tidak sedikit. Kalau Suriah dan Rusia tidak mau peduli dengan nasib warga sipil Aleppo, beberapa RS-28 Sarmat (rudal canggih jelajah) milik Rusia sudah cukup untuk menghancur leburkan Aleppo dalam 2 detik sekaligus menewaskan semua teroris di dalamnya. Ketika Rusia dan Suriah menahan diri untuk tidak menggunakan rudal-rudal dengan daya ledak dasyhat selama itu, maka mungkinkah mereka dengan sengaja menjadikan warga sipil, perempuan dan anak-anak sebagai target untuk mereka turut habisi juga?

Kalau memang sejak awal, isu bahwa Bashar Assad hendak membunuhi warganya yang Sunni itu benar, tentu untuk merebut kembali Aleppo harusnya militer Suriah tidak perlu peduli pada nasib warga Aleppo. Berlarut-larutnya misi pembebasan Aleppo, menjadi fakta, Suriah berusaha membebaskan Aleppo dengan meminimalisir korban dari warga sipil. Itulah yang menjadikan misi tersebut menjadi sulit. Ketika ada korban dari warga sipil berjatuhan, itu hal yang tidak bisa dihindari dalam perang. Dan logiskah, warga yang ribuan tahun hidup secara harmonis ditengah banyaknya perbedaan yang ada, tiba-tiba terhasut saling bunuh karena beda mazhab?.

Media-media pendukung teroris di Indonesia tidak pernah memperlihatkan militer Suriah yang secara dramatis melakukan safety corridor, membantu ribuan warga Aleppo mengungsi sembari tetap membalas serangan-serangan pemberontak. Tidak pernah memperlihatkan warga Aleppo yang melarikan diri dari cengkraman pemberontak. Tidak pernah memperlihatkan suasana kehidupan warga Aleppo yang damai dan hidup layak sebelum pemberontak memasuki kota mereka dan tidak pula memperlihatkan adanya aksi besar-besaran warga Aleppo mendukung Bashar Assad di awal-awal terjadinya konflik berdarah di Aleppo.

Yang mereka blow up adalah foto anak-anak dan warga sipil yang menjadi korban dalam perang. Siapakah yang lebih dulu menjadikan Aleppo sebagai ajang pertempuran? Siapakah yang lebih dulu memasuki Aleppo dengan memanggul senjata dan menyebar teror kepada warga? Siapakah yang dengan mudah menghabisi nyawa warga di jalan-jalan yang kemudian mendokumentasikan dan menyebarnya untuk menakut-nakuti warga? Selama diserang tentara Suriah dan Rusia apakah ada upaya dari pemberontak untuk menyelamatkan warga sipil agar tidak menjadi korban perang? Apa ada kamp pengungsian yang dibuat oleh pemberontak untuk warga Aleppo?

Ketika Suriah telah hampir mencapai targetnya membebaskan Aleppo, tiba-tiba dengan massif media-media propagandis teroris menunjukkan simpatiknya pada warga Aleppo dengan mengkampanyekan tagar save Aleppo di media-media sosial. Di saat yang sama mengutuk dan mengecam Suriah dan Rusia sebagai biang keladi tragedi kemanusiaan di Aleppo.

Siapakah yang sakit hati ketika Aleppo kembali di pangkuan Suriah? Jawabannya adalah kelompok pendukung pemberontak: Turki dan sekutunya di Timur Tengah, sejumlah negara Eropa, Amerika Serikat bahkan Israel, yang menyempatkan melakukan serangan udara ke kota Damaskus untuk mengalihkan perhatian militer Suriah ketika meraih keberhasilan besar di Aleppo. Apakah itu bukan bukti nyata adanya keterlibatan negara-negara pro Zionis itu dalam tragedi kemanusiaan di Suriah?.

Dan siapakah yang berbahagia? Anda tidak akan menemukan video dan foto-foto selebrasi suka cita dan kegembiraan warga Aleppo ketika akhirnya pemberontak takluk dan Aleppo kembali berada dalam kontrol sepenuhnya Suriah pada media-media yang mengkampanyekan gerakan simpatik save Aleppo.

Aleppo kembali kepangkuan Suriah, meski dalam keadaan hancur lebur. Namun setidaknya, masih banyak warganya yang bisa diselamatkan. Bagaimanapun di setiap perang, warga sipil lah yang paling merasakan penderitaan dari jahatnya perang.

Turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk warga sipil Aleppo yang telah gugur, juga untuk para pejuang yang telah menebus nyawanya dalam misi pembebasan kota Aleppo.

Turut berbahagia atas direbutnya kembali Aleppo dari tangan pemberontak. Selamat untuk Suriah, selamat untuk warga Aleppo. Puing-puing kota Aleppo akan menjadi saksi, siapa sebenarnya yang membangunnya, siapa yang sebenarnya menghancurkannya. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kampanye-save-aleppo-hanya-kedok-menutupi-kemerdekaan-suriah.html

Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari

Santriwati Pintar - Mungkin mereka bertanya "Jika Asya'iroh adalah ahlussunnah, lalu orang sebelum Asya'iroh itu di mana?". Muslimin sebelah menjawab pertanyaan ini bahwa penyebutan ahlus sunnah hanya kepada pengikut madzhab Asy'ary adalah politik belaka. Mereka pun akhirnya menyimpulkan bahwa mengikuti orang sebelum Imam Asy'ari (tentu dengan penafsiran nafsunya) adalah jalan yang lebih selamat. Duh.

Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari
Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari


Jawaban atas pertanyaan itu sebetulnya sudah diungkapkan oleh Syaih Anas Asyurofawi di Naskah Mu'tamar Chech-Nya. beliau pernah menjadi dosen STAI Imam Syafi' Cianjur tahun 2011-2013. Ini naskah aslinya, di bawahnya ada tarjamahnya.

أين هم أهل السنة قبل أبي الحسن الأشعري؟

الجواب من بحث الأستاذ أنس الشرفاوي حفظه الله تعالى: [لا يقال: وأين هم أهل السنة قبل أبي الحسن الأشعري شيخ المذهب؛ لأن المقصود من الأشعرية أنها منهجٌ في الدفاع والحفاظ على عقائد السلف، ونفْيِ ما داخَلَها من زيغ وبدع، وهذا غير متصوَّر بوجود حضرة النبيِّ صلى الله عليه وسلم كما لا يخفى، وكذلك فهو نادرٌ جداً في عصر أصحابه وهم متكاثرون ومتناصرون، وإنما هو متصوَّرٌ مع يسيرِ غلبةٍ لغير أهل السنة؛ لعوارض سياسية أو مصلحية دنيوية، أو غيبوبة وبُعدٍ عن نهج السداد وغلبة أهل الباطل، وكان هذا جلياً بعد القرون الثلاثة الفاضلة، وهو لا يعني أبداً عدمَ ظهور بدعٍ وضلالات فيها، بل إن رؤوس المبتدعين لأكبر الفرق الإسلامية المنحرفة قد وقعت ضمن هذه القرون، ولكنَّها لما فشَتْ كلمتُها.. دعَتِ الحاجة للردِّ عليها بلغتها.

وهنا يجب التمييز بين المتابعة والموافقة، فالأشاعرةُ بعد أبي الحسن الأشعري إلى اليوم متابعون له ومناضلون عن طريقه، ومن قبل أبي الحسن الأشعري موافقون له، ففرق بين الموافقة والمتابعة.

قال الإمام ابن السبكي: (قال الشيخ الإمام – يعني: والده تقي الدين - فيما يحكيه لنا: ولقد وقفت لبعض المعتزلة على كتاب سماه: «طبقات المعتزلة»، وافتتح بذكر عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ظناً منه أنه - برأه الله – منهم على عقيدتهم، قال: وهذا نهاية في التعصب؛ فإنما ينسب إلى المرء من مشى على منواله.

قلت أنا للشيخ الإمام: ولو تمَّ هذا لهم.. لكان للأشاعرة أن يعدُّوا أبا بكر وعمر رضي الله عنهما في جملتهم؛ لأنهم عن عقيدتهما وعقيدة غيرهما من الصحابة فيما يدعون يناضلون، وإياها ينصرون، وعلى حماها يحومون؛ فتبسَّم وقال: أتباعُ المرء من دان بمذهبه وقال بقوله على سبيل المتابعة والاقتفاء الذي هو أخصُّ من الموافقة؛ فبين المتابعة والموافقة بونٌ عظيم) انظر «طبقات الشافعية الكبرى» (3/365).]

Di mana Ahlus sunnah sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari?

Jawaban dari Syaih Anas Assyrofawi-semoga Allah menjaganya-:

Jangan katakan di mana Ahlussunnah sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari, Sheikh Madzhab, karena yang dimaksud-kan dari paham Asy'ariyah adalah suatu manhaj (Metode) atau pola pemahaman untuk membela dan melestarikan Ediologi Ulama' Salaf, membantah penyimpangan dan ajaran sesat yang menyusupinya.

Tentu hal ini tidak dirasakan atau tergambarkan pada saat adanya Nabi SAW, sebagaimana diketahui. Serta sangat langka bila terjadi di era para sahabat, karena mereka saling memperbanyak dan saling menolong, namun tergambarkan sedikit dominasi terhadap selain Ahlussunnah disebabkan faktor-faktor politik, kepentingan dunia atau ketiadaan, dan sebab (di masa para sahanat) jauh sekali dari cara yang tidak benar dan dominasi pemahaman sesat.

Dan ini (politik, kepentingan dunia, dan ketiadaan) terbukti tampak jelas setelah tiga abad. Tidak berarti dimasa para sahabat tidak ada bid'a-bid'ah (akidah) dan aliran sesat kemudian. Bahkan para pemimpin bid'ah dari sekte Islam terbesar itu lahir di abad itu. Akan tetapi, pada saat aliran sesat itu menyebar luas, dibutuhkan untuk menanggapi mereka dengan bahasa (cara) mereka sendiri.

Dari sini kita harus membedakan antara kata "mengikuti" dan "mencocoki". Jadi orang-orang setelah Abu al-Hasan al-Asy'ari sampai hari ini itu di sebut dengan "mutaba'ah (mengikuti)", sedang orang-orang (di tiga abad) sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari, yang mencocoki dengan dia, disebut dengan "muwafaqoh (mencocoki/bersesuai)". Maka, bedakanlah antara "mencocoki" dan "mengikuti".

Imam Ibnu Sabki mengatakan: (Sheikh Al Imam -ayahnya Taqi al-Din-, bercerita kepada saya: saya telah mengkaji sebagian Mu'tazilah pada buku yang berjudul Thobaqot Al Mu'tazilah, dia mengawali (kitab-Nya) dengan menyebutkan Abdullah bin Mas'ud r.a, seraya mengira bahwa ia -Allah membebaskan dia- adalah bagian dari akidah mereka. Ia (ayah) berkata: ini adalah puncak dari fanatisme, sebab seseorang itu dikaitkan dengan salah satu (akidah) orng lain bila dia menapaki jalan orang itu.

Saya berkata kepada Sheikh Al Imam: andai hal ini telah sempurna bagi mereka maka bagi Asya'iroh sangat pantas menghitung Abu Bakar dan Umar sebagai bagian dari mereka (Asya'iroh), sebab mereka dari akidah mereka berdua dan akidah para sahabat dalam sesuatu yang mereka klaim telah menguatkannya, menolong, dan melindungi akidah mereka.

Ayah-Nya tersenyum dan mengatakan: seorang pengikut itu dekat dengan pandangan yang diikuti, berkata sebagaimana ia katakan, dan bersesuai, yang mana lebih sepesifik daripada sekedar mencocoki (muwaafaqoh). Maka jelaslah perbedaan yang sangat besar antara maksud dari kata "mutaaba'ah dan muwaafaqoh". Lihatlah Muthobaqoh Syafi'iyah Al Kubro (3/365). [Santriwati Pintar]

Kesimpulan:

Sebelum Asya'ri dikatakan muwafaqoh atau sesuai dengan paham Asy'ari.

Setelah Asy'ari dikatakan mutaaba'ah atau mengikuti paham Asy'ari yang kemudian di sebut Asya'iroh. Sebelum dan sesudah Asy'ari adalah ahlussunnah. Tolok ukur akidah ahlussunnah sebelum Asy'ari adalah kesesuaiannya dengan paham Asy'ari, sedang setelah Asy'ari adalah yang mengikuti paham Asy'ari.

Paham Asy'ari dalam akidah adalah mengcover paham ahlul hadist yang memilih tafwidh (ta'wil ijmali), ta'wil tafshili tanpa ta'thil, dan paham ahli tashawwuf yang benar.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/penjelasan-tentang-madzhab-orang-islam-yang-hidup-sebelum-imam-asyari.html

Senin, 16 Januari 2017

Pesantren Raudlatun Nasyiin Ash-Shidiqiyah Rembang, Pesantren Bergaya Pecinan

Pondok Pesantren Raudlatun Nasyiin Ash-Shidiqiyyah yang terletak di Desa Dadapan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah ini memiliki berbagai keunikan. Baik dari segi bangunan maupun kondisi psikologi para santrinya.

Berbeda dengan pondok pesantren pada umunya, pondok pesantren yang lebih terkenal dengan sebutan Ponpes RN ASA ini memiliki bangunan dengan gaya arsitektur pecinan. Ketika memasuki pintu gerbang menuju pesantren, orang akan dihadapkan pada pintu masuk berukuran kecil yang hanya cukup dilewati satu orang. Bukan hanya itu saja, pintu masuk tersebut juga dibuat dengan batu berukir layaknya bangunan kuno.

Pesantren Raudlatun Nasyiin Ash-Shidiqiyah Rembang, Pesantren Bergaya Pecinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Raudlatun Nasyiin Ash-Shidiqiyah Rembang, Pesantren Bergaya Pecinan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Raudlatun Nasyiin Ash-Shidiqiyah Rembang, Pesantren Bergaya Pecinan

Setelah sampai di dalam kawasan pondok pesantren, orang akan melihat beberapa tulisan petuah yang dipasang di beberapa dinding pondok. Beberapa tulisan antara lain, Kawasan wajib berbahasa krama dan Melanggar aturan pondok pesantren dihukum hafalan surah al-Waqiah 7 kali.

Santriwati Pintar

Keunikan pondok pesantren yang diasuh oleh Ahmad Abadi (37) ini semakin menarik perhatian setelah melihat keadaan bangunan didalamnya. Gaya arsitektur pecinan seperti klenteng lebih menonjol dibandingkan dengan gaya bangunan pondok pesantren kebanyakan. Cat berwarna merah kombinasi warna emas menghias setiap dinding pondok. Di lantai bagian atas juga terdapat beberapa lampu lampion yang dijajar di bagian depan pondok.

Ide pembangunan corak bangunan pecinan

Berawal dari belum adanya bangunan untuk para santri, dan hanya tinggal di rumah bambu. Pada saat itu para santri sering diajak jalan-jalan keluar, diantaranya ke klenteng dan tempat-tempat antik lainnya.

Santriwati Pintar

Ahmad Abadi mengatakan, dari situlah yang paling menginspirasi anak-anak adalah bangunan klenteng. Dan anak-anak juga lebih suka dengan warna cerah. "Bangunan ini tidak ada filosofi apa-apa, hanya mengikuti keinginan anak-anak saja," jelasnya.

Pembangunan ini juga membutuhkan banyak dana, dari informasi yang Santriwati Pintar himpun bahwa sumber dana tersebut berawal dari usaha para santri dalam berwirausaha. Dengan awal bermodal ternak kambing dan pertanian akhirnya dapat membangun pesantren ini juga dapat bantuan swadaya dari beberapa dermawan.

Beberapa dermawan yang turut membantu pembangunan ini diantaranya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Rembang. "Ada juga persatuan istri-istri dokter Kabupaten Rembang yang turut membantu dana pembangunan," tambahnya.

Berbagai latar belakang santri RN ASA

Para santri Pondok Pesantren RN ASA ini dari berbagai daerah dan latar belakang. Seperti anak-anak terlantar. Sampai saat ini tercatat sejumlah 19 anak yang belum diketahui identitasnya. Mereka tidak mempunyai akta kelahiran, bahkan nama orang tuanya saja tidak tahu.

Ahmad Abadi mengatakan, proyek tahun ini adalah untuk mendapatkan hak sipil anak-anak tersebut. Bagaimanapun itu merupakan hak yang paling dasar untuk dapat diakui sebagai identitas mereka.

Selain anak-anak yang tidak mengetahui latar belakangnya, di pondok ini juga menampung anak-anak berkebutuhan khusus, seperti anak-anak autis dan hiperaktif. Proses pendidikan yang diajarkanpun disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. "Kita menerapkan metode terapi dalam penyembuhan, itupun secara otodidak," terangnya.

Berawal dari pengalaman dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, para pengurus dan pengasuh pondok berhasil menyembuhkan mereka. Diantaranya beberapa anak yang memiliki kelainan autis akhirnya dapat disembuhkan dan saat ini dapat mengikuti pendidikan formal. Ia menambahkan, beberapa anak yang telah sembuh sekarang dapat mengikuti pendidikan formal, dapat menulis, membaca dan berinteraksi dengan teman sebayanya.

Kebanyakan para santri yang tinggal di pondok pesantren ini berasal dari luar daerah. Mulai dari Sorong Papua, Timika Papua, Jambi, Lampung, dan beberapa daerah dari Kalimantan Tengah. "Untuk daerah Rembang sendiri hanya sebanyak 30 persen," jelasnya.

Untuk pembiayaan sendiri, pengelola pondok menerapkan sistem subsidi silang kepada para orang tua santri. Dari keluarga yang mampu, dapat mengangkat keluarga yang kurang mampu. Ada juga satu keluarga yang membiayai 10 anak tidak mampu.

Beberapa pendidikan yang diajarkan dalam pondok pesantren ini diantaranya, mengaji al-Quran, kitab, serta hafalan al-Quran. "Kita hanya mengikuti bagaimana kemauan anak. Kalau ingin menghafal al-Quran kita juga memfasilitasinya, tutup Ahamd Abadi. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66742/pesantren-raudlatun-nasyiin-ash-shidiqiyah-rembang-pesantren-bergaya-pecinan

Santriwati Pintar

Rabu, 02 November 2016

Ansor Gisting Jaya Gelar Pengkaderan Pasca Lebaran

Way Kanan, Santriwati Pintar. Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung berkomitmen meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di daerah, karena hal itu salah satu masalah prinsipil.

"Di Kampung Gisting Jaya kegiatan untuk pemuda seperti penyuluhan sangat jarang, malah tidak pernah," ujar Ketua Ansor Ranting Gisting Jaya Kecamatan Negara Batin Nanang Yudi Saputro, di Blambangan Umpu, Senin (13/6).

Ansor Gisting Jaya Gelar Pengkaderan Pasca Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gisting Jaya Gelar Pengkaderan Pasca Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)


Ansor Gisting Jaya Gelar Pengkaderan Pasca Lebaran

Ansor Ranting Gisting Jaya sejak dibentuk pada Januari 2016 hingga hari ini telah merekrut kurang lebih 50 kader. "Yang sudah mengikuti PKD empat orang, sisanya belum. Pengkaderan Ansor merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan kapasitas SDM di daerah kami pada khususnya," kata dia lagi.

Setelah lebaran, papar Nanang, pihaknya akan merekrut pemuda setempat berusia 17 hingga 40 tahun. "Sebanyak-banyaknya akan kita ajak, kita tawarkan bergabung menjadi bagian Pemuda Ansor. Kami berharap pimpinan cabang bisa membantu memfasilitasi pengkaderan karena penting untuk menambah wawasan dan kualitas pemuda di daerah kami," tuturnya.

Santriwati Pintar

Koordinator Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Kecamatan Pakuan Ratu Supardi mengapresiasi geliat Ansor di Kecamatan Negara Batin. "Beberapa tahun lamanya tidak ada geliat Ansor di Negara Batin. Sekarang mulai kelihatan dan itu patut diapresiasi positif," kata Supardi lagi.

Santriwati Pintar

Pergerakan Pemuda Ansor di Negara Batin diprakarsai pimpinan cabang. Widyo Kuncoro selaku Wakil Ketua PC Ansor Way Kanan mendorong sejumlah pemuda setempat bergabung dengan Ansor. Saat ini, PAC Ansor Negara Batinn dipimpin Hozin Munir, alumni PKD V Ansor Way Kanan. (Rudi/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68979/ansor-gisting-jaya-gelar-pengkaderan-pasca-lebaran

Santriwati Pintar

Jumat, 20 Maret 2015

Kesibukan UAS Tak Halangi PMII Bantu Korban Longsor Banjarnegara

Depok, Santriwati Pintar. Bantuan untuk korban tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, terus mengalir. Kali ini datang dari para kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Indonesia. Di tengah kesibukan ujian akhir semester (UAS) mereka menyempatkan diri menggalang dana untuk meringankan beban warga yang terkena musibah di sana.

Aksi sosial itu dilakukan di Bundaran Rotunda di kawasan kampus UI, Depok, Jawa Barat, bertepatan dengan liburan akhir pekan, Ahad (21/12). Kegiatan ini mendapat apresiasi positif dari warga sekitar Depok yang sedang berolahraga ataupun sekadar menikmati suasana rindang kawasan tersebut. Hal ini terbukti dengan antusiasme mereka untuk berkontribusi dalam penggalangan dana ini.

Kesibukan UAS Tak Halangi PMII Bantu Korban Longsor Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesibukan UAS Tak Halangi PMII Bantu Korban Longsor Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)


Kesibukan UAS Tak Halangi PMII Bantu Korban Longsor Banjarnegara

Aksi sosial ini merupakan salah satu wujud kebanggaan kami mengenakan jas almamater jas kuning dan juga sebagai kader PMII UI yang sudah semestinya tanggap ing sasmita atas bencana yang menimpa Banjarnegara, tegas Fuad selaku koordinator.

Hal yang sama disampaikan oleh anggota PMII lainnya, Azka, yang baru bergabung dengan PMII. Ia merasakan pentingnya kegiatan sosial seperti ini sebagai wujud kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Saya sangat bangga turut serta dalam aksi pagi ini. Sebagai mahasiswa bagi saya ini merupakan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi yang saat ini tak banyak mahasiswa menggubrisnya, terang Azka yang juga berasal dari Banjarnegara.

Dana hasil kegiatan ini rencananya akan segera disalurkan melalui jaringan NU di daerah Banjarnegara secepatnya. (Agus/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/56522/kesibukan-uas-tak-halangi-pmii-bantu-korban-longsor-banjarnegara

Santriwati Pintar

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock