Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Maret 2017

Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana

Kudus, Santriwati Pintar. Sebanyak 70 anggota Corp Brigade Perjuangan (CBP) IPNU dan Korp Kepanduan Putri (KKP) IPPNU sekaresidenan Pati mengikuti Latihan Gabungan (Latgab) di lapangan desa Rendeng Kota Kudus, Selasa-Rabu (13-14/10). Mereka mendirikan perkemahan selama dua hari. Peserta yang datang dari Kudus, Pati, Blora, Rembang, Grobogan, dan Lasem ini mendapat bekal latihan khusus tanggap dan penanganan bencana.

Ketua panitia M Ramadlan mengatakan, kegiatan Latgab dimaksudkan mengisi liburan tahun baru 1437 Hijriyah yang bertujuan mempersiapkan kader-kader CBP-KKP menghadapi adanya bencana dengan berbagai keterampilan khusus.

Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)


Puluhan Korps Pelajar NU Sekaresidenan Pati Buat Simulasi Tanggap Bencana

"Mereka akan menjadi kader inti berkualitas yang siap diterjunkan sebagai relawan manakala terjadi bencana. Sekaligus mempersiapkan diri menjelang musim hujan, daerah-daerah biasanya rawan bencana banjir," kata Ramadlan kepada Santriwati Pintar, usai acara (14/10).

Santriwati Pintar

Pada acara yang dibuka oleh Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi ini, para peserta mendapat gemblengan dan latihan tentang pelatihan dapur umum, pemadaman kebakaran, manajemen posko, dan simulasi bencana. Mereka mendapat bimbingan dari instruktur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Korp Peduli Bencana Alam Nahdlatul Ulama (KPBANU) Kudus.

Santriwati Pintar

"Kita juga ada simulasi bencana dan praktik dapur umum. Peserta mampu menanak nasi dan lauk pauknya dengan jumlah besar yang kemudian dibagikan kepada warga masyarakat maupun tukang becak," imbuh Ramadlan.

Komandan CBP Kudus Abu Hasan Asyari mengharapkan setiap CBP-KKP di masing daerah nantinya mampu mendirikan posko sendiri pada waktu terjadi bencana. Kepada peserta, ia menekankan untuk siap terjun mengatasi berbagai macam bencana alam baik kebakaran maupun banjir. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62817/puluhan-korps-pelajar-nu-sekaresidenan-pati-buat-simulasi-tanggap-bencana

Santriwati Pintar

Sabtu, 11 Februari 2017

Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor

Bogor - Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, tak akan memberi izin pengukuhan dan pelantikan Aliansi Nasional Anti-Syiah yang akan digelar pada Ahad, 22 November 2015, di Aula KONI Gelanggang Olahraga Kota Bogor.

Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor
Bima Arya Larang Pelantikan Pengurus Anti-Syiah Bogor


Bima juga menyangkal akan hadir membuka acara tersebut seperti tertera dalam selebaran ANNAS. Dalam pamflet itu, Bima disebut akan memberi keynote speech bersama anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Didin Hafiduddin. “Tidak benar isi selebaran itu, saya tidak pernah memberi konfirmasi akan hadir,” kata Bima kepada Tempo pada Kamis, 19 November 2015.

Surat undangan dan permohonan acara itu, kata Bima, dikirim pengurus ANNAS beberapa hari lalu ke kantornya. “Undangan saya terima tapi tidak saya respon,” katanya. "Dan tidak akan saya izinkan."

Bima menyayangkan acara tersebut dan selebaran yang memuat nama dan fotonya sebagai pembicara. Menurut dia, dalam situasi saat ini sangat penting menjaga kebersamaan dan menguatkan silaturahmi. “Demi kesejukan Kota Bogor,” kata dia.

Bima sedang menghadapi somasi masyarakat atas pelarangan Asyura, peringatan gugurnya Hussain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, oleh umat Syiah tiap 10 Muharam pada pertengahan Oktober lalu. Bima Arya mengeluarkan surat edaran larangan peringatan Asyura dengan alasan menjaga keamanan.

Surat edaran itu segera memicu kontroversi karena Bima dinilai tak menghargai keragaman keyakinan. Bima kian dikecam karena memberikan pidato dalam Konferensi Wali Kota Sedunia di Florence, Italia, tentang persatuan dalam keberagaman. Surat edaran itu membuat responden dalam survei Setara Institute menobatkan Bogor sebagai kota paling tak toleran se-Indonesia.

Dalam wawancara dengan Tempo pekan lalu, Bima mengaku belajar dari keputusannya membuat edaran larangan Asyura yang menimbulkan kegaduhan. “Dalam konteks dimensi dan ruang yang lebih luas, larangan itu melanggar konstitusi,” katanya. (Bagja Hidayat)

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/bima-arya-larang-pelantikan-pengurus.html

Kamis, 09 Februari 2017

Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)

Santriwati Pintar - "Al-Masajid" adalah bab yang kami baca dari kitab Bulughul Maraam di Masjid Al-Akbar Surabaya. Satu persatu hadis saya jelaskan, termasuk hadis Sayidina Hassan bin Tsabit yang melantunkan syair di masjid pada masa Sayidina Umar. Saya juga menjelaskan kegemaran Nabi membaca syair, dan Nabi juga berkenan membalas syair dari para Sahabat (HR Bukhari dan Muslim)

Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)
Menuduh Memuji Nabi Berlebihan, Itu Justru Berlebihan (Ghuluw)


Kemudian ada jamaah yang sangat rajin dan aktif mengikuti kajian, beliau bertanya, "ada banyak kitab syair memuat pujian kepada Rasulullah, seperti Diba' dan Barzanji, yang isinya memuji Nabi berlebihan (ghuluw). Apa benar demikian?" Tanya bapak yang rambutnya banyak memancar kilau perak ini.

Saya mencoba menjawab dengan sebuah hadits tentang Sahabat yang berlebihan memuji Nabi dan beliau menegurnya:

ﻗﺎﻟﺖ اﻟﺮﺑﻴﻊ ﺑﻨﺖ ﻣﻌﻮﺫ، : ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻏﺪاﺓ ﺑﻨﻲ ﻋﻠﻲ، ﻓﺠﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﻓﺮاﺷﻲ ﻛﻤﺠﻠﺴﻚ ﻣﻨﻲ، ﻭﺟﻮﻳﺮﻳﺎﺕ ﻳﻀﺮﺑﻦ ﺑﺎﻟﺪﻑ، ﻳﻨﺪﺑﻦ ﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﻣﻦ ﺁﺑﺎﺋﻬﻦ ﻳﻮﻡ ﺑﺪﺭ، ﺣﺘﻰ ﻗﺎﻟﺖ ﺟﺎﺭﻳﺔ: ﻭﻓﻴﻨﺎ ﻧﺒﻲ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻓﻲ ﻏﺪ. ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﺗﻘﻮﻟﻲ ﻫﻜﺬا ﻭﻗﻮﻟﻲ ﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺗﻘﻮﻟﻴﻦ»

Artinya: Rabi' binti Muawwidz berkata: "Nabi datang saat pernikahanku di pagi hari, beliau duduk di tempatku seperti dudukmu di dekatku. Wanita-wanita kecil menabuh terbang, mereka memuji bapak-bapak mereka yang gugur saat perang Badar. Sampai ada wanita yang berkata: "Ada Nabi di antara kita yang mengetahui apa yang terjadi esok". Nabi bersabda: "Jangan kamu katakan seperti itu. Katakanlah seperti engkau ucapkan" (HR Al-Bukhari)

Dalam hadits yang seakan melarang memuji Nabi ini, Nabi tidak berkenan jika dipuji mengetahui hal ghaib yang belum terjadi. Meski terkadang Nabi diberi tahu melalui wahyu apa yang akan terjadi, seperti hadist tentang kemunculan seorang Tabi'in terbaik bernama Uwais Al-Qarni (HR Muslim)

Ketika kita memuji dengan kata-kata pujian kepada Rasulullah, tidak sampai menjadikan beliau sebagai Tuhan. Pujian kita kepada Nabi masih dalam koridor pujian Allah kepada Rasulullah yang terdapat dalam ayat berikut yang artinya:

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, ia amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (At-Tawbah: 128)

Bahkan seorang Sahabat Amr bin 'Ash yang tak sanggup mengurai sifat Nabi dalam barisan kata-kata:

ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﺪ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻲ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻻ ﺃﺟﻞ ﻓﻲ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ، ﻭﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺃﻃﻴﻖ ﺃﻥ ﺃﻣﻸ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ ﺇﺟﻼﻻ ﻟﻪ، ﻭﻟﻮ ﺳﺌﻠﺖ ﺃﻥ ﺃﺻﻔﻪ ﻣﺎ ﺃﻃﻘﺖ؛ ﻷﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﺃﻣﻸ ﻋﻴﻨﻲ ﻣﻨﻪ

Artinya: "Tak ada seorang pun yang aku cintai dibanding Rasulullah dan tidak ada yang lebih agung di mataku. Aku tak mampu memenuhi mataku dari beliau, karena keagungannya. Jika aku ditanya tentang sifat beliau, maka aku tak berdaya. Sebab aku tak mampu memenuhi pandanganku dari beliau" (HR Muslim)

Hampir semua kitab-kitab sejarah, kepribadian dan apapun yang menyangkut Baginda Rasulullah, adalah pujian yang tak pernah keluar dari aturan yang dilarang dalam agama kita. [Santriwati Pintar]

Ma'ruf Khozin, pemateri kitab Buluughul Maraam di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/menuduh-memuji-nabi-berlebihan-itu-justru-ghuluw.html

Minggu, 29 Mei 2016

NU: Islam must strengthen nationalism

Medan, Santriwati Pintar. General Chairman of the Central Board of Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil Siradj, pupolarly known as Kang Said, said that the founder of NU KH Hasyim Ashari had the vision and mission to build ukhuwah Islamiyah (Islamic brotherhood) synergistic with ukhuwah wathoniyah (nationalism).

"That means Islam must be strengthened with the spirit of nationalism and nationalism must be the values and the spirit of Islam," said Kang Said when delivering a speech at the opening of the NU pre-33rd congress at Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar, Jl. Pelajar Timur, Medan, on Sunday (17/5).

NU: Islam must strengthen nationalism (Sumber Gambar : Nu Online)
NU: Islam must strengthen nationalism (Sumber Gambar : Nu Online)


NU: Islam must strengthen nationalism

Present at the occasion were, Rais Aam (General Chairman of Lawmaking Body) of NU KH Mustafa Bisri, Chairman of the Steering Committee (SC) of NU 33rd Congress KH Slamet Effendy Yusuf, Chairman of the Organizing Committee (OC) KH Imam Aziz, Secretary General of NU Marsudi Syuhud, leader of Pesantren Al Kautsar Al-Akbar Sheikh H Ali Akbar Marbun, North Sumatra Governor Gatot Pujo Nugroho, Vice Governor HT Erry Nuradi, Bukit Barisan Military Commander Major General Edy Rahmayadi, North Sumatra Police chief Insp Gen Eko Hadi Sutedjo, Air Defense Operation Commader III Marsma Arif Mustafa, and Member of Parliament H Marwan Dasopang.

Also present were the Mayor of Medan HT Dzulmi Eldin, Regent of Deli Serdang H Ashari Tambunan, Mayor of Sibolga H Syarfi Hutauruk, Mayor of Tanjung Balai H Thamrin Munthe, leaders of social organizations, religious community leaders of North Sumatra, Muslimat NU, Fatayat NU, and groups of so-called majlis taklim (religious gathering).

Santriwati Pintar

Santriwati Pintar

Kang Said also said that those who did not have a homeland, would not have a history. Therefore, history is written on the homeland. Those who did not have a history, would be forgotten. That is why, the Prophet Muhammad (PBUH) migrated to Medina because he wanted to build a homeland.

"Secure first homeland, then talk about Islam. It is impossible to propagate the Islamic teachings if the homeland is not safe," he said, expressing his surprise that there were organizations continuing to speak about Islam, but never mentioning the Unitary State of Republic of Indonesia (NKRI). They seem to build the country on the wind.

Inaugurating UNUSU rector

Before delivering a speech at the opening of the pre-NU 33rd congress meeting, Prof. Said Aqil Siroj had inaugurated Prof Dr Ahmad Rafiki Tantawi as the rector of the Nahdlatul Ulama University of North Sumatra (UNUSU) for the period 2015-2020.

UNUSU, he said, was established by the Education Minister Decree No. 576 on October 17, 2014.

"UNUSU is the NU 24th university established in Indonesia. It is purely owned by NU, not a foundation," said Said Aqil.

The UNUSU newly appointed rector Prof. Ahmad Rafiki Tantawi said, he had coordinated and gotten support from Kopertis I Sumatra related to the establishment of the private universities.

"However, this support is not enough because it must be confronted with the demands of internal quality in accordance with the on the Regulation of Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia No. 49/2014 on on National Standard of Higher Education," he said.

Also delivering their speeches on this occasion were the Governor of North Sumatra, H Gatot Pujo Nugroho, Chairman of North Sumatra Regional Board of Nahdlatul Ulama (PWNU), H Afifuddin Lubis, KH Slamet Effendy Yusuf, and Rais Aam KH Mustafa Bisri. (Masdar)

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59602/nu-islam-must-strengthen-nationalism

Selasa, 10 Mei 2016

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab

Santriwati Pintar - Quraish Shihab, akademisi, mufasir, dan menteri agama era Soeharto itu sesungguhnya mempunyai semua persyaratan untuk menjadi seorang habib. Quraish merupakan cucu dari Habib Ali bin Abdurrahman, habib asli asal Hadhramaut, Yaman.

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab
Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab


Tak hanya dari segi silsilah, Quraish juga teruji secara keilmuan. Ia dihormati berbagai kalangan karena kemampuan akademik dan agama yang jempolan. Namun, Quraish Shihab menolak menggunakan gelar habib. Kenapa?

Dalam buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda, Quraish mengatakan bahwa ia keberatan menyandang gelar tersebut karena pengertian dan kesan tentang habib di Indonesia telah berkembang jauh.

Prof. Quraish sadar ada pergeseran persepsi terkait habib di Indonesia. Di Indonesia, habib berkembang menjadi sebuah kesan. Yakni kesan menjadi orang yang berilmu wahid dan dekat dengan Rasul.

Habib Quraish juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan asosiasi Rasul dengan dirinya. Singkatnya, gelar habib di Indonesia, menurut Quraish terkesan “mengandung unsur pujian.” Maka, ia berkukuh menolak memakai gelar habib, meski berhak.

Quraish berpandangan, mereka yang pantas memanggul gelar habib, selain karena faktor keilmuan dan silsilah, harus pula dilihat akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil Habib,” ujar Quraish halus. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-alasan-prof-quraish-tidak-mau-dipanggil-habib-walau-bermarga-shihab.html

Selasa, 07 Juli 2015

Mbah Moen: Memeriksa Ahok Jangan Dipengaruhi Karena Demo

Santriwati Pintar - Menurut KH Maimoen Zubair, pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang, Rembang, bangsa kita ini mudah terpengaruh dengan rumor atau ramai-ramainya berita yang lagi ngetrend di masyarakat.

Mbah Moen: Memeriksa Ahok Jangan Dipengaruhi Karena Demo
Mbah Moen: Memeriksa Ahok Jangan Dipengaruhi Karena Demo


Ketika orang ramai membenci Belanda, kita ikut-ikutan bersikap anti Belanda. Padahal, kata Mbah Moen, kita ini harusnya berterimakasih juga kepada Belanda. "Malah bangsa ini harus berterimakasih kepada Belanda. Hukum yang ada sekarang masih KUHP (yang buatan Belanda). Tidak ada Belanda, tidak ada hukum di Indonesia. Tapi orang antinya Belanda kayak begitu. Betul nggak?" ujarnya.

Mbah Moen menerangkan, jika tidak ada KUHP, kiai sama kiai bisa jotosan. Tapi kalau mengecam Belanda sampai berlebih-lebihan. "Itu yang saya tidak cocok. Orang tak tahu diri," ujarnya dalam rekaman yang didapatkan Santriwati Pintar dari salah satu alumni Lirboyo, Rabu (9/11/2016).

Karena itulah, lanjut kiai, bangsa kita harus kita mempertahankan persatuan dan kesatuannya. Jangan sampai membuat negara Islam. NKRI ini satu-satunya negara yang mayoritas Islam dan konsis sebagai negara nasional.

Kita cukup dengan Pancasila, cukup dengan Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45, "ini harus dipertahankan benar-benar. Kita harus pertahankan negara kita ini. Pilar empat harus dijaga. Jangan sampai dipengaruhi luar. Jangan ditunggagi macem-macem," terangnya.

Menanggapi soal demo 4 November 2016, KH Maimoen Zubair memiliki pandangan bijak. Menurut kiai paling sepuh di jajaran PBNU ini, masalah Ahok tidak baik dibesar-besarkan dan penyelesaian hukumnya jangan sampai dipengaruhi oleh ramainya demontrasi kemarin. "Memeriksa Ahok jangan dipengaruhi karena demo," jelas Mbah Moen.

Kasus Ahok harusnya diselesaikan menurut asas keadilan, "jangan sampai ada dorongan yang menyebabkan perubahan yang tidak ada keadilan. Adil itu yang membawa kemakmuran," imbuhnya, "keadilan itu bukan menurut Islam, tapi menurut undang-undang yang ada," lanjut kiai Maimoen sebagaiman dikutip Santriwati Pintar dari rekaman berdurasi 5.36 menit itu.

Kiai Maimoen juga mengingatkan agar berhati-hati dalam menyikapi banyak hal, terutama merespon ramainya kasus Ahok tersebut. "Anak saya sendiri saya larang untuk ke Jakarta," tegas Mbah Moen soal sikap hati-hati ini.

Yang pasti, orang Indonesia, menurut kiai Maimoen, harus menjadi manusia-manusia yang membawa kemajuan umat manusia sesuai perubahan zaman. "Islam yang paling baik adalah Islam Indonesia. Kalau ikut Arab ya satu sama lain bertengkaran. Jadi, Indonesia ini harus kembali kepada Indonesia sendiri, jati diri Indonesia," kata Kiai Maimoen.

Biar tidak dianggap fitnah dan hoax oleh pendemo, silakan simak sendiri rekaman KH Maimoen Zubair ini yang sudah di buat dalam bentuk video Youtube.

Anda juga bisa mendegarkan langsung apa yang dikatakan oleh KH Maimoen Zubair tersebut di akun Souncloud Santriwati Pintar. Klik saja di bawah ini, atau langsung menuju ke saluran Souncloud langsung. Klik SINI. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/mbah-moen-memeriksa-ahok-jangan-dipengaruhi-demo.html

Sabtu, 14 Februari 2015

Ratusan Layang-layang Sambut Sumpah Pemuda dan Hijriyah

Ciamis, Santriwati Pintar. Para pemuda dan remaja Nahdlatul Ulama Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menggelar lomba layang-Layang di pesawahan Lakbok mulai Sabtu (19/10) dan akan berakhir Senin sore (21/10).

Salah seorang panitia, Wahidan Barkit Batubara, mengatakan kegiatan kerjasama dengan komunitas seni Prematur tersebut merupakan salah satu rangkaian menyambut peringatan hari sumpah pemuda yg ke 85 serta menyambut datangnya tahun baru Hijriyah.

Ratusan Layang-layang Sambut Sumpah Pemuda dan Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Layang-layang Sambut Sumpah Pemuda dan Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)


Ratusan Layang-layang Sambut Sumpah Pemuda dan Hijriyah

Alhamdulillah acara ini sangat meriah. Bahkan kami tidak menyangka peserta yang ikut bukan hanya dari warga Lakbok saja, kata aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Banjar tersebut melalui pers rilis yang dikirim Ahad (20/10)

Wahid mengatakan para pecinta layang-layang datang dari luar daerah seperti Kota Banjar, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Pangandaran, bahkan dari Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Ini di luar dugaan kami, kata anggot GP Ansor Lakbok ini.

Santriwati Pintar

Ketua Komunitas Seni Prematur Tyus Roggo mengungkapkan, tujuan digelarnya lomba tersebut adalah untuk mempertahankan dan mengembangkan permainan tradisional.

Santriwati Pintar

Inti dari lomba ini juga adalah merupakan bentuk upaya kami para pemuda dalam melestarikan serta mengembangkan salah satu warisan budaya dan warisan permainan-permainan tradisional yang menjadi identitas sebuah bangsa Indonesia, katanya.

Sebab, kata dia, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional seperti layang-layang ini sangat tinggi, tetapi tergerus dengan maraknya permainan-permainan modern atau import.

Kegiatan yang mengikutsertakan karang taruna Desa Baregbeg tersebut memperebutkan jutaan rupiah. Ketua Karang Taruna Desa Baregbeg Kecamatan Lakbok yang juga sebagai panitia penyelenggara, Solehudin menjelaskan, dari ratusan peserta hanya akan diambil 3 (tiga) juara terbaik.

Penilaian layangan harus berlampu dan nyala sampai batas akhir terbang, kalau lampunya mati ketika masih dalam waktu perlombaan kami nyatakan diskualifikasi, katanya. (Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47732/ratusan-layang-layang-sambut-sumpah-pemuda-dan-hijriyah

Minggu, 21 Desember 2014

Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok

Jakarta, Santriwati Pintar. Film Bidah Cinta besutan sutradara Nurman Hakim akan diputar serentak di bioskop mulai 16 Maret besok. Film yang diprodukis Kaninga Pictures itu dibintangi Dimas Aditya berperan sebagai Kamal dan Ayushita berperan sebagai Khalida.

Menurut Nurman, Bidah Cinta memotret perbedaan pandangan dalam Islam. Film tersebut menggmbarkan bagaimana perbedaan seharusnya dikelola agar kehidupan berlangsung penuh toleransi, berdampingan dengan damai, seperti warna pada pelangi yang berbeda-beda yang membuatnya menjadi indah.

Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok (Sumber Gambar : Nu Online)
Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok (Sumber Gambar : Nu Online)


Mari Berjamaah Nonton Film Bidah Cinta Besok

Film Bidah Cinta menjadi penting ditonton karena film ini mendorong suatu perubahan untuk civil society yang baik, katanya ketika diwawancarai Santriwati Pintar pada Rabu (15/3).

Santriwati Pintar

Produser film Jalan Dakwah Pesantren Hamzah Sahal mengemukakan tentang film Bidah Cinta. Sumbangan penting dari film Bidah Cinta, menurut dia,adalah menyajikan peristiwa keagamaan sehari-hari di lingkungan kita, peristiwa keagamaan sehari-hari yang sedang aktual.

Santriwati Pintar

Ia menambahan, salah satu nilai penting yang dikemukakan dalam film garapan sutradara Nurman Hakim ini adalah toleransi internal agama. Nilai ini, terlebih masa pilkada, terdengar sangat lirih, sementara film Biah Cinta menyajikan dengan terang.

Film ini sangat "Islam", karena sineasnya, Nurman Hakim, Ben Shohib, besar di tengah lingkungan Islam, persisnya pesantren. Tonton di bioskop, mulai Kamis, 16 Maret, katanya.

Terkait film itu, pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Banten akan mengadakan nonton bareng di Supermall Lippo Karawaci Tangerang pada 16 Maret 2017. Pihak GP Ansor telah menyiapkan tiket gratis untuk warga NU yang ingin menonton bareng film tersebut.

GP Ansor Banten menilai pentingnya nilai-nilai kebinekaan yang terkandung dalam film tersebut. Sebagai negara dengan beragam kultur dan kepercayaan, perbedaan pandang merupakan hal yang sangat jamak di Indonesia.

Ketua GP Ansor Banten Ahmad Nuri mengatakan, nonton bareng tersebut akan dilakukan secara gratis dan bisa diikuti warga NU dan masyarakat Banten. Acara ini juga akan dihadiri tokoh agama dan tokoh masyarakat Banten. GP Ansor Banten akan mendatangkan aktor film tersebut.

"Kita sudah borong satu studio untuk acara itu, ada sekitar 350 tiket sudah kita sediakan, gratis," kata Nuri di Sekretariat GP Ansor Banten, Sabtu (11/3). (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76149/mari-berjamaah-nonton-film-bidah-cinta-besok

Santriwati Pintar

Senin, 28 Oktober 2013

Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah?

Santriwati Pintar - Lihatlah foto di atas. Konon (dugaan kuat) bapak yang ada di tengah itu, berbaju warna merah hati, bercelana biru (seragam lari lapangan) dan duduk di kursi adalah Wan Sehan, seorang habib yang sudah dikenal sebagai wali Allah serta majdzub. Nama lengkapnya Habib Syaikhon bin Musthofa Al Bahar.

Beberapa hari ini (2-4 Februari 2017), foto itu beredar di grup-grup WhatsApp Netizen NU. Karena terkenal wali jadzab, foto di atas jelas bukan foto selfie, namun isyarah kuat tentang akan adanya peristiwa besar yang cukup menyita perhatian masyarakat luas di negeri ini.

Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah? - Santriwati Pintar
Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah? - Santriwati Pintar


Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah?

Bacalah, apa makna laki-laki berbaju doreng yang mengangkat kursi Wan Sehan di atas? Apa makna wajah beliau yang dilumuri, diloreng-loreng hitam? Kata apa yang tertulis di peci putih beliau itu? Mengapa tangan beliau dicoret hitam hingga nampak begitu pekat? Tebak, lokasinya foto di rumah ibadah atau di museum?

Sebelum bencana besar Tsunami Aceh yang memilukan dulu terjadi, beliau pernah mengepakkan telapak tangan ke air laut sembari tiba-tiba berkata, "wan banjir wan". Kini, tangan dan wajah beliau dilumuri, seperti tentara siap tempur ke medan perang.

Santriwati Pintar

Redaksi Santriwati Pintar tidak berani dan tidak bisa menafsirkan tegas beberapa pertanyaan di atas. Selain tidak bisa tabayun, foto simbolik tersebut memang penuh makna, apalagi kondisi politik di negeri ini makin tak karuan isunya, entah ke mana arahnya. Mbah Wali sumber Santriwati Pintar pun belum berani menafsirkan.

Santriwati Pintar

Yang pasti, husnudzan perlu dijadikan pedoman. Jangan seperti wartawan Republika yang sembarangan menulis ketika beliau disebut dalam berita sebagai "orang stres", hanya karena melempari gedung SD Bintara Jaya 6 Bekasi Barat, (Jumat, 27 Januari 2011). Menulis tanpa iman, akan melahirkan kesombongan.

Setiap wali jadzab laiknya Wan Sehan (yang selalu berpindah-pindah tempat, atau tidak selalu menetap), memberikan isyarah ketika akan terjadi sesuatu. Cara yang digunankan beliau ini unik. Kadang memang memancing kesabaran objek. Yang diam, tidak mengomel, berbaik sangka, akan menemukan hikmah. Semoga kita dalam golongan yang cinta kekasih Allah.

Kisah Wali Jadzab Wan Sehan

Diceritakan, Wan Sehan pernah mendorong gerobak bakso hingga terbalik. Ternyata, ada narkoba dibalik gerobak tersebut. Itulah hikmahnya. Pernah pula Wan Sehan dimaki-maki habis oleh merbot mushalla di depan rumah karena teriak-teriak sambil main gitar saat jamaah akan melangsungkan Shalat Maghrib. Ditariklah leher merbot itu oleh Wan Sehan, dibenamkan kepalanya ke dalam ketiak, lalu sang merbot menangis minta ampun karena ia menyebut telah melihat Kakbah. Masyallah.

Tukang es cendol di Madrasah al-Whataniyah Klender (Jaktim) juga pernah menyaksikan jadzabnya Wan Sehan ini. Es-nya diambil segelas oleh Wan Sehan, tanpa permisi tanpa bayar. Tukang es itu hanya geleng-geleng kepala karena Satpam di sana memberitahu kalau itu adalah wali Allah. Tak berapa lama, ada rombongan yang datang membeli semua dagangan es-nya dengan harga lebih, langsung habis, tanpa berjualan hingga malam.

Pernah pula tiba-tiba masuk ke sebuah rumah. Tanpa permisi, Wan Sehan menyantap semua hidangan yang ada di meja makan. Setelah selesai, beliau pulang sambil mengucapkan salam serta terimakasih. Tak butuh waktu lama, keluarga itu mendapatkan limpahan rejeki dari Allah hingga menjadi orang kaya. Konon, kalau saja ketika Wan Sehan masuk ke rumah itu dimarahi shabihul bait, akibatnya akan lain.

Begitulah cara wali Allah menyejahterakan umat Nabi Muhammad Saw. Cara yang tidak umum dilakukan oleh waliyullah, di luar nalar awam, biasa disebut kalangan santri sebagai Khariqul 'Adah. Namun semua akan terbukti pada waktunya.

Lalu, foto Wan Sehan di atas bagaimana? Pesan rahasia apa yang ingin disampaikan Habib Syakhon bin Musthafa itu? Kita tunggu saja. Jika Anda mau menafsirkan, silakan ketik di kotak komentar di bawah ini. [Santriwati Pintar]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/isyarah-apa-atas-foto-wan-sehan-duduk-di-kursi-diangkat-2-prajurit-ini-ya-allah.html

Selasa, 21 Mei 2013

Nyai Hj Makkiyah Asad Sebut Kompak Ibadah sebagai Kunci Harmonis Berkeluarga

Pamekasan, Santriwati Pintar. Pengasuh tiga pesantren Nyai Hj Makkiyah Asad mengajak umat untuk menjaga keharmonisan dalam berkeluarga. Salah satu caranya, kata putri Almarhum KH Asad Asad Syamsul Arifin ini, ialah dengan menjaga kekompakan suami-istri dalam beribadah. Muara dari kekompakan ini diharapkan dapat mewujudkan kelanggengan suami-istri hingga akhirat kelak.

Demikian disampaikan Nyai Makkiyah pada pengajian rutin Ikatan Hajjah Muslimat (IHM NU) Larangan di kediaman Kiai Nasib Berruh, Desa Blumbungan Timur, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Selasa (9/2) siang.

Nyai Hj Makkiyah Asad Sebut Kompak Ibadah sebagai Kunci Harmonis Berkeluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Hj Makkiyah Asad Sebut Kompak Ibadah sebagai Kunci Harmonis Berkeluarga (Sumber Gambar : Nu Online)


Nyai Hj Makkiyah Asad Sebut Kompak Ibadah sebagai Kunci Harmonis Berkeluarga

Di hadapan sekitar 150 Muslimat NU itu, ia menyatakan bangga atas keistiqamahan kegiatan IHM NU yang ia dirikan khususnya di Muslimat NU Larangan. Ia mengajak hadirin untuk selalu istiqamah menjaga kemabruran haji agar menjadi teladan bagi keluarga, utamanya masyarakat yang ibadahnya masih belum istiqamah.

Santriwati Pintar

"Agar juga tidak hanya Islam dan bertitel haji di KTP," terangnya.

Nyai Makkiyah merupakan Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo, Pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan Pamekasan, dan Pesantren As-Shidqiyah Perum Batu Kencana, Kabupaten Sumenep.

Sementara khodim Pesantren Al-Huda Nyai Hj Aisyatul Asadiyah Shidqie menambahkan, acara ini merupakan kegiatan silaturami yang dikemas dalam pengajian rutin. Teknisnya, digilir dari satu rumah anggota ke rumah anggota lainnya.

Santriwati Pintar

"Yang ikut pengajian ini tidak harus yang sudah haji. Yang belum haji pun juga kami ajak bersama mengaji. Tujuannya, supaya bisa menyinergikan hal positif dalam ibadah haji pada yang masih belum ditakdir ke Baitullah," pungkasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65697/nyai-hj-makkiyah-asad-sebut-kompak-ibadah-sebagai-kunci-harmonis-berkeluarga

Santriwati Pintar

Selasa, 17 Juli 2012

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Reuni Akbar

Kudus, Santriwati Pintar. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kudus mengadakan reuni akbar yang bertempat di Gedung Muslimat NU Tanjung Karang Jati, Ahad (23/9). Kegiatan yang dikemas Halal bihalal ini menghadirkan mantan-mantan ketua PC IPNU-IPPNU bersama pengurusnya mulai angkatan pertama hingga sekarang.

Ketua PC IPNU Kudus Dwi Saifullah mengatakan acara ini sebagai upaya untuk menciptakan suasana kebersamaan antara alumni dan aktivis IPNU-IPPNU sehingga tercipta sinergi dalam mengembangkan perjuangan IPNU-IPPNU ke depan.

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Reuni Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Gelar Reuni Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU Kudus Gelar Reuni Akbar

"Apalagi tantangan IPNU-IPPNU dari berbagai sisi mulai soal gerusan idiologis sampai persoalan kemandirian organiasi sangat membutuhkan pendampingan para alumni." katanya.

Menurut Dwi, IPNU-IPPNU bermaksud mendokumentasikan sejarah perjalanan IPNU-IPPNU Kudus dari masa-masa dalam bentuk buku dan video. Hingga kini, pihaknya melalui tim yang dibentuk sedang menggali data dari para mantan-mantan ketua terkait kiprah IPNU-IPPNU pada masing-masing periode.

Santriwati Pintar

"Dengan mengambil tema sejarah sebagai guru kehidupan, Reuni akbat ini sebagai start penggalian sejarah IPNU-IPPNU Kudus.. Doakan saja semoga lancar dan sukses," tandasnya kepada Santriwati Pintar

Suasana berlangsung menarik, alumni lintas generasi saling berbagi pengalaman mengurai sejarah IPNU-IPPNU Kudus dan memberi motivasi kepada kader-kader IPNU-IPPNU. Tidak hanya itu, pementasan kesenian berupa musikalisasi puisi dan teater bedug menyemarakkan acara yang berlangsung hingga sore hari.

Santriwati Pintar

Para mantan ketua yang hadir diantaranya H Hamdan Suyuti, Hj Khuriyati Rf. Hj Noor Zakiyah, Noor Izza, H Asyrofi Masyitho, H Wiyono, M Aflach dan lainnya. Hadir juga Ketua Majelis Alumni Agus Hari Ageng dan perwakilan dari Pimpinan ranting dan Komisariat IPNU-IPPNU se - kabupaten Kudus.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39924/ipnu-ippnu-kudus-gelar-reuni-akbar

Santriwati Pintar

Kamis, 08 Desember 2011

Bukan Habib Tapi Dipopulerkan Sebagai Habib oleh Habib Luthfi. Ini Alasannya!

Santriwati Pintar - Seorang santri di Sumatra telp, "Bang, nanti antum hadir ke pondok sama Habib Tayadi yah. Pas di sini nanti Habib Yadi yang mendampingi Abah Luthfi sampai pengajian rampung". Karena bukan habib, langsung diluruskan, "dia itu bukan habib, darimana ente punya alasan sebut habib?".

"Abah Luthfi sendiri yang bilang kok," jawabnya. Tentu membuat si Abang di seberang telepon itu kaget dan tidak percaya. Si Abang tahu kalau H. Tayadi bukan habib karena pernah sekolah di almamater yang sama dan memang dekat dengan keluarganya sejak usia sekolah.

Bukan Habib Tapi Dipopulerkan Sebagai Habib oleh Habib Luthfi. Ini Alasannya! - Santriwati Pintar
Bukan Habib Tapi Dipopulerkan Sebagai Habib oleh Habib Luthfi. Ini Alasannya! - Santriwati Pintar


Bukan Habib Tapi Dipopulerkan Sebagai Habib oleh Habib Luthfi. Ini Alasannya!

Tiba-tiba dapat gelar habib, tentu hal itu mustahil. Dia hanya anak kiai kampung yang kebetulan hafal Al-Qur'an. Namanya pun tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan nama umum para habaib misalnya Rizieq, Quraish, Ali, Bakar, dan lainnya.

Ada yang fitnah Habib Luthfi sebagai blunder Secara nasab pun, tidak ditemukan riwayat nyambungnya dari orang tua laki-laki, yang lurus ke atas berurutan silsilahnya hingga kepada Rasulullah Saw. Tentu hal ini membuat si Abang itu melakukan tabayun kepada yang bersangkutan, apalagi dengar-dengar sampai diberi gelar "bin yahya".

Kepada Santriwati Pintar, Habib Tayadi buka keterangan. Ia memulai dengan riwayat keluarga. Katanya, keluarganya yang tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah dulu adalah jamaah rutin majelis dzikir Habib Luthfi bin Yahya era 70-an, ketika beliau masih muda.

Majelis itu bertempat di Kudus, saat Maulana Habib Luthfi bin Yahya masih mengembara mencari ilmu dan tirakat serta tabarruk ke beberapa kiai sepuh dan habib di Kudus juga. Keluarga Yadi inilah yang sejak dulu selalu taat dan punya husnuddzan kepada apapun dawuh dan pitutur Habib Luthfi, di saat kelompok lain yang mengikuti majelis beliau makin menjauh karena alasan dan kesibukan masing-masing. Saking dekatnya, Habib Luthfi menganggap keluarga Tayadi sebagai saudara sendiri.

Oleh seorang murid Habib Luthfi dari Kudus juga, Tayadi kemudian disarankan kembali mendekat kepada Habib Luthfi ke Pekalongan sebagaimana orangtuanya dulu dekat dengan beliau saat masih ngaji di Kudus. Hal itu dilakukan karena hampir semua saudara Tayadi memilih berkarir di luar kota. Ada yang jadi dosen, perawat dan pengusaha. Hanya dia yang diwarisi ilmu pesantren, hapal Qur'an dari sanad Mbah Arwani Kudus.

Tayadi tidak langsung mengiyakan ajakan murid Abah Luthfi tersebut walau perintah itu sebenarnya juga datang langsung dari Habib Luthfi. Namun, berkat hidayah Allah dan keuletan murid Abah Luthfi untuk membujuk, Tayadi akhirnya mau diajak sowan ke Pekalongan. Istilahnya, mengembalikan balung pisah (sambung silaturrahim).

Di ndalem Abah Luthfi, dia dipaksa untuk ngaji. Diberi pesan-pesan hingga semakin dekat laksana hubungan bapak dan anak. Maem bareng bersama keluarga Abah Luthfi sudah biasa dia lakukan. Kepada Santriwati Pintar, Tayadi bahkan mengaku pernah diberi buku tentang sejarah perjalanan hidup Abah Luthfi yang ditulis tangan oleh beliau sendiri.

Ketika Santriwati Pintar minta copy isi buku, agar disebar, Tayadi langsung menjelaskan kalau buku itu hanya ditulis Abah Luthfi untuk keluarganya, bukan untuk umum. Jika buku tulisan tangan tersebut tersebar dan dibaca khalayak, akan memunculkan fitnah karena isinya antara lain adalah berkaitan dengan hal-hal yang tidak masuk akal bagi kalangan umum.

Dalam buku itu, kata Tayadi, ada keterangan tentang Abah Luthfi yang lahir sudah dalam kondisi disunat, tentang masa mudanya yang hilang raib selama 21 hari karena dibersihkan hatinya oleh Nabi Khidzir, tentang awal mula diangkat sebagai waliyullah oleh Rasulullah, dan hal-hal gaib lain yang membuat kalangan wahabi akan mudah menyebut "bohong".

Buku itu sengaja ditulis tangan untuk menumbuhkan rasa cinta keluarga Habib Luthfi kepada Rasulullah Saw dan para wali Allah yang memang mendapatkan "tugas khusus" dari Nabi untuk menjaga alam raya ini agar digunakan semakmur-makmurnya bagi umat manusia, tanpa memandang suku, ras, agama dan kepercayaan lain.

Tugas waliyullah, kata Tayadi, memang berat. Mereka harus ikhlas melakukan tugas-tugas menjaga alam raya agar tidak mudah terjadi bencana dan kemiskinan. Di sinilah ia mengatakan kepada Santriwati Pintar kalau para wali adalah pewaris Nabi, mengingat awal mula diciptakannya alam raya adalah sebab akan diciptakannya Nabi Muhammad Saw, sebagaimana teks hadits Qudsy, "laulaka laulaka lama khalaqtul aflak/ andai tiada sebab karena engkau (Muhammad) tiada aku (Allah) menciptakan jagad raya ini". Para wali itulah yang menjaga alam raya ini, dengan caranya masing-masing.

Panjang lebar Habib Tayadi menjelaskan beberapa isi buku yang ia ingat. Sungguh informasinya sangat di luar jangkauan akal umum manusia, namun sangat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa cinta kepada para wali Allah. Tayadi mendapatkan ijin membaca buku tersebut karena ia sudah dianggap keluarga sendiri oleh Habib Luthfi.

Kedekatan Tayadi dengan Habib Luthfi nampaknya dibaca orang lain sebagai "the one man special". Orang-orang yang sowan kepada Abah Luthfi pun akhirnya bertanya, siapa dia. Tanpa pikir panjang, ketika ditanya begitu, Habib Luthfi hanya menjawab, "itu anak angkat saya namanya Habib Tayadi, orang Surabaya alumni Lirboyo."

Karena yang menjawab Habib Luthfi, orang langsung percaya saja dan lalu memanggilnya "Habib". Oleh sebab tidak berwatak selfie dan ingin populer, Tayadi tak mengumumkan jawaban "ngarang" Abah Luthfi tersebut. Dia tidak mau membantah perkataan Abah, juga tidak mengiyakan pertanyaan orang lain yang kepo dan penasaran.

Hanya saja Tayadi selalu menghindar jika ada yang bertanya langsung tentang sosok dirinya. Tujuannya ya memang agar dia tidak salting ditanya "lirboyo alumni tahun berapa", "gelar habibnya apa", dan "alamatnya di mana agar bisa sowan". Mengapa? Karena Tayadi sendiri memang bukan alumni Lirboyo dan bukan Habib asli.

Habib Luthfi ternyata punya maksud sendiri memanggil Tayadi dengan Habib. Hikmah yang didapat, omongan Tayadi akhirnya mudah dipercaya oleh jamaah Habib Luthfi beserta tamu yang hadir, sekelas habib sekalipun. Berkali-kali panitia acara pengajian yang mengundang Abah Luthfi hadir, sukses besar lewat "Habib Tayadi" ini.

Tayadi sangat dihormati di kalangan habaib dan juga santri serta jamaah Habib Luthfi. Namun ia tidak gila hormat dan tidak pernah menggunakan gelar habib-nya untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan habib. Karena dia popular disebut habib, ia justru mengaku kepada Santriwati Pintar bisa menjaga muru'ah dan akhlaq ala Rasulullah. Meski dari jalur ibu ia juga punya keturunan habib bergelar "bin Yahya" juga.

Cerita di atas adalah jawaban bagi mereka yang menuduh Habib Luthfi bin Yahya membuat blunder karena (konon) beliau memberi gelar habib kepada mereka yang tidak memiliki keturunan sebagai habib. Tayadi hanya murid Habib Luthfi yang husnudzan bahwa semua yang dikatakan gurunya pasti ada hikmah. Begitulah wali Allah mendidik akhlaq umat Kanjeng Nabi, tanpa qil (katanya-katanya) dan dalil. [Santriwati Pintar/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/bukan-habib-tapi-dipopulerkan-sebagai-habib-oleh-habib-luthfi.html

Minggu, 30 Januari 2011

Kirim Pahala Bacaan Al-Quran Kepada Orang Mati

Santriwati Pintar - Kirim pahala Al-Quran untuk Nabi dan orang yang sudah meninggal terjadi khilaf di antara para ulama. Namun umat Islam Indonesia mengamalkan berdasar fatwa Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafii:

وَمَا اُعْتِيدَ فِي الدُّعَاءِ بَعْدَهَا مِنْ جَعْلِ ثَوَابِ ذَلِكَ أَوْ مِثْلِهِ مُقَدَّمًا إلَى حَضْرَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ زِيَادَةً فِي شَرَفِهِ جَائِزٌ كَمَا قَالَهُ جَمَاعَاتٌ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ بَلْ حَسَنٌ مَنْدُوبٌ إلَيْهِ خِلَافًا لِمَنْ وَهَمَ فِيهِ ؛ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لَنَا بِأَمْرِهِ بِنَحْوِ سُؤَالِ الْوَسِيلَةِ لَهُ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لَهُ بِمَا فِيهِ زِيَادَةُ تَعْظِيمِه (تحفة المحتاج في شرح المنهاج - ج 24 / ص 421)

Kirim Pahala Bacaan Al-Quran Kepada Orang Mati - Santriwati Pintar
Kirim Pahala Bacaan Al-Quran Kepada Orang Mati - Santriwati Pintar


Kirim Pahala Bacaan Al-Quran Kepada Orang Mati

“Kebiasaan dalam doa setelah membaca Al-Quran dengan menjadikan pahalanya atau yang sepadan dengan bacaan tersebut yang dihaturkan kepada Nabi Saw, atau sebagai tambahan bagi kemuliaan beliau adalah diperbolehkan, sebagaimana disampaikan banyak para ulama di kalangan mutaakhirin, bahkan hal itu adalah baik dan dianjurkan. Berbeda dengan ulama yang tidak sependapat. Sebab Nabi Saw memberi izin kepada kita dengan memerintahkan meminta pangkat Wasilah (di surga) dalam setiap doa dengan tujuan menambah keagungannya” (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfat al-Muhtaj, 24/421)

Bukan sekedar fatwa, namun para ulama juga ada yang mengamalkan khatam Al-Quran untuk Nabi:

وَقَالَ إِسْحَاقُ الْمَوْلَى: اِقْتَدَيْتُ بِأَبِي الْعَبَّاسِ فَحَجَجْتُ عَنِ النَبِّيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ حِجَجٍ، وَخَتَمْتُ عَنْهُ سَبْعَمِائَةِ خَتْمَةٍ. (تاريخ الإسلام للذهبي - ج 5 / ص 79)

“Ishaq al-Maula berkata: Saya meniru Abu al-Abbas, maka saya melakukan haji atas nama Rasulullah Saw sebanyak 7 kali, dan saya mengkhatamkan untuk beliau sebanyak 700 kali khataman” (al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam 5/79)

Adapaun menghadiahkan pahala Al-Quran kepada mayit, menurut madzhab Syafiiyah dapat sampai dan manfaat bagi mayit:

ﻭﻣﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﻣﺸﻬﻮﺭ اﻟﻤﺬﻫﺐ ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫا ﻗﺮﺃ ﻻ ﺑﺤﻀﺮﺓ اﻟﻤﻴﺖ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻮ ﺛﻮاﺏ ﻗﺮاءﺗﻪ ﻟﻪ ﺃﻭ ﻧﻮاﻩ ﻭﻟﻢ ﻳﺪﻉ

Apa yang disampaikan (oleh Imam Nawawi) bahwa pendapat populer dari madzhab Syafii tidak sampai, adalah diarahkan jika tidak di baca di depan mayit, tidak diniatkan kirim pahala untuk mayit atau diniatkan namun tidak dibacakan doa (Fathul Wahhab 2/23).

Dengan demikian, apa yang kita amalkan dengan niat "khushushan ila hadlrati..." dan dibacakan doa adalah sampai kepada mayit. [Santriwati Pintar]

Ma'ruf Khozin, anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/kirim-pahala-bacaan-al-quran-kepada-orang-mati.html

Selasa, 25 Mei 2010

Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim

Santriwati Pintar - Era perkembangan teknologi dan diplomasi politik kawasan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi komunitas pesantren. Terlebih, pemerintah Indonesia bersama pemerintah negara-negara ASEAN bekerjasama dalam politik, ekonomi dan kebudayaan, lewat mekanisme Asean Free Trade Area (AFTA).

Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim - Santriwati Pintar
Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim - Santriwati Pintar


Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim

Hal ini, menjadi isu penting yang dibahas oleh Dr. Mohammad Murtadlo, Kepala Bidang Litbang Pendidikan Non-Formal Informal Kementrian Agama, dalam workshop Pemikiran Keagamaan di The Alana Hotel, Solo, Jumat (09/09/2016). Agenda ini dihadiri para pengasuh pesantren yang tergabung dalam Rabithah Maahid Islamiyyah (RMI-NU).

Murtadlo mengungkapkan bahwa saat ini pesantren harus siap menjadi alternatif pendidikan di kawasan Asean. "Perlu ada pesantren yang menjadi percontohan di tingkat Asia Tenggara. Di sisi lain, pesantren juga harus memiliki kekhasan, serta memaksimalkan modal sosialnya," terang Murtadlo.

Dalam penjelasannya, Murtadlo menegaskan bahwa tantangan pesantren saat ini semakin beragam. Untuk itu, komunitas pesantren perlu memaksimalkan potensi dan kekuatannya. Dalam hal ini, pesantren harus menemukan kekhasannya, agar bisa menjadi rujukan bagi banyak orang.

"Kami sedang monitoring beberapa model pesantren, misal pesantren yang menjadi rujukan di level ASEAN, pesantren maritim, atau bahkan pesantren yang menjadi benteng Islam dan NKRI di kawasan perbatasan Indonesia," terang Murtadlo, doktor antropologi lulusan Universitas Indonesia.

Murtadlo menegaskan tentang proyeksi dari timnya untuk fokus pada pemetaan modelling pesantren, sekaligus juga pendampingan. Pihaknya, juga berusaha untuk membentuk komunitas santri yang sadar media. "Kami juga ingin ada jurnalis santri dari 34 provinsi, yang siap mengawal informasi dan kreatifitas dari komunitas pesantren, hingga dapat diterima publik," ungkap Murtadlo.

Di sisi lain, tumbuhnya kelas menengah muslim juga menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi komunitas pesantren. Ketua PP Rabithah Ma'ahid Islamiyyah (PP RMI-NU), KH. Abdul Ghoffar Rozien, M.Ed (Gus Rozien) mengingatkan tentang kelas menengah muslim yang perlu direspon kaum santri.

"Tumbuhnya kelas menengah muslim, perlu menjadi perhatian santri. Bagaimana tidak, sekarang ini kelas menengah muslim yang semakin meningkat jumlahnya, harus menjadi pemikiran tersendiri. Mereka yang ekspektasi lebih dalam proses pendidikan anak-anaknya," ungkap Gus Rozien.

Untuk merespon kelas menengah, Gus Rozien bersama tim RMI dan para kiai muda, mengkampanyekan Gerakan Ayo Mondok, serta membangun aplikasi #AyoMondok berbasis android, dengan platform media digital. [Santriwati Pintar/ munawir].

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/kaum-pesantren-merespon-kelas-menengah-muslim.html

Kamis, 19 November 2009

Dibimbing Kiai Said Jadi Mualaf, Ini Kesan Sudjono Teguh Widjaja

Jakarta, Santriwati Pintar. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kembali membimbing seorang Nasrani memeluk Islam pada Kamis (19/1) di Kantor PBNU Jakarta. Dia adalah Ahmad Sudjono Teguh Widjaja (47) asal Kediri, Jawa Timur.

Pria yang lahir di Kediri keturunan Tionghoa bermarga Te ini mantap mengucapkan dua kalimat syahadat dibawah tuntunan Kiai Said dan disaksikan beberapa pengurus PBNU.

Dibimbing Kiai Said Jadi Mualaf, Ini Kesan Sudjono Teguh Widjaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibimbing Kiai Said Jadi Mualaf, Ini Kesan Sudjono Teguh Widjaja (Sumber Gambar : Nu Online)


Dibimbing Kiai Said Jadi Mualaf, Ini Kesan Sudjono Teguh Widjaja

Hati Sudjono khidmat, perasaannya khusyu, dan kepalanya menunduk ketika mendapat bimbingan Kiai Said sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia sadar betul lembaga dan seseorang yang ditujunya untuk membimbing dirinya masuk Islam.

Pak Kiai Said adalah tokoh besar dan NU sendiri merupakan organisasi Islam yang konsisten mengajarkan bahwa Islam bukanlah agama kekerasan, Islam adalah agama yang ramah, ujarnya kepada Santriwati Pintar usai proses mengucapkan syahadat.

Santriwati Pintar

Sudjono yang sebelumnya beragama Katolik ini mengungkapkan inspirasi Islam sehingga ia mantap memutuskan menjadi seorang Muslim. Dia sering berinteraksi dengan beberapa kiai pesantren di Kediri lewat pengajian dan forum-forum sejenis.

Santriwati Pintar

Kiai-kiai kampung itu kalau ceramah sampai ke hati. Saya beberapa kali mengikuti ceramah mereka seolah ada pancaran sinar yang masuk ke lubuk hati yang paling dalam sehingga saya mantap memutuskan masuk Islam, tutur Sudjono.

Dia tidak menampik, posisinya sebagai politisi memunculkan banyak pertanyaan masyarakat ketika dirinya masuk Islam. Karena tidak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa keputusannya itu tidak lepas dari kepentingan politik semata.

Selain menjadi pengusaha, Sudjono memang salah satu Anggota DPRD Kota Kediri di Komisi C yang membidangi pembangunan umum (PU) dan pendidikan. Dia wakil rakyat dari Partai Golkar, bahkan dirinya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Kota Kediri.

Tidak ada unsur paksaan maupun kepentingan apa pun. Hal ini murni keputusan saya untuk lebih mendalami agama Islam dan keluarga pun mendukung, ujar pria 3 anak ini.

Menurutnya, tidak ada yang perlu dibuktikan secara jelas bahwa keputusannya tidak terkait kepentingan politik. Karena aktivitasnya dalam membantu masyarakat dalam kehidupan sosial sering dia lakukan.

Dalam waktu dekat saya akan menjalankan ibadah umroh. Bahkan saya berpikir untuk melepaskan aktivitas saya sebagai politisi, tegas Sudjono yang mempunyai beberapa bidang usaha yang tersebar di Kediri, Malang, Sidoarjo, dan Makassar.

Sebagai seorang Muslim, Sudjono mempunyai komitmen untuk membantu sesama, terutama membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan. Dia sadar sebagai Muslim harus mengeluarkan zakat selain terus mempelajari Islam lebih mendalam.

Karena baginya, mewujudkan kehidupan sosial dan masyarakat yang sejahtera membutuhkan komitmen satu sama lain untuk saling membantu. Dia optimis dengan usaha yang digelutinya sejak 1992 itu dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Hadir beberapa saksi dalam proses mengucapkan syahadat diantaranya Wasekjen PBNU Andi Najmi Fuaidi, Ulil Abshar, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, pengurus LBM PBNU Mahbub Maafi, dan Pemred Santriwati Pintar Achmad Mukafi Niam. Sudjono juga didampingi oleh KH Oing Abdul Muid, salah satu saksi yang membawanya kepada Kiai Said. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74755/dibimbing-kiai-said-jadi-mualaf-ini-kesan-sudjono-teguh-widjaja

Minggu, 02 Maret 2008

Tingkatkan Peradaban, Kang Said Ingatkan Pentingnya Islam Nusantara

Jakarta, Santriwati Pintar. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengingatkan perlunya menghayati Islam Nusantara agar menjaga dari kemerosotan moral, kemorosotan budaya, akhlak yang dapat menghilangkan karakter.

Cara mencegah hal tersebut, menurutnya, dengan Islam Nusantara, yaitu Islam yang menghormati budaya, tradisi, menghormati kearifan lokal, selama tradisi itu tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Tingkatkan Peradaban, Kang Said Ingatkan Pentingnya Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Peradaban, Kang Said Ingatkan Pentingnya Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)


Tingkatkan Peradaban, Kang Said Ingatkan Pentingnya Islam Nusantara

Ia mencontohkan Negara-negara Arab yang sudah kehilangan kepribadian, kehilangan jati diri, perang terus menerus yang berakibat pada hilangnya jutaan nyawa.

Santriwati Pintar

Tapi kita punya Islam Nusantara, Islam yang menjaga budaya, kearifan lokal. punya karakter, jati diri, Islam yang menghormati ukhuwah wathaniyah dan insaniyyah, kata Kang Said saat menyampaikan sambutan pada acara Kongres Ke-III Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (3/5).

Kita jungjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan adalah sunnatullah, tambahnya.

Santriwati Pintar

Dengan Bhineka Tunggal Ika tersebut, ia menegaskan agar warga NU tidak mencaci maki siapapun yang berbeda.

Tidak boleh mencaci perbedaan warna kulit, budaya, bahasa, tradisi begitu pula kita tidak boleh mencaci perbedaan agama, tegasnya.

Ia menjelaskan, karena dakwah yang tidak menggunakan caci-maki adalah dakwah yang berakhlak dan berbudaya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77638/tingkatkan-peradaban-kang-said-ingatkan-pentingnya-islam-nusantara

Santriwati Pintar

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Pintar sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Pintar. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Pintar dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock