Tampilkan postingan dengan label Hadis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2017

Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab

Santriwati Pintar - Assalamu 'alaikum wr. wb. Mohon izin bertanya terkait dengan mazhab-mazhab, ustadz. Sebenarnya mazhab itu apa sih? Dan mengapa kita harus bermazhab, bukankah sudah cukup kita berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah? Bukankah mazhab itu hanya pendapat dan perkataan manusia yang bisa benar dan bisa salah. Kenapa harus dipegang dan dirujuk? Mohon maaf kalau redaksi saya agak kurang baik dalam bertanya. Sebelumnya terima kasih atas penjelasan ustadz. Wassalam

Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab
Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab


Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebelum kita bahas pertanyaan ini lebih lanjut, ada baiknya kita sepakati terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan 'mazhab' dan istilah 'bermazhab'. Sebab jangan-jangan kita tidak sepakat tentang pengertiannya, tetapi sudah terlanjur perang opini.

A. Mazhab adalah penjelasan paling sah atas isi Al-Quran dan as-Sunnah Yang kita sepakati dari istilah mazhab adalah penjelasan yang asli, otentik, baku dan ilmiyah tentang kandungan hukum Allah yang tertuang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ternyata Al-Quran dan As-Sunnah yang kita warisi dari Rasulullah SAW itu masih harus dijelaskan dulu sebelum kita laksanakan.

Kenapa harus ada penjelasan? Bukankah Al-Quran dan hadits itu sendiri sudah merupakan penjelasan buat orang yang bertaqwa?

Pertanyaan agak-agak lugu tapi polos ini mungkin sering kita dengar dari mulut saudara-saudara kita yang sedang belajar ilmu agama. Tidak apa-apa, namanya saja masih belajar. Wajarlah kalau pertanyaannya agak polos.

Jawabannya adalah bahwa orang-orang terbaik dari generasi terbaik saja masih bermazhab dan tidak sok tahu menafsir-nafsirkan ayat-ayat Allah SWT dengan akal pikiran dan nalar mereka sendiri. Mereka masih tetap bertanya tentang Al-Quran, as-Sunnah dan hukum-hukum syariah kepada Rasulullah SAW.

1. Shahabat masih harus minta penjelasan Al-Quran dari Rasulullah SAW Pertanyaannya, mereke orang sekelas shahabat itu masih harus bertanya tentang Al-Quran, padahal mereka mengalami turunnya Al-Quran. Dan bahkan Al-Quran turun dalam bahasa mereka, yaitu bahasa Arab?

a. Kendala Bahasa dan Istilah Memang benar ayat-ayat Al-Quran turun dalam bahasa Arab yang khas di masa Nabi SAW. Namun yang harus diketahui dengan kualitas level bahasa yang teramat tinggi sastranya. Sehingga terkadang tidak semua shahabat mampu memahami kata per kata, kalimat per kalimat serta redaksi-redaksi di ayat Al-Quran itu sendiri.

Seringkali mereka harus bertanya lagi kepada Rasulullah SAW tentang apa maksud suatu ayat. Jadi Al-Quran itu tidak otomatis jelas dan mudah dipahami, bahkan oleh mereka yang selevel para shahabat sekalipun. Tetap saja mereka masih harus mendapatkan penjelasan dulu dari Rasulullah SAW.

Bayangkan kalau sekelas shahabat saja masih harus bertanya tentang isi Al-Quran dan kandungan hukumnya, bagaimana mungkin orang di masa kini 15 abad setelah turunnya Al-Quran, tidak paham bahasa Arab, tidak tahu asal muasal turunnya ayat, tidak tahu jeluntrungannya, tiba-tiba mereka berhak untuk menafsirkan sendiri? Lalu bikin fatwa aneh-aneh sambil melarang orang bertanya kepada sumber rujukan aslinya, yaitu para shahabat? Sungguh aneh dan tidak masuk akal, bukan?

b. Nasikh Wal Mansukh Syariat Islam di dalam Al-Quran tidak turun sekaligus, tetapi berproses. Berproses di sini bukan sekedar ayat turun satu persatu, tetapi lebih dari itu, kadang ada proses perubahan hukum seiring dengan semakin banyaknya turun ayat.

Hukum yang sudah ditetapkan pada satu ayat bisa saja dianulir dan diubah menjadi hukum yang lain oleh ayat yang turun kemudian. Keharaman yang dibawa oleh suatu ayat bisa diubah menjadi kehalalan oleh turunnya ayat berikutnya. Sebaliknya, kehalalan yang didasarkan pada satu ayat, kemudian diharamkan oleh ayat yang turun kemudian.

Banyak sekali orang awam di masa kini yang sama sekali tidak tahu adanya ayat yang dinasakh atau dibatalkan hukumnya. Dengan segala keluguannya mereka mengira semua ayat itu berlaku hukumnya sama rata. Mereka tentu harus bertanya dulu kepada sumber rujukan utama yaitu para shahabat. Tidak boleh asal main keluarkan fatwa dan hukum seenaknya.

c. Tidak semua shahabat merupakan ahli hukum Satu hal lagi yang harus dicatat juga bahwa tidak semua shahabat itu ahli dalam hukum agama, meskipun mereka hidup bersama Rasulullah SAW. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitab I'lamul Muwaqqi'in memperkirakan hanya sekitar 130-an orang saja dari para shahabat yang punya kapasitas dalam mengistimbath hukum.

Padahal kita tahu bahwa jumlah shahabat itu mencapai angka 124 ribu orang. Dibandingkan yang ahli dalam istinbath hukum, ternyata jauh lebih banyak mereka yang bukan ahlinya.

Oleh karena itu, tidak bisa kita pungkiri bahwa sesungguhnya para shahabat itu meski bisa bahasa Arab, mengalami proses turunnya Al-Quran, bahkan menjadi tokoh langsung di dalam ayat yang diturunkan, namun tetap tetap saja mereka harus bertanya kepada Rasulullah SAW atau kepada shahabat senior yang sudah berlevel ahli istimbath hukum. Maksudnya tetap harus bertanya kepada ahlinya tentang isi kandungan hukum di dalam Al-Quran. Dan proses bertanya itu yang kita sebut bermazhab.

Mereka yang hidup bersama Rasulullah SAW saja masih harus bermazhab, bagaimana mungkin orang di zaman sekarang merasa sudah pintar dan mereka berhak menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran seenaknya? Apakah mereka merasa lebih pintar dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat?

2. Para shahabat mendapat legalisasi dari Rasulullah SAW untuk berfatwa Menarik untuk dicermati, para sebagian shahabat yang memang telah mendapatkan pendididukan khusus untuk menjadi ahli istimbath hukum ini kemudian mendapatkan legalitas dari Rasulullah SAW. Tentu tidak semua mereka mendapatkannya, melainkan hanya yang sudah mencapai derajat ilmunya. 

Wajiblah atas kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah para penggantiku yang lurus. Pegang erat sunnah itu dan gigitlah dengan geraham. (HR. Ahmad)

Dengan hadits ini maka para shahabat ahli istimbath hukum itu telah menjadi juru fatwa resmi yang telah menandatangani 'kontrak' sebagai wakil Allah di muka bumi. Jabatannya tentu bukan sebagai pembawa wahyu tetapi sebagai juru tafsir resmi dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Siapa saja yang mencoba menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran ataupun sunnah Rasulullah SAW semata-mata hanya lewat akalnya sendiri, maka sudah dipastikan sesat, keliru dan tidak bisa diterima. Anehnya di zaman sekarang bisa-bisanya ada orang yang tidak mengerti Al-Quran dan As-Sunnah, tetapi malah mengaku-ngaku sebagai ahli fatwa, lalu bikin fatwa seenaknya. Lucunya sampai bilang begini:

"Tinggalkan semua perkataan manusia dan cukup Al-Quran dan As-Sunnah saja yang kita pegang. Tidak usah merujuk kepada shahabat, tabi'in atau fuqaha, karena mereka manusia dan sangat mungkin mengalami kesalahan".

Ungkapan ini kelihatannya benar, tetapi sekaligus juga banyak pesan menyesatkan tersirat di dalamnya. Di antarnya kesesatannya adalah sebagai berikut:

a. Sama saja mendustai kenabian Muhammad SAW Dengan mencoret peran para shahabat, tabi'in dan para fuqaha, otomatis kita menutup penjelasan, ilmu dan pesan-pesan penting dari Rasulullah SAW yang dititipkan kepada mereka. Dan itu berarti sama saja kita mendustakan kenabian Muhammad SAW.

b. Bikin agama baru mendompleng agama Islam Bila kita perpegang pada Al-Quran dan Sunnah, lalu kita tafsiri sendiri semua isi kandungannya, seenak kita dan sesuai dengan selera kita sendiri, maka sesungguhnya kita telah menciptakan agama baru. Agama itu sama sekali bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tetapi kita cuma mendompleng saja, sementara isi dan ajarannya 100% buatan akal kita sendiri.

3. Para Shahabat Boleh Berbeda Pendapat Dan yang sangat menarik adalah meski sudah sah menjadi juru tafsir resmi Al-Quran dan As-Sunnah oleh Rasulullah SAW, namun para shahabat ahli istimbath hukum tetap diberi 'kebebasan' untuk saling berbeda pendapat.

Dan sudah pasti bahwa perbedaan pendapat di tengah para shahabat tentu tidak datang dari hawa nafsu pribadi, atau kepentingan kelompok tertentu, atau motivasi uang, jabatan, kekayaan, popularitas dan hal-hal rendah lainnya. Tentu saja mereka suci dari semua tuduhan itu. Sebab Allah SWT menjamin bahwa mereka itu mendapat ridha dari Allah SWT dan dalam hadits yang shahih mereka 100% dipastikan masuk surga.

Dari Said bin Zaid bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Ada sepuluh orang di dalam surga : Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam surga, Utsman di dalam surga, Ali di dalam surga, Thalhah di dalam surga, Az-Zubair di dalam surga, Abdurrahman bin Auf di dalam surga, Said bin Malik di dalam surga, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah di dalam surga, kemudian Said terdiam. Orang-orang bertanya,”Siapa yang kesepuluh?”. Said menjawab,”Said bin Zaid”- yaitu dirinya sendiri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

4. Boleh memilih mazhab shahabat yang mana saja Ketika para shahabat yang sudah menjadi derajat ahli istimbath hukum ini punya pendapat yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka para shahabat yang lain boleh memilih pendapat yang mana saja dari mereka.

Para shahabatku bagaikan gemintang di langit. Pendapat siapapun yang kamu ambil tetap dapat petunjuk. Perbedaan pendapat mereka jadi rahmat bagi kamu. (HR. Al-Baihaqi)

Dalam kenyataannya ada mazhab Abu Bakar, mazhab Umar, mazhab Ustman, mazhab Ali, mazhab Ibnu Abbas, mazhab Ibnu Umar, mazhab Ibnu Mas'ud, mazhab Aisyah, mazhab Ummu Salamah dan lainnya. Mereka bisa saja berbeda pendapatnya, namun semuanya berada di dalam wilayah kebenaran dan petunjuk dari Rasulullah SAW.

Maka kepada pendapat, fatwa serta mazhab para shahabat itulah kita wajib berpegang-teguh. Sebab pada hakikatnya kita sedang kembali kepada Al-Quran. Santriwati Pintar


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/ini-jawaban-untuk-mereka-yang-anti-mazhab.html

Sabtu, 19 September 2015

Innalillahi, KHR Mukhtar Ruyani Tutup Usia

Jakarta, Santriwati Pintar. Kabar duka kembali menyelimuti warga Nahdlatul Ulama (NU). Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. telah pulang ke rahmatullah almukarram Ajengan KHR Mukhtar Ruyani. Kiai yang mengabdikan diri untuk warga NU ini wafat Selasa (12/4) sore.

Semasa hidupnya almarhum diamanahi sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, Mustasyar PBNU 2015-2020.

Innalillahi, KHR Mukhtar Ruyani Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KHR Mukhtar Ruyani Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)


Innalillahi, KHR Mukhtar Ruyani Tutup Usia

"Ia sudah priode ke-4 sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor. Ia wafat tadi sore hari Selasa (12/4) jam 17.00. Almarhum juga Pengasuh Pesantren Riyadul Aliyyah, Cisempur, Cipunegara, Caringin Bogor," kata Mantan Katib PWNU DKI Jakarta KH Zuhri Yaqub melalui pesan singkatnya.

KH Zuhri Yaqub menambahkan, "Kiai Mukhtar sangat peduli dengan NU sebagai jamaah dan jamiyyah. Pengabdiannya terhadap NU patut dijadikan contoh."

Santriwati Pintar

"Semoga ilmu, amal dan pengabdiannya kepada NU menjadi amal baik," tutup Zuhri. (Red Alhafiz K)

Santriwati Pintar

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67247/innalillahi-khr-mukhtar-ruyani-tutup-usia

Santriwati Pintar

Jumat, 20 Desember 2013

Khittah NU Harus Terus Digelorakan

Situbondo, Santriwati Pintar. Perjalanan panjang Khittah NU menghadapi berbagai tantangan baik sejak awal didirikan hingga saat ini yang demikian panjang. Karenanya diperlukan refleksi ulang agar Khittah NU tetap menjadi roh bagi perjalanan jamiyah tersebut.

Demikian antara lain yang menjadi perhatian para pembicara pada pembukaan Seminar Nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU. Kegiatan diselanggarakan di aula Mahad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, Rabu (11/1).

Khittah NU Harus Terus Digelorakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khittah NU Harus Terus Digelorakan (Sumber Gambar : Nu Online)


Khittah NU Harus Terus Digelorakan

Dalam pandangan KH Hariri Abdul Adhim, kegiatan ini merupakan upaya melakukan pembacaan ulang sejarah awal pendirian NU. "Bagaimana kita memiliki pemahaman dan pengertian saat Mbah Hasyim mendapatkan restu dari Mbah Cholil Bangkalan ketika hendak mendirikan NU," katanya.

Periode berikutnya adalah bagaimana perjalanan NU yang awalnya berorientasi sebagai jamiyah diniyah ijtimaiyah akhirnya diuji dengan politik praktis. "Karena saat terlibat dalam politik praktis, ternyata menimbulkan gejolak di internal NU," kata Mudir Mahad Aly pesantren setempat tersebut.

Santriwati Pintar

Mewakili PWNU Jatim, KH Sadid Jauhari juga mengingatkan bahwa keinginan kembali ke Khittah NU sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1971. "Akhirnya, pada Musyawarah Nasional atau Munas NU tahun 1983 di pesantren inilah gagasan tersebut dapat diterima," katanya.

Santriwati Pintar

KH Muhammad Firjaun Barlawan yang juga putra almagfurlah KH Ahmad Shiddiq mengingatkan bahwa kegiatan membincang khittah sebagai sumbangsih bagi khidmat NU. "Diharapkan upaya ini dapat menjadi sumbangsih kita kepada NU," kata Gus Firjaun, sapaan akrabnya.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama pesantren setempat dengan PW LTN NU Jatim dan TV9 Nusantara. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74540/khittah-nu-harus-terus-digelorakan

Santriwati Pintar

Jumat, 08 Maret 2013

Pidato Kebudayaan KH Said Aqil Siraj di Harlah NU ke-91 (2017)

Santriwati Pintar - Berikut ini adalah pidato kebudayaan KH Said Aqil Siraj (Ketum PBNU) dalam acara puncak Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke 91 di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (31/01/2017). Dalam isi pidato, Kiai Said menyoroti tentang fakta sejarah NU yang tidak pernah sama sekali melakukan makar kepada NKRI. Simak pidato lengkapnya yang didapatkan Santriwati Pintar dari Netizen NU Jakarta.

PIDATO KEBUDAYAAN KETUA UMUM PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA

Pidato Kebudayaan KH Said Aqil Siraj di Harlah NU ke-91 (2017) - Santriwati Pintar
Pidato Kebudayaan KH Said Aqil Siraj di Harlah NU ke-91 (2017) - Santriwati Pintar


Pidato Kebudayaan KH Said Aqil Siraj di Harlah NU ke-91 (2017)

“BUDAYA SEBAGAI INFRASTRUKTUR PENGUATAN PAHAM KEAGAMAAN”

السلام علیكم ورحمة الله وبركاته بسم الله الحمد 6 ولاحول ولاقوة إلاب6 والصلاة والسلام على رسول الله وعلى ال وصحبه ومن تبع سنته وجمعاعته من یومنا هذا إلى یوم النهضة

Nahdlatul Ulama, merujuk pada penanggalan Masehi, tahun ini berusia 91 tahun. Jika merujuk pada penanggalan Hijriah, maka NU tahun ini memasuki usia yang ke-94. Secara resmi peringatan harlah

Santriwati Pintar

NU dirayakan pada 16 Rajab 1438 Hijriah. Adapun malam ini kita berkumpul di sini sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt sekaligus juga mengenang dan menapaktilasi perjuangan

Santriwati Pintar

pendiri-pendiri Nahdlatul Ulama.

Hadirin yang saya hormati,

Tema "Budaya Sebagai Infrastruktur Penguatan Paham Keagamaan" berangkat dari adagium yang sangat terkenal dalam usul fiqh:

العادة محكمة

“Budaya bisa dijadikan dasar pengambilan kebijakan hukum”

Kita juga mengenal hadist :

ما رأه المسلمون حسـنا فهو عند الله حسن

“Apa yang dianggap baik oleh orang muslim, maka ia baik”

Dalam tradisi madzab Hanafi kita juga mengetahui adagium:

المعروف عرفا كالمشروط شرطا والثابت بلعرف كالثابت بلنص

“Yang baik menurut adat kebiasaan adalah sama nilainya dengan syarat yang harus dipenuhi, dan yang mantap benar dalam adat kebaisaan, sama nilainya dengan yang mantap benar dalam nash”

Pijakan kaidah atau adagium itu bersumber salah satunya dari AlQur’an Surat Al-A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

Budaya-budaya lokal bisa diadopsi menjadi bagian dari hukum syariah sepanjang budaya dan adat-istiadat tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam. Dengan kata lain, proses akulturasi budaya atau sinkretisme budaya dan agama sangat mungkin terjadi dalam ajaran Islam.

Contoh paling kongkret dalam hal ini adalah prosesi tahlil atau kita mengenalnya dengan sebutan “tahlilan” untuk mendoakan orang meninggal dunia yang diambil dari tradisi budaya pra-Islam sebagai wadah, digabungkan dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an, shalawat serta dzikir pada Allah yang sangat dianjurkan oleh ajaran Islam, sebagai isi dan substansi dari acara tahlil itu sendiri.

Tradisi tahlilan adalah gabungan sekaligus ramuan kreatif antara budaya di satu pihak dan ajaran agama di pihak yang lain. Sebagai budaya, proses tahlilan dari awal hingga akhir (selama tujuh hari

berturut-turut, dilanjutkan di hari ke 40, 100 hari bahkan sampai ke peringatan tahunan/haul) merupakan infrastruktur yang berfungsi menguatkan sekaligus mengokohkan pelaksanaan syariat Islam dalam arti membaca fragmen-fragmen penting dari ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Dengan demikian, tahlilan merupakan gabungan antara tradisi lokal dengan ajaran Islam yang kemudian telah menjadi ibadah ghairu mahdhoh yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Itulah implementasi dari kaidah fiqh: Al 'Adatul Muhakkamah.

Masyarakat Islam di Kabupaten Kudus, Jawa tengah punya tradisi yang unik: mereka tidak memakan daging sapi sampai saat ini karena ingin menghormati para tetangganya yang beragama Hindu. Tradisi itu merupakan warisan yang telah turun temurun dilestarikan Sunan Kudus. Sunan Kudus sangat menghormati tradisi dan budaya masyarakat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan yang suci.

Maka, sampai saat ini, sebagai bagian dari menjaga tradisi dan menghargai keragaman dengan semangat toleransi, masyarakat Kudus tidak pernah memakan daging sapi. Banyak contoh lain dari -- meminjam istilah Gus Dur -- keberhasilan pribumisasi Islam di bumi nusantara ini. Sultan Agung sebagai raja tanah Jawa ketika menggabungkan kalender hijriyah ke dalam kalender Jawa adalah contoh kreasi yang berhasil memberi pemahaman kultur Islam pada rakyat bawah di pedalaman Jawa.

Islam menyebar di bumi nusantara ini berlangsung secara gradual: pelan tetapi berjalan dengan pasti. Tahap pertama, biasanya hanya berupa konversi menjadi muslim nominal (Islam KTP) terlebih dahulu. Baru kemudian pada tahap kedua, mulailah proses pematangan pemahaman Islam (ortodoksi) setelah memperoleh dukungan infrastruktur berupa budaya lokal. Di sinilah letak kecerdasan para wali dan pengajar Islam masa-masa awal yang memahami sosilogi dakwah dengan memeperhatikan karakter dan kultur masyarakat setempat.

Contoh lain, meskipun Kesultanan Demak atau Keraton Mataram amat berperan dalam penyebaran Islam, tetapi tidak serta-merta langsung memberlakukan syari'at Islam pada seluruh penduduknya. Mengapa? Cara gradual mengandaikan, ajaran Islam lebih baik tumbuh sebagai bentuk kesadaran masyarakat (bottom-up), daripada dipaksakan lewat peraturan-peraturan dari atas (top-down).

Dengan cara gradual dan akulturatif ini, Islam diterima sebagian besar penduduk tidak dengan menciptakan masyarakat nusantara yang terbelah sebagaimana terbelahnya antara orang Hindu dengan Muslim di India. Nyaris tidak ada konflik. Islam tersebar dengan sejuk dan damai.

Tarik-menarik secara kreatif antara proses akulturasi dan ortodoksi ini, bukan tanpa mengalami pasang-surut dan macam-macam tantangan. Ketika proses ortodoksi tengah berlangsung intensif yang

dilakukan oleh para wali dan seluruh kesultanan di nusantara, penjajah Portugis dan Belanda datang. Akibatnya, penyebaran ortodoksi Islam menghadapi pembatasan yang sangat luar biasa.

Bentuk hambatan itu antara lain berupa: penghancuran jaringan perdagangan dan dakwah antar pulau di setiap kesultanan nusantara. Hambatan ini pada gilirannya mengurangi peran Islam sebagai kekuatan sosial, kultural, dan juga politik. Namun para penyebar Islam tidak kehilangan cara yang kreatif.

Ketika jaringan niaga dan dakwah maritim menghadapi jalan buntu, pribumisasi Islam digantikan oleh para kiai pesantren yang umumnya bergelut dengan masyarakat tani di daerah pedalaman. Para kiai ini merupakan pribadi-pribadi yang matang dididik melalui pendidikan intensif baik yang berkaitan dengan kualitas ilmu agama ataupun yang berkaitan dengan pendalaman spiritual (tasawuf).

Kelak, dunia spiritual di pesantren dan masyarakat pertanian lebih dikenal dengan sebutan tarekat dari pada istilah tasawuf. Proses ortodoksi melalui jaringan pesantren dan tarekat ini berjalan intensif dan tidak mampu dihadang oleh penjajah Belanda, sehingga perannya sangat luar biasa untuk keberhasilan islamisasi berlatar belakang budaya di nusantara ini.

Dengan segala pasang surut dan berbagai tantangannya, Islam berbasis kultur setempat itu kemudian bermetamorfosa (menjelma) menjadi bagian penting sebagai penyumbang paham keagamaan dan kebangsaan. Kita mengenal mars lagu "hubbul wathan minal iman" yang sangat populer di kalangan masyarakat NU, itu adalah indikasi kuat bahwa paham keagamaan yang berlatar belakang infrastruktur budaya telah nyata-nyata menjadi jembatan bersemainya paham kebangsaan.

Tokoh-tokoh mulai dari HOS Tjokroaminoto, Bung Karno, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri serta banyak tokoh lain telah memberi arti dan makna yang dalam atas kontribusi mereka menjembatani antara paham keagamaan dan paham kebangsaan.

Jika Imam Syafi’i berhasil meramu teks dengan rasio menjadi produk yang monumental, yaitu ijma’ dan qiyas, maka Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mampu meramu islam dan nasionalisme menjadi spirit kabangsaan yang teribingkai dalam diktum yang terkenal:

حب الوطن من الإيمان

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”

Keberhasilan ini tidak ditemui di kawasan-kawasan muslim yang sebelumnya pernah mengalami masa kejayaan paham negara khilafah di masa lalunya seperti di Negara-negara kawasan Arab pada umumnya. Di kawasan-kawasan itu, sistem negara khilafah yang utopis masih terus didambakan, dicari legitimasi pembenarannya bahkan terus dijajakan dan diimpor ke negeri-negeri lain. Tak terkecuali, ke negeri yang kita cintai ini.

Paham negara khilafah seperti ini serta paham ekstrem yang cenderung gampang menyalahkan dan mengafirkan terhadap mereka yang tak sepaham dengannya, sangatlah berbahaya dan akan mengancam eksistensi paham keagamaan dan kebangsaan yang telah dibangun dengan susah payah bahkan penuh dengan perjuangan darah oleh para founding fathers bangsa ini.

Kesetiaan menjaga tradisi dan sekaligus terus berupaya mengembangkan penemuan-penemuan yang inovatif ini adalah prinsip yang dianut oleh Nahdlatul Ulama ini. Kita mengenal prinsip:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بلجدید الأصلح

“Menjaga tradisi dan mengembangkan inovasi”

Hadirin yang saya hormati,

Kita sekarang sudah menikmati hasil dari titik-temu antara paham keagamaan dan paham kebangsaaan. Yaitu, berupa kemerdekaan negara ini yang dilanjutkan dengan episode-episode pembangunan politik yang berliku, hingga kita rasakan sistem politik demokrasi seperti yang ada sekarang.

Dari situlah saya sebagai Ketum PBNU membayangkan, bermimpi dan bercita-cita: kapan sistem politik demokrasi prosedural ini bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil. Bisakah demokrasi prosedural ini mensejahterakan rakyat, menghilangkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang hingga sekarang masih menganga (indeks gini rasio: 0,41% dari produk domistik bruto/PDB).

Kapan sistem politik demokrasi kita bisa mewujudkan ekonomi yang bukan saja tumbuh dan berkembang, namun juga yang lebih penting adalah merata.Al-Qur’an menegaskan dalam surat Al-Hasyr ayat 7:

كي لايكون دول بين الأغنیاء منكم

“Janganlah harta hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian”

Kesejahteraan yang dihasilkan oleh sistem politik prosedural itu, disebut sebagai: demokrasi substansial. Mengapa demikian? Tak lain karena aspirasi rakyat yang dikelola oleh para wakilnya di parlemen telah berubah menjadi undang-undang dan peraturan yang memihak kepada rakyat. Bukan memihak konglomerat.

Bukan berarti kita tidak setuju dengan adanya konglongmerat. Kita setuju dengan adanya konglongmerat, namun konglomerat yang terus borkomitmen untuk mendorong kemajuan eknonomi kreatif, mengangkat ekonomi kaum miskin, dan juga komitmen terhadap terciptanya kelas menengah baru demi tercipatanya pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

Konglemerat yang demikian itu adalah konglomerat yang sesuai dengan isi hadist:

ليس منا من لم یوقر كبيرن ولم يرحم صغيرن

Artinya: "Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi orang muda di antara kami dan tidak menghormati orang yang tua"

Begitu pula, pemerintah yang dipilih rakyat mulai dari presiden,gubernur, bupati/walikota harus terus membuat kebijakan-kebijakan yang selalu bermuara kepada kesejahteraan rakyat.

Ke depan, pemerintah harus lebih hadir dan bekerja keras untuk bukan saja memajukan dan menumbuhkan, namun juga memeratakan pembangunan demi terciptanya keadilan sosial bagi

seluruh rakyat Indonesia.

Negara, sekali lagi, harus hadir di dalam kehidupan masyarakat. Yang demikian itulah sesungguhnya dalam bahasa kaidah fikih disebut dengan:

تصرف الإمام على الرعیة منوط بلمصلحة

“Kebijakan pemimpin kepada rakyatnya harus didasarkan kepada kemaslahatan”

Hadirin yang berbahagia;

Adalah Nahdlatul Ulama.

Jauh sebelum Indonesia merdeka pada muktamar 1936 di Banjarmasin menyatakan bahwa Indonesia adalah Darussalam.

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang para pemimpinya terlibat aktif membidani kemerdekaan Indonesia. Melalui BPUPKI dan PPKI pada tahun 1945.

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang menyerukan resolusi jihad 22 oktober 1945, kewajiban mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang berdiri terdepan melawan PKI pada tahun 1965 menyelamatkan Pancasila.

Adalah Nahdlatul Ulama

Di era orde baru menjadi ormas yang pertama kali menerima Pancasila sebagai asas tunggal

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang terlibat aktif melahirkan era reformasi

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang menolak radikalisme agama dan sentiment SARA, yang kini mengancam keutuhan NKRI

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang puluhan juta warganya istiqomah membentengi Indonesia dari ekstrimisme kiri maupun ekstrimisme kanan

Adalah Nahdlatul Ulama

Payung besar tegaknya toleransi beragama di Indonesia

Adalah Nahdlatul Ulama

Yang genap berusia 91 tahun pada 31 Januari 2017, dan tidak pernah sekalipun melakukan bughat/makar terhadap Pancasila dan NKRI

Inilah Nahdlatul Ulama

Meski dibully, difitnah dan dicaci tetap berdiri membela NKRI

Saudaraku sekalian…

Marilah melayani Nahdlatul Ulama seikhlas NU melayani NKRI

شكرا ودمتم في الخير والبركة والنجاح والله الموفق إلى أقوم الطریق والسلام علیكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, 31 Januari 2017

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA

Silakan disebarkan pidato mengagumkan ini. Meski KH Said Aqil dibully, difitnah dan dicaci, ia tetap berdiri membela NKRI. "Marilah melayani Nahdlatul Ulama seikhlas NU melayani NKRI," kata Kiai Said. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/pidato-kebudayaan-kh-said-aqil-siraj-di-harlah-nu-ke-91-2017.html

Jumat, 28 Desember 2012

Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya

Santriwati Pintar - Sebuah pemandangan penuh adab ini ada dalam video Santriwati Pintar yang didapatkan dari seorang kolega. Dalam video tersebut, seorang umaro' (pejabat) yang justru tawadlu' kepada ulama (ahli ilmu pewaris Nabi), bukan sebaliknya.

Adalah Ramzan Kadyrov, presiden Chechnya yang ketika datang dalam majelis ilmu Habib Ali Al Jufri langsung bersalaman dan tidak meminta Habib (ulama') untuk berdiri, hanya ingin menghormati kehadiran dirinya atas nama umaro'. Subhanallah. Tonton video kedua tokoh Aswaja ini.

Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya - Santriwati Pintar
Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya - Santriwati Pintar


Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya

Setelah itu, sang presiden langsung mundur, dan merapat ke barisan jama'ah pengajian yang lain. Lesehan. Masyaallah. Inilah harusnya sikap umaro' kepada ulama. Harusnya pula, ulama tidak perlu mendatangi umaro' hanya untuk mengurus dirinya. Ulama' lah yang harus disowani (ditamu) oleh penguasa.

Santriwati Pintar

Jika Habib Ali Al Jufri adalah ulama' yang takut umaro' karena alasan kuasa, dunia atau pengaruhnya, tentu ia yang akan lebih dulu menyambut Presiden Ramzan Kadyrov. Tapi ternyata tidak. Ini tanda tak terbantah kalau Habib Ali Al Jufri adalah ulamaul khoir dan ulama akhirat, bukan ulama dunia, apalagi ulama politik.

Beliau adalah contoh ulama akhirat, bukan ulama penjilat yang bisa dibungkam dengan uang dan jabatan serta mencari muka di hadapan pejabat dengan menjual agama dengan dunia yang hina ini.

Pemandangan tersebut hanya bisa kita temui dalam literatur kitab-kitab salaf berbasis ahlus sunnah wal jamaah yang menceritakan bagaimana seorang pemimpin negara yang tawadhu' mau mendatangi ulama.

Kita tidak terlalu mengaharap hadirnya pemimpin yang selalu disebut-sebut seperti Sayyidina Umar bin Abdul Aziz. Itu hampir ibarat mimpi dan tamnni. Paling tidak, kita mengharapkan tumbuhnya pemimpin yang menghargai dan menghormati ulama, dan juga mengharapkan hadirnya ulama yang tidak mudah dibeli umaro' su'. [Santriwati Pintar/ab]

Santriwati Pintar

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/inilah-akhlaq-presiden-yang-mendatangi-ulama-bukan-sebaliknya.html

Sabtu, 11 Februari 2012

Lomba Penulisan Opini PMII Unila Diperpanjang

Bandar Lampung, Santriwati Pintar. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung saat ini tengah menggelar lomba penulisan opini dalam rangka peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Rencananya, lomba tersebut dimulai dari tanggal 30 April 2016 dan berakhir pada 7 Juni 2016.

Seiring berjalannya waktu, peminat lomba ini mencapai ratusan peserta sampai pada tanggal 31 Mei 2016, yang juga merupakan tanggal terakhir pengumpulan berkas dan pendaftaran.

Lomba Penulisan Opini PMII Unila Diperpanjang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Penulisan Opini PMII Unila Diperpanjang (Sumber Gambar : Nu Online)


Lomba Penulisan Opini PMII Unila Diperpanjang

(Baca: Sambut Harlah Pancasila, PMII Unila Gelar Lomba Penulisan Opini)

Santriwati Pintar

Namun, karena banyaknya permintaan dari peserta untuk memberikan tenggang waktu pendaftaran dan pengumpulan berkas, panitia pelaksana lomba penulisan opini memberikan toleransi massa pendaftaran dan pengumpulan berkas selama 5 hari, yaitu dari tanggal 1 Juni 2016 sampai 5 Juni 2016.

Santriwati Pintar

Batas akhir lomba penulisan opini pun kini berubah, yaitu dari tanggal 15 Juni 2016 perpanjangan pendaftaran dan pengumpulan berkas, tanggal 6 10 Juni 2016 tahap penjurian, dan tanggal 11 Juni 2016 pengumuman pemenang lomba penulisan opini.

Perpanjangan ini dilakukan karena banyaknya permintaan dari peserta lomba, ujar Bandung Setiawan selaku ketua pelaksana. (Red: Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68705/lomba-penulisan-opini-pmii-unila-diperpanjang

Santriwati Pintar

Rabu, 04 Januari 2012

Mbah Moen: Mereka Mengaku Membela Islam, Tapi Kolaborasi dengan Teroris

Santriwati Pintar - Beberapa hari lalu, saya mendapat screenshoot berisi pesan KH. Maimoen Zubair, kiai kharismatik dari Sarangm Rembang, Jateng. Pesan tertulis itu dibacakan pada acara peringatan Maulid Nabi oleh Pengurus Pusat GP Anshor di hadapan Presiden Jokowi. Isinya ya tentang pandangan beliau terhadap kegaduhan yg terjadi akhir2 ini.

Setelah membaca pesan yang ditulis dalam bahasa Arab itu, saya mendapat beberapa kesan. Pertama, Mbah Moen itu ulama nasionalis, cinta bangsa dan negaranya. Beliau berharap agar bangsanya terus maju (irtiqa) dan jauh dari perpecahan.

Kedua, Mbah Moen adalah ulama yang alim, arif, dan senantiasa menghendaki yang terbaik untuk umat. Pesan beliau tulis dalam bahasa Arab, tidak ditulis menggunakan bahasa Indonesia, kemungkinan agar tidak gampang dipahami oleh orang awam, yang latah dan gampang percaya pada berita hoax, lalu memviralkannya sedemikian rupa. Hanya orang-orang tertentu saja yang paham.

Mbah Moen: Mereka Mengaku Membela Islam, Tapi Kolaborasi dengan Teroris - Santriwati Pintar
Mbah Moen: Mereka Mengaku Membela Islam, Tapi Kolaborasi dengan Teroris - Santriwati Pintar


Mbah Moen: Mereka Mengaku Membela Islam, Tapi Kolaborasi dengan Teroris

Beliau menjelaskan tentang perkara-prinsipil dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara sesuai dengan tujuan Islam. Hanya orang yang pernah belajar ilmu ushul fikih secara mendalam saja yang dapat mengerti falsafah syariah Islam ini.

Santriwati Pintar

Ketiga, beliau mengkontekstualisasikan falsafah syariah Islam (maqasid syariah) ke dalam kehidupan bernegara kita. Ini menunjukkan sifat kenegarawanan beliau. Beliau bukan saja kiai, tapi juga negarawan (statesman), seorang pemikir tradisional yang progresif.

Keempat, beliau mewanti-wanti agar waspada terhadap gerakan yang mengajak kepada pendirian negara khilafah dengan berupaya menciptakan kekacauan dan teror. Beliau menyebut mereka sebagai orang-orang yang tidak mengerti ideologi perjuangan para sahabat (ma'rifat tamassuk ma alaih al-awwalun minal muhajirin wal anshar wa man ittaba'uhum). Berikut ini beberapa point yang bisa dirangkum dr tulisan beliau

Santriwati Pintar

Menurut beliau, umat manusia selalu dipenuhi dinamika perubahan. Beliau percaya bahwa kehidupan selalu menuju arah yang lebih maju dan berperadaban. Ini ditunjukkan oleh perang dunia kedua, tragedi kemanusiaan global, yang berbuah kemerdekaan bangsa Indonesia yang tentunya patut disyukuri.

Bangsa Indonesia lalu membentuk negara yang tidak melupakan Tuhan (hablum minallah), seraya mengakui keragaman realitas sosial (hablum minan nas). Mempraktikkan prinsip hablum minallah tidak dapat dilepaskan dari praktik hablum minan nas. Bahkan menjadi ketentuan yang tak terpisahkan.

Salah satu bentuk implementasi hablum minan nas adalah mewujudkan keadilan. Mbah Moen menghubungkan keadilan dengan maqasid syariah atau lima unsur penting dalam kehidupan yang menjadi pertimbangan dalam semua (perumusan) hukum syariah, yaitu (1) keselamatan jiwa, (2) penghargaan terhadap akal pikiran, (3) penghargaan terhadap kehendak manusia untuk diakui dan bersosialisasi, (4) kebutuhan materil, dan (5) meneruskan keturunan.

Mbah Moen memuji Allah karena menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa pertama yang berhasil memerdekakan diri dari penjajahan. Dan mendirikan negara di atas mabadi' khamsah dalam kehidupan bernegara.

Mabadi khamsah berarti lima prinsip atau lebih dikenal dengan Pancasila, yakni ketuhanan (al-uluhiyyah), kemanusiaan (al-insaniyyah), persatuan bangsa Indonesia (wahdah sha'b indunisi), demokrasi kebangsaan (al dimuqrathiyyah al-sha'biyyah), keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia (al-adalah al-ijtima'iyyah lil ummah al-indunsiah bi asriha).

Mbah Moen juga bersyukur kepada Allah karena bangsa Indonesia masih diberi konsistensi menegakkan prinsip-prinsip kebangsaan di atas, sampai hari ini. Namun beliau menyampaikan keprihatinan melihat kondisi sosial belakangan. Beliau menyebut kondisi saat ini sebagai al-huznus syadid (keprihatinan yang mendalam), yaitu munculnya perbedaan pendapat sesama anak bangsa.

Beliau menyesalkan ada sebagian orang yang sedang berupaya menciptakan kegaduhan (thawa'if tubashir bi ihdath al-fitan). Mereka adalah orang-orang yang mengaku membela Islam dan umat Islam. Lebih disesalkan lagi karena mereka berkolaborasi dengan kaum teroris-ekstrimis (al-irhabiyyun al-mutatharrif). Beliau mengakhiri keprihatinannya dgn membaca istirja', inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Dalam pengamatan Mbah Moen, ternyata mereka punya agenda yang lebih luas, yaitu mendirikan khilafah islamiyyah, padahal mereka adalah orang-orang yang tdk mengenal apa yang menjadi pegangan generasi muslim pertama, kaum muhajirin dan anshor.

Mbah Moen mengakhiri pesannya dengan memuji Allah Swt yang telah menunjukkan kebenaran, bahwa yang benar adalah yang sesuai dengan tuntunan bapak para nabi, Nabi Ibrahim as., seperti disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw:

على العاقل ان يكون عارفا بزمانه مستقبلا في شأنه عارفا بربه

Artinya: orang pintar harus paham kondisi zaman. Melakukan yang terbaik untuknya, seraya mengingat Tuhan. (Al-Hadits)

Lalu, Mbah Moen menutup pesannya dengan mendokan bangsa Indonesia. Semoga beliau senantiasa dijaga Allah, dipanjangkan umurnya, dan memberi kita suluh untuk mnjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. [Santriwati Pintar] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/mbah-moen-mereka-mengaku-membela-islam-tapi-kolaborasi-dengan-teroris.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock