Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia

Santriwati Pintar - Judul diatas tentu terkesan aneh, masak orang berqurban kok bisa dholim. Begini, dulu sekitar 40 tahun yang lalu, sebelum marak bermunculannya panitia-panitia Qurban, ketika itu siapa pun yang berqurban maka dia harus mengurus sendiri qurbannya, mulai dari beli hewan, merawatnya sebelum penyembelihan, proses penyembelihan yang melelahkan, sampai membagikannya kepada yang berhak menerima.

Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia
Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia


Sungguh ketika itu Qurban merupakan rangkaian ibadah yang membutuhkan kerja keras yang sangat melelahkan, dan disitulah makna Qurban itu begitu terasa, sehingga kata Qurban ْقُرْبَان yang aslinya bermakna dekat/mendekat dalam bahasa arabnya, tapi dalam bahasa kita berubah pengertian menjadi upaya berat atau kerja keras yang sulit dan melelahkan. Kemudian muncullah kalimat-kalimat seperti; 'sukses butuh pengorbanan' atau 'kita harus berkurban demi orang banyak'.

Atau ketika itu jika orang yang berqurban tidak sanggup, maka Qurban diserahkan kepada seorang kiai atau guru ngaji yang punya santri, tentunya disertai pemberian uang sebagai rasa terimakasih. Atau cara yang lain adalah orang yang berqurban itu menyuruh beberapa orang untuk mengurusi qurbannya hingga selesai dibagikan, seraya membayar tenaga mereka dengan uang.

Lalu sekarang ini, bermunculannya panitia-panitia Qurban itu sebenarnya adalah hal baru yang tidak wajib ada, tetapi itu sangat baik dan membantu sekali terhadap kita yang hendak berqurban, disamping menjadi syiar agama.

Maka pantaskah kiranya, jika kita yang beribadah Qurban, kita yang mengharap pahala Qurban, nama kita yang disebut saat penyembelihan Qurban, lalu ada orang lain yang tidak ikut Qurban, tetapi mereka dengan suka rela ikhlas membantu ibadah kita, dari awal hingga akhir, yang itu sungguh sangat melelahkan.

Selanjutnya kita hanya menyerahkan hewan Qurban saja kepada mereka, tanpa uang ongkos, tanpa uang lelah atau tanpa uang terimakasih. Bahkan semua biaya konsumsi, akomodasi dan distribusi, kita biarkan saja mereka yang menanggungnya, mereka yang memikulnya.

Tidak jarang mereka itu urunan (patungan), padahal bisa jadi mereka itu perekonomiannya di bawah kita sebagai orang yang berqurban. Terbayang kah dalam benak kita, ada orang kaya yang berqurban tapi ibadahnya itu dibiayai oleh orang miskin? Astaghfirullohal adhim.

Maka jangan salahkan, jika mereka terpikir menjual kulit, kepala dan kaki hewan Qurban kita, meski itu dilarang Rasulullah. Dalam hadits yang lain, beliau menyatakan lebih tegas lagi, bahwa yang menjual kulit Qurban berarti tidak dianggap Qurban.

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلَا أُضْحِيَةَ لَهُ

Artinya: "Barang siapa menjual kulit hewan qurbannya maka tidak ada qurban baginya"

Karena itulah, solusi atas semua ini: 1). Cukupilah kebutuhan mereka panitia-panitia Qurban itu yang telah membantu ibadah kita. 2). Tanyakan juga kepada mereka berapa kira-kira biaya yang mereka keluarkan untuk mengurusi Qurban kita.

3). Berikan tambahan uang sebagai hadiah terimakasih kita kepada mereka, meskipun mereka tidak meminta dan mengharapkannya. 4). Setelah tercukupi maka Panitia jangan lagi terpikir menjual kulit, kepala dan kaki hewan Qurban, sebab itu bukan hak mereka. Mereka hanya menjadi wakil dalam menyembelih dan menyalurkan Qurban, sebagaimana yang tertera dalam spanduk-spanduk itu. Bukan wakil menjual, karena pemilik Qurban saja dilarang menjualnya. Bagaimana mungkin sah, seseorang mewakilkan sesuatu yang dirinya sendiri saja tidak sah melaksanakannya.

5). Berikan saja kulit dan lain-lain yang biasa dijual itu kepada panti asuhan atau orang fakir miskin. Biarkan saja mereka yang menjualnya. Atau jika mereka itu minta tolong mewakilkan kepada panitia untuk menjualkannya, maka itu baru boleh dan sah. Sebab dari tiga kelompok yang bisa menerima Qurban yakni yang berqurban (sunnah untuk mengambil keberkahan), orang kaya (boleh sebagai hadiah) dan fakir miskin (wajib mendapatkannya).

Maka mereka yang fakir miskin (termasuk anak yatim) itulah yang sah menjual dari Qurban yang mereka terima, karena apa yang mereka terima itu otomatis menjadi hak milik mereka, mau dimakan, diberikan kepada orang lain atau dijual, semuanya adalah sah. Menjadi sah pula mereka itu mewakilkannya.

Sedangkan pemilik Qurban dan orang kaya itu, mereka itu bukan memilikinya, karena sudah diqurbankan jika ia yang punya hewan, atau karena mereka itu termasuk kaya yang hanya boleh memanfaatkannya saja, yaitu dengan memakannya atau memberikan lagi kepada yang lain. Mereka berdua tidaklah berhak menjualnya, karena apa yang mereka terima itu tidak menjadi milik bagi mereka berdua.

6). Adapun hielah/rekayasa hukum, dengan cara kulit - kepala dan kaki itu diberikan kepada salah satu panitia yang fakir atau yang miskin, lalu ia menjualnya, kemudian uangnya diberikan kepada kepanitiaan guna menutupi kekurangan biaya. Meskipun cara ini adalah sah secara fiqih, tapi tetap saja itu tidak mengurangi kedhaliman kita kepada mereka yang telah membantu kita.

25 Agustus 2016, Sidoarjo, Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/silakan-yang-tertib-ketika-berqurban-jangan-dhalim-kepada-panitia.html

Kamis, 09 Februari 2017

Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)

Santriwati Pintar - "Al-Masajid" adalah bab yang kami baca dari kitab Bulughul Maraam di Masjid Al-Akbar Surabaya. Satu persatu hadis saya jelaskan, termasuk hadis Sayidina Hassan bin Tsabit yang melantunkan syair di masjid pada masa Sayidina Umar. Saya juga menjelaskan kegemaran Nabi membaca syair, dan Nabi juga berkenan membalas syair dari para Sahabat (HR Bukhari dan Muslim)

Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)
Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)


Kemudian ada jamaah yang sangat rajin dan aktif mengikuti kajian, beliau bertanya, "ada banyak kitab syair memuat pujian kepada Rasulullah, seperti Diba' dan Barzanji, yang isinya memuji Nabi berlebihan (ghuluw). Apa benar demikian?" Tanya bapak yang rambutnya banyak memancar kilau perak ini.

Saya mencoba menjawab dengan sebuah hadits tentang Sahabat yang berlebihan memuji Nabi dan beliau menegurnya:

ﻗﺎﻟﺖ اﻟﺮﺑﻴﻊ ﺑﻨﺖ ﻣﻌﻮﺫ، : ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻏﺪاﺓ ﺑﻨﻲ ﻋﻠﻲ، ﻓﺠﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﻓﺮاﺷﻲ ﻛﻤﺠﻠﺴﻚ ﻣﻨﻲ، ﻭﺟﻮﻳﺮﻳﺎﺕ ﻳﻀﺮﺑﻦ ﺑﺎﻟﺪﻑ، ﻳﻨﺪﺑﻦ ﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﻣﻦ ﺁﺑﺎﺋﻬﻦ ﻳﻮﻡ ﺑﺪﺭ، ﺣﺘﻰ ﻗﺎﻟﺖ ﺟﺎﺭﻳﺔ: ﻭﻓﻴﻨﺎ ﻧﺒﻲ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻓﻲ ﻏﺪ. ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﺗﻘﻮﻟﻲ ﻫﻜﺬا ﻭﻗﻮﻟﻲ ﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺗﻘﻮﻟﻴﻦ»

Artinya: Rabi' binti Muawwidz berkata: "Nabi datang saat pernikahanku di pagi hari, beliau duduk di tempatku seperti dudukmu di dekatku. Wanita-wanita kecil menabuh terbang, mereka memuji bapak-bapak mereka yang gugur saat perang Badar. Sampai ada wanita yang berkata: "Ada Nabi di antara kita yang mengetahui apa yang terjadi esok". Nabi bersabda: "Jangan kamu katakan seperti itu. Katakanlah seperti engkau ucapkan" (HR Al-Bukhari)

Dalam hadits yang seakan melarang memuji Nabi ini, Nabi tidak berkenan jika dipuji mengetahui hal ghaib yang belum terjadi. Meski terkadang Nabi diberi tahu melalui wahyu apa yang akan terjadi, seperti hadist tentang kemunculan seorang Tabi'in terbaik bernama Uwais Al-Qarni (HR Muslim)

Ketika kita memuji dengan kata-kata pujian kepada Rasulullah, tidak sampai menjadikan beliau sebagai Tuhan. Pujian kita kepada Nabi masih dalam koridor pujian Allah kepada Rasulullah yang terdapat dalam ayat berikut yang artinya:

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, ia amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (At-Tawbah: 128)

Bahkan seorang Sahabat Amr bin 'Ash yang tak sanggup mengurai sifat Nabi dalam barisan kata-kata:

ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﺪ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻲ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻻ ﺃﺟﻞ ﻓﻲ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ، ﻭﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺃﻃﻴﻖ ﺃﻥ ﺃﻣﻸ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ ﺇﺟﻼﻻ ﻟﻪ، ﻭﻟﻮ ﺳﺌﻠﺖ ﺃﻥ ﺃﺻﻔﻪ ﻣﺎ ﺃﻃﻘﺖ؛ ﻷﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﺃﻣﻸ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ

Artinya: "Tak ada seorang pun yang aku cintai dibanding Rasulullah dan tidak ada yang lebih agung di mataku. Aku tak mampu memenuhi mataku dari beliau, karena keagungannya. Jika aku ditanya tentang sifat beliau, maka aku tak berdaya. Sebab aku tak mampu memenuhi pandanganku dari beliau" (HR Muslim)

Hampir semua kitab-kitab sejarah, kepribadian dan apapun yang menyangkut Baginda Rasulullah, adalah pujian yang tak pernah keluar dari aturan yang dilarang dalam agama kita. [Santriwati Pintar]

Ma'ruf Khozin, pemateri kitab Buluughul Maraam di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/menuduh-memuji-nabi-berlebihan-itu-justru-ghuluw.html

Rabu, 08 Februari 2017

Catat, 26 Tahun Lagi, NU Akan Menjadi Ormas Penyangga Perdamaian Dunia

Santriwati Pintar - Nahdlatul Ulama (NU) itu organisasi paling aneh. Ketika seorang peneliti dari Australia mencari data arsip tentang jangka waktu organisasi di AD/ART paling awal, dia menemukan teks bahwa organisasi ini (NU), didirikan pada tahun 1926 hingga 29 tahun berikutnya.

Catat, 26 Tahun Lagi, NU Akan Menjadi Ormas Penyangga Perdamaian Dunia
Catat, 26 Tahun Lagi, NU Akan Menjadi Ormas Penyangga Perdamaian Dunia


Tentu ia marasa aneh. Sebab pada umumnya, tidak ada satupun organisasi yang membatasi waktu berdirinya hingga dibatasi kapan waktu ditutup. Contoh: jika sebuah organisasi didirikan pada tahun 1980, tidak ada aturan yang menyebut kapan organisasi tersebut dibubarkan. Biasanya, hanya ditulis "hingga waktu yang tak terbatas."

Hanya NU saja yang menurut peneliti tersebut membatasi waktu hidupnya. Peneliti itu pun kemudian menanyakan hal ini kepada Gus Dur, "ini apa maknanya?". Gus Dur pun kaget dan menjawab sekenanya, "mana saya tahu maksudnya, yang merumuskan sudah wafat semua," katanya.

Baca juga: NU Itu Lucu, Sudah Tua Tapi Masih Terlihat Belia

Kemudian Gus Dur mengamati sendiri dari prespektif sejarah NU. Tenyata setiap 29 tahun, NU selalu mengalami perubahan. Pada 1926, NU bergerak sebagai organisasi sosial keagamaan. Lalu, 29 tahun berikutnya, yakni 1955, ia menjadi partai politik dan menjadi organisasi yang berafiliasi dengan partai saat itu. Sempat menang sebagai partai politik agama.

Diamati lagi, 29 tahun berikutnya, yakni pada 1984, NU berubah lagi menjadi organisasi sosial keagamaan, dengan jargon kembali ke khittah 1926, yang mengonsentrasikan diri kembali kepada dakwah dan pendidikan.

Setelah 29 tahun pasca khittah, pada 2013 lalu, NU dan kader-kadernya menjadi basis gerakan besar civil society (penggerak kekuatan sipil) dimana sebelum itu, Gus Dur selalu memerintahkan NU agar lebih banyak membicarakan lokalitas. Dan hasilnya, kita bisa melihat, NU kini mampu menginspirasi gerak peradaban dunia berbasis lokalitas dan kultur, dengan jargon "Islam Nusantara".

NU sebagai gerakan civil society merupakan persiapan Gus Dur dalam rangka menghadapi perubahan 29 tahun berikutnya (pada 2042) dengan tantangan yang tentu lebih kompleks dari sekarang. Kala itu, NU diprediksi sebagai organisasi massa besar yang akan menjadi penyangga perdamaian dunia. Insyaallah.

Dari peristiwa ini, dapat kita sebut bahwa para pendiri NU dan sekaligus pendiri bangsa dan negara ini, bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah kiai-kiai yang memiliki nur ma'rifat billah. Mereka sudah mengetahui bahwa setiap 29 tahun sekali, NU akan mengalami perubahan sesuai tuntutan zaman.

Oleh karena itulah, NU tidak bisa dihanguskan dari bumi ini oleh kekuatan rezim manapun. Lambangnya saja menggunakan simbol jagad. Hanya NU yang menggunakan jagad lalu diikat kendor. Lihat makna lambang NU pada foto di atas. Kini, sudah ada 194 Cabang NU yang berdiri di negara-negara dunia. Siap menjadi penyangga perdamaian dunia, bukan hanya Indonesia.

Jika para kiai memutuskan hidup bernegara di NKRI ini cukup dengan Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan Pancasila, dengan pilihan paling final, sekali lagi, itu bukan sembarang keputusan, yang diambil berdasarkan nafsu, tapi benar-benar atas dasar ma'rifat billlah.

Bagaimana dengan ramalan pendiri gerakan khilafah yang katanya sekian tahun akan terwujud? Tidak ada kan? . Anda bisa menilai sendiri darimana gagasan itu muncul. Dari makrifat billah atau dari makrifat syaithoniyyah. Wallahu a'lam. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/catat-26-tahun-lagi-nu-akan-menjadi-ormas-penyangga-perdamaian-dunia.html

Sabtu, 09 Agustus 2014

Menpora: Kalau Atlet dari Pesantren, Pasti Lebih Berprestasi

Jember, Santriwati Pintar. Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi menegaskan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang komplet. Di dalamnya tidak hanya diajarkan ilmu umum dan agama, tapi juga ada sistem pembentukan karakter yang kuat.

Imam Nahrawi menegaskan hal itu di aula Pondok Pesantern Nurul Islam (Nuris) Antirogo, Jember, akhir pekan lalu (15/3). Menurutnya, pesantren memiliki sistem tersendiri untuk mengajarkan budi pekerti, sehingga akhlak santri sangat menonjol. Makanya, saya yakin kalau atlet itu berasal dari pesantren, pasti akan lebih berprestasi karena dia sehat jasmani dan rohani, ucapnya di hadapan ratusan santri.

Menpora: Kalau Atlet dari Pesantren, Pasti Lebih Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Kalau Atlet dari Pesantren, Pasti Lebih Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Menpora: Kalau Atlet dari Pesantren, Pasti Lebih Berprestasi

Lelaki asal Madura tersebut menambahkan, lulusan pesantren tidak perlu berkecil hati untuk bersaing di dunai usaha ataupun berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Sebab, santri sudah mempunyai bekal kemandirian yang cukup, ilmu yang cukup lengkap, dan tentu saja kepasrahan (tawakkal) yang dalam.

Santriwati Pintar

Kalau misalnya, banyak pejabat yang berasal dari pesantren, insyaallah Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur. Saya sendiri juga pernah jadi santri. Dan saya merasa, saya bisa jadi menteri karena salah satuya berkat dukungan Kiai Muhyiddin (pengasuh Pesantren Nuris), urainya.

Santriwati Pintar

Dalam kesempatan itu, kedatangan Imam Nahrawi di Nuris disambut oleh para kiai dan pengurus NU serta sejumlah poltisi dari NU. Ia yang sudah beberapa kali mengunjungi Pesantren Nuris itu, juga berkenan melaksanakan shalat magrib berjamaah masjid Nuris. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58224/menpora-kalau-atlet-dari-pesantren-pasti-lebih-berprestasi

Santriwati Pintar

Minggu, 05 Januari 2014

Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir

Jakarta, Santriwati Pintar. Mahasiswa NU yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PTNU Nusantara Kota Tangerang menggalang dana untuk membantu korban banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Kegiatan yang dilakukan pada Senin, (9/2) ini menerjunkan para mahasiswa di jalan-jalan untuk menampung dana dari para pengguna jalan untuk disalurkan kepada korban banjir di kawasan Kapuk Muara, Jakarta Utara, salah satu kawasan terparah banjir Jakarta.

Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)


Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir

Alhamdulilah kami bisa memberikan bantuan kepada warga yang terkena musibah banjir setelah seharian kami melakukan penggalangan dana di jalanan di tengah guyuran hujan, ujar Idrus Steven Maulana Yusuf, Presiden BEM PTNU Nusantara melalui rilis yang diterima Santriwati Pintar.

Santriwati Pintar

Dia mengatakan, bantuan dana ini berupa uang tunai,beras dan pakaian yang disumbangkan dari para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa PTNU Nusantara yang disalurkan melalui Posko Peduli Banjir di kawasan Jakarta Utara tersebut.

Idrus berpendapat, musibah bisa menimpa kepada siapa saja, tidak terkecuali warga Kapuk, karena itu setiap manusia memiliki kewajiban untuk saling menolong.

Santriwati Pintar

Siska Uliyana, Sekjen BEM PTNU menambahkan, bencana banjir yang menimpa warga Ibu Kota kali ini tentu menyisakan penderitaan dan kesedihan yang mendalam.

Akibat banjir itu, tambahnya, warga kehilangan harta benda mereka, karena itu sudah sepantasnya Mahasiswa PTNU Nusantara turun ke masyarakat untuk membantu warga yang sedang membutuhkan bantuan.

Sebab, bantuan ini sangat dibutuhkan oleh mereka dari aksi sosial kita bersama, paparnya.

Anggota BEM PTNU lainnya, Maya Afandi mengatakan, bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap warga yang tertimpa musibah. Semoga aksi ini dapat menumbuhkan kepedulian kita bersama dari seluruh lapisan masyarakat, harapnya. (Red: Fathoni)

Foto: Kondisi banjir di daerah Kapuk, Jakarta Utara (@BPBDJakarta).

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57526/mahasiswa-nu-galang-dana-bantu-korban-banjir

Rabu, 11 Desember 2013

Amalan Malam Hari Raya Ied Wasiat KH Abdul Karim Lirboyo

Santriwati Pintar - Berikut ini amalan pada malam Hari Raya (Idul Adlha dan Idul Fitri), seperti disebut dalam kitab Kanzun Najah Was Surur, karya Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, dan riwayat dawuh Syaikh Abdul Karim Lirboyo (Mbah Manab) oleh Syaikhina KH.Maimoen Zubair.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب” رواه الطبراني في الكبير والأوسط.

Amalan Malam Hari Raya Ied Wasiat KH Abdul Karim Lirboyo - Santriwati Pintar
Amalan Malam Hari Raya Ied Wasiat KH Abdul Karim Lirboyo - Santriwati Pintar


Amalan Malam Hari Raya Ied Wasiat KH Abdul Karim Lirboyo

Dari Ubadah Ibn Shomit r.a. Sungguh Rosulullah SAW bersabda: Barangsiapa menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adlha, hatinya tidak akan mati, di hari matinya hati. HR.Thobaroni

عن أبي أمامه رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “من قام ليلتي العيدين محتسباً لم يمت قلبه يوم تموت القلوب”. وفي رواية “من أحيا” رواه ابن ماجه

Santriwati Pintar

Dari Abi Umamah r.a, dari Nabi SAW, bersabda: Barangsiapa menegakkan dua malam Hari Raya dengan hanya mengharap Allah, maka hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati. HR. Ibnu Majah.

Santriwati Pintar

Bagaimana cara menghidupkan/ menegakkan dua hari raya itu? Telah disebutkan oleh Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, dengan mengamalkan beberapa amalan:

1. Syaikh Al Hafni berkata: Ukuran minimal menghidupkan malam bisa dengan Sholat Isya’ berjama’ah dan meniatkan diri untuk jama’ah Sholat Shubuh pada besoknya. Atau memperbanyak sholat sunnah dan bacaan-bacaan dzikir.

2. Syaikh Al Wanna’i dalam risalahnya: Barangsiapa membaca istighfar seratus kali (100×) setelah Sholat Shubuh di pagi Hari Raya, maka akan dihapus dosa-dosanya di dalam buku catatannya, dan pada hari kiamat akan aman dari siksa.

3. Masih dari Syaikh Al Wanna’i: Barangsiapa membaca ,

سبحان الله وبحمده

Subhaanallah wa bihamdihi 100× pada hari raya, dan menghadiahkan pahalanya untuk ahli kubur, maka para ahli kubur berkata,”Wahai Dzat Yang Maha Penyayang, rahmatilah ia, dan jadikanlah ia ahli surga”.

4. Syaikh Al Fasyni berkata dalam Tuhfatul Ikhwan: Dari Sahabat Annas, dari Nabi SAW, dawuh (yang artinya): Hiasilah dua hari raya dengan tahlil, taqdis, tahmid dan takbir”. Nabi juga dawuh: Barangsiapa yang membaca:

سبحان الله وبحمده

Subhaanallah wabihamdihi 300× dan ia menghadiahkan untuk muslimin yang sudah wafat, maka seribu cahaya akan masuk di setiap kuburan, dan Allah akan memasukkan seribu cahaya ke kuburnya jika ia meninggal.

5. Syaikh Az Zuhri berkata: Sahabat Anas r.a. berkata, Nabi SAW dawuh (yang artinya): Barangsiapa di dua hari raya mengucapkan:

لا اله الا الله وحده لا شريك له، له الملك و له الحمد يحي و يميت و هو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيئ قدير

sebanyak 400× sebelum Sholat ‘Ied, maka Allah SWT akan menikahkannya dengan 400 bidadari, seakan memerdekakan 400 budak, dan Allah SWT mewakilkan para malaikat untuk membangun kota-kota dan menanam pohon-pohon untuknya di hari kiamat.

Beliau Syaikh Az Zuhri berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Sahabat Anas r.a. Dan Anas r.a. dahulu juga berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Nabi SAW.”

Diriwayatkan dari Syaikhina Wa Murobbi Ruuhina KH.Maimoen Zubair, dari Syaikh Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, beliau berkata:

“Sak makendut-makendute santri ojo nganti ora ngurip-urip malem rioyo loro, kanthi sholat ba’diyah Isya’ rong rakaat ditambah sholat witir sak rakaat”.

Artinya: “Senakal-nakalnya santri jangan sampai tidak menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fithri dan Idul Adlha) dengan melaksanakan sholat sunah minimal dua rokaat setelah Isya’ dan satu rokaat witir” [Santriwati Pintar]

Yang mengamalkan, silakan tulis "Qobiltu" atau "Saya terima" di kotak komentar Facebook atau Bloger di bawah ini. Agar lebih banyak yang mengamalkan, silakan share post ini ke teman-teman lain. Supaya takbiran tidak hanya di isi dengan takbir keliling yang kadang melupakan esensi dzikir kepada Allah.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/amalan-malam-hari-raya-ied-wasiat-kh-abdul-karim-lirboyo.html

Minggu, 01 Desember 2013

Lahirkan Upaya Kongkrit Dorong Perdamaian

Perdamaian yang dicita-citakan oleh umat manusia selalu mendapat hambatan dari para ekstrimis dan mereka yang menginginkan tidak adanya perdamaian, namun demikian, upaya ini tidak boleh lelah harus terus diupayakan.

Nahdlatul Ulama selama ini telah terus menggelorakan kampanye perdamaian dengan berbagai cara, pada tanggal 15-17 Oktober mendatang, bersama dengan Global Peace Festival akan menggelar global peace festival di Jakarta, dengan berbagai ragam acara. Mukafi Niam dari Santriwati Pintar melakukan wawancara dengan H Slamet Effendy Yusuf, yang menjadi ketua panitia acara ini untuk mengetahui lebih lanjut penyelenggaraanya.

Lahirkan Upaya Kongkrit Dorong Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahirkan Upaya Kongkrit Dorong Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)


Lahirkan Upaya Kongkrit Dorong Perdamaian

Dari (Wawancara) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/24938/lahirkan-upaya-kongkrit-dorong-perdamaian

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Jumat, 01 November 2013

Keutamaan Hari Arafah

Ketika Allah s.w.t memerintkah Nabi Ibrahim a.s. untuk menyeru kepada manusia untuk mengerjakan haji, maka beliau bergegas berseru : "Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah membangun rumah (Ka'bah) maka berhajilah ke sana". Semua manusia telah menjawab seruan itu bahkan calon embrio yang masih berada dalam sperma lelaki dan sel telur perempuan.

Keutamaan Hari Arafah
Keutamaan Hari Arafah


Allah s.w.t. berfirman:

{ وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَميِقٍ } [الحج:27]

Artinya : "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan dating kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka akan dating dari segenap penjuru yang jauh". [QS. Al-Hajj : 27]

Pada hari-hari semacam ini (permulaan Dzul Hijjah) jama'ah haji saling bertemu di rumah Allah dengan mengumandangkan Talbiyah untuk memenuhi seruan Nabi Ibrahim a.s. seraya mengharapkan ridho dari Allah s.w.t. dan membentangkan diri untuk mendapatkan curahan rahmat yang Allah turunkan di hari-hari seperti ini yang pada puncaknya adalah pada hari Arafah.

Hari Arafah merupakan hari pembebasan dari Neraka bagi mereka yang menjaga pendengarannya dari hal yang buruk, bagi mereka yang turut berpuasa di hari tersebut dengan mengharapkan keridhoan dari Tuhannya. Hal ini tak lain karena Allah s.w.t. telah menjamin pengampunan dosa bagi mereka yang berpuasa di hari Arafah.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

"من صام يوم عرفة غفر له سنة أمامه وسنة خلفه, ومن صام عاشوراء غفر له سنة". رواه الطبراني في الأوسط

Artinya : "Barang siapa yang berpuasa di hari Arafah, maka dia diampuni (dari dosanya) setahun setelah dan sebelumnya. (Sedangkan) barang siapa yang berpuasa pada hari Asyura', maka ia diampuni (dari dosa) setahun". HR. Thabrani dalam Al-Ausath

Hari Arafah adalah puncak dari harapan para jama'ah haji, sebab pada hari itulah mereka bias memperoleh segala pengharapan. Begituhalnya Tuhan menatap mereka dengan pandangan keridhoan.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ - تعالى - تطوَّل – أي تفضل - عَلَى أَهْلِ عَرَفَاتٍ يُبَاهِي بهم الْمَلاَئِكَةَ يَقُولُ : يَا مَلاَئِكَتِي ، انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي شُعْثًا ، غُبْرًا أَقْبَلُوا يَضْرِبُونَ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ، فأشهدكم أَنِّي قَدْ أَجَبْتُ دَعَاءهُمْ ، وَشَفَعْتُ رَغْبَتَهُمْ ، وَوَهَبْتُ مُسِيئَهُمْ لِمُحْسِنِهِمْ ، وَأَعْطَيْتُ مُحْسِنيهُمْ جَمِيعَ مَا سَأَلُونِي غَيْرَ التَّبِعَاتِ الَّتِي بَيْنَهُمْ ". رواه أبو يعلى

Artinya: "Sesungguhnya Allah s.w.t. memberikan banyak anugerah kepada orang-orang yang wukuf di Arafah seraya membanggakan mereka di hadapan para Malaikat dan berfirman : "Wahai para malaikatku, lihatlah kepada para hambaku yang lusuh penuh dengan debu, mereka menghadap kepadaku dari segala penjuru yang jauh. Maka aku saksikan kepada kalian bahwa aku telah mengabulkan do'a mereka, memberikan harapan mereka, memberikan orang yang berlaku buruk kepada yang berlaku baik pada mereka dan aku telah memberikan kepada orang-orang yang berbuat baik pada mereka segala apa yang mereka minta kepadaku selain hal-hal yang masih bersangkutan di antara mereka". (HR. Abu Ya'la)

Lebih dari itu, Hari Arafah adalah hari paling agung di mana Allah mengampuni dosa-dosa Kaum Mukminin di segala penjuru dunia mana kala mereka membentangkan diri untuk mendapatkan anugerah Allah yang dicurahkan pada hari tersebut dengan do'a yang sungguh-sungguh.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

"إذا كان يوم عرفة لم يبق أحد في قلبه ذرة من إيمان إلا غفر له. فقيل : يا رسول الله المعروف خاصة؟ أي – لمن وقف في عرفة خاصة – أم للناس عامة؟ قال : بل للناس عامة". رواه أبو داود

Artinya : "Jika tiba hari Arafah, tidaklah seseorang masih mempunyai setitik iman dalam hatinya melainkan ia akan diampuni. Lantas ada yang bertanya : Ya Rasulallah, apakah terkhusus bagi yang wukuf di Arafah saja atau untuk semua manusia?, Rasulullah menjawab : Untuk semua manusia". HR. Abu Daud

Pada hari ini (Arafah) adalah hari pembebasan dari Api Neraka dan Allah s.w.t. sangat bermurah hati dan penuh dengan kasih sayang. Diriwayatkan dari Jabir r.a., beliau berkata:

"ما من يوم أفضل عند الله من يوم عرفة ينزل الله تعالى إلى سماء الدنيا فيباهي بأهل الأرض أهل السماء فيقول انظروا إلى عبادي جاؤوني شعثا غبرا ضاجين جاؤوا من كل فج عميق يرجون رحمتي ولم يروا عقابي فلم ير يوما أكثر عتقا من النار من يوم عرفة". رواه البيهقي

"Tidak ada hari yang lebih utama di hadapan Allah melebihi Hari Arafah. (Urusan) Allah s.w.t. turun ke langit dunia, Allah pun membanggakan penduduk bumi kepada penduduk langit seraya berfirman : "Lihatlah kepada hamba-hambaku yang datang kepadaku dengan tubuh lusuh penuh debu menggaduh. Mereka datang dari segala penjuru yang jauh dengan mengharapkan rahmatKu sedangkan mereka tidaklah melihat siksaanku". Maka tidaklah ada hari di mana pembebasan dari Neraka itu melebihi di Hari Arafah". (HR. Baihaqi)

Paling utamanya do'a pada Hari Arafah baik bagi jama'ah haji ataupun yang lainnya adalah :

"لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ"

Rasulullah s.a.w. bersabda :

"خير الدعاء دعاء يوم عرفة, وأفضل ما قلته أنا والنبيون من قبلي : لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ". رواه الإمام مالك

Artinya : "Sebaik-baik do'a adalah do'a pada Hari Arafah. Dan sebaik-baik perkataan yang aku ucapkan begitu juga Para Nabi sebelumku adalah : Laa Ilaaha Illallaahu Wahdahu Laa Syariika Lahu, Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Yuhyii Wa Yumiitu Wa Huwa 'Alaa Kulli Syai'in Qodiir (Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu baginya. Kerajaan dan pujian hanyalah miliknya. Maha menghidupkan dan mewafatkan. Dan Dia berkuasa atas segalanya)". HR. Imam Malik

Adapun do'a yang sering dipanjatkan Nabi s.a.w. pada Hari Arafah adalah :

"اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كَالَّذِيْ نَقُوْلُ, وَخَيْراً مِمَّا نَقُوْلُ, اَللَّهُمَّ لَكَ صَلَاتِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ, وَإِلَيْكَ مَآبِيْ وَلَكَ رَبِّيْ تُرَاثِيْ, اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَوَسْوَسَةِ الصَّدْرِ وَشَتَّاتِ الْأَمْرِ, اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَهِبُّ بِهِ الرِّيْحُ".

Artinya : "Ya Allah segala puji hanyalah milikMu sebagaimana kami ucapkan dan bahkan lebih baik dari pada apa yang kami ucapkan. Ya Allah, hanyalah untukMu Shalat, hidup dan matiku. Hanyalah kepadaMu tempat kembaliku. Hanyalaha milikmu segala peninggalanku. Ya Allah, sungguh aku berlindung padaMu dari siksa kubur, gangguan dalam hati dan terpecahnya segala urusan. Ya Allah, sungguh aku berlindung padaMu dari keburukan yang tertiup bersama angin".

Di antara kedermawanan Allah s.w.t. dengan segala kemurahan dan anugerah yang Dia limpahkan serta pengampunan atas segala dosa kepada para hambanya serta pembebasan mereka dari Api Neraka di segala penjuru dunia pada Hari Arafah itu membuat Setan merasa sakit yang sangat serta merasakan kerugian yang sangat besar (sebab telah lama ia menjerumuskan manusia, malah diampuni dosa mereka). Rasulullah s.a.w. bersabda:

"ما رؤى الشيطان يوما هو فيه أصغر ولا ادحر ولا أحقر ولا أغيظ منه في يوم عرفة وما ذاك الا لما رأى من تنزل الرحمة وتجاوز الله عن الذنوب العظام". رواه الإمام مالك

Artinya : "Tidak ada hari di mana Setan Nampak lebih kerdil, terusir dan marah melebihi di Hari Arafah. Tidaklah hal itu terjadi melainkan karena dia melihat limpahan rahmat dan pengampunan Allah dari dosa-dosa besar". (HR. Imam Malik). [Santriwati Pintar]

Imam Abdullah El-Rashied, mahasiswa Fakultas Syariah, Imam Shafie College, Mukalla, Hadramaut, Yaman.

Catatan:

Artikel ini disarikan dari Khutbah yang disampaikan oleh Dr. Salim Abu Bakar Al-Haddar, Wakil Dekan Fakultas Syariah di Imam Shafie College pada hari Jum'at 7 Dzul Qo'dah 1437 H / 8 September 2016 di Masjid Imam Syafi'I, Mukalla, Hadramaut, Yaman.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/keutamaan-hari-arafah.html

Selasa, 16 April 2013

Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta

Jakarta, Santriwati Pintar. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin turut hadir dan memberikan orasi ilmiah kepada para wisudawan-wisudawati Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta pada prosesi Wisuda Ke-5 di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta Timur, Selasa (27/9).

Dalam orasinya, Kiai Maruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menuturkan bahwa seorang yang lulus dari perguruan tinggi sudah selayaknya berpikir dan bertindak beda dengan orang yang tidak memiliki kesempatan kuliah. Para sarjana diharapkan peran besarnya di tengah masyarakat.

Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta

Kepada para wisudawan dan wisudawati, saya berharap menjadi sarjana yang mampu berpikir akademis, kritis, metodolgis, dan komprehensif, jelas Cicit Syekh Nawawi Al-Bantani ini.

Kiai Maruf berkisah tentang tukang perahu dan seorang Perdana Menteri yang diuji seorang Raja. Raja tersebut meminta tukang perahu untuk naik ke darat dan melihat apa yang ada di darat. Tukang perahu itu melaporkan kepada Raja bahwa di darat ada kucing beranak 5 dengan berbagai macam warna.

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Kemudian sang Raja bertanya kepada tukang perahu, ada berapa kucing dan warnanya apa saja. Untuk menjawab Raja, tukang perahu tersebut naik lagi ke darat berkali-kali. Lalu sang Raja memerintahkan perdana menteri untuk melihat apa yang dilihat tukang perahu. Perdana menteri begitu cakap dan hanya sekali untuk menjawab pertanyaan Raja yang persis sama seperti ditujukan kepada tukang perahu.

Itulah sedikit gambaran tantang perbedaan sarjana dan orang biasa. Seorang sarjana cukup hanya sekali melihat tetapi mampu menjelaskan secara komprehensif atau menyeluruh, terang Kiai Maruf.

Dia juga berharap kepada para lulusan STAINU Jakarta untuk berupaya menjadi tokoh perubahan ke arah yang lebih baik untuk umat dan masyarakat. Karena menurutnya, saat ini masyarakat sangat membutuhkan orang-orang yang mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Masyarakat kita membutuhkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik secara terus-menerus sehingga mewujudkan kemajuan bangsa dan negara, tuturnya.

Hadir dalam wisuda STAINU Jakarta ini antara lain, Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif, Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta H Mastuki HS, Menpora RI H Imam Nahrawi, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi, Ketua BP3TNU H Marzuki Usman, Ketua PP LP Maarif NU H Arifin Junaidi, para Dosen dan Civitas Akademika STAINU Jakarta. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71565/pesan-rais-aam-pbnu-kepada-wisudawan-wisudawati-stainu-jakarta

Santriwati Pintar

Kamis, 18 Oktober 2012

Khataman, Santri TPQ Unjuk Kemampuan

Jakarta, Santriwati Pintar. Empat santri Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) al-Munawwarah yang berada di bawah naungan Yayasan KH Abdul Wahid Hasyim Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, resmi diwisuda, Sabtu (27/4) malam. Tes kemampuan mengiringi prosesi khataman kali ini.

Di panggung yang tersedia, keempatnya secara bergiliran melantunkan ayat-ayat dalam al-Quran dan sejumlah doa. Tepat setelah sembahyang isya, masyarakat yang hadir menyaksikan acara menguji kepandaian anak yang duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama itu.

Khataman, Santri TPQ Unjuk Kemampuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khataman, Santri TPQ Unjuk Kemampuan (Sumber Gambar : Nu Online)


Khataman, Santri TPQ Unjuk Kemampuan

Masyarakat melempar beberapa pertanyaan seputar ilmu tajwid, bacaan gharib dalam al-Quran, bacaan shalat, dan doa harian. Seluruh soal berhasil dijawab para santri dengan fasih, lengkap beserta definisi dan contoh-contohnya.

Santriwati Pintar

Kami sangat berharap al-Quran tidak hanya dibaca. Kemampuan adik-adik kita yang luar biasa ini harus dikembangkan terus, kata salah seorang pengurus yayasan, H Arif Rahman Hamid, di Masjid Jami al-Munawwarah Ciganjur.

Santriwati Pintar

Turut hadir dalam Khatmul Quran II ini sejumlah koordinator metode pembelajaran al-Quran Qiraati di Jakarta dan sekitarnya, tokoh masyarakat setempat, serta segenap wali santri. Sebelum acara dimulai, sore harinya wisudawan dan wisudawati diarak keliling kelurahan Ciganjur bersama alunan rebana dan ratusan santri TPQ.

TPQ al-Munawwarah termasuk pengguna metode Qiraati yang mensyaratkan santri melewati ujian ketat hasil belajar di tingkat koordinator wilayah Qiraati Jabodetabek. Selain dapat membaca al-Quran dengan fasih, santri dituntut mampu menguasai dan menjelaskan materi tajwid dan lainnya. Santri yang lulus akan mendapat sertifikat dan bisa melanjutkan ke jenjang madrasah diniyah.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44074/khataman-santri-tpq-unjuk-kemampuan

Santriwati Pintar

Kamis, 22 Desember 2011

Bongkar 5 Kabar Hoax Seputar Demo 4 November 2016

Santriwati Pintar - Banyak bertebaran berita palsu atau berita hoax yang dibuat oleh orang-orang yang membela demontran. lagi-lagi, umat Islam yang tercoreng akibat ulah sebagian oknum yang tidak tahu bahwa ada kepentingan politik besar dibalik demo 4 November 2016.

Bongkar 5 Kabar Hoax Seputar Demo 4 November 2016
Bongkar 5 Kabar Hoax Seputar Demo 4 November 2016


Kita harus mempertanyakan niat tulus aksi demo kemarin, murni lillahi ta'ala atau karena ada pesanan. Kalau murni membela agama, mengapa harus ada hoax. Tidak tahu atau memang sengaja ingin mendapatkan pengakuan publik agar aksinya disebut benar sepenuhnya. Berikut hoax yang beredar di dunia maya. Fitnah tanpa tedeng aling-aling:

1. Hoax Provokator Orang Nasrani

Hoax keji pertama adalah yang mengatakan oknum provokator warga Nasrani, bahkan sampai mengarang cerita "ditemukan KTP provokator agama Katolik".

Berdasarkan foto, teridentifikasi anggota HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sedang memukul aparat menggunakan kayu / bambu. Sudah dibuat Duta Islam beritanya. Klik Mahasiswa Unas Beratribut HMI Disebut Ratu Adil Terdepan Memicu Kerusuhan. Ini gambar hoax nya dari Jonru.

2. Hoax Provokator Wartawan (dari Azzam Mujahid Izzulhaq)

Akun facebook Azzam Mujahid Izzulhaq sempat menebar hoax wartawan Kompas TV sebagai pelaku provokator yang menyamar dan menyusup.

Namun setelah diklarifikasi Kompas TV, Azzam mengakui salah karena telah menebar hoax, dan meminta maaf kepada Kameramen Muhammad Guntur sebagai berikut:

"Dengan ini saya, Azzam Mujahid Izzulhaq, menyatakan bahwa saudara Muhammad Guntur, adalah benar-benar wartawan Kompas dan BUKAN provokator. Atas ketergesaan dan kekeliruan yg saya lakukan, saya memohon maaf yg sebesar-besarnya."

3. Hoax Penjarah Warga Cina

Hoax keji ketiga adalah foto oknum warga etnis Tionghoa yang disebar disertai klaim sebagai pelaku penjarahan minimarket di Penjaringan.

Setelah ditelusuri ternyata foto tersebut diambil dari berita lama tertanggal 5 Agustus 2016 mengenai warga Tiongkok Ilegal di daerah Kedoya.

Ini berita aslinya, yang dibuat orang tak bertanggungjawab untuk memanasi muslimin yang cinta agamanya karena Al-Qur'an, walau sudah dipolitisasi: Warga China Ilegal di Kedoya Sudah Tipu Sejak 5 Bulan Lalu.

4. Hoax Aparat Mendzalimi

Hoax keji keempat adalah "Aparat Bantai Umat Islam" yang ditulis oleh laman page facebook salah satu motor penggerak aksi 4 Nov.

Kenyataan di lapangan aparat kemanan mengambil posisi defensif (bertahan), tidak agresif, bahkan setelah terjadi tindakan anarkis memukuli aparat menggunakan kayu / bambu.

Aparat menggunakan Gas Air Mata sesuai SOP Protap Demo yang mewajibkan pendemo membubarkan diri pada jam 18:00.

Berdasarkan hukum yang berlaku, aparat boleh menggunakan gas air mata apabila pendemo menolak dibubarkan setelah jam 18:00. Aparat sudah benar.

5. Hoax Aktualisasi Jihad Sebagai Perintah Melawan Ahok

Untuk meyakinkan pembacanya, anak-anak yang tergabung dalam NU Garis Lurus menjungkirbalikkan fakta bahwa Aktualisasi Jihad adalah dengan cara melakukan perlawanan kepada kafir. Ini fitnah keji. Silakan simak beritanya: NUGL Berulah, Rapat Akbar Reolusi Jihad Dihasud Jadi Perintah Makar.

Mohon bantuan ngeshare agar hoax-hoax seputar demo politis 4 November 2016 kemarin tidak digunakan untuk mengobarkan api permusuhan SARA lintas etnis, lintas agama dan lintas politik kepentingan. Karena kita tahu, hoax adalah teror informasi. Terima kasih. [Santriwati Pintar/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/bongkar-kabar-hoax-seputar-demo-4-november-2016.html

Jumat, 18 November 2011

GP Ansor Kaliori Kunjungi para Kiai

Rembang, Santriwati Pintar. Ratusan Pengurus dan anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Kaliori, Rembang, mengadakan pawai silaturrahim di kediaman para tokoh dan pengurus NU yang ada di wilayah Kecamatan Kaliori dan Rembang kota, Ahad (11/8) kemarin, dimulai jam satu siang.

Kegiatan yang di tujukan untuk meminta maaf dan nasehat dari para kiai dan tokoh tersebut, dikoordinir langsung oleh Ketua PAC Ansor Kaliori, Abdul Rosyid.

GP Ansor Kaliori Kunjungi para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kaliori Kunjungi para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)


GP Ansor Kaliori Kunjungi para Kiai

Kegiatan dimulai dari rumah Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Kaliori KH Muhamad Yamin di desa pengkol, kemudian diteruskan ke kediaman Ketua Tanfidziyahnya H Ali Armani yang berada di Sidomulyo dan sembilan tokoh NU lainnya.

Pemuda Ansor agar senantiasa berkumpul dan melestarikan setiap kegiatan Ahlussunah wal Jamaah. Mengingat di zaman sekarang banyak dari kalangan pemuda yang berselisih, tanpa mengingat statusnya bahwa kita sebagai saudara seiman, kata Syuriyah MWCNU KH Muhamad Yamin di hadapan anggota GP Ansor yang hadir.

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Muhamad Yamin juga mengajak kepada para Pemuda NU itu, untuk bejuang menegakkan panji-panji NU khususnya di kecamatan Kaliori dan umumnya di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Ansor Kecamatan Kaliori Abdul Rosyid mengatakan, dirinya sangat merasa senang dengan berbagai nasihat yang diberikan oleh Kiai yang berusia 63 tahun tersebut. Dengan lentera nasihat yang dikeluarkan menambah nilai lebih bagi para anggota dan pengurus Ansor yang hadir guna memperjuangkan NU di Kecamatan Kaliori.

Abdul Rosyid mengajak kepada seluruh anggota ranting yang ada di bawahnya untuk melestarikan silaturrahim ke tempat para tokoh dan sesepuh NU.

Dengan adanya kunjungan seperti ini, kita bisa menilai seberapa besar tolak ukur perjuangan yang dilakukan oleh kita semua. Kita juga mendapatkan jalan keluar setiap permasalahan yang di hadapi dalam organisasi, tambah rosyid.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Asmui

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46440/gp-ansor-kaliori-kunjungi-para-kiai

Santriwati Pintar

Minggu, 11 September 2011

Om Telolet Om dalam Bahasa Sanskerta dan Mesir Kuno: Tafsir Mengerikan

Santriwati Pintar - Entah siapa dan kapan "Om Telolet Om" mulai viral di dunia nyata maupun maya. Yang jelas, hampir semua orang keranjingan "Om Telolet Om". Dilihat dari "asbabun nuzul"nya, "Om Telolet Om" hanya iseng aja, supaya hati bahagia.

Konon, "ritual" ini berawal dari aktivitas anak-anak kecil yang sepulang sekolah, berdiri di pinggir jalan dan meminta sopir bus untuk membunyikan klakson "telolet". Waqila, berawal dari aksi iseng anak jalanan yang butuh hiburan dan sumpek dengan berbagai permasalahan, atau mungkin capek melihat "proxy war" di dumay yang terus memanas. (Baca Sumbu Pendek: Sari Roti Jadi Syar'i Roti)

Alhasil, "Om Telolet Om" sekedar hiburan aja, kalau mau ya silahkan, ngak mau ya ngak apa-apa. Tidak usah ditafsiri yang rumit-rumit, apalagi dicurigai sebagai pendangkalan akidah. Oh, betapa ribetnya hidup ini. Suara klakson bis saja bisa membuat akidah dangkal. Bisa-bisa suara kentut juga bikin kufur, bid'ah dan sesat. Hadeeh...

Oiya, yang lucu lagi, "Om Telolet Om" juga digoreng dengan bumbu tafsir etimologi-bahasa plus ditambahi cabe fiqih dan bumbu fatwa, akhirnya "Om Telolet Om" yang tadinya hanya hiburan, bagi beberapa orang justru dinilai sebagai "momok" berbahaya yang mengancam keselamatan dunia-akhirat. Aduuh, jauh banget sih.

Tafsir lucu itu, tersiar di medsos. Begini teksnya, "Waspada Om Telolet Om konspirasi pendangkalan Akidah. Om adalah aksara suci untuk Sang Hyang Widhi, TUHAN orang Hindu, yang kalo diucapkan lengkap menjadi = Om Swastiastu. Telolet sinonim dari terompet, adalah ciri khas alat ibadah orang Yahudi. Naudzubullahimindzalik, stop OM TELOLET OM mulai sekarang, jaga akidah, jauhi apapun yg bisa mendangkalkan akidah."

Coba renungkan, betapa ngerinya tafsir itu, sekaligus lucu. Kalau mau tafsir tandingan, nih ada yang baru. Begini riwayat lengkapnya: "Astaghfirullah... saya juga baru tahu, bahwa "Om Telolet Om" berasal dari bahasa sanskerta dan mesir kuno. "OM" artinya AYO, dan "Telolet" artinya KAWIN. Jadi, "Om Telolet Om" artinya, "Yuk Kawin Lagi Yuk". Tolong sebarkan tafsir ini, bahaya untuk masa depan keluarga Anda. Jangan berhenti di kamu. I Lap Yu". Hahaha. [Santriwati Pintar

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/om-telolet-om-dalam-bahasa-sanskerta-dan-mesir-kuno.html

Jumat, 08 Oktober 2010

Nabi Khidzir Selalu Hadir Dalam Kliwonan Habib Luthfi Kanzus Shalawat

Santriwati Pintar - Pada Jumat Kliwon (07/10/2016), KH Abdullah Saad hadir dalam acara ngaji Kliwonan Habib Luthfi bin Yahya di Gedung Kanzus Shalawat, Pekalongan, seperti biasanya. Kepada Santriwati Pintar, Kiai Saad menceritakan apa yang terjadi ketika berada pas di belakang Abah Luthfi usai pengajian.

Sambil menerima ribuan para jamaah yang sedang antri bersalaman, Abah Luthfi yang posisi duduk di kursi ngaji di dalam gedung Kanzus, beliau melirik ke Kiai Saad agar memperhatikan seorang pengemis yang duduk jongkok di pintu masuk gedung paling ujung.

Kiai Saad hanya memperhatikan. Dan memang melihat laki-laki berpenampilan pengemis yang sedang jongkok dan merokok tersebut. "Yang kamu lihat kemarin, itulah Nabi Khidzir," dawuh Habib Luthfi kepada Kiai Saad, sehari kemudian, di ndalem beliau. (Baca juga: Mengintip Rahasia Habib Luthfi Merokok)

Betapa kagetnya kiai asal Solo tersebut. Dalam batinnya, kalau saja Abah Luthfi memberitahu saat masih di tekape, ia akan beranjak salaman kepada pengemis itu. Dalam hati, ia mengaku kepada Santriwati Pintar kalau tampilan pengemis yang saat itu hadir Kliwonan tidak seperti pengemis yang biasa dilihat.

"Saya sudah bertahun-tahun ikut Kliwonan, tentu kenal dengan wajah dan pakaian pengemis yang biasa ikut, tapi ketika itu, saya memang heran dengan pengemis itu karena lain daripada yang lain," ujar Kiai Saad, di tengah menghadiri acara pengajian di Ponpes Darul Arafah, Keciput, Belitung, Babel, Sabtu (19/11/2016) malam.

Cerita Kiai Saad tersebut ternyata dibenarkan oleh beberapa jamaah. Bahkan, sumber Santriwati Pintar yang juga putra angkat Abah Luthfi menyebutkan kalau setiap acara Kliwonan, Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan Waliyullah Nabi Khidzir As., selalu hadir. Cuma, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui dan bahkan diajak ngobrol atau ngopi tanpa kenal identitas.

Banyak para wali Allah yang, menurut sumber Santriwati Pintar, selalu hadir memberikan keberkahan bagi setiap jamaah yang hadir ikut Kliwonan Kanzus Shalawat sejak diadakan tahun 1996 silam itu. Para auliya datang karena Kanjeng Nabi yang rawuh.

Ciri Nabi tidak rawuh di Kliwonan, kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya tersebut, adalah ketika doa tawassul yang dibaca Abah Luthfi tidak selengkap seperti biasanya. Dalam kliwonan, sebelum dzikir bersama dalam bentuk tahlilan khas, beliau mengajak jamaah untuk membacakan Al-Fatihah kepada nama-nama besar, terutama keluarga Nabi dan para sahabat, sebagai bentuk tawassul.

Berikut dzikir tahlil Kliwonan di Kanzus yang biasa dibacakan Abah Luthfi, direkam pada 7 Oktober 2016 oleh salah satu kru Santriwati Pintar. (Klik play on web saja jika Anda tidak memiliki akun Souncloud).

Ketika doa tahlil yang dibacakan lebih panjang dari biasanya, itu kadang juga pertanda. Dulu, ketika ada jamaah Habib Luthfi kecelakaan di sebuah tol wilayah Semarang, tahlilan yang dibacakan sangat panjang sekali. Jamaah yang memiliki nalar spiritual tinggi, bisa merasakan itu.

Karena itulah, orang-orang yang mengetahui fadhilah Kliwonan, dari sudut manapun dia tinggal, akan selalu hadir. Bahasa jawanya, "ngesot yo dilakoni". Tapi bagi yang hanya niat ingin mendapatkan kemuliaan duniawi, ia mungkin saja akan mendapatkan apa yang diinginkan, tapi lebih mulia jika ngaji hanya untuk ngaji dan ikhlas lillai ta'ala. Insyallah berkah, selamat dunia, sentosa akhirat. Bukankah itu tujuan kita semua? [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/nabi-khidzir-selalu-hadir-dalam-kliwonan-habib-luthfi-di-kanzus-shalawat.html

Selasa, 20 Juli 2010

Jangan Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri

Kendal, Santriwati Pintar. Banyaknya investor asing yang masuk ke Indonesia, menuntut generasi muda untuk kreatif dan aktif di bidang ekonomi, dibutuhkan generasi yang mau dan mampu berkompetensi di dunia bisnis atau berwirausaha.

Demikian disampaikan Wakil Bupati Kendal, H. Mustamsikin M.Ag. ketika memberikan sambutan pada Dialog Kewirausahaan dan peluncuran Bimbel Excellent yang dihelat oleh PC. IPPNU Kabupaten Kendal, Sabtu (19/1) lalu.

Jangan Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)


Jangan Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri

Di Kendal, akan semakin banyak investor asing yang akan menanamkan modal mereka di sini, itu seharusnya jadi cambuk bagi kita, agar kita jangan cuma jadi penonton di rumah sendiri. Kita harus mampu bersaing dengan mereka, tegasnya.

Pada dialog kewirausahaan yang digelar di gedung pertemuan Rumah Makan Aldila tersebut, hadir pula ketua LP Maarif Kendal, Ibnu Darmawan yang sekaligus berkapasitas sebagai pembicara.

Santriwati Pintar

Di hadapan seratusan peserta dialog yang berasal dari 20 PAC dan komisariat yang ada di Kendal, Ibnu Darmawan memberikan motivasi serta pengetahuan seputar dunia kewirausahaan.

Santriwati Pintar

Saya mengamini apa yang dikatakan bapak wakil bupati, kita harus mampu jadi tuan rumah yang mahir dalam menguasai segala hal yang ada di negeri kita sendiri, jangan hanya jadi penonton saja, ujarnya.

Pada dialog tersebut, IPPNU Kendal menghadirkan Saadatul Abadiah sebagai pembicara pada dialog tersebut. Ia merupakan owner dari La Naya, indsutri rumahan yang memproduksi berbagai macam kerajinan tangan.

Perempuan yang dulu sempat menjabat sebagai wakil ketua PW IPPNU Jawa Tengah tersebut membagikan pengalamannya ketika jatuh bangun merintis La Naya. Bahkan, perempuan yang pernah terjun di LSM pemberdayaan perempuan itu juga pernah diliput sebuah stasiun televisi karena kegigihan dan kreativitasnya di bidang wirausaha.

Di akhir dialog, ketua PC IPPNU Kendal, Afidatun Nimah, mengatakan bahwa PC IPPNU Kendal akan serius untuk memfollow up dialog kewirausahaan tersebut dengan pelatihan langsung tentang pembuatan berbagai macam handycraft yang unik dan menarik.

Kami tidak mau hanya berdialog saja tanpa ada aksi nyata, selepas ini, kami akan serius mengawal kader-kader IPPNU Kendal dari mulai pelatihan hingga memasarkannya secara luas, pungkasnya.

Kontribut: Amalia Ulfah

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41948/jangan-cuma-jadi-penonton-di-negeri-sendiri

Santriwati Pintar

Kamis, 27 Mei 2010

Mengintip Sejarah Dua Masjid Suci

Makkah, Santriwati Pintar. Gedung Two Holy Mosques Architecture berdiri di pinggiran Kota Makkah, Arab Saudi, sekitar 10 kilometer ke arah barat dari Masjidil Haram.

Museum yang diresmikan sekitar 20 tahun yang lalu itu menyimpan dokumentasi sejarah dua masjid suci, Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Mengintip Sejarah Dua Masjid Suci (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengintip Sejarah Dua Masjid Suci (Sumber Gambar : Nu Online)


Mengintip Sejarah Dua Masjid Suci

Miniatur replika Masjidil Haram menyambut para pengunjung museum di ruang penerima tamu, tempat pengunjung dapat melihat kondisi Masjidil Haram sebelum dan sesudah perluasan.

Santriwati Pintar

Ruangan berikutnya adalah area Masjidil Haram, yang menyimpan benda-benda yang pernah dipasang di masjid tempat Kabah berada itu.

Di antara benda-benda yang disimpan di ruangan itu ada tangga kayu ke pintu Ka`bah yang dipergunakan tahun 1240 Hijriyah.

Ada juga potongan besar marmer berukir yang membentuk mimbar Masjidil Haram pada abad kesepuluh Hijriyah serta pintu Ka`bah yang saat ini sudah tidak digunakan.

Santriwati Pintar

Benda-benda yang berkaitan dengan Ka`bah seperti Kiswah (kain penutup Ka`bah), alat tenun tradisional pembuat Kiswah, pilar Ka`bah dari tahun 65 Hijriyah, dapat ditemukan di ruang Ka`bah Al Musharaf.

Di ruang foto, pengunjung dapat menyaksikan gambaran perubahan-perubahan yang terjadi di Masjidil Haram dari waktu ke waktu. Begitu juga dengan foto Masjid Nabawi dan Kota Madinah pada masa lalu.

Sejumlah mushaf Al Quran juga tersimpan di sana, terutama yang berasal dari abad 13 Hijriyah.

Salah satu koleksi yang paling menarik pengunjung adalah mushaf asli Al Qur`an dari masa Usman bin Affan, yang dipamerkan di ruang Inscription and Manuscript.

Sementara beberapa pintu masjid dan mimbar dipamerkan di ruang Masjid Nabawi, masjid yang di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad SAW.

Sebuah sumur berpagar besi berukir lengkap dengan timba dan kerekan menjadi pusat perhatian di ruang sumur Zam Zam.

Menurut keterangan yang tertera di sana, kerekan itu digunakan untuk menimba air Zam Zam pada akhir abad 14 Hijriyah, sedangkan ember timbanya berasal dari tahun 1299 Hijriyah.

Di area Zam Zam juga ada jam matahari yang digunakan untuk menentukan waktu shalat pada masa lalu, ada pula jam yang pertama dipasang di Masjidil Haram.

Para pegunjung bisa menikmati benda-benda yang dipamerkan di museum tersebut secara gratis. Tapi orang yang ingin melihat koleksi museum itu harus meminta izin untuk mengunjungi museum secara berkelompok.

Memotret

Berbeda dengan umumnya museum yang melarang pengunjung mengambil foto, di museum tersebut pengunjung bebas memotret apa saja di seluruh ruang pamer.

Sayangnya, tidak ada pemandu, buku petunjuk, maupun brosur atau selebaran yang menjelaskan perihal museum dan benda-benda koleksinya.

Petugas museum yang ditanya mengenai hal itu hanya menjawab singkat "Cari saja di internet, banyak kok".

Satu-satunya petunjuk bagi pengunjung hanyalah keterangan yang tertera pada setiap benda yang dipajang meskipun keterangannya sangat minim.

Meski demikian sejumlah pengunjung mengaku puas setelah berkeliling museum.

"Bagus sekali. Mudah-mudahan saya bisa datang lagi kalau umroh nanti," kata anggota jemaah haji asal Karangayar, Siti Ngadiroh.

Sementara Maman, yang datang bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dari Bandung, mendapat banyak keterangan dari Ketua KBIH yang bertindak sebagai pemandu.

Usai mengunjungi museum, biasanya jemaah haji melanjutkan tur ke peternakan Unta di Hudaibiyah, di tengah padang pasir yang letaknya hanya beberapa kilometer saja dari museum.

Selain dapat berfoto bersama unta, pengunjung juga dapat mencicipi susu dan urine unta yang konon berkhasiat obat.

Satu botol berisi 200 mililiter susu dijual dengan harga lima riyal dan satu botol berisi 200 mililiter urine unta dijual dengan harga 20 riyal. (antara/mukafi niam)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47901/mengintip-sejarah-dua-masjid-suci

Santriwati Pintar

Selasa, 06 April 2010

Idul Fitri, Kembali Kepada Fitrah Peradaban

Santriwati Pintar - Puasa Ramadhan telah berakhir dan Idul Fitri kembali menyapa kita. Idul Fitri bermakna hari kembali sucinya jiwa umat Muslim setelah bergulat dengan puasa dan rangkaian ibadah sebulan penuh selama Ramadhan.

Idul Fitri, Kembali Kepada Fitrah Peradaban - Santriwati Pintar
Idul Fitri, Kembali Kepada Fitrah Peradaban - Santriwati Pintar


Idul Fitri, Kembali Kepada Fitrah Peradaban

Di negeri kita, perayaan Idul Fitri memiliki kekhasan tersendiri, yakni sering diistilahkan dengan "Lebaran" yang tidak saja menjadi milik umat Muslim secara eksklusif, tetapi juga telah menjadi kultur bangsa yang unik.

Tepatlah di momen ini, kita perlu mengudarakan kembali refleksi terhadap makna tamaddun yang berarti keperadaban. Sebuah model masyarakat yang hendak dicitakan oleh Islam dan telah diteladankan oleh Nabi Muhammad.

Masyarakat yang berperadaban berarti masyarakat yang menjunjung tinggi akhlak dan martabat serta mengelola pluralitas menjadi kekuatan yang positif. Cita-cita inilah menjadi titik sentral misi kerasulan Nabi Muhammad lewat sabdanya, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia menjadi lebih mulia."

Budaya keperadaban Pejuang-pejuang kebangsaan Indonesia sejak dahulu semuanya mempelajari dan mempraktikkan budaya jujur, adil, arif-bijaksana, tertib, dan disiplin, moderat dan rendah hati. Unsur-unsur budaya beradab tersebut dipraktikkan dengan pengalaman jatuh-bangun untuk membangun diri dan bangsa menjadi insan beradab, bermartabat, dan terhormat.

Transformasi berkeadaban dan bermartabat itu dilakukan melalui interaksi yang santun dan dialog yang produktif dalam masyarakat yang plural. Dimulai dari pemahaman perorangan, keluarga, dan masyarakat tentang perlunya cinta kasih antara sesama, memupuk rasa keindahan, empati dalam penderitaan dan kegelisahan orang lain, menghormati hukum dan keadilan, memiliki pandangan positif untuk hidup bersama, mempunyai tanggung jawab dalam pengabdian, serta memiliki harapan yang optimis dalam kehidupan.

Keadaban ini jelas bergayut dengan kesadaran terhadap kemajemukan. Masyarakat majemuk dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok dan strata sosial, ekonomi, suku, bahasa, budaya, dan agama. Di dalam masyarakat majemuk, setiap orang dapat bergabung dengan kelompok yang ada, tanpa adanya rintangan-rintangan yang sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok dengan kelompok tertentu.

Dari sejarahnya, masyarakat Indonesia yang beradab dan bermartabat sudah pernah lahir sebagai kekuatan dunia dalam kerajaan-kerajaan, seperti Sriwijaya, Majapahit, dan kesultanan-kesultanan Islam sejak abad ke-9 sampai abad ke-15. Realitas sejarah mengesankan kepada generasi sekarang bahwa bobot dan kualitas berkeadaban dan bermartabat itu lahir dari rahim masyarakat yang majemuk.

Moto Bhinneka Tunggal Ika merupakan cantelan dalam berkehidupan bermasyarakat yang beradab dan bermartabat. Moto ini adalah cita-cita adiluhung bangsa Indonesia untuk terciptanya masyarakat yang beradab dan bermartabat.

Upaya untuk mencapai kualitas hidup yang optimal untuk menjadi lebih sejahtera, berkeadilan, dan berkemakmuran, niscaya akan membawa masyarakat dapat duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Untuk itulah, diperlukan infrastruktur harmonisasi sosial dalam kehidupan bersama. Menghormati pluralitas harus sejalan dengan menghormati peradaban dan martabat. Tidak ada artinya pluralitas kalau yang dipertahankan adalah budaya primitif, keterbelakangan, dan hanya asal berbeda dengan alasan kemurnian penghormatan budaya lokal atau hak asasi manusia tanpa mempertimbangkan hak manusia lainnya dalam sistem kehidupan bersama.

Sikap sadar kemajemukan berarti pula sikap sadar terhadap multikultural. Artinya, sikap ini menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Konsep tersebut mengajak masyarakat dalam arus perubahan sosial, sistem tata nilai kehidupan dengan menjunjung tinggi toleransi, kerukunan dan perdamaian, serta menghindari sejauh mungkin konflik atau kekerasan meskipun terdapat perbedaan sistem sosial di dalamnya.

Konsep multikultural tidaklah hanya disamakan dengan konsep keanekaragaman yang hanya menggambarkan bahwa kita beragam secara agama, suku bangsa, atau kebudayaan yang menjadi ciri khas masyarakat majemuk. Yang terpenting, multikultural lebih menekankan adanya saling menghargai dan rasa memiliki dalam kesederajatan serta meningkatkan solidaritas yang menuntut kita untuk melupakan upaya-upaya penguatan identitas. Kehidupan multikultural adalah landasan kesadaran akan keberadaan diri tanpa merendahkan yang lain.

Bumi kedamaian Bangsa Indonesia sendiri adalah bangsa yang hidup dalam suasana pluralitas dan multikultural sehingga terbiasa dengan berbagai perbedaan, serta menerima perbedaan tersebut dengan prinsip hidup berdampingan secara damai.

Jangan sampai dalam mengarungi arus modernisasi dan derap perubahan sosial yang cepat, kedamaian yang sudah berlangsung lama itu terganggu dengan munculnya konflik-konflik sosial, radikalisme, atau terorisme dengan semangat buta pembelaan etnik dan agama sehingga integritas keindonesiaan dan kerukunan, terutama kerukunan umat beragama yang pernah dibanggakan bahkan diakui oleh bangsa lain, menjadi luntur.

Kebinekaan merupakan kekayaan. Keberadaan dan perbedaan agama jelas sebagai rahmat yang harus disyukuri. Agama datang untuk kehidupan, demi membangun kehidupan yang tenang, aman, dan damai. Namun, jika kehidupan ini dijadikan sebagai industri kekerasan, tentu hidup manusia tidak akan aman.

Karena itu, perlu dikembalikan menjadi industri kecintaan yang diharapkan tercipta suatu kedamaian. Ada dua pilihan hidup di dunia ini. Untuk menjadikan rahmat atau dihancurkan oleh globalisme. Supaya kita menjadi rahmat, kita harus saling mengakui pluralitas. Di antara tanda-tanda kebesaran Tuhan, penciptaan dunia ini dan perbedaan lidah dan bahasa kita, kita harus mengembalikan integrasi dan kerja sama sesama kita.

Bumi ini diciptakan untuk kita semua. Semua berhak hidup di bumi ini. Kita harus berpacu untuk memuliakan manusia demi keberlangsungan hidup mereka. Justru yang harus kita lawan adalah kezaliman dan kekerasan karena hanya akan melawan kefitrian. Nah, momentum Idul Fitri kali ini dapat dijadikan sebagai peneguhan kembali dari kita semua demi membangun hidup yang harmonis dan penuh tenggang rasa dalam berbangsa dan bernegara. [Santriwati Pintar]

KH Said Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU

Ket: Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Juli 2016, di halaman 6 dengan judul "Kembali Fitri, Kembali pada Peradaban".

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/idul-fitri-kembali-kepada-fitrah-peradaban.html

Rabu, 10 Maret 2010

Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah

Santriwati Pintar - Kabar duka menyebar ke seluruh penjuru negeri ketika KH. Agus Rifqi Ali bin KH. Ali Maksum bin KH. Maksum (Lasem) Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, wafat. Gus Kelik, sapaan akrabnya meninggal dunia pada Selasa (2/8/2016), pukul 22.10. Innalillahi wa inna ilahi rajiun.

Dalam pandangan saya, Gus Kelik adalah termasuk golongan para wali Allah. Hal ini terbukti sejak lahir, ia telah memperlihatkan keanehan yang tidak dilakukan kebanyakan kalangan, bahkan cenderung dianggap sebagai di luar nalar.

Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah - Santriwati Pintar
Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah - Santriwati Pintar


Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah

Seingat saya, KH. R. Hafidz Abdul Qodir bercerita bahwa Mbah Ali Maksum pernah meminta doa kepada KH. Abdul Hamid Pasuruan untuk Gus Kelik agar bisa hidup layaknya orang normal. Ternyata Mbah Hamid justru memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak harus diambil pusing. “Tidak apa-apa, tambah aku yang jaluk (minta) doa neng Gus Rifqi,” kata Mbah hamid kala itu.

Semenjak itulah KH. Ali Maksum sayang kepada Gus Kelik, bahkan sampai berwasiat kepada keluarga “Jaga Rifqi, insya Allah masuk surga alias dialah yang merawatnya.”

Santriwati Pintar

Penulis pernah dipanggil Gus Kelik ketika hendak membeli rokok di Kopontren Al-Munawwir. Dengan mendekat, ia berkata: “Kang, ada uang seribu rupiah?” Saya jawab ada. Dan hampir setiap santri di Krapyak pernah dimintai uang yang nominalnya berbeda.

Santriwati Pintar

Dalam keseharian, Gus Kelik memiliki kebiasaan mencari kardus di toko sekitar pesantren. Ia juga menyewakan alat katering. Anehnya, setiap tahun hasil dari usahanya ini digunakan memberangkatkan jamaah ziarah Wali Songo. Santri yang ikut diminta membayar semampunya, bahkan tidak sedikit yang gratis.

Keanehan yang tidak lumrah terhadap Gus Kelik, ketika kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Gur) di Pondok Krapyak. Kala itu Gus Dur tidak mau duduk kecuali berdampingan dengan Gus Kelik. Tidak hanya itu, justru Gus Dur lah yang mencium tangannya.

Gus Kelik dikatakan wali karena setelah menikah, ternyata memiliki pengetahuan dan pemahaman kitab kuning yang mumpuni. Ia juga bisa mengaji kitab dan memimpin shalawat. Padahal, semenjak kecil sampai dewasa tidak pernah menyentuh kitab apa pun.

“Nasib” para wali Allah apabila telah diketahui keunggulan dan kelebihannya justru berakibat usia yang singkat. Sehingga ketika sebagian kalangan sudah melihat derajat atau maqam kewalian yang dimiliki, ajal akhirnya menjemput yang bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah sosok Gus Kelik.

Ia wafat di RS Panembahan Senopati Bantul dalam usia 58 Tahun. Selamat jalan dan menemui Rabb-mu, dan kami mengiringi dengan untaian doa. [Santriwati Pintar]

Ifdlolul Maghfur, santri Pesantren Madrasah Hufadz Krapyak (1999-2008) dan Pengurus PW LTN NU Jatim.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/gus-kelik-krapyak-itu-wali-allah.html

Kamis, 22 Oktober 2009

Mengapa Harus Ada Tahlilan Hingga 7 Hari Sejak Orang Meninggal?

Santriwati Pintar - Ulama dari Yaman Syaikh Ali bin Muhammad asy-Syaukani menjelaskan tentang kebolehan tradisi umat Islam menghadiahkan bacaan Al-Quran untuk mayit, baik di masjid maupun di rumah:

Mengapa Harus Ada Tahlilan Hingga 7 Hari Sejak Orang Meninggal?
Mengapa Harus Ada Tahlilan Hingga 7 Hari Sejak Orang Meninggal?


الْعَادَةُ الْجَارِيَةُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ فِي الْمَسْجِدِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ عَلَى اْلأَمْوَاتِ وَكَذَلِكَ فِي الْبُيُوْتِ وَسَائِرِ اْلاِجْتِمَاعَاتِ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الشَّرِيْعَةِ لاَ شَكَّ إِنْ كَانَتْ خَالِيَةُ عَنْ مَعْصِيَةٍ سَالِمَةً مِنَ الْمُنْكَرَاتِ فَهِيَ جَائِزَةٌ ِلأَنَّ اْلاِجْتِمَاعَ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بِنَفْسِهِ لاَ سِيَّمَا إِذَا كَانَ لِتَحْصِيْلِ طَاعَةٍ كَالتِّلاَوَةِ وَنَحْوِهَا وَلاَ يُقْدَحُ فِي َذَلِكَ كَوْنُ تِلْكَ التِّلاَوَةِ مَجْعُوْلَةً لِلْمَيِّتِ فَقَدْ وَرَدَ جِنْسُ التِّلاَوَةِ مِنَ الْجَمَاعَةِ الْمُجْتَمِعِيْنَ كَمَا فِي حَدِيْثِ اقْرَأُوْا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ تِلاَوَةِ يس مِنَ الْجَمَاعَةِ الْحَاضِرِيْنَ عِنْدَ الْمَيِّتِ أَوْ عَلَى قَبْرِهِ وَبَيْنَ تِلاَوَةِ جَمِيْعِ الْقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ لِمَيِّتٍ فِي مَسْجِدِهِ أَوْ بَيْتِهِ اهـ (الرسائل السلفية للشيخ علي بن محمد الشوكاني ص : 46)

"Tradisi yang berlaku di sebagian negara dengan berkumpul di masjid untuk membaca al-Quran dan dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal, begitu pula perkumpulan di rumah-rumah, maupun perkumpulan lainnya yang tidak ada dalam syariah, tidak diragukan lagi apabila perkumpulan tersebut tidak mengandung maksiat dan kemungkaran, hukumnya adalah boleh. Sebab pada dasarnya perkumpulannya sendiri tidak diharamkan, apalagi dilakukan untuk ibadah seperti membaca al-Quran dan sebagainya. Dan tidaklah dilarang menjadikan bacaan al-Quran itu untuk orang yang meninggal. Sebab membaca al-Quran secara berjamaah ada dasarnya seperti dalam hadis: Bacalah Yasin pada orang-orang yang meninggal. Ini adalah hadis sahih. Dan tidak ada bedanya antara membaca Yasin berjamaah di depan mayit atau di kuburannya, membaca seluruh al-Quran atau sebagiannya, untuk mayit di masjid atau di rumahnya" (Rasail al-Salafiyah, Syaikh Ali bin Muhammad as Syaukani, 46)

Dengan demikian, tradisi semacam ini sudah banyak dilakukan oleh umat Islam di negeri Arab. Dan tidak benar kalau amaliah ini berasal dari Hindu-Budha.

Berkenaan dengan tradisi kita di Jawa, Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki ditanya seputar tradisi sedekah makanan di Jawa, beliau menjawab:

اِعْلَمْ اَنَّ الْجَاوِيِّيْنَ غَالِبًا اِذَا مَاتَ اَحَدُهُمْ جَاؤُوْا اِلَى اَهْلِهِ بِنَحْوِ اْلاَرُزِّ نَيِّئًا ثُمَّ طَبَّخُوْهُ بَعْدَ التَّمْلِيْكِ وَقَدَّمُوْهُ ِلاَهْلِهِ وَلِلْحَاضِرِيْنَ عَمَلاً بِخَبَرِ "اصْنَعُوْا ِلاَلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا" وَطَمَعًا فِي ثَوَابِ مَا فِي السُّؤَالِ بَلْ وَرَجَاءَ ثَوَابِ اْلاِطْعَامِ لِلْمَيِّتِ عَلَى اَنَّ اْلعَلاَّمَةَ الشَّرْقَاوِيَ قَالَ فِي شَرْحِ تَجْرِيْدِ الْبُخَارِي مَا نَصُّهُ وَالصَّحِيْحُ اَنَّ سُؤَالَ الْقَبْرِ مَرَّةٌ وَاحِدَةٌ وَقِيْلَ يُفْتَنُ الْمُؤْمِنُ سَبْعًا وَالْكَافِرُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنِ الْمُؤْمِنِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ اهــ بِحُرُوْفِهِ (بلوغ الامنية بفتاوى النوازل العصرية مع انارة الدجى شرح نظم تنوير الحجا)

"Ketahuilah, pada umumnya orang-orang Jawa jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka datang pada keluarganya dengan membawa beras mentah, kemudian memasaknya setelah proses serah terima, dan dihidangkan untuk keluarga dan para pelayat, untuk mengamalkan hadis: 'Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far' dan untuk mengharap pahala sebagaimana dalam pertanyaan (pahala tahlil untuk mayit), bahkan pahala sedekah untuk mayit. Hal ini berdasarkan pendapat Syaikh al-Syarqawi dalam syarah kitab Tajrid al-Bukhari yang berbunyi: Pendapat yang sahih bahwa pertanyaan dalam kubur hanya satu kali. Ada pendapat lain bahwa orang mukmin mendapat ujian di kuburnya selama 7 hari dan orang kafir selama 40 hari tiap pagi. Oleh karenanya para ulama terdahulu menganjurkan memberi makan untuk orang mukmin selama 7 hari setelah pemakaman" (Bulugh al-Amniyah dalam kitab Inarat al-Duja 215-219). [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/mengapa-harus-ada-tahlilan-hingga-7-hari-sejak-orang-meninggal.html

Rabu, 29 Juli 2009

Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah)

Santriwati Pintar - Rasulullah SAW adalah sosok pribadi yang tidak lepas dari cintanya kepada tanah air dan kampung halamannya. Hal ini terbukti dari ekspresinya ketika ia memasuki kota Madinah sepulang dari luar kota. Melihat perbukitan Madinah, beliau mempercepat ontanya.

Sementara, setiap kali melihat Kakbah, Rasulullah SAW mengangkat tangan dan mendoakannya. Ini menunjukkan cinta Rasulullah SAW pada tanah airnya. Berikut ini doanya.

اَللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا، وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً

Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah) - Santriwati Pintar
Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah) - Santriwati Pintar


Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah)

Allâhumma, zid hâdzal baita tasyrifan, wa ta‘zhîman, wa takrîman, wa mahâbatan.

Santriwati Pintar

Artinya, “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kemegahan, dan kewibawaan untuk rumah (Kakbah) ini.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Imam As-Syafi’i dalam Musnad-nya. Doa ini dibaca Rasulullah SAW ketika memasuki kota Mekah dan melihat Kakbah. [Santriwati Pintar]

Santriwati Pintar

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/bukti-rasulullah-cinta-tanah-air.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock